Who Is My Love

Who Is My Love
Ungkapan


__ADS_3

Bunga-bunga begitu indah menghiasi setiap pelataran taman begitupun hamparan danau buatan yang airnya terpantul cahaya lampu menimbulkan warna yang begitu cantik. Terlebih kerlap kerlip lampu led yang berwarna-warni bersinar di beberapa tempat atau sengaja dipasang pada pepohonan. Tidak terlalu ramai malam ini, mungkin karena bukan akhir pekan. Hanya beberapa pasangan muda-mudi yang tampak berduaan.


Rezky mengajakku menuju kursi santai di tepi danau yang telah disediakan sebagai fasilitasnya. Suasana cukup tenang disana ditambah pencahayaan yang begitu romantis menghiasinya. Sudah lama sekali aku tidak ke


tempat seperti ini. Bahkan terakhir kali aku bersama temanku satu tahun lebih yang lalu. Mengingat setelahnya aku berpacaran dengan Nevan yang sangat anti dengan tempat seperti ini. Jadi mau tidak mau aku menuruti kemana ia akan membawaku berkencan. Yah, itu sudah sangat lama.


Andai saja aku kemari bersama Andrew, pasti akan terasa lebih menyenangkan. Dan sekarang aku malah bersama Rezky yang tidak terlalu dekat denganku. Bahkan kami hanya berhubungan seputar pekerjaan saja.


Aku langsung melenggang kearah yang dituju dengan langkah yang cepat. Diikuti Rezky tepat dibelakangku. Aku hanya ingin mempersingkat waktu yang sudah semakin malam. Apalagi esok hari kami masih memiliki kewajiban bekerja.


“Pelan-pelan dong Vya.” Ujar Rezky mengingatkanku supaya


lebih santai.


“Udah malem Rez besok masih masuk pagi.”


“Yaelah baru jam delapan.”


Kuhentikan langkahku dan berbalik menatap tajam kearah Rezky. Membuatnya menghentikan celotehannya. Tampaknya, ia tidak mau jika sampai membuatku marah. Lalu aku berbalik kembali dan melanjutkan langkahku.


Sampailah di tempat yang dituju. Dan aku mendudukkan tubuhku ke sebuah kursi panjang pinggiran danau. Hembusan angin perlahan menyapu wajahku. Memang tidak ada yang lebih menenangkan kecuali udara malam yang sesegar ini. Apalagi cocok untuk tempat refresing terdekat dari kepenatan


aktivitas bekerja setiap harinya. Aku berencana akan kemari lagi jika telah


datang akhir pekan. Entah itu bersama Andrew, Sita atau Cika dan Bi Emi.


“Vya gue nyari minum dulu ya?” Kata Rezky.


“Gak usah sih biar cepet lho langsung ngomong aja.” Sergahku.


“Gue haus lagian gue bawa anak orang masak gak gue beliin apa-apa walaupun cuman sebotol air.”


“Aaaaelah santai aja kali ama gue doang ini.”


Tanpa menjawab perkataanku Rezky


melenggang ke sebuah minimarket yang cukup dekat dengan tempatku berada. Dan aku hanya mampu menghela nafas dalam. Tampaknya mau tidak mau aku harus bersabar lebih lama lagi. Sampai Rezky bisa lebih tenang mengungkapkannya.


Tak lama kemudian Rezky kembali dengan sekantong makanan. Ia membukanya dan memberikanku sebotol teh kemasan dan beberapa biskuit kemasan.


“Thanks.” Ujarku padanya.


“Santai.”


“Jadi?”


Lagi dan lagi Rezky tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia menyesap minuman miliknya dan berjalan ke tepian danau yang telah diberi tembok pendek dan besi-besi terpasang di atasnya sebagai pembatas. Aku melihat ia menghembuskan nafas dalam dan perlahan mengeluarkannya. Tampaknya ia ingin menenangkan dirinya. Ia membalikkan  tubuhnya menghadapku serta menyenderkan tubuhnya pada pembatas tersebut.


“Vya?” Panggilnya menyebut namaku.


“Ya.”


“Boleh gak gue jujur?”

__ADS_1


“Silahkan.”


Rezky terdiam sebentar dan aku hanya menatapnya penuh perasaan penasaran. Sampai ia akan mulai pembicaraannya lagi.


“Gue suka ama lo.” Kata Rezky.


“Hahahaaa ada-ada lo mah Rez becandanya gak lucu.”


“Serius.”


“Haaaaaah?”


Bola mataku membulat, rahangku ternganga. Aku menangkap raut serius di wajah Rezky. Wajah yang sering aku lihat disetiap ia menyampaikan briefing di pagi hari sebelum bekerja. Aku menunduk mungkin saat ini wajahku memerah karena kurasakan panas di daun telinga. Dan seketika aku merasa salah


tingkah. Hanya tidak menyangka Rezky akan melontarkan sebuah pengakuan.


“Gue suka ama lo semenjak pertama kali bertemu.” Lanjutnya.


“WHAAATTT? Itu udah berapa tahun yang lalu Rez?”


“Gue gak munafik Vya. Sekarang cowok mana sih yang gak suka ama lo secara fisik?”


“Fisik?”


“Yeah, lo cantik mungkin yang paling cantik di kantor saat ini. Tapi setelah lo masuk tim gue saat itu gue makin hafal sama karakter lo


apalagi lo yang jutek bisa bikin orang penasaran dan akhirnya gue jadi beneran


suka sama lo bukan Cuma dari segi fisik doang.”


“Ke...kenapa lo gak bilang dari dulu Rez?”


“Gue minder Navya.”


“Minder kenapa?”


“Banyak yang demen sama lo bahkan fisiknya diatas gue. Sampai-sampai anak direktur nanyain lo ama gue.”


“Anak direktur?


“Ya, tapi udah lama banget sebelom dia keluar negeri dan posisi gue dulu juga masih punya cewek.”


“Emang cewek lo kemana sekarang?”


“Putus udah lama banget.”


“Tapi lo tau kan gue sekarang deket sama siapa?”


“Taulah paling tau malah, gue juga cuman pengen ngungkapin doang biar ngerasa plong.”


Tampaknya Rezky merasa lebih lega saat ini. Terbukti dengan hembusan nafasnya yang diiringi senyum tipis.  Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan kugigit bibir bawahku. Aku harus bersikap bagaimana? Sekarang seorang Rezky berdiri tepat dihadapanku. Pria berkulit sawo matang itu mengusap lembut rambutku.


“Jangan risau.” Katanya.

__ADS_1


“Enggak koookkk enggak.” Jawabku tergagap.


“Jangan dipikirin juga.”


“Ehmm.”


“Gue gak ada maksud apa-apa kok.”


“Jadi ini yang mau lo omongin dari tadi?”


“Ehmm. Sebenernya ada lagi Vya.”


Rezky mendudukkan tubuhnya dikursi dan disebelahku. Pandangan matanya dilemparkannya jauh kearah hamparan danau. Lagi-lagi ia menunjukkan ekspresi keraguan. Aku tidak tau apa lagi yang ada didalam pikirannya saat ini. Dan prediksi apa lagi yang akan aku layangkan padanya. Aku hanya bisa berdehem agar ia lebih peka dan melanjutkan perkataannya.


Hembusan angin malam yang segar menyapu wajahku lagi, bulanpun ikut memberi sinar senyumnya menambah keindahan taman tempatku berada selama setengah jam yang lalu.  Aku masih memberi beberapa waktu pada Rezky.


“Rez kalo gak ada lagi ayok kita pulang udah malem lho.” Ajakku sebenarnya aku bermaksud agar ia segera memberitahuku.


“Bentar ya Vya.” Sergah Rezky.


“Ayolah mau berapa lama?”


“Vya?”


“Hmmm.”


“Kadang ada hal yang gak bisa sama seperti keinginan kita kan ya?”


“Ya emang bener.”


“Apalagi kita tidak akan pernah tau akan ada hal apa yang direncanakan yang diatas buat kita.”


“Karna kita manusia cuma bisa menjalani doang.”


“Vya?”


“Iya Rezkyyyy.”


“Gue harap lo selalu bahagia kedepannya tanpa memikirkan masalah apapun.”


“Maksud lo apa dari tadi ngomong kayak gitu sih.”


“Karna gue suka sama lo tapi gue gak pernah berharap lebih sama lo. Gue cuman mau lo selalu baik-baik aja.”


“Rezkyyyyyy!!!!!”


Bersambung...


______________________________________________


Awalnya saya tidak kepikiran sama sekali ingin membuat Rezky jatuh cinta pada Navya. Tapi kayaknya seru juga yah kalau dibikin kayak gitu hehe


Anggep aja ini Rezky yaaa

__ADS_1



__ADS_2