
Setelah beberapa jam perjalanan udara itu, akhirnya aku sampai di tanah air dengan selamat. Keluar dari bandara, aku memesan taksi online dan taksi tersebut sudah sampai dihadapanku. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera masuk ke dalam. Setelah aku sudah berada didalam dan siap, maka sang driver segera memacu taksi ini dengan kecepatan sedang. Alamat yang dituju pun, alamat rumahku.
Kalau boleh jujur, bayangan wajah pertama yang ingin aku temui adalah Bi Emi dan Cika. Bukan berarti aku tidak sayang mama, mungkin keseharianku lebih banyak pada saat bersama Bi Emi dan Cika. Aku tidak tahu pasti, raut wajah apa yang akan papa berikan kepadaku. Mengingat semua kilasan masa lalu kami yang tidak baik, bahkan aku harus menanggung semua akibat dari keserakahan papa.
Aku menghela napas dalam, mencoba membuang segala kegusaran. Toh, hari ini adalah hari kejutan untuk keluargaku. Lebih baik, aku menikmati pemandangan kota ini terlebih dahulu. Hiruk pikuknya masih sama saja, kemacetan pun masih terjadi di beberapa titik jalan. Semakin hari, tampaknya semakin padat saja. Yah, namanya kota metropolitan, aku tidak heran lagi.
Namun, sejujurnya ada perasaan tidak nyaman. Tepatnya saat aku teringat akan masa lalu, masa dimana kejadian bodoh terjadi. Hal gila yang aku lakukan ataupun orang lain lakukan kepadaku. Sosok Haris tiba-tiba muncul di benakku. Hal itu membuatku seketika menelan ludah dengan rasa ngilu. Pria itu, apakah ia sudah bebas dari penjara? Apakah ada politik uang lagi? Jantungku mulai berdegup tidak beraturan, aku benar-benar gusar. Takut jika perkiraanku benar, apalagi papa telah dibebaskan meski masih dengan syarat.
Membayangkan semua itu, membuat tubuhku bergetar. Aku menggigit jari karena cemas. Ingatan terakhir tentang ulah Haris kepadaku masih saja teringat. Tidak! Aku harus tenang dan berpikiran positif. Semua jalan gila sudah aku lalui, dan sekarang aku sangat yakin bahwa itu tidak terjadi lagi. Baiklah, aku perlu asupan napas segar. Sehingga aku segera menghirupnya meski masih bercampur dengan suhu yang beraroma AC.
Oke, Navya. Tenang, slow dan lupakan yang enggak jelas!
Mataku yang sempat aku pejamkan, kini kembali aku buka. Meski masih ada samar tentang ingatan itu, hati ini lebih tenang daripada sebelumnya. Sedangkan sang driver taksi masih sibuk dalam memacu mobilnya. Arah yang lurus, menjadi berkelok. Mungkin terhitung lima belas menit lagi, aku bisa sampai rumahku. Kecuali kalau macet parah, satu bahkan dua jam, aku baru sampai di tempat tujuan.
Tiba-tiba ponselku bergetar, tak lama setelah itu bunyi deringnya terdengar. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera merogohnya dari dalam tas. Setelah aku dapatkan benda berbentuk kotak yang pintar itu, aku segera memastikan siapa yang sedang memanggilku. Ada nama romantis yang tertera di layar ponselku, hal itu membuat senyumanku merekah seketika. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menekan tombol hijaunya.
"Hai, Sayang. Selamat siang," sapaku kepadanya. Ya, kepada Andrew yang jauh disana.
Andrew berdeham pelan. Kemudian ia memberikan jawaban, "siang juga, Cantik. Aku pikir belum nyampe. Ternyata pas ditelepon, diangkat."
"Maaf, aku lupa belum kabarin. Tadi langsung nyari taksi. Maaf ya, Ndrew."
"Iya, nggak apa-apa. Tapi jangan dibiasain, nanti malah aku-nya khawatir. Aku tahu kalau kamu udah nggak sabar buat nyampe rumah."
"Emm, ... pengen lihat wajah Bi Emi."
"Kok Bi Emi? Mama dan papa dong, Sayang."
"Iya, pokoknya semuanya deh. Ngomong-ngomong kamu lagi ngapain? Udah makan?"
"Lagi rebahan sama mikirin kamu. Barusan pesen KFC, udah habis. Sepi tanpa kamu, kangen."
Dari sini, aku tersenyum pada saat mendengar gombalan darinya yang terdengar menggelikan itu. Meski begitu, sebenarnya aku merasa senang. Aku pun merasakan hal yang sama, namun masih bersikap se-elegan mungkin. Rindu sudah pasti, meski terdengar berlebihan, namun itulah yang terjadi. Tinggal satu langkah lagi, kami bisa meraih jenjang pernikahan. Aku berharap agar semuanya baik-baik saja tanpa hambatan. Bahkan untuk kali ini; semoga aku tidak bertemu dengan Haris.
"Hei? Kok diem, Navya?"
"Ah." Aku tersadar dari lamunanku. "Enggak kok. Kamu bilang kangen, jadi aku agak terharu gitu."
"Iya, kangen banget. Mungkin karna kita sering bareng. Lima hari, Sayang. Mana bisa?"
"Jangan lebay deh, Ndrew. Lima hari doang kok."
"Aku kan bucin-nya kamu. Jadi wajar dong."
"Iya sih. Tapi lama-lama kelihatan kayak cewek. Aku-nya jijik."
__ADS_1
"Kamu bisa jijik sama aku, Sayang?"
"En-enggak sih. Emm ... udah ya? Aku udah mau nyampe. Nggak enak juga didengerin Pak Sopir."
Andrew terdengar menghela napas dalam dan mengembuskannya secara kasar. "Iya deh. Kamu hati-hati disana. Inget pesenku, jangan nakal ya. See you again, lima hari kemudian. Love you, Sayang."
"Emm ... Love you to, Andrew."
Panggilan dimatikan. Aku kembali memasukkan ponselku ke dalam tas. Kunikmati perjalanan ini lagi dengan setenang mungkin. Sebentar lagi sampai, pasti mereka akan bahagia dalam menyambutku. Aku yakin begitupun dengan papa. Semua akan baik-baik saja. Haris pasti juga masih didalam jeruji besi. Ya, pasti! Polisi yang menanganinya sangat baik. Aku tidak boleh gusar pada sesuatu yang belum benar. Ini hanya sisa dari rasa trauma yang mendera.
Dan akhirnya sampai juga. Taksi berhenti, aku membayar ongkos sesuai perhitungan tarif dan jarak. Setelah aku turun, taksi berlalu. Diriku tertegun sebentar, diam dan menatap rumahku yang bentuk dan posisinya masih sama. Rumah dimana aku tumbuh besar. Rumah dimana aku bahagia maupun merana. Baiklah, aku harus segera masuk.
Namun, gerbang terkunci. Tidak ada siapapun di luar. Haruskah aku menghubungi mama? Tidak! Kejutanku tidak akan berhasil jika aku langsung menghubungi mama. Mungkin Bi Emi adalah orang yang paling tepat, bahkan orang pertama yang ingin aku temui. Sebelum merogoh ponsel, aku kembali memastikan keadaan didalam pekarangan rumahku.
"Cika, Cika, Cika?!" Aku memanggil sosok kecil yang sedang duduk bersama seorang anak perempuan. Sepertinya anak tetangga samping yang sedang bermain. Namun suaraku tidak mereka dengar. Tampaknya kurang keras. "Cika! Cika! Cik!"
Ah, ya berhasil. Cika menatap ke arahku. Namun ia terdiam sejenak, tampaknya masih bingung karena aku tiba-tiba pulang. Setelah ia memastikan lagi, ia mulai memanggil seseorang, "Ibu! Tante Vya pulaaang! Ibu, Tante Vya."
Aku tersenyum. Gadis kecil itu tengah melompat-lompat kegirangan. Betapa bahagianya hatiku, sosokku bisa dirindukan oleh orang lain selain Andrew. Setidaknya aku masih terbilang penting bagi orang lain. Yah, meski aku hanyalah manusia yang penuh dosa dan tidak pernah dewasa.
Kembali kepada Cika. Tak lama setelah ia memanggil sang ibu yang tidak lain adalah Bi Emi, ia berlarian kecil bersama temannya untuk menghampiriku. Gerak kakinya begitu lincah dalam menderapkan langkah yang tidak terlalu lebar. Kemudian, di belakang sana, tampak Bi Emi yang sudah keluar. Ia terpana dalam melihatku. Barang yang ia bawa, bahkan sampai terjatuh. Sungguh! Aku kembali haru. Tanpa pikir panjang lagi, Bi Emi datang menghampiriku.
"Tante Vya, Cika kirain siapa." Cika mulai berceloteh. Tubuhnya semakin tinggi, atau hanya perasaanku saja? Tidak! Cika memang sudah tumbuh besar.
Dari balik gerbang, aku sedikit membungkukkan badan dan menatapnya dengan senyuman. "Kamu pikir siapa coba? Ini Tante cantik hehe," jawabku.
Kemudian, Bi Emi mengusap air matanya. Belum ada ucapan apapun yang ia katakan, mungkin masih merasa syok. Ia membuka gerbang dan memintaku untuk masuk, lalu membantuku membawa koper. "Nggak nyangka, kalau Non Vya bakalan pulang," ujarnya.
"Ya pulanglah, Bi. Ini kan rumah aku. Kenapa malah nangis?" Aku mencoba menggoda Bi Emi.
"Ya kaget aja, Non. Bibi kangen sama Non Vya. Tiba-tiba muncul tanpa kabar. Bibi kan jadinya syok."
"Duh, haru aku." Kuletakkan tas besarku yang berisi kardua oleh-oleh, kemudian aku merengkuh tubuh Bi Emi untuk aku peluk. "Vya juga kangen sama Bibi dan Cika."
"Makasih, Non. Makasih banget, dalam kehidupan kesulitan pun, Non Vya masih bersedia menampung kami." Bi Emi berucap sembari menangis. Ia memelukku dengan erat bak seorang ibu kandung yang sudah lama tidak berjumpa dengan anak. Lalu, apa mama dan papa akan berlaku se-demikian rupa? Entahlah, mungkin mama akan seperti ini, namun aku ragu jika hal haru ini bisa terjadi kepada papa.
Kemudian, aku melepaskan pelukanku dari tubuh Bi Emi. Aku tersenyum sekilas. Sedangkan Cika, ia berlaku seperti anak kecil biasanya. Polos dan belum mengerti segala hal. Sehingga tidak ada tangisan dari matanya melainkan hanya pancaran rasa bahagia. Membuatku ingin menghampirinya dan memberikan kecupan di pipinya. Tanpa pikir panjang segera aku lakukan. Sama seperti tadi, ia hanya tersenyum.
Aku tertegun. "Lho? Temen kamu tadi mana?" tanyaku lantaran teman kecil Cika sudah tidak ada disini.
"Tiara malu sama Tante Vya. Jadi pulang," jawab Cika dengan polosnya.
"Hmm ... emang sih, Tante terlalu cantik."
Bi Emi menyela, "itu udah pasti, Non. Dari dulu juga cantik. Bibi mah seujung kuku itemnya Non Vya juga nggak ada."
__ADS_1
Aku terkekeh karenanya. Setelah itu kuberikan jawaban, "aku becanda kok, Bi. Di Singapura banyak banget orang cantik. Tentu Vya kalah telah."
"Nggak deng. Bagi Bi Emi, Non Vya paling cantik. Bahkan artis ibukota aja kalah hehe."
"Duh, ... makasih lho, Bi."
Penyambutan awal kedatanganku yang begitu seru, bukan? Belum masuk rumah saja, aku sudah mendapatkan banyak pujian. Namun entah apa jadinya jika aku pulang dengan penampilan yang dibilang bar-bar. Aku rasa akan berbeda. Saat itu, aku benar-benar seenaknya saja dalam berpakaian yang penting nyaman. Rambut yang pendek membuatku sering kali malas dalam menyisirnya karena berpikir akan tetap rapi. Namun semua itu telah berakhir, aku kembali pada diriku sendiri. Aku memang sempat nyaman dengan penampilan itu, namun pada akhirnya kulit awal memang lebih menenangkan.
Perlahan, aku berjalan menuju rumahku yang sudah ada didepan mata. Dengan menggandeng Cika dan bersama Bi Emi, aku banyak bercerita. Entah itu tentang pekerjaan di Singapura yang dua kali lipat lebih melelahkan, perihal teman baruku--Raya dan Sinta, lalu Andrew. Bi Emi sampai tidak menyangka, pada akhirnya pun aku kembali kepada andrew yang sejak dulu ingin aku jauhi.
"Jodoh emang nggak kemana, Non," ujar Bi Emi.
"Ya, Bi. Enggak nyangka yah? Aku kayak jilat ludah sendiri. Tapi gimana lagi, aku nggak sanggup lihat dia sama orang lain didepan mataku sendiri," jawabku.
"Setiap orang punya kesalahan, Non. Bibi rasa Den Andrew juga terpaksa berbuat seperti itu dulu. Bibi udah pengen bilang sama Non Vya, kasihan dia. Tapi Non Vya masih dalam keadaan patah hati. Jadi ya gimana lagi. Pada akhirnya ada jalan kalau udah jodoh, Non. Yang penting jangan diulangi lagi kesalahannya."
"Iya, Bi. Bibi udah denger kan kalau aku mau nikah sama dia. Tiga bulan lagi, mungkin hanya ijab dulu. Nggak resepsi."
"Eh?!" Bi Emi membatalkan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu rumah. "Tiga bulan? Cepet banget? Kok Bibi nggak tahu? Ibuk sama bapak gimana?"
"Mama udah tahu sih. Kalau papa aku nggak tahu. Emm ... ngomong-ngomong papa mama ada, Bi?"
"Kalau Ibuk ada urusan bisnis, Non. Kalau Bapak ada kok. Selepas keluar, belum dapet kerjaan lagi."
Bi Emi kembali melanjutkan gerakan tangannya untuk membuka pintu rumah. Sedangkan aku terpaku diam. Bisnis? Aku tidak tahu tentang bisnis yang digeluti oleh mama. Beliau juga belum mengatakan apapun mengenai hal itu. Entahlah, kalau bisnis bagus tidak masalah. Aku hanya takut jika beliau bernasib sama dengan papa. Dijebak oleh keluarga Haris untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Kupejamkan mataku sejenak, kemudian menghela napas dalam agar lebih tenang. Aku yakin mama tidak sebodoh papa. Beliau mantan model yang pasti mengerti beberapa hal tentang bisnis, apalagi jika berkenaan dengan dunia modeling. Yah, semoga saja, aku hanya bisa berharap. Baiklah, aku harus masuk demi membuang rasa lelah.
"Navya?" Suara itu milik papa. Seketika aku menelan ludahku. Meski aku sudah memaafkan dan memperjuang beliau, tetap saja rasa takut masih ada. Beliau berdeham pelan sembari menlanjutkan perkataan, "kamu pulang. Kenapa nggak bilang papa? Papa bisa jemput ke bandara, kan?"
Dengan kepala yang masih menunduk, aku memberikan jawaban, "aku nggak mau merepotkan orang rumah."
Duh, hati dan jantung, jangan begini!"
"Navya? Ayo masuk, kamu pasti capek."
Tangan papa bergerak untuk menggandengku, namun aku tepis seketika dan mundur satu langkah ke belakang. Aku belum sanggup menatap beliau. Tidak! Mengapa perasaan sesak ini datang lagi? Bagaimana ini? Semua sudah berlalu, namun tubuhku kembali bergetar akan masa-masa kelam itu.
"Navya?"
"Ah." Aku mencoba lebih tenang dengan menghela napas dalam. "A-aku masuk ya, Pa."
Dengan gerak cepat, aku masuk ke dalam rumah. Aku mengabaikan papa karena perasaan sesak ini kembali datang. Herannya, mengapa perasaan semacam ini datang diwaktu yang sudah begitu lama setelah semua yang terjadi? Padahal sebelum aku berangkat ke Singapura, aku masih sempat berbaikan dengan papa dan bahkan berbicara dengan Haris.
Entahlah!
__ADS_1
Bersambung ....