Who Is My Love

Who Is My Love
Kabar


__ADS_3

"Kamu ibarat daun ganja, terlarang tapi membuatku keterusan. (Untuk Mencintaimu)"


____________________________________________


"Tuling... tuling..."


Nada getar peringatan ada pesan masuk berbunyi di sela-sela kesibukanku. Dengan tidak sabar aku membuka ponselku diam-diam. Aku sangat berharap itu adalah pesan dari Andrew.


Dengan gerakan kepala yang kutolah-tolehkan agar tidak ketahuan menggunakan ponsel pada saat jam kerja. Namun sialnya seseorang memperingatiku dengan begitu kencangnya sebelum aku sempat membuka pesan tersebut.


"Lagi kerja juga masih maen hp aja ya. Segitu berharapnya sama cowok yang belom tentu setia nyampe berani melanggar aturan." Celetuk Lia dengan nada sindirannya.


Spontan rekanku yang lain mulai menatapku. Dan sialnya Rezky sekarang berjalan menghampiriku. Kuumpatkan kata-kata kesal pada Lia dengan begitu pelan. Tampaknya ia malah merasa senang dan bangga.


"Shiiittt tante sinting!"


Kini Rezky telah berada disampingku. Memang tugasnya sebagai ketua tim salah satunya adalah mengawasi anggotanya. Hal itu membuatku tidak enak hati dengannya.


"Loe tau kan ini jam kerja?" Tanyanya tegas.


"Ehm... sorry." Jawabku menunduk.


"Nah, jangan sampai membawa masalah pribadi disela bekerja. Belom tentu kerjaan loe bagus!"


"Ehm."


"Yaudah lanjut lagi kerjanya dan jangan diulangi lagi."


Aku hanya meringis kecut. Baru kali ini aku mendapat teguran dari Rezky. Ternyata ia galak juga. Kuakui ia memang tegas terlebih kemampuannya dalam beberapa bidang terutama sifat kepemimpinan yang membawanya menjadi ketua.


"Dih. Mentang-mentang cantik mau seenaknya. Untung Rezky orangnya gak pilih-pilih." Ucap salah seorang karyawan yang tidak aku tau siapa pemilik ucapan tersebut.


Aku sudah cukup salah tingkah dengan teguran Rezky. Sehingga memutuskan untuk fokus kembali dengan komputerku. Dan menghiraukan kata-kata orang lain. Apalagi Lia yang kini terkekeh girang. Meski memang benar aku yang salah.


Sejujurnya aku sangat penasaran dengan isi pesan tersebut. Aku hanya bisa bersabar sampai waktu akan membebaskanku.


"Beb mau kopi?" Tanya Sita dengan kedua tangannya yang sudah membawa dua gelas kopi.


"Boleh." Jawabku.


"Fokus ya jangan risau."


"Ehm."


Setelah memberikan kopi dan senyum semangat untukku. Sita kembali ke meja kerjanya. Ku putar bola mataku dan hembusan nafas jenuh. Tak bisa kupungkiri kerisauan ini belum juga menghilang.

__ADS_1


"Semoga kamu baik-baik aja Andrew." Gumamku dalam hati.


Lambat laun jarum jam menunjukkan sikap manisnya. Kini ia telah bergerak kearah angka tanda kepulangan. Senyumku merekah. Dengan tergesa-gesa aku merapikan tempat kerjaku. Dan meraih ponselku dengan cepat.


Dan memang benar pesan tersebut adalah pesan dari Andrew. Entah bunga dari mana yang tiba-tiba menghujani hatiku. Berhasil membuat mataku yang bulat berbinar-binar. Bibirku kini pun begitu cantiknya merekahkan gerakan senyumannya.


Kumainkan jari-jariku diatas ponsel. Namun lagi-lagi terhenti sebelum aku membukanya. Yang menyebabkan aku mendengus kesal.


"Vya sorry ya." Ujar Rezky tiba-tiba.


"Buat?" Tanyaku.


"Soal tadi."


"Ohh gak papa emang salah gue."


"Tapi lo paham kan itu tugas gue?"


"Of course!"


Dengan raut kesal aku menjawab perkataan Rezky. Bukan karena sikapnya ketika menegurku beberapa waktu yang lalu. Namun, ia membuatku menunda membuka pesan. Yah, aku lebih tidak enak hati jika menjawabnya sambil sibuk bermain ponsel. Terlebih ia sangat mengutamakan tata krama. Dan jika aku melakukannya, aku harus siap mendengar ceramah panjangnya.


"Oh iya jangan lupa tar malem. Mau gue jemput?" Tanyanya lagi.


"Oke, tapi gue bawa mobil sendiri aja Rez."


"Gak lagian takut ama cewek lo."


"Haha oke-oke. Gue duluan ya jangan lama-lama di dalem sendirian tar ada yang nemenin tapi gak keliatan."


"Apa sih Rez rese' amat kata-katanya!"


Akhirnya Rezky beranjak pergi. Dan tentunya aku mengikutinya dari belakang. Karena keadaan ruangan yang mulai kosong. Terlebih aku sangat penakut.


Aku berjalan kearah mobilku yang seperti biasa aku parkir di sudut tempat parkir. Setelahnya aku buka pintu dan memasukinya. Sebelum mengemudikannya, aku kembali meraih ponselku. Dengan cepat kumainkan jariku diatas layarnya. Sampai menemukan pesan dari Andrew.


"Sorry Navya baru ngabarin aku lumayan sibuk."


"Vya maaf ya dirumah susah sinyal."


"Pulang hati-hati ya entar kalo sinyal lagi bagus aku telvon aku rindu."


Itulah beberapa isi pesan dari Andrew. Akhirnya aku mendapatkan kabar darinya. Aku sangat bersyukur ia baik-baik saja. Semoga signal ditempatnya bisa lebih bagus. Aku sungguh tidak sabar menunggu suaranya.


"Gak papa Ndrew. Udah lega ada kabar dari kamu, semoga hajatannya berjalan lancar. Aku juga rindu." Balasku untuk pesan Andrew.

__ADS_1


Dengan hati yang berbunga-bunga aku menggemudikan mobilku untuk pulang. Mengingat akan ada janji dengan Rezky nanti malam. Aku tidak berencana mampir kemana-mana.


Malam harinya, sebelum berangkat aku berdandan sesimple mungkin. Toh, bukan dengan Andrew jadi biasa saja dan lebih terkesan santai. Supaya tidak dianggap genit dan centil.


Setelah itu aku beranjak keluar. Bola mataku mendapati Bi Emi yang sedang bersenda gurau dengan si kecil Cika. Yang membuatku tersenyum gemas melihatnya. Sepintas aku mengingat masa kecilku bersama mama.


"Udahlah udah ketuaan buat manja-manjaan." Gumamku dengan perasaan kecut.


"Tante Vya mau kemana?" Tanya Cika sembari menghampiriku.


"Mau maen dong hehe." Jawabku dengan tangan mencubit pelan pipinya.


"Cika boleh ikut gak tante?" Ujarnya lagi.


"Haissh besok tante lagi mau kerja loh de." Sambung Bi Emi.


"Iya sayang besok aja ya hehe."


"Ehmm... yaudah tante hati-hati ya tapi jangan lupa oleh-olehnya buat Cika."


Spontan, aku dan Bi Emi tertawa renyah mendengar permintaan Cika. Wajah polosnya membuatku gemas sekali, terlebih disaat ia tertawa. Perilaku lugunya berhasil meruntuhkan tembok hatiku yang awalnya merasa risih ketika berbaur dengan anak kecil. Dan kini malah membuatku membayangkan angan ingin memiliki anak.


Aku mengucap salam pada Bi Emi dan beranjak kearah mobilku. Tepat pukul setengah tujuh aku berangkat dari rumah. Ku kemudikan mobilku dengan agak cepat menuju ke sebuah kafe yang tidak jauh dari kantor.


"Apa sih yang mau Rezky omongin coba?" Gumamku dengan perasaan penasaran.


Ada rasa berdebar mulai menggerayangi hatiku. Sama sekali tidak terlintas prediksi di dalam otakku. Mengingat aku tidak terlalu dekat dengan Rezky. Sehingga tidak muncul prasangka-prasangka untuknya.


Sampai akhirnya terlintas soal pekerjaan. Aku hanya takut kalau sampai kinerjaku buruk. Kalau memang benar, seberapa buruknya? Sampai-sampai Rezky mengajakku bertemu secara pribadi seperti ini. Yah, aku hanya berharap bukan masalah serius.


Bersambung...


____________________________________________


**Akhir-akhir ini saya sedikit bingung untuk melanjutkan jalan ceritanya. Apalagi rasa down seakan menghampiri.


Sampai ide-idenya sulit saya temukan.


Tapi bersyukur ada salah satu reader yang membangkitkan ide untuk saya.


Seperti yang sudah saya jelaskan diawal dan disetiap promo novel.


Bahwa saya disini menulis novel bukan sepenuhnya dari otak saya. Tapi juga mengambil beberapa pendapat dari reader di kolom komentar.


Saya membuat novel tidak sepenuhnya saya arahkan tapi juga meminta para reader memberi pendapat entah itu komentar, saran atau kritikan.

__ADS_1


Mungkin akan berbeda dengan penulis lain. Tapi maksud saya disini, mari kita belajar bersama untuk berimajinasi menciptakan hal yang positif. Sampai kemampuan kita berkembang bersama. Untung-untung kita mendapat peningkatan dalam membuat novel iya kan? 😁😁


Btw terimakasih untuk Mei Agustari atas pendapatnya dan seluruh reader tercinta ☺️☺️**


__ADS_2