
Baju kemeja, blazer, celana panjang kain dan juga rambut semua sudah tertata rapi dan melekat pada tubuhku. Accesories anting tanpa bandul dan jam tangan pun turut menghiasi. Masih sama, wajahku natural yang kata Linseyld 'bar-bar'. Masa bodoh tentang wanita itu, karena aku memiliki kejutan untuknya. Silahkan saja, ia mau berbangga diri. Aku akan menebas dalam sekejap waktu ketika ia sudah berada di atas awang-awang.
"Hmm ... tak perlu membuang tenaga untuk bertengkar hahaha," gumamku disertai tawa jahat. Meskipun, aku belum tahu bahwa rencanaku akan berhasil atau tidak. Namun, tetap optimis itu perlu, bukan?
Kutatap sekali lagi wajahku pada cermin yang menempel di dinding kamarku. Cermin yang belum lama ini sudah aku beli bersama meja riasnya. Cantik, itu yang tersemat samar dari wajahku tanpa peduli apa penilaian dari orang lain. Senyum sinisku mulai mengembang lagi, tidak sabar akan jatuhnya Linseyld suatu hari nanti. Astaga! Aku memang jahat, namun wanita itu lebih jahat, bukan? Memangnya siapa yang mengizinkan ia untuk menggoda kekasihku. Maka aku akan melawannya dan mempertahanlan Andrew-ku tersayang.
Tak lama setelah berpikir jahat, senyumku berubah menjadi lebih ramah. Tepatnya saat aku teringat sebentar lagi aku akan menjadi pengantin wanita untuk Andrew. Ah, aku sudah tidak sabar. Seperti ingin melompati dimensi waktu ke enam bulan ke depan. Aku mulai berkhayal saat menjadi ibu rumah tangga nantinya, memiliki seorang anak ataupun lebih bersama Andrew. Astaga! Pasti akan indah sekali.
"Navya!"
Deg! Sontak aku terkejut karena panggilan dari Raya dari ambang pintu kamarku. Aku menoleh dan memberikan pelototan mata kepadanya. "Bisa ketok pintu dulu nggak sih, Ray. Ngagetin orang aja pagi-pagi," jawabku menggerutu.
"Lagian loe, dipanggil nggak denger-denger. Malah senyum-senyum aja loe. Tunggu! Ngapain aja loe semalem di bawah? Ah! Jangan-jangan ...." Mata Raya menyipit disertai senyuman menggelikan. Pasti ia memikirkan sesuatu yang mustahil terjadi.
Aku langsung berdiri dari dudukku dan menghampirinya yang masih berlaku demikian. Lantas, aku menimpuk kepalanya dengan botol hand and body yang sempat aku bawa. "Mikir apa sih loe, Ray?! Ya ampun, gue nggak senakal itu, Sist!"
Raya mengusap-usap kepalanya karena botol tersebut. "Sakit, Nav. Duuuuuh, cewek kasar banget sih loe. Gue kan belum ngomong apa-apa, yeeee!"
"Muka loe udah bicara apa-apa, Ray. Gue kan ketiduran beneran, sumpah! Nggak ngapa-ngapain kok. Gue berani visum deh."
"Hahaha, iya iya percaya. Sekalipun ngapa-ngapain juga nggak apa-apa. Gue paham, gue iri aja, pacar gue jauh."
"Raya! Udah dibilang enggak kok!" Aku meneriakinya sembari mengayunkan botol tersebut. Namun, ia bergerak cepat menghindariku dan berlari dari tempat ini dengan terus menggodaku.
Aku menghela napas. Dugaanku diawal ternyata terjadi, sejauh apapun aku menjelaskan, orang lain belum tentu menerima. Biarlah, hanya Raya. Aku rasa, ia hanya sedang usil dalam menggodaku. Yang pasti memang tidak ada yang terjadi antara diriku dan Andrew tadi malam.
Aku kembali ke dalam kamarku. Terakhir, kupastikan penampilanku lagi. Rapi dan wangi, membuktikan bahwa diriku sudah siap untuk berangkat untuk bekerja. Tanpa pikir panjang lagi, aku mengambil tas ranselku dan ponsel. Dompet dan beberapa barang lain sudah ada didalam tas ranselku. Aku menilik kamarku yang masih rapi dan bersih, tenang jika aku tinggalkan. Selepas itu, aku mengambil langkah untuk keluar.
Kututup pintu kamar dengan rapat, bahkan aku kunci sesaat setelah aku berada diluarnya. Selanjutnya aku memastikan keberadaan Raya dan Sinta. Mereka tampak sama, baru keluar dari kamar dengan penampilan yang sama-sama anggun. Sampai-sampai, membuat diriku sedikit minder. Kuusap tengkukku lantaran malu. Tampaknya, Navya rindu akan dirinya yang dulu. Namun, aku masih perlu bersabar lagi.
"Yuk, Nav. Cus," ajak Sinta kepadaku. Tanpa pikir panjang, aku mengikuti langkahnya. Tampaknya, ia sudah memesan taksi secara online untuk kami.
Kami saling bergantian dalam keluar dari rumah di lantai dua ini. Tentunya aku yang terakhir dan mendapatkan giliran untuk mengunci pintu. Kuhela napasku kemudian tersenyum, senyuman untuk semangat baru setiap pagi hari. Berharap tidak ada kendala dalam pekerjaan maupun percintaan. Dan ... tentu saja, hari ini aku akan menjalankan rencanaku.
Satu persatu anak tangga kupijaki, bersama dengan celoteh garing dari Sinta dan Raya. Pemandangan pagi yang cerah dan berlangsung setiap harinya. Lalu, tampak kekasihku sudah menunggu kami diujung anak tangga. Ia tersenyum begitu manis seperti biasanya.
"Hai, Guys dan selamat pagi untuk pacarku yang cantik di belakang sana," sapanya kepada kami lalu untuk diriku secara pribadi.
"Astaga! Andrew, ck, ck, ck." Raya membalas dengan seringai curiga kepada Andrew. Anak itu benar-benar belum mau menghentikan kecurigaannya terhadap kami.
"Hai, Ray. Kenapa?" tanya Andrew lagi.
"Heran deh, kagak ada puasnya loe. Bukannya tadi malam udah. Masih aja ganjenin Navya. Ingat, Bro. Belum nikah..." Jawaban dari Raya membuat Sinta tertawa. Sedangkan aku tertunduk malu-malu. Di sudut hatiku, aku merasa sangat kesal. Namun mau bagaimana lagi, ini adalah akibat dari kesalahanku yang tertidur di tempat Andrew tadi malam.
"Parah loe, Ray. Gue kagak ngapa-ngapain Navya kok. Gue udah PC sama Sinta. Astaga! Noh, cewek gue jadi malu, kan? Kasihan."
__ADS_1
Lalu, Sinta menghentikan tawa meledeknya dan memberikan timpalan, "iya, udah, udah. Bener kok, Ray. Mereka nggak ngapa-ngapain. Udah ah, kasihan Navya-nya. Parah ih! Kasihan noh Pak Sopir nungguin kita. Cus yuk, Guys."
"Thanks, Mak. Udah belain gue," sambungku.
Meski aku tahu, Raya memang sangat usil. Ia tidak berhasil dihentikan dan sesekali masih memberikan ledekan kepadaku dan Andrew. Hanya dengan dua kata yaitu tidak peduli, aku bisa menguasai diri. Sepasang sahabat itu berjalan terlebih dahulu dariku dan Andrew. Ya, tentu saja Andrew memilih menyamakan langkahnya denganku meski untuk sampai di luar pintu gerbang rumah saja.
Sesampainya dihadapan taksi online tersebut, kami masuk ke dalam taksi satu persatu. Seperti biasa, Andrew didepan. Sedangkan, aku dan kedua temanku di belakang. Tak lama kemudian, sang driver melajunya mobil taksinya untuk meninggalkan rumah ini dalam sementara waktu. Deru taksi ini terdengar, bercampur menjadi satu dan membentuk formasi rapi dengan mobil yang lain. Lalu lalang, orang-orang perkotaan hampir sama dengan ibukota Jakarta, hanya saja disini lebih rapi. Gedung pencakar langit dibangun di samping kiri ataupun kanan dari jalan raya. Indah, benar-benar negara bisnis yang super modern.
****
Akhirnya, kami kembali sampai di kantor. Antara lega dan juga malas, kerja dan kerja. Tumpukan berkas pasti akan menggunung di mejaku nanti. Belum lagi harus menemui satu wanita ular itu. Tampaknya, aku harus lebih menguatkan hatiku. Dan tidak boleh kalah sebelum bertindak. Tahan banting dan juga siap!
Seperti biasa, Raya dan Sinta berjalan lebih dulu, bahkan lebih cepat. Kini tinggal aku dan Andrew saja. Kugeser tubuhku seketika darinya supaya berjarah sedikit jauh. Untuk apa? Untuk melakukan sesuatu sebagai siasat pertamaku.
Andrew terdengar menggerutu pelan. Ia menghela napas setelahnya, mungkin masih merasa bahwa ideku sangat konyol. Dan aku rasa memang konyol, namun aku tidak peduli. Yang terpenting adalah misiku menebas calon pencuri kekasih orang itu.
"Navya, serius nih? Nggak usah sih, Sayang," pintanya dengan wajah memelas. Namun, aku masih tidak peduli. Permainan ini belum dimulai.
"Diem! Oke!" tegasku sembari melotot kepadanya. Tentu saja, Andrew kembali menggerutu. Meski sudah setuju, aku yakin hatinya tidak mau.
Kami berjalan dengan jarak yang berjauhan. Satu persatu langkah, kami ambil untuk masuk ke dalam kantor dan mencapai ruang kerja kami. Suasana sudah lumayan ramai, meski jam kerja masih cukup lama. Tampaknya, aku terhitung ke dalam karyawan yang rajin. Bagaimana tidak, tugasku akan banyak. Jika tidak berangkat pagi-pagi, sisa pekerjaan kemarin pasti tidak bisa aku tuntaskan
"Andrew!" Nah, ini yang ditunggu-tunggu. Aku menghentikan langkahku sejenak dan berbalik badan menghadap ke belakang. Ada Linseyld yang tampak berlari kecil demi menghampiri Andrew. Sungguh tidak tahu malu.
"Satu, dua, tiga, dug, jatuh loe ... Pft, hehehe," gumamku pelan
"Tolongin noh, Sayang. Waktunya kamu masuk hehe. Tapi, awas ya, jangan baper! Aku duluan," ujarku kepada Andrew.
Andrew melengos saja. "Males ih, mau bareng kamu."
"Hmm ...."
"Jangan sekarang, nggak mau aku, Sayang. Nanti nempel terus."
"Ya, itu yang dicari."
"Navya, jangan gila deh."
"Ah ... loe mah, nggak asyik!" Aku membuang wajah dari Andrew. Dengan tanpa memperdulikan dirinya, aku melenggang masuk ke dalam elevator sesegera mungkin sampai ia tidak bisa menyusulku.
Didalam kotak lift ini, aku merasa sebal lantaran Andrew yang tidak bisa diajak bekerja sama. Padahal, seharusnya aku yang merasa berat. Padahal ada kesempatan untuk dirinya untuk berpura-pura peduli terhadap Linseyld, dengan begitu aku bisa melancarkan rencanaku. Namun, ia tidak mau. Lalu, aku harus bagaimana untuk menghukum wanita itu?!
"Aaaaaaaaargh! Menyebalkan kan, tahu nggak seeeh!" Aku sedikit berteriak sembari mencengkeram kepalaku lantaran geram. Bahkan, sampai melupakan orang lain yang berada disini. "Oops, sorry."
Oh, sial! Malu gue!
__ADS_1
Warna mukaku mungkin sudah berubah menjadi merah bak udang yang direbus. Aku mengusap tengkukku dan menyeringis malu, dengan kata lain aku sedang salah tingkah. Karena rasa kesalku, sampai tidak menyadari bahwa seseorang ber-gender pria didalam sini.
"Emm ... cute girl," ujar pria itu.
"Ha-ha-ha, i'am sorry, Sir."
"Ok, no problem. Navya."
"Hah?" Aku terkejut saat namaku disebut olehnya.
Siapa orang ini? Aku menoleh ke arahnya. Ia bermasker dan berkacamata hitam. Aku tidak mengenalinya sama sekali. Namun, postur tubuhnya terasa tidak asing. Kuamati beberapa kali guna memastikannya. Sampai akhirnya ia membuka kacamata dan maskernya.
"Hah? Ne-nevan?! K-kok bisa disini?!" Ya, Nevan--mantan kekasihku. Aku yang terkejut semakin dibuat terkejut lagi. Seolah waktu berhenti begitu saja.
"Kenapa? Kaget?" tanyanya. "Aku pikir, tadi bukan kamu. Jadi aku diem aja. Tapi, ada sesuatu yang aku kenal dari kamu." Nevan menatapku tajam. Bahkan, ia menutup pintu lift lagi yang hendak terbuka. Lantas, apa yang ia lakukan di tempat ini?
"Apa-apaan kamu?! Aku mau kerja!"
Nevan berjalan semakin mendekat. Bahkan aku sampai bersandar pada dinding lift. Tidak tahu lagi, lift ini akan ke bawah ataupun ke atas. Aku merinding dibuatnya, tubuhku kaku seketika. Aku harus bagaimana? Sungguh menyesal aku mengabaikan Andrew beberapa saat yang lalu.
"Hei, Navya. Gimana bisa kamu jadi kayak gini?"
"A-apa maksud kamu. Emm ... loe?! Ja-jauh, mundur tolong."
Nevan menghela napas dalam. "Bagaimana bisa, mantan pacar saya yang cantik jelita jadi seperti ini? Saya pikir kamu sudah bahagia, Vya. Sampai aku memilih pergi ke Amerika dan berhenti mengganggu kamu. Apa pria itu tidak bisa membahagiakan kamu? Ck! Seharusnya aku tetap bersama kamu."
"Tolong, tolong jangan menilai kekasih saya seperti itu, Tuan muda Nevan. Saya bahagia, dan semua yang terjadi kepada saya bukan urusan anda! Saya bahkan tidak peduli lagi untuk apa anda di tempat ini. Tapi, tolong lepaskan saya. Dan jangan menahan saya disini. Saya membutuhkan uang dengan bekerja!"
Nevan mundur ke belakang, ia mengusap keningnya. Aku bisa bernapas lebih lega lantaran ia sudah bersedia menjauh dariku. Aku memencet tombol lift yang akan berhenti di lantai ruang kerjaku.
Cukup lama kami terdiam.
"Maaf, emm ... Navya. Aku lupa akan posisi diriku saat ini. Aku terlalu terkejut dengan dirimu saat ini. Dan ... perkenalkan, saya Nevan Satya seorang investor baru di perusahaan ini."
"Ya, ya, sa-salam kenal, Tuan Nevan. Saya permisi."
Aku meninggalkan Nevan setelah lift terbuka lagi. Sepertinya ia pun keluar, yang menurutku akan bertemu Affandy sebagai salah satu petinggi di perusahaan ini. Dengan langkah cepat, aku berjalan meninggalkannya. Tentu saja karena aku tidak ingin terlibat lagi dengannya. Pasti Andrew juga tidak akan menyukainya jika aku bertemu dengan Nevan.
Selepas itu, aku masuk ke dalam ruang kerjaku. Masih cukup sepi didalam sini, tampaknya para karyawan lagi masih asyik melakukan aktivitas lain. Namun, bukan berarti semuanya, sudah ada beberapa yang masuk. Andrew juga belum terlihat di tempat kerjanya. Kuhela napasku dalam dan mengembuskannya kembali. Kemudian aku duduk di tempatku sendiri.
Bagaimana bisa sampai se-kebetulan seperti ini? Nevan seorang investor baru dan harus di Singapura tempatku berada. Tampaknya hidupnya sudah berubah, ia sudah bersedia meneruskan perusahaan keluarganya. Aku rasa, sikapnya pun menjadi lebih dewasa. Dan aku? Betapa malunya diriku. Bertemu seorang mantan dalam keadaanku yang seperti ini. Miskin, tentu saja.
"Astaga! Gue malu banget! Mantan gue jauh lebih berhasil! Aaaaargh ...! Sumpah deh! Navya bodoh banget!" gerutuku.
Hilang sudah yang menjadi kesombonganku di masa lalu dan itu dihadapan Nevan Satya--mantan kekasihku. Sepertinya, saat ini ia sedang menertawakanku dari posisinya yang tidak aku ketahui. Aku tidak menyesal telah putus dengan dirinya, namun aku menyesal karena aku tidak lebih cantik setelah tidak bersamanya.
__ADS_1
Bersambung ....