Who Is My Love

Who Is My Love
Telepon dari ...?!


__ADS_3

****


"Serius loe, Nav? Gila! Tapi kalau gue diposisi loe, pasti ngelakuin hal yang sama sih. Sebel banget pasti ada orang yang kayak gitu," ujar Sinta setelah mendengar ceritaku tentang pertengkaranku dengan Linseyld.


Bahkan Raya pun turut menanggapi, "tapi emang harus digituin orang kayak gitu mah. Biar kapok, ada yang ditakutin juga. Gue dukung loe, Nav.


"Tapi, Ray. Kalau cewek itu bikin laporan gimana?" Pertanyaan dari Sinta ini sama seperti kegelisahan yang menerpa hatiku. Meski sudah diyakinkan oleh Affandy, nyatanya semalam suntuk aku tidak bisa tidur karena kepikiran.


Namun Raya merespon dengan hal yang berbeda. Ia tersenyum-senyum seolah sedang menyepelekan. "Nggak bakalan. Gue jamin, ribet urusan sama polisi tuh. Belum lagi kita juga harus hadepin atasan, nggak ada bukti juga, kan? Kata Navya tadi nggak ada CCTV di tempat itu."


Aku mengangguk pelan. "Iya, gue udah pastiin nggak ada. Karna emang ruang yang jarang digunain sih. Secara perusahaan itu kan gede banget, pasti wajar kalau ada ruang terbengkalai di tempat-tempat tertentu."


"Gue rasa, tu cewek mau ngerjain loe disitu, Nav. Mungkin mau kurung loe disitu, tapi perlawanan loe lebih ganas," timpal Sinta.


Aku bergeleng, tidak setuju atas perkataannya. "Nggak mungkin, Sin. Nggak ada ruangan yang nggak dikunci. Emang dasarnya mau nggertak gue doang, biar gue sadar kalau gue nggak pantes buat Andrew. Masalahnya bawa-bawa emak gue. Ya udah, gue ngamuk."


"She is a bad girl, seseorang yang agak terganggu mentalnya. Entah apa namanya, tapi kalau udah kayak gitu, itu udah diluar batas kewajaran rasa suka, Nav. Apalagi, Andrew udah jelas-jelas nolak dia. Perlu diperiksain tuh jiwanya," timpal Raya sembari menyesap susu cokelat hangat.


Aku hanya manggut-manggut saja. Siapapun pasti akan mengira demikian atas semua perilaku Linseyld yang menurutku pun sangat keterlaluan. Wanita itu terobsesi, bukan sebatas rasa suka saja yang diberikan kepada Andrew. Bisa jadi, imajinasinya sangat liar dengan menggunakan wajah Andrew. Astaga! Membuatku bergidik saja ketika membayangkannya. Meskipun aku tidak tahu itu benar atau salah. Namun perilakunya memang benar-benar aneh!


Lupakan tentang wanita itu, hari ini adalah hari membahagiakan bagi karyawan yaitu libur telah tiba. Tiga hari ke depan kami mendapatkan hari bebas seperti ini. Rencanaku hanya rebahan, makan, rebahan dan makan. Yah, kecuali kalau ada Andrew, sudah pasti aku berpacaran. Sedangkan pagi ini, aku sudah rapi dan bersantai ria bersama Raya dan Sinta. Kucurahkan semua yang ada isi hatiku kepada mereka. Andai saja ada Sita. Oh, aku sangat rindu kepada sahabatku itu. Sepertinya nanti aku harus menghubunginya, untuk mama juga.


Sinta berdeham seketika. "Hari ini mau kemana kita, guys?" tanyanya.


"Tidor!" Secara bersamaan aku dan Raya memberikan jawaban. Lantas, kami saling memandang dan tertawa setelahnya.


"Sayang banget hari libur ini. Kita ke negara ini belum pernah main lho, ke wisata gitu kek. Patung singa itu lho, pengen selfie disana gue," ujar Sinta.


"Enggak, hari pertama itu buat tidur. Nanti deh hari kedua baru, biar lemes dulu nih ketegangan di badan," jawabku.


Raya mengangguk, tanda sedang menyetujui ucapanku. "Bener kata Navya, Sin."


"Hmm ... kalian mah kebo semua."


Sinta memang yang paling rajin di antara kami bertiga. Sifatnya keibuan dan lebih dewasa. Berbeda dengan Raya yang mudah emosi, terkadang ngambek sendiri namun sembuh sendiri juga. Lalu, diriku? Ah, aku seperti ini saja. Tidak ada yang berubah dariku sepertinya. Maybe, hanya penampilan saja. Namun, aku memiliki rencana untuk kembali pada diriku yang dulu.


"Guys, gue ke dalem dulu ya? Mau telepon orang rumah," pamitku kepada Raya dan Sinta sembari berankal berdiri. Mereka hanya mengangguk, sedangkan diriku segera mengambil langkah menuju kamarku.


Menilik waktu yang baru menunjukkan pukul tujuh pagi, sepertinya Andrew masih tertidur pulas di bawah sana. Biarlah, ia juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Lagipula waktunya telah banyak dihabiskan untukku. Kalaupun ada apa-apa, tinggal naik ataupun turun melalui tangga rumah ini. Ya! Andrew bisa disebut sebagai security untuk para wanita yang tinggal di rumah ini.


Sesampainya di kamar, aku merebahkan diri di atas ranjang berukuran kecil tersebut. Nikmatnya hari libur mampu memberikan ketenangan jiwaku. Meski hanya sejenak, tidak mengapa, yang pasti aku memiliki waktu untuk tidak berjumpa wanita-wanita ular itu. Seandainya bisa pun, aku sudah menghalau mereka semua untuk pergi dari hadapanku. Namun apa dayaku, mereka adalah senior didalam lingkup pekerjaanku. Tidak ada pilihan lain, kecuali diam, bertahan dan menghadapi.


"Ah, yowis-lah. Kangen Sita, pengen telepon. Semoga dia angkat deh," gumamku. Lalu, aku menggeserkan badan mendekati meja kecil di samping ranjang ini. Kuambil benda kotak yang menjadi sarana komunikasi tersebut. Setelah didapat, aku segera memainkan jari-jariku di atasnya. Kucari keberadaan nomor kontak milik sahabatku tercinta. Kemudian, kutekan tombol panggilan berwarna hijau.


"Beb-ku sayang, halo. Ih ... kangen, kenapa baru telepon gue?!" Suaranya yang khas melengking dan berhasil membuat gendang telingaku hampir pecah karenanya. Sita tidak pernah berubah, entah harus bersyukur atau malah mengeluh.


"Iya, Sit. Halo, apa kabar loe? Sorry ... gue sering sibuk, capek terus lembur juga dihari libur," jawabku menjelaskan kepadanya. Terlebih saat mengingat panggilan darinya yang beberapa kali tidak sempat aku jawab.


"Sekarang udah sukses kayaknya ya, Beb? Gimana sama do'i nih? Oh iya, gue baik dan sehat kok."


"Lancar kok, Sit. Gue masih sama Andrew. Syukur deh kalau baik, gue juga sama. Emm ... gimana kerjaan?"


"Makin riweuh, Beb. Makin kurang anak lamanya, pada nikah terus keluar deh. Anak-anak baru masuk tapi adaptasinya pada lama. Sebel tauk, kerjaan yang harusnya diurus dua orang. Sekarang malah jadi satu orang. Bah! Pengen keluar terus nikah gue."


Semakin panjang cerita mengenai hari-hari milik Sita disana. Suara lengkingan terkadang ia lontarkan, berlaku centil seperti biasanya dirinya. Aku rindu, sangat rindu. Tidak bisa kuulangi semua perkataannya. Disini, aku hanya menjawab dengan kata iya sembari menitikkan air mata. Hampir satu tahun aku berada disini, mungkin lima bulan lagi akan genap ke angka dua belas bulan. Rinduku semakin menggebu pada kampung halamanku.


Sampai akhirnya, Sita lebih tenang dari semua perasaan kesal yang bisa ia curahkan kepadaku. Dari sana, ia tengah menghela napas leganya dengan gumam sebuah kepuasan. Aku tidak tahu, selepas diriku pergi ia dekat dengan teman siapa. Bukan hal sulit baginya untuk menjalin pertemanan yang baru. Tentu saja tidak seperti diriku yang sampai saat ini memiliki gengsi yang teramat besar.


"Beb? Masih disitu, kan?"


"Ah, iya. Masih kok, Sit. Tenang aja gue dengerin curahan hati loe hehe."


"Thanks, Beb. Berasa lega banger kalau udah berkeluh kesah itu tuh. Kangen nih sama loe, Beb. Kapan pulang? Pasti masih lama ya?"

__ADS_1


"Emm ... gue nggak tahu mau ambil kontraknya nyampe berapa tahun. Kontrak awal udah mau habis, nanti tanda tangan untuk kontrak kedua. Kecuali kalau udah karyawan tetap, udah tenang."


"Emm ... Beb, tapi gue butuh loe pulang. Sekitar tiga bulan lagi, bisa nggak?"


"Ada apa emang? Nggak tahu, setahu gue izin dan cuti diambil setelah satu tahun kerja, Sit."


"Iya sih, tapi loe kan deket sama Pak Fandy. Bisa kali dirayu dikit. Gini ... gue mau nikah, Beb. Dua minggu yang lalu udah lamaran."


"Apa?!" Betapa terkejutnya diriku atas kabar tersebut. Bagaimana bisa seorang Sita yang terlihat masih sendiri tiba-tiba sudah mau menikah? Aku yang terkejut sampai membangkitkan diriku dari posisi rebahanku. Terlalu tiba-tiba rasanya, namun aku turut bahagia.


Ah, aku ingin mengejutkan tentang rencana pernikahanku dengan Andrew yang akan digelar setelah kontrak kedua. Kini malah aku yang lebih dulu ia kejutkan. Aku menjadi penasaran, dengan siapa Sita akan menikah. Lelaki yang bagaimana? Aku sungguh tidak sabar menantikan pernikahan mereka. Hanya saja, apa aku bisa pulang? Aku bisa meminta bantuan kepada Affandy, hanya saja aku terlalu tidak enak hati. Aku sudah banyak merepotkan dirinya. Namun disatu sisi, aku ingin menghadari hari bahagia sahabatku itu.


"Ah, gimana ya? Gue nggak tahu dapet izin enggaknya, Sit."


"Ayolah, loe harus jadi bridesmaid gue pokoknya. Akan terasa kurang kalau nggak ada loe, Beb. Bisa kali, coba nanti dong."


Aku terdiam sejenak, kemudian memutuskan. "Oke, gue coba nanti. Tiga bulan lagi, kan? Yah, gue harap kebijakan perusahaan disini beda sama yang disitu. Jadi nggak perlu tunggu satu tahun izinnya."


"Amin ... pokoknya loe harus dateng. Loe pasti juga penasaran kan sama calon gue? Ah, ganteng habis. Gue dijodohin sih, tapi bener-bener cocok. Do'i juga baik, Beb. Makanya loe harus dateng."


"Iya, iya, gue usahain demi loe."


"Emm ... gue tunggu. Ya udah ya, dipanggil bokap gue."


"Iya, tutup aja."


"Bye, Beb. Miss you."


Selepas itu, Sita mematikan panggilan suara kami dari sana. Aku termenung sebentar setelahnya. Semburat senyuman terlukis melalui bibirku. Sita akan menikah, rasanya masih tidak percaya. Ia memang cantik dan imut, namun selama ini ia terbilang santai dalam urusan cinta. Tidak kusangka-sangka, ia malah bergerak lebih cepat daripada diriku. Baiklah, aku akan mencoba menanyakan perihal izin kepada Affandy. Semoga saja, bisa pulang meski hanya sebentar. Aku akan mendampingi Sita dihari istimewanya nanti. Aku berjanji!


Kapan gue sama Andrew? Lancarkah rencana kami nanti? Gue capek main pacar-pacaran, pengen nikah juga. Tapi ... apa orang t**ua Andrew bisa suka sama gue?


Oh, bagaimana tentang hal itu? Hal yang berkenaan dengan calon mertuaku, jikalau memang benar-benar berjodoh dengan Andrew. Mau bagaimanapun, diriku adalah penyebab berakhirnya hubungan Andrew dan Lusi, sekaligus rencana pernikahan mereka. Jika memikirkan tentang hal ini, kadangkala membuat nyaliku menciut. Aku terlalu takut untuk menghadapi orang tua Andrew. Aku tidak tahu. Sebenarnya tidak boleh berprasangka buruk, namun kembali lagi pada masa laluku.


"Apa perjuangan gue sama Andrew juga akan membuahkan hasil baik?"


"Ah, udahlah! Biar Tuhan yang atur," gumamku untuk menenangkan diriku sendiri.


Lalu, tiba-tiba terdengar dering ponsel milikku. Lantas, aku mengambilnya. Ada rasa heran yang datang pada saat melihat digit angka milik seseorang yang tidak aku kenal. Sejenak aku berpikir, enggan rasanya untuk menganggkat panggilan tersebut. Namun aku juga merasa khawatir jika itu adalah hal penting. Akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya.


"Ha-halo, si-siapa ya?" tanyaku kepada pemilik nomor tidak dikenal itu.


"Ini, Navya?" Suara parau milik seorang wanita yang mungkin usianya hampir sama denga mama.


Aku tertegun dibuatnya, bingung itulah perasaan pertama yang muncul. "I-iya, benar. Ini siapa ya?"


"Kamu pacarnya anak saya ya?"


"Hah?!"


"Saya Siti, ibunya Andrew."


"O-oh." Bagaimana aku tidak terkejut jika yang menghubungiku adalah orang yang baru saja aku pikirkan. Seolah beliau memiliki perasaan yang sangat peka.


Rasa kelu lidahku semakin bertambah. Aku tidak menjawab lebih lanjut lantaran bingung dan bingung. Untuk apa beliau menghubungiku? Apakah untuk mencerca diriku karena banyaknya kerugian atas kehadiranku?


"Hai, Neng. Masih disitu," ujar beliau demi memastikan kondisiku disini.


Aku tersadar dari lamunanku dengan salah tingkah. "Ma-masih ada kok, Tante. Emm ... sa-salam kenal sebelumnya Tente Siti. Saya Navya."


"Hmm ... anak kota ternyata bisa lebih sopan ya."


"I-iya, Tante."

__ADS_1


"Hmm ...."


Jantung ini tidak berhenti berdebar tidao karuan. Tubuhku, bahkan bibirku pun bergetar karenanya. Aku telah dihubungi oleh ibunda dari kekasihku. Rasanya sangat gugup meski belum ada pembahasan mengenai hubungan Lusi dan Andrew. Bagaimana ini? Semua benar-benar tidak aku duga-duga. Ini pasti Andrew, ya! Ia yang memberikan nomor ponselku kepada beliau.


Ah, rasanya sangat ingin berteriak kencang. Aku ingin turun ke bawah menemui Andrew dan memarahinya lantaran tidak ada pemberitahuan sama sekali tentang hal ini. Aku benar-benar gugup sekaligus takut. Kali ini berbeda, dulu aku bisa langsung akrab dengan ibunda dari Nevan. Tapi sekarang? Aku masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri, sungguh!


Lalu helaan napas dalam terdengar dari nun jauh sana. Aku tidak bisa memastikan hal itu menandakan benci atau bagaimana.


"Navya?"


"I-iya, Tante."


"Kamu gugup toh? Kayaknya Tante buat kamu terkejut ya?"


"Hehe ... sedikit kok, Tante."


"Hmm ... jadi, kalian beneran mau menikah?"


"So-soal itu ...?"


"Menikah ya menikah. Itu adalah keinginan yang mulia, jelek kalau terus ditunda."


"Tapi saya ... bukankah saya sumber masalah atas batalnya pernikahan Andrew bersama kekasihnya pada saat itu? Saya benar-benar minta maaf, Tante. Saya tidak pernah tahu tentang hubungan mereka."


Tante Siti kembali menghela napas dari sana. Sedangkan diriku merasa cemas, aku menggigit jariku untuk mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi. Tak apa, ini adalah kesalahanku. Maka aku harus menanggungnya, bukan?


"Lusi dan Andrew emang udah pacaran sejak lama. Lusi anak yang baik, tapi sebagai oranv tua saya juga bisa merasakan tentang hati anak saya."


"Emm ...."


"Justru Tante mau berterima kasih sama kamu, Neng."


"Eh? Terima kasih? Untuk hal apa, Tante?"


"Andrew anak yang baik. Ini bukan karna dia anak saya. Tapi dia emang anak yang baik dan mandiri. Berkat kamu dia bisa membuat keputusan besar sebelum semuanya terlambat. Yah, saya tahu emang agak mengejutkan disaat mereka kembali berbaikan pada saat itu."


"Emm ... iya, Tante."


"Tapi saya tahu, pertengkaran yang terjadi diantara mereka pada saat hubungan sudah semakin lama. Pernah sekali saya tanya sama Andrew, kenapa nggak putus kalau udah nggak cocok. Jawabnya hanya sayang hubungan udah terlalu lama. Disini saya khawatir, belum menikah saja mereka kerap bertengkar. Gimana kalau sudah menikah?"


"...."


"Emm ... saya nggak tahu kehidupan Andrew ketika di kota. Tapi, setiap kali pulang pasti ada aja pertengkaran. Diakhir kepulangannya kemarin, dia benar-benar cemas dan gelisah. Ternyata ada kamu yang ditinggalkan. Sempat menceritakan tentang kamu pada saat itu. Yah, apapun dimasa lalu, saya berterima kasih karna kamu sudah memaafkan dan mau menerima Andrew kembali, Neng."


"I-iya, Tante. Sama-sama."


"Saya akan tunggu kepulangan kalian ke tanah air. Saya akan atur pernikahan kalian dan datang ke rumah orang tua kamu. Nanti kirim saja alamatnya. Emm ... baiklah, kayaknya kamu sedang beristirahat. Jangan sungkan menelepon saya. Saya tutup dulu ya, Neng?"


"Baik, Tante."


Panggilan telepon pun dimatikan. Selepas itu, aku terdiam karena syok. Apa yang aku dengar tadi kembali tidak terduga. Ucapan terima kasih dan bukan kebencian semata. Astaga! Rasanya aku sangat ingin berterial sekencang-kencangnya karena rasa bahagiaku yang tidak terkira. Aku sudah mendapatkan restu meskipun secara tidak langsung. Bagaimana ini aku senang sekali?


"Aaaaaaaaaaaaaaaa!" Akhirnya aku tidak bisa menahan gelora semangat di hati sampai terpekik sendiri.


Grek! Pintu kamar yang tidak aku kunci tiba-tiba dibuka oleh seseorang. Sinta dibaliknya, ia menatapku dengan heran. Aku sampai merasa malu sendiri. Kulupakan keberadaan kedua temanku karena rasa bahagiaku. Astaga! Apa-apaan diriku? Aku benar-benar senang.


"Apaan sih, Nav? Teriak-teriak nggak jelas?" tanya Sinta kepadaku.


Aku terkekeh kecil. "Dapet hadia berkah yang besar," jawabku.


"Nakutin aja loe. Aih."


"I love you, Sinta."

__ADS_1


"Dih, geli gue."


Bersambung ...


__ADS_2