
Beberapa saat kemudian, mobil Haris memasuki sebuah rumah yang cukup mewah khas kediaman orang kaya. Haris memarkir mobilnya di halaman rumah yang luas. Lalu, ia membukakan pintu mobil untukku.
Haris menggandeng tanganku layaknya seorang kekasih. Ia membawaku memasuki bangunan itu. Ia tidak memperdulikan sama sekali dengan perasaanku yang sangat tidak nyaman. Meski tidak mengatakan apapun, Haris menunjukkan sikap begitu lembut sekarang. Entah apa yang ia rencanakan.
"Sayang kamu harus bersikap manis ya," ujarnya padaku, setelah kami sampai didepan pintu rumah.
"Harus?" tanyaku kemudian.
"Ya harus banget, dan berlakulah sebagaimana calon istri yang baik!"
"Sial!"
"Tidak usah mengumpat Navya!"
Tidak! Bagaimana aku bisa untuk tidak mengumpat? Ini sesuatu yang buruk. Seharusnya aku sudah sibuk di kantor dan tidak berada ditempat neraka ini.
Aku pikir Haris akan bersikap lembut seterusnya. Nyatanya belum ada lima menit, Haris sudah mengeluarkan sifat buruknya lagi. Ia menegaskanku untuk bersandiwara layaknya tunangan yang mesra. Tapi apa mau dikata, aku hanya bisa mengutuk dalam hati.
"Hei Haris," sapa seorang pria yang sebaya dengan Haris setelah membukakan pintu rumah.
"Hei sob Rudy, pa kabar?" balas Haris. Kemudian mereka saling memeluk layaknya salam lelaki.
"Ini siapa Ris?" tanya pria itu lagi, kini telunjuknya ia acungkan padaku.
"Calon istri sob haha."
"Lumayan haha, Loe bisa yakin mau nikah? hahaha... masuk sini"
Bad boy begitulah sebutan yang aku berikan kepada pria tersebut. Ia tampak sama saja dengan Haris. Dua orang yang penuh dusta dan juga arogansi. Dua orang yang rasa tanggungjawabnya tidak ada sama sekali. Mereka hanya tau cara bermain dan menghamburkan uang.
Dan mirisnya, aku terjebak di tempat memuakkan ini bersama mereka.
Sebuah rumah yang memiliki ruangan sangat luas dengan tiga lantainya. Dindingnya terbalut cat berwarna putih serta beberapa ornamen berwarna emas. Aku tidak menyangkal, jika akupun sangat kagum dengan bangunan yang bagaikan istana ini.
"Hai Haris sayang," ujar seorang wanita, ia tampak berjalan kemayu menghampiri Haris.
"Hai Vines cantik," balas Haris.
Aku bergidik jijik melihat pemandangan aneh tersebut. Entah siapa wanita yang bernama Vines itu. Ia mengecup mesra bibir Haris tanpa memperdulikan keberadaanku. Begitu juga Haris, padahal baru saja ia mengatakan bahwa aku adalah calon istrinya. Gila bukan?
Daripada itu, mataku bergerilya melihat seisi rumah sekaligus orang-orang yang ada disini. Terhitung empat orang pria selain Haris dan satu orang wanita selain aku dan Vines. Mereka duduk di ruang tamu yang memiliki kursi-kursi mewah berwarna keemasan.
"Cantik banget neng," ujar seorang pria berkemeja hitam sembari menatapku nakal.
"Thanks," jawabku singkat
"Jangan genit sob Bio, do'i calon istri gue haha," kata Haris memperingati temannya tersebut meski terkesan bercanda.
"Oke oke brother, by the way namanya siapa sis?" kata pria itu lagi
"Navya," jawabku.
Lalu mereka memperkenalkan diri masing-masing setelah diberi intruksi oleh Haris. Dan nama mereka masing-masing adalah Brani, Ruben, Bio, Rudy, Vines dan juga Dewi.
Berbeda dengan teman-teman pria Haris, dua wanita itu menatapku tajam dari ujung kepala sampai kaki. Terkadang juga berbisik satu sama lain. Meski parasnya masuk dalam kategori cantik, namun mereka tidak bisa memadamkan rasa tidak sukanya padaku. Semua itu terbukti melalui ekspresi masamnya yang ditujukan padaku.
Memangnya siapa yang butuh rasa suka kalian terhadapku? Begitulah pikirku.
__ADS_1
"Sayang kita duduk disana yuk bareng mereka," ajak Haris sembari menggandeng tanganku.
"Emm... maaf tapi aku pengen ke toilet," jawabku beralasan supaya bisa membuang waktu sedikit.
"Aku antar ya," Katanya.
"Jangan mau Navya entar loe diintip hahaha," seru Brani yang terkesan meledek kami.
"Nggak usah Ris tunjukin aja dimana."
"Sialan loe Bran! Itu pintu sebelah kanan masuk aja entar belok kiri ya sayang."
"Oke."
"Bersikaplah yang baik sayang."
"Iya sayaaaaangg!"
Dunia terasa gila untuk sesaat. Aku benar-benar tidak karuan hari ini. Aku benci Haris, aku benci dengan semua orang yang ada disini. Sebuah kemalangan yang tidak terduga harus aku lalui.
Sesampainya di kamar kecil, aku terduduk lesu dibalik pintu yang tertutup. Aku berjongkok dan menundukkan kepala diatas kedua lengan tangan yang terpangku lutut.
Ada butiran air mata yang menetes pelan-pelan meskipun tanpa isak tangis yang terdengar. Hatiku bagaikan tergempur badai kepiluan yang begitu dahsyatnya. Rasa benci menyeruak kedalam relung hati. Tidak hanya untuk mereka, namun untukku juga yang tidak bisa berbuat apa-apa.
TOK... TOK... TOK!!!
"Woeee... lama amat sih loe," seorang wanita meneriakiku sembari mengetuk pintu kamar kecil berulang kali.
"I-iya bentar," Jawabku.
Dengan cepat aku mengelap bekas tetesan air mata pada wajahku lalu buang air kecil. Aku gelagapan. Tidak seperti diriku yang biasanya sangat cuek, kali ini aku sangat takut.
Yang lebih membuatku terkejut, saat ia yang merupakan Vines menarik kuat tanganku dengan kuay untuk segera keluar. Aku pikir ia sedang terkencing-kencing. Nyatanya, ia memojokkanku pada sisi tembok di seberang kamar kecil.
"Loe ngaku loe siapa?" tanyanya begitu keras, seakan-akan mampu membobol gendang telingaku.
"Gue Navya," jawabku.
"Gue nggak nanya nama loe bego!"
"Calon istrinya Haris!"
"Dasar murahan nggak guna!!!"
Plaakkk!!!
Pipiku perih, sangat perih. Tamparan keras , Vines berikan padaku. Ini gila! Aku tidak tau mengapa ia melakukan hal tersebut. Aku hanya orang baru disini. Aku bahkan tidak tau apapun.
"Loe murahan, cabe, hina, jelek, kampungan. Loe masih punya muka mau jadi istri Haris hah???" cerocos Vines menghakimiku dengan hinaan bertubi-tubi."Loe pikir loe udah jadi nyonya disini? Loe cuma orang baru! Berani-beraninya ngomong dengan entengnya, kalo mau jadi calon istri Haris," sambungnya.
Tangannya begitu kuat mencengkeram rambutku. Sakit sekali. Semua umpatan kasar terus Vines katakan padaku. Herannya, tidak ada satu orangpun yang datang melerai kami. Atau memang mereka sengaja.
Vines terus mencercaku dengan banyak hal yang buruk. Memangnya aku setakut itu? Lama-lama aku juga tidak tahan dan perlahan rasa takutku menghilang. Apalagi kepalaku semakin sakit, rambutku seakan-akan hampir tercabut dari akarnya. Vines menggila, tidak! Vines memang gila!
"Ber*ngs*k!!!" umpatku padanya.
"Apa loe bilang? Berani ya loe?" ujar Vines.
__ADS_1
"Lepas atau gue abisin loe???"
"Ohh... sok jago loe ya cabe!"
Bruuukkk!!!
Vines terkapar dilantai. Amarahku sudah memuncak sekarang, ia pikir aku lemah. Nyatanya aku tidak selemah itu. Meski tidak terlalu jago, aku sempat menguasai beberapa teknik karate secara otodidak yang tidak banyak orang tau. Aku telah mempelajarinya sedikit dibeberapa waktu luang. Meski masih akan kalah jika berhadapan dengan pria.
Aku merapikan tatanan rambutku yang kacau. Kemudian berkacak pinggang di hadapan Vines yang masih tersungkur. Wajahnya yang ayu namun terkesan judes dan murahan menatapku ngeri. Aku juga tidak tau, semenakutkan apa raut mukaku sekarang.
"Loe jangan macem-macem ama gue!" Ujar Vines.
Aku menghiraukannya. Aku lebih memilih melepas tali tasku yang tebal dengan dua besi dimasing-masing ujungnya. Aku membuang tasku ke lantai. Lalu sok-sokan mengancamnya, seolah-olah aku akan menyiksanya dengan benda tersebut.
Padahal, semua itu tidak mungkin aku lakukan. Mau bagaimanapun otakku masih sehat dan tidak bisa melakukan hal sekejam itu.
"Toloooooooonggg!!! Tolong, toloooonggg Haris, Braniiiiii," teriak Vines begitu keras.
"Diam! Pengecut! Loe yang mulai bego!" Kataku menegaskan padanya.
"Nggak loe yang salah dari awal, psikopat, murahan loe s*nting Navya!"
"Gue s*nting? Loe yang s*nting! Haris? Ambil, ambil sonoooo!!!"
"Loe yang ngrebut dia dari gue Navya! Dia udah tergila-gila ama loe, loe yang harus tanggung jawab! Balikin Haris gue yang dulu, balikin ber*ngsek!!!"
"Emangnya gue mau ama preman itu. Dia yang maksa, loe yang harus ambil lagi!"
"Nggak psikopat! Loe gila Navya, loe bego, stres, loe hina, kampungan! Loe nggak lebih baik dari gue! Tapi loe dapetin apa yang gue mau!"
"Vanes jaga kata-kata loe!"
"Aaaaaaaaaaaa... Tolooooongg Haris!!!"
Aku bergerak mengayunkan tali tasku kearah Vines yang belum juga bangun. Sepertinya sendi kakinya terbentur lantai sampai tidak bisa berdiri. Aku tidak peduli lagi prinsip pikiran sehatku.
Entah setan mana yang merasuki jiwaku, aku tidak memperdulikan teriakan Vanes yang keras. Terhitung sudah tiga kali aku mencambuknya. Apa aku benar-benar sudah gila dengan semua hal yang terjadi?
"Hentikan Navya!!! Loe bisa bikin mati anak orang," teriak seseorang yang tidak lain adalah Haris.
Beruntung Haris cepat datang sebelum aku melakukan hal gila ini lagi. Ia mencengkeram tanganku dari belakang. Air mata mengucur deras membasahi pipiku. Haris memelukku, ia mencoba menenangkanku.
Vines di papah oleh Brani dan Ruben. Sedangkan yang lain hanya menyaksikan. Mereka akan membawa kami keruang tengah untuk membicarakan hal ini baik-baik.
"Emm.. Navya ikut gue aja," sergah Haris sebelum melangkah.
"Haris apa kamu gila? Dia hampir membunuhku, apa yang kamu lihat dari cewek cabe udik itu? Dia psikopat Haris?" cerocos Vines yang benar-benar keras kepala.
"Ris selesein bareng aja," sambung Dewi.
"Murahan, udik, psikopat? Sekali lagi loe bicara omong kosong tentang calon istri gue, habis loe Vines!" Ancam Haris.
"Hariiiiiiiiiiiiisss!!!"
Haris membawaku kesebuah taman kecil di samping rumah itu. Ia memapahku sembari merangkul pundakku. Meski aku jijik, namun aku sudah tidak ada tenaga untuk bertengkar.
Bersambung...
__ADS_1
Budayakan tradisi like dan komennya setelah baca!