
Kuambil ponsel, dompet kecilku dan kusisir rambut pendekku terlebih dahulu. Tak lupa juga aku membasuh wajah supaya lebih segar. Dengan balutan baju yang masih sama, aku menuruni tangga rumah ini lagi. Aku menghampiri Andrew yang memakai busana yang sama. Rasanya sedikit menggelitik hati. Bukan lagi dress atau sepatu imut bahkan berhak tinggi, melainkan sesimpel ini. Begitupun dengan Andrew, bukan lagi kemeja bersama celana jeans, melainkan kaos oblong bersama celana training panjang sama sepertiku.
"Udah siap?" tanyanya kepadaku.
"Yeah," jawabku.
"Ayo kita jalan-jalan."
"Oke."
Setelah itu, kami berjalan bersamaan keluar dari area rumah ini. Hanya dengan sebuah sandal jepit rumahan tanpa mobil putihku ataupun milik Andrew. Yah, namanya di negeri orang, miskin itu normal, bukan? Seperti menjadi orang lain yang bahkan lebih dibawah daripada sebelumnya. Namun, aku tidak peduli. Meski masih sedikit kurang percaya diri, tetap saja aku merasa asyik.
Mengabaikan tentang sisa pekerjaan, dan kami malah berjalan-jalan mencari makanan yang semurah mungkin. Namun, dibalik ini, ternyata langit ikut memberikan dukungan. Bintang dan bulan saling memberikan sinar yang cerah. Seolah ingin agar aku ikut bersinar seperti itu. Bukan dengan kekasihku, melainkan seseorang yang pernah singgah di hatiku, aku menapak kaki diatas tanah Singapura ini.
"Mau makan apa, Vya?" tanyanya.
"Emm... yang murah aja," jawabku.
"Yang penting nasi. Biar nggak sakit."
"Yah, orang Indonesia emang harus makan nasi ya?"
"Bener. Kalau nggak makan nasi, besok masuk angin. Makan mie aja harus pake nasi."
"Hahaha... Oke, emang warung disini kayak di Indo?"
"Nggak tau gue."
"Emm... pengen makan ayam kecap."
"Hmm... ternyata seleranya nggak berubah ya."
"Nggaklah."
"Hehe."
Kemudian kami menghentikan langkah disuatu tempat yang pas untuk mencari taksi. Satu menit, dua menit, tiga menit, dan akhirnya butuh tujuh menit saja untuk mendapatkan satu kendaraan angkutan itu. Yah, namanya juga masih komplek di perkotaan yang besar.
Sang driver menghentikan laju taksinya tepat dihadapan aku dan Andrew. Kemudian aku diperkenankan masuk terlebih dahulu oleh Andrew. Setelah diriku, bergantian dirinya dari sisi kiri. "Where are you going, Bro and Sis?" tanya sang sopir.
"I want to go to food outlets in this city, can you deliver us?" tanya Andrew kembali.
"Of course."
Taksi dilaju kembali oleh sang driver. Meski kami masih tidak tahu akan menuju kemana. Yang pasti gerai makanan, harus makanan karena aku sangat lapar. Tenagaku sudah terkuras habis oleh pekerjaan. Jadi, sepertinya aku memerlukan asupan energi yang cukup banyak. Beruntungnya uang sakuku sisa dari tabunganku masih tersedia. Yah, setidaknya jangan sampai Andrew membayari semuanya. Terlebih kami sama-sama perantau yang sedang memperjuangkan nasib hidup.
Aku menatap gemerlap lampu-lampu disetiap jalan. Gedung-gedung tinggi pencakar langit, yang mirip dengan ibukota Indonesia. Namun, sejujurnya negara ini jauh lebih bersih. Berbeda dengan Indonesia yang memang luas dipenuhi dengan desa dan kampung kecil, di negara ini yang aku dengar sangat jarang ditemui sebuah perkampungan. Mungkin memang ada, namun tidak banyak. Lantaran, negara ini adalah negara bisnis yang modern dengan segala fasilitas yang serba cepat. Penuh gemerlap lampu oota yang bersinar benderang.
"Hei, ngalamunin apa Vya?" tanya Andrew tiba-tiba.
Aku tersentak kemudian menoleh ke arahnya. "Enggak kok, Ndrew," jawabku.
"Udah kangen rumah ya?"
"Loe sendiri?"
"Lah, sama aja. Keluarga gue kan juga di kampung, nggak bakal ketemu sekalipun balik ke kantor lama."
"Salah sendiri ngikutin gue. Jadi, makin jauh kan sekarang?"
"Cinta emang membutakan, Navya."
"Cinta itu membegokan bukan membutakan."
"Hahaha... ya sih, dua-duanya deh."
"Hmm..."
Aku tersenyum simpul saja. Kemudian menatap ke luar jendela lagi. Ingin menghapalkan setiap likukan jalan, supaya melekat di otakku. Dan juga sebagai bukti bahwa aku pernah menanjaki negara ini, sebagai negara pertama yang aku kunjungi. Mungkin terlihat norak, namun memang pada kenyataannya aku tidak pernah berlibur ke luar negeri.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Lantas, aku meraihnya dari dalam kantong celanaku. Aku menatap siapa sang pemanggil. Dan Andrew berdeham seketika. Aku rasa ia mengintip karena ingin tahu siapa yang menghubungi. Dan pelakunya adalah Affandy. Untuk apa Affandy meneleponku? Soal pekerjaankah? Aku malas membahas tentang pekerjaan, namun aku tidak enak untuk mengabaikan panggilan darinya. Sampai akhirnya aku menekan tombol hijau dan mengangkatnya.
"Ya halo," sapaku kemudian.
"Halo, Navya. Lagi apa kamu?" tanya Affandy dari kejauhan sana.
"Emm..." Aku menatap Andrew, dan ia mengisyaratkan agar aku tidak mengatakan tentang keberadaanku bersamanya. "Nggak ngapa-ngapain. Kenapa?"
"Nggak, pengen nelpon aja. Tapi, kok kayak suara mobil ya? Kamu dimana?"
"Dimana aja, Fandy."
"Oh... ya udah, mau istirahat ya?"
"Ehem."
"Ya udah deh, silahkan istirahat dulu. Bye, Navya."
__ADS_1
"Iya, bye juga ya Fandy."
Aku dan Affandy saling mematikan panggilan yang kurang penting itu. Kemudian, aku memasukkan kembali ponselku ke dalam kantong diiringi dengan suara dehaman dari Andrew lagi. Namun, aku tidak memperdulikan kecemburuannya itu. Aku merasa malu jika kami harus berdebat di taksi ini. Terlebih ada orang lain yaitu sang driver yang berada disini.
Namun lagi-lagi, aku dibuat terkejut lagi. Andrew merangkulkn satu tangannya ke pundakku dan menarik kepalaku. Aku berupaya untuk melepaskan diri, tenaganya tidak bisa aku tandingi. "Lepasin...!" tegasku dengan suara pelan.
"Gue masih jadi TTM loe, Navya. Jadi berhak begini juga hehe," jawabnya santai.
"Malu, Ndrew...!"
"Dia kagak ngerti."
"Gue turun disini nih."
"Coba aja kalau berani."
"Andrew!"
"Apa?"
"Lepasin!"
"Nggak mau."
Sialnya sang driver malah ikut tertawa dan bergumam menggoda. Sepertinya rencanaku mengajak Andrew mencari makan bersama adalah langkah yang bodoh. Belakangan ini Andrew lebih diam tidak banyak tingkah, aku rasa ia bisa lebih memahami diriku. Nyatanya tidak sama sekali. Kalakuannya masih sama saja. Tapi, kenapa aku tidak terlalu kesal? Ah... sudahlah, lupakan saja. Aku hanya perlu bertahan sampai tujuan nanti.
Beberapa menit kemudian, sang driver menurunkan dan Andrew di suatu tempat yang dipenuhi gerai makanan. Bukan hanya makanan, bahkan perbelanjaan. Oh... aku benar-benar khawatir jika hobi shoping-ku kambuh lagi.
Pokoknya gue harus tahan! Makan pun yang murah-murah aja. Titik!
Kami turun dari mobil selepas Andrew membayar ongkos taksinya. Sang driver berlalu bersama taksinya itu. Kini tinggal kami berdua yang menatap tempat itu penuh rasa kagum beserta penasaran. Sontak saja, aku dan Andrew saling bertatap mata. Ia menggenggam tanganku dan mulai mengajakku sedikit berlari untuk mendapatkan suatu penahan lapar. Yah, anggap saja kami sedang joging di malam hari.
Setiap gerai, kami hanya masuk dan melihat-lihat saja. Kampungan sekali, bukan? Sebenarnya beberapa kali Andrew menyarankan di setiap tempat, namun aku menolak dan memilih mencari tempat yang lebih murah. Meski begitu, tidak membuat kami hanya berjalan saja. Kami membeli beberapa makanan kecil sebagai penunda lapar. Ironis sekali, padahal saat di negara sendiri, aku sering jajan tidak karuan. Dan kini, harus bisa menahan nafsu dalam berbelanja.
"Ini juga pentol disini," celetuk Andrew sembari menyantap sebuah cemilan yang ditusuk dengan semacam lidi.
"Pentol? Hahaha... emang di Singapore ada pentol?" tanyaku heran.
"Nggak tahu apa namanya, jadi ya pentol aja."
"Hmm... kampungan loe."
"Halah, nggak masalah. Daripada yang udah masuk malah ngajak keluar. Hayo loe."
"Sayang duit hehehe. Kalau nggak mau hebat, nanti papa nggak cepet bebas."
Andrew menghela napas tatkala aku mengatakan tentang itu. Tak lama kemudian, ia kembali menarik kepalaku ke dalam bahunya dan kami berjalan. Namun, bukan seperti sepasang kekasih. Melainkan seorang kakak yang memperlakukan seorang adik. Aku berusaha melepas dan tetap saja tenagaku jauh lebih kecil dibanding dirinya.
"Sakit, Navya!" pekiknya.
"Bodo'!" jawabku acuh sembari mengambil langkah lagi.
"Tungguin. Entar kalau ilang gimana?"
"Gue kan punya bucin yang bakal nemuin gue hahaha."
"Bucin loe, tetep manusia biasa. Bakalan hancur kalau kehilangan loe."
"Iyakah?"
"Iya!"
"Masa'?"
"Dasar! Sekarang tengil banget sih?!"
Andrew bergerak ingin merengkuh kepalaku lagi. Namun, aku berlari lebih cepat. Sumpah! Kami benar-benar seperti orang hilang di tempat ini. Balutan busana yang seadanya, tertawa bersama tidak menentu, bahkan uangpun sebisa mungkin disimpan rapat-rapat didalam dompet. Mungkin orang lain yang melihat kami, seperti sepasang orang gila yang tampan dan cantik. Begitu, bukan?
Yah, tak ada salahnya menikmati hidup dengan segala kekurangan. Kalau kata orang, yang penting happy. Bahkan jika harus bersama satu lelaki yang selama ini ingin aku hindari, dan kini malah selalu bersamaku. Ironis sekali hidupku.
"Ndrew, kesana yuk?" ajakku kepada Andrew pada saat melihat sebuah restoran khas Indonesia yang lumayan ramai.
"Yakin? Keluar lagi nggak?" tanyanya kembali.
"Enggak, tapi kalau mahal ya nggak jadi traktir loe."
"Gue yang bayar."
"Beneran?"
"Iya, apa sih yang nggak buat kamuuu."
"Hehe... boleh deh."
"Huuu... dasar."
Setelah itu, kami berjalan bersama menuju restoran itu. Ramai sekali, sepertinya cukup enak. Sesampainya disana kami masuk dengan wajah datar, celingak-celinguk. Astaga! Kemana diriku saat aku berpacaran dengan Nevan? Bahkan Nevan sempat mengajakku ke restoran ternama. Tapi kini, nyaliku menciut seketika.
__ADS_1
Ingin rasanya keluar lagi, namun aku tidak enak hati kepada Andrew. Ia malah mengajakku duduk disalah satu meja kosong. Kami duduk disana. Aku menelan ludah seketika, saat mendapati orang lain berpakaian rapi dan elegan. Dan sepertinya Andrew memikirkan hal yang sama sepertiku. Ia bahkan menahan tawa malu.
"Malu ya?" tanyaku.
"Enggak sih. Khawatir aja kalau dikira gembel," jawab Andrew.
"Keluar lagi yuk."
"Nggak! Ini lebih mendingan kok harganya."
"Tapi kan, takut dikira gembel."
"Pft... hahaha. Konyol banget sih kita, Vya. Nggak jelas gini."
"Nggak tahu deh. Malu ya bawa gue?"
"Enggak, Sayang. Lucu aja, kencannya jadi unik."
"Dih! Siapa yang ngajak kencan? Orang lagi laper doang."
"Apapun itu. Kalau sama Navya, berarti kencan."
"Yalah, terserah."
Seorang pelayan wanita mendatangi kami beserta buku menunya. Aku berdiskusi dengan Andrew tentang makanan yang hendak dipesan, yang pasti sesuai dengan kantong kami. Kami memilih nasi dan dua menu lauk yang berbeda, secara terpisah. Supaya nantinya bisa saling berbagi.
Momen ini sepertinya akan menjadi momen paling lucu dan menggelikan sepanjang sejarah hidupku. Bagaimana tidak? Seorang Navya yang orang bilang selalu cantik, harus mengalami hal norak dan eman seperti ini. Namun, jujur ini cukup membuatku asyik dan seru. Terlebih bersama Andrew yang notabene bukan pria yang gengsian. Aku lebih luwes dan apa adanya. Bukan saat bersama Haris, ia bahkan sakit perut meski sekedar menyantap mie ayam pinggir jalan. Atau Nevan yang selalu tidak mau ketempat sembarangan.
Beberapa saat kemudian, sang pelayan datang kembali bersama nampan berisi hidangan. Ia menaruhnya dihadapan kami, kemudian berlalu pergi. Menu lokal Indonesia tersedia dihadapan kami. Kami berdua saling berbagi lauk diatas piring berisi nasi masing-masing. Aku benar-benar ingin tertawa. Harga jual makanan Indonesia di negara lain ternyata jauh lebih mahal.
"Padahal niatnya mau terima kasih doang tadi," ujarku.
"Soal apa?" tanya Andrew.
"Soal kerjaan tadi siang."
"Hmm... nggak perlu dipikirin. Udah beres kok."
"Tapikan, tadi malah nggak makan siang. Kalau sakit gimana?"
"Cieee... khawatir hehe."
"Enggak!"
"Masa'?"
"Iyalah."
"Suka malu-malu gitu. Udah deh, Navya. Yang namanya masih cinta ya cinta."
"Nggak mau bahas cinta!"
"Iya iya."
Hmmm... *k*ucing penurut.
Kami kembali pada makanan lagi. Seperti orang kelaparan yang sudah tiga hari tidak makan, aku lahap sekali. Mungkin ini efek dari depresi yang sempat terjadi. Maksudku stress akibat masalah yang sudah lalu. Tak mengapa, bisa lebih gemuk malah bagus.
****
Selang waktu berjalan. Aku dan Andrew telah menghabiskan makanan, sampai saling melempar sendawau tanpa memperhatikan kiri kanan. Bodohnya kami hanya tertawa, bukannya malu dan bersembunyi. Kalau kata Andrew, orang lain tidak kenal dengan kita. Baiklah, sepertinya memang bisa diterapkan.
Setelah itu, Andrew memanggil salah satu pelayan untuk melakukan pembayaran.
"Ini gue masih ada duit kok," ujarku sembari menyodorkan sejumlah uang bermata uang Singapura.
"Nggak, simpen aja," tolak Andrew.
"Nggak mau, tadi kan taksi udah loe yang bayar."
"Yaudah besok aja kalau mau jalan lagi."
"Nggak mau."
"Udah, Sayang. Abang aja yang bayar."
"Iiih. Sok kaya!"
"Hehe."
Mau tidak mau, aku mengikuti apa yang Andrew mau. Toh, tak ada ruginya untukku. Namun, bukan berarti aku tidak punya malu. Mungkin dilain hari, aku akan menggantinya dengan cara lain. Ia menyerahkan sejumlah uang Singapura miliknya kepada sang pelayan. Tentunya dengan jumlah yang sesuai harga makanan.
Setelah selesai membayar ia mengajakku berdiri dan keluar dari tempat ini. Kami berjalan bersama seperti sebelumnya. Namun, aku melihat seseorang tidak asing masuk ke dalam restoran ini bersama seorang wanita cantik. Semakin dekat, dekat dan kami saling berhadapan. Ia menatapku dan Andrew dengan raut terkejut. Namun, wanita disisinya tampak keheranan.
"Navya???" panggilnya.
"Ya, Fandy. Hai," sapaku.
__ADS_1
"Hai, Pak Fandy," sambung Andrew.
Bersambung...