Who Is My Love

Who Is My Love
Kembali


__ADS_3

Tiga bulan selanjutnya telah datang. Hidupku begini-begini saja. Namun lambat laun yang aku inginkan bisa terwujud. Rambutku mulai memanjang meski hanya sebatas bahu. Barang-barang cantik, satu persatu sudah aku miliki. Dengan uang hasil sisihanku sekaligus uang jatah perbulan dari Andrew. Perlahan penampilanku menjadi lebih girly. Senyuman manis nan ramah, perlahan bisa aku lukiskan kepada siapa saja saat kami bertemu.


Semua ada jalan ketika memang ada keinginan, bukan? Permainanku sudah selesai, mengenai apapun yang sempat membuatku nyaman. Terlebih sebentar lagi aku akan menikah, menjaga diriku adalah pilihan yang tepat. Semua orang bak terpana pada saat melihatku. Seorang wanita yang sempat dibilang bar-bar, kini bisa menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Bahkan, tidak satu dua orang yang menginginkan dekat denganku. Sampai-sampai membuat Andrew lebih mengawasiku.


"Enak punya cewek cantik. Tapi nggak enak kalai si cantik digodain orang, apalagi bule-bule sini ganteng semua," ujarnya kepadaku. Disaat kami sedang makan siang di kantin perusahaan. Ya, berdua saja. Raya dan Sinta sedang keluar bersama teman-temannya. Mungkin kumpulan karyawan lain berada di meja-meja yang lain.


"Apaan sih? Aku begini kan biar bisa cocok sama kamu," jawabku untuk menenangkan kecemburuan yang melanda hatinya.


"Makasih. Tapi, sainganku jadi banyak. Emm ... kamu emang cantik. Cantik banget, Vya. Aku yang pacar kamu aja, tiap hari merasa terpana. Gimana orang lain?"


Aku terkekeh kecil dibuatnya. "Biar kamu ngerasain, rasanya jadi aku yang harus menghadapi fans fanatik-mu."


"Jadi, kamu balas dendam gitu?"


"Enggak, rencana yang aku mau nggak berhasil. Karna kamu nggak betahan deket dia sih."


"Ya, mana betah sih, Sayang. Aku inget jebakan dia buat kamu, rasanya muak. Khawatir juga kalau aku yang dijebak sebelum kamu menjalankan rencana terakhir."


Kini aku berpikir pada saat itu, hatiku hanya dipenuhi rasa cemburu dan benci. Sehingga membuat rencana yang kini menurutku sangat kekanak-kanakan. Ah, rasanya sangat malu jika kembali dipikirkan. Lagipula, aku sudah sempat menghajar Linseyld sampai dipergoki oleh Affandy. Sudah cukup bagiku untuk bermain hal bodoh dengan orang lain. Meski tatapan kebencian masih saja aku terima darinya.


Namun, selepas insiden di ruang gudang tersebut, Linseyld benar-benar diam. Hanya matanya yang terkadang terasa menusuk dadda. Ia tidak bisa melaporkan diriku atas dasar penganiayaan karena tidak ada bukti dan luka. Mungkin setelah pertengakaran kami, kedua pipinya menjadi membengkak besar. Namun tidak cukup untuk dijadikan bukti. Lagipula, aku merasa ia tidak ingin berurusan dengan kepolisian Singapura. Aku pun memiliki hubungan yang baik dengan Affandy dan Kak Kate, ia tidak akan berani.


"Ayo masuk, aku udah kelar makan." Aku mengajak Andrew untuk kembali ke dalam ruang kerja. Disini terlalu bising, apalagi tatapan nakal dari beberapa lelaki berkulit putih Eropa membuatku sangat tidak nyaman.


"Masih lama, Vya. Setengah jam lagi lho," tolak Andrew. Hal itu membuat bibirku mengerucut karena sebal.


"Aku mau sekarang ...!"


"Hmm ... iya, iya, aku balikin tempatnya dulu sini."


Kuberikan tempat makanku yang merupakan milik kantin ini untuk Andrew letakkan di tempat yang diperuntukkan. Kemudian, ia beranjak berdiri dari duduknya. Ia melangkah pergi ke tempat tujuan.


Tiba-tiba seseorang berdeham kepadaku. Tidak kupedulikan sama sekali siapa itu. Acuh, adalah sikap yang tepat untuk menghadapinya. Namun, tiba-tiba ia meletakkan tangannya di pundakku. Tentu saja aku geram. Aku segera berdiri dan memberikan tatapan tajam kepadanya. Steve?!


"Tolong lebih sopan," ujarku kepada si bule tengil satu ini.


"Ayolah, santai saja. Berikan nomor ponselmu, Baby. You get more beautiful every day," jawabnya. "Mari kita berkencan nanti malam, Baby."


Tahan, Navya. Elegan jangan sampai emosi.


Aku tersenyum namun memberikan tatapan yang begitu nanar kepada Steve. "No, you're too ugly to be my date."


"Oooh." Ia tampak terkesiap atas jawabanku. Ya! Aku mengatakan jika ia terlalu jelek untuk menjadi teman kencanku. Siapa yang tidaj malu jika ditolak dengan perkataan itu. Aku hanya terlalu kesal jika terus-terusan menghadapi dirinya.


Andrew datang mendorong tubuh Steve menggunakan bahunya. Ia tidak menggubris atau meminta maaf sama sekali kepada Steve. Namun rasa kesal terpancar di wajahnya. Seketika itu juga, tanganku ditarik oleh Andrew untuk meninggalkan Steve dan tempat ini. Cukup cepat ia berjalan, bahkan sampai aku kewalahan. Pria ini masih dirundung kecemburuan.


Sampai di suatu tempat yang sepi, Andrew berhenti. Ia melepaskan cengkeraman tangannya dariku. Berbalik lalu menatapku. Hanya itu, setelahnya ia hanya menghela napas dalam. Hal itu membuatku terkekeh karena merasa konyol kepada dirinya. Padahal itu hanya Steve bukan Nevan atau Affandy.


"Besok jangan pake rok lagi. Pake celana panjang bahan aja," celetuknya tiba-tiba


Sontak aku menatap pakaian bawahku. Apa yang salah? Memangnya aneh jika aku memakai rok bermodel span untuk bekerja? Rasanya masih pantas dan tidak aneh, lagipula panjangnya dibawah lutut. "Apa yang salah? Jelek ya pake ini? Padahal dulu aku sering pake dress malah."


"Ya ca-cantik sih. Tapi, kan, kamu cantik."

__ADS_1


"Cantik? Terus kenapa? Emang kamu nggak mau kalau aku cantik?" Sembari bertanya, aku duduk di sebuah kursi panjang tanpa senderan yang kebetulan berada disini.


Andrew pun mengikutiku. Kami duduk bersebelahan namun tidak terlalu dekat lantaran merasa tidak enak jika dilihat oleh orang lain. Lalu, aku menatapnya, begitu pun dirinya. "Aku nggak mau kalau kamu digodain lagi sama cowok itu. Dari awal kita masuk, dia itu udah ngincer kamu. Kamu tahu kan budaya orang luar?"


"Hmm ... tahu kok. Tapi kan aku juga nggak pernah mau sama dia, Andrew."


"Iya, aku tahu. Tapi agak sangsi juga sih. Takut kalau dia punya niat buruk sama kamu. Sebenarnya ada bagusnya kamu bisa kembali seperti sedia kala. Cantik itu udah pasti, tapi terlalu banyak yang suka sama kamu, Vya."


Aku menghela napas begitu dalam. Pandanganku berpaling ke arah lain. Aku tahu dan paham bahwa Andrew cemburu sekaligus khawatir. Disini, aku merasa bimbang lagi. Berlaku seperti sebelumnya tentu saja sudah salah, menjadi seperti ini pun kini juga salah. Lantas, aku harus bagaimana?


Akhirnya aku memutuskan untuk berdiri dan mengambil langkah pergi dari sini. Aku berencana untuk masuk ke dalam ruanganku dan hendak melanjutkan pekerjaanku. Tentu saja hal itu membuat Andrew terkejut, karena tanpa persetujuannya aku meninggalkannya di tempat ini. Namun aku tahu pasti, ia akan mengikuti.


"Aku belum selesai bicara, Navya!"


Langkahku terhenti. Aku menatap Andrew dengan cara menolehnya. "Apa lagi? Udah cukup lah, ini di kantor. Aku nggak mau berantem!"


"Apa sih? Kok kamu malah ngambek gini?"


"Nggak apa-apa. Aku mau ngelarin kerjaan aja. Nggak mau lembur."


"Hei! Navya. Oke, kalau nggak mau denger atau terima saran dariku, nggak apa-apa. Tapi jangan ngambek gini!"


"Hih!"


Aku melanjutkan lagi langkahku dengan cepat. Andrew hanya pasrah disana. Entahlah, rasanya aku sangat kesal. Semua yang aku lakukan menjadi serba salah. Memang benar Steve terlihat mengincar diriku, namun aku juga tidak mau GR terlebih dahulu. Bisa saja ia melakukan hal yang sama kepada setiap wanita. Namun, Andrew rasabya agak berlebihan dan tampak kurang bisa mempercayaiku. Sudah sejauh ini, tidak mungkin aku menyingkirkan diriku lagi.


Sesampainya didalam ruang kerja, suasana masih sangat sepi. Tidak ada orang sama sekali kecuali diriku. Wajar, karena jam makan siang masih lumayan lama. Aku berdiri sejenak sembari menyenderkan punggung di dinding ruangan ini yang dekat dengan pintu masuknya. Helaan napasku terdengar jelas didalam kesunyian. Bingung menjadi perasaan awal yang datang dan merasuk ke dalam hati.


"Iya, Nit. Nanti tungguin, gue lembur dulu." Seseorang berkata demikian. Suara yang tidak asing bagi telingaku.


Begitulah yang terjadi jika kami bertemu. Meski tidak ada lagi ucapan pedasnya kepadaku, tetap saja keberadaannya membuatku sangat tidak nyaman. Apalagi harus berada didalam ruangan ini hanya berdua saja. Menyebalkan!


"Navya!" Kini giliran suara Andrew yang terdengar. Ia membuka pintu dan menghampiriku. Namun bola mataku malah tertuju kepada Linseyld yang menatap kami, bahkan ia nyaris tidak berkedip. Aku rasa, ia tengah mengumpat didalam hatinya melihat sang pujaan hati bersama diriku yang merupakan kekasih Andrew yang asli.


Aku berdeham dengan sengaja, bahkan amat kencang. "Hai, Sayang. Kamu dari mana aja? Aku nungguin disini lho," ujarku dengan nada manja untuk membuat panas hati milik Linseyld.


Ketika aku menatapnya lagi, ia segera menundukkan kepala. Namun tidak dengan Andrew yang sedang mengernyitkan dahinya. Aku rasa, ia tengah heran dengan perihal tingkahku yang tiba-tiba berubah. "Kamu udah nggak ma--?"


"Kangen, pengen cepet pulang biar berduaan sama kamu, Ndrew."


"Heh?! Oh, pantes .... iya sabar ya, Sayang. Bentar lagi pulang kok." Akhirnya Andrew mengetahui maksud dan tujuanku. Beruntung ia melakukan hal yang sama. Mungkin saat ini, hati Linseyld benar-benar merasa gerah dan panas sekali. Biarlah, aku tidak peduli.


Brak! Tiba-tiba terdengat gebrakan meja yang dilakukan olehnya. Sontak aku dan Andrew menatapnya. Dengan bibir yang mengerucit sebal, Linseyl mengambil langkah cepat menuju pintu ruangan ini. Sejenak, ia berhenti pada saat berdekatan dengan posisi kami.


"Kampungan tahu nggak?!" tegasnya. Setelah itu ia benar-benar pergi.


Disini, aku malah tertawa terbahak-bahak. Aku menang, Linseyld kalah. Bahkan aku lebih cantik daripada dirinya sekarang. Maaf, sepertinya aku terlalu sombong. Namun hanya untuk wanita itu. Semoga untuk yang lain, diriku masih tetap rendah hati.


"Seneng?" tanya Andrew yang membuat tawaku terhenti seketika.


Aku kembali merasa kesal kepadanya. Aku membuang pandanganku darinya dan berbalik untuk menuju meja kerjaku. Sekali lagi, ia mengikutiku.


Kutarik kursi putar milikku dan duduk setelahnya. Tangan mulai bergerak memainkan alat-alat kerja dihadapanku. Berkas masih menumpuk separuh dari tumpukan awal. Sungguh melelahkan, namun aku harus tetap menyelesaikan. Aku mengabaikan Andrew dan memilih bekerja, meski ia menatapku dalam waktu yang lama.

__ADS_1


****


Selang waktu berganti. Aku telah pulang ke kediamanku disini. Mandi sudah, makan pun sudah. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku sendirian, Raya dan Sinta ada acara bersama teman satu divisinya. Hening rumah ini memberikan rasa sepi yang aku rasakan seketika didalam hati. Rasa rinduku terhadap rumahku kembali datang. Apalagi ketika teringat si kecil Cika, mungkin saat ini tubuhnya sudah lebih tinggi. Aku ingin pulang. Namun hutang papa masih memiliki sisa yang harus aku bayar.


Berbicara tentang papa, aku bersyukur beliau mendapatkan kebebasan. Hal itu dikarenakan permintaan dari Haris sendiri. Entah apa yang terjadi kepada pria yang selalu buruk di mataku itu, mungkin hidayah baik didalam hatinya. Papa menjadi tahanan kota sebelum hutang dibayar dengan lunas. Meski begitu, aku bisa bernapas lebih lega. Setidaknya, papa tidak berada didalam jeruji penjara lagi.


Haris, apa dia punya rasa bersalah sama gue? Dia belum keluar dari bui, kan? Kok bujuk bapaknya buat bebasin papa-ku.


Tiba-tiba pintu terdengar di ketok oleh seseorang. Tentu saja hal itu membuatku membuyarkan lamunan. Dengan cepat aku turun dari ranjangku dan menuju pintu tersebut.


"Sayang." Aku pikir Raya dan Sinta, ternyata Andrew. "Yang lain keluar, kan? Aku mau main ke sini."


"Nggak boleh!" tegasku menolak atas permintaannya.


"Ah, udah dong ngambeknya. Maaf, maaf, kayaknya aku bikin kamu kesulitan. Aku terlalu cemburu. Maaf ya, Sayang. Aku kan cinta banget sama kamu. Jadi bisa ngomong kayak tadi, padahal kamu berjuang demi aku. Maaf ya, Sayang. Maafin aku." Tanpa persetujuanku, Andrew merengkuh tubuhku tiba-tiba sembari mengatakan segala rayuannya. Menyebalkan! Namun aku tetap luluh kepadanya.


Aku menghela napas dalam. "Ya udah masuk. Tapi, pintunya dibuka aja. Aku nggak enak kalau mereka tiba-tiba pulang."


"Iya, siap!"


Kulepaskan tangan Andrew yang tengah memelukku. Aku berjalan menghampiri sofa yang ada disini dan kemudian duduk disana. Pintu rumah pun masih dalam keadaan terbuka lantaran aku tidak mau ada salah paham yang dipikirkan oleh Raya dan Sinta nanti. Bisa saja mereka menduga yang tidak-tidak pada saat mendapati Andrew berada disini hanya bersamaku.


"Ndrew."


"Iya, Sayang. Kenapa?"


"Aku besok mau ketemu Pak Fandy."


Andrew memutar bola matanya seketika. Raut tidak suka terlukis di wajahnya. Namun ia tidak menyangkal perkataanku. "Mau ngapain emang? Diluar?"


"Di kantor kok. Tenang aja, aku mau minta izin pulang."


"Pulang? Buat apa? Kok kamu nggak bilang sama aku?"


"Sita minggu depan mau nikah. Dia mau aku jadi bridesmaid-nya, Sayang. Aku mau usahain biar pulang. Yah, meskipun sebentar."


"Sita? Apa?! Mau nikah? Kok bisa? Kita kalah lho."


Aku saja sempat terkejut dan tidak percaya, apalagi hanya Andrew. Mengingat Sita yang jarang sekali terlihat bersama pria, rasanya memang cukup aneh. Namun tiga bulan yang lalu, ia sudah mengatakan bahwa itu hanya perjodohan. Siapa sangka, ternyata keduanya merasa cocok dan akhirnya memutuskan menikah. Tidak seperti diriku yang menentang habis-habisan pada saat dijodohkan dengan Haris.


"Kamu sendiri pulangnya?"


"Emm ... sama Kak Kate kayaknya. Dia udah bilang mau bareng sih. Kamu jangan ikutan, nanti malah nggak dapet izin akunya."


"Hmm ...."


"Kenapa, Sayang."


"Kamu jangan nakal ya kalau pulang nanti."


"Iya, iya, Ganteng. Aku janji, aku kan udah milik kamu seorang. Mama kamu juga udah ngiket aku kok hehe."


Andrew tersenyum. Direngkuhnya kepalaku dan ia memberikan kecupan manis di keningku. Selanjutnya, perbincangan kami terdengar biasa-biasa saja. Mungkin perihal pernikahan atau perasaan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2