Who Is My Love

Who Is My Love
Dia Lagi


__ADS_3

Di sudut ruangan ini, aku terdiam bersama seorang pria yang memaksaku untuk berbincang bersama. Meski sebenarnya aku sangat malas, bahkan benar-benar. Niat hati ingin menghindari kerumunan para gadis sosialita yanh bersama Sita, kini malah jatuh ke dalam perangkap tuan muda. Ada saja yang membuat hatiku sangat kesal. Bukan hanya itu saja, ia bahkan menolak untuk melepaskanku dengan perkataan sudah lama tidak bertemu.


Mantan kekasihku--Nevan Satya. Ya, Nevan adalah orangnya. Jika dipikirkan lagi, memang wajar ketika ia bisa berada di sini. Nevan salah satu teman Sita, sekaligus karena Sita, ia bisa berpacaran denganku. Namun momennya mengapa harus pas saat aku berada di sini? Mau tidak mau, aku harus melayani senyuman menggelikan miliknya itu.


"Ayo duduk di sebelah sana. Ada mama-ku, Navya," ajaknya kepadaku.


Aku menggeleng. "Enggak mau," tolakku.


"Boleh aja kamu nggak suka sama aku. Tapi, Mama sering nanyain kamu."


"Nevan?" Aku menatapnya lebih tajam. "Tolong jangan kayak gini dong. Hubungan kita udah berakhir. Nggak sepantasnya kamu ngajak aku buat ketemu mama kamu."


"Why? Kita masih bisa silahturahmi, kan? Apa salahnya?"


"Nevan, jangan pura-pura enggak tahu. Justru, kalau aku ketemu mama kamu lagi, beliau akan anggep kita masih bersama."


Nevan menghela napas, lalu ia hembuskan kembali. Entah apa yang merasuki pikirannya, ia bahkan tidak membiarkan diriku untuk pergi. Tidak mungkin ia masih menyimoan perasaan untukku, kan? Itu mustahil. Ia bahkan sudah nenyerah hampir satu tahun yang lalu. Ia sudah merambah menjadi pembisnis sebagai penerus perusahaan ayahnya, cukup mudah baginya untuk mencari pendamping hidup lain.


Kilasa tentang kenangan saat kami bersama, mungkin masih membekas di benak kami berdua. Apalagi namanya pacaran pasti menorehkan perasaan tersendiri ketika kami bertemu seperti ini. Bukan berarti perasaan itu sebuah cinta, mungkin suatu kecanggungan atau rasa malu. Terlebih pada diriku yang jauh jika dibandingkan dengannya. Ia jauh lebih sukses dan aku tidak sesukses dirinya. Akan wajar jika Nevan menertawaiku yang sempat sok jual mahal kepadanya.


"Navya!" Suara itu, suara yang tidak asing pula. Bukan milik Sita, melainkan milik ibunda dari Nevan yang bernama Tante Diana.


Seketika aku menelan ludahku, beliau bahkan tengah terburu-buru untuk menghampiriku. Keinginan Nevan agar aku bertemu dengan ibundanya kini terkabulkan. Lantas, apa yang akan terjadi selanjutnya? Dan apa yang hendak aku lakukan?


Saat kutilik ke arah wajah Nevan, ia malah tersenyum penuh kemenangan. Entah apa yang ia rencanakan. Aku sudah masuk ke dalam perangkap ini. Bahkan aku belum sempat menyapa Sita sama sekali, aku belum bisa melarikan diri dari sini. Perasaanku kian tidak menentu pada saat Tante Diana semakin mendekatiku. Beliau memakai bawahan semacam androk batik yang menyempit di bagian bawah, sehingga langkahnya tidak bisa cepat meskipun terburu-buru.


Sesampainya di hadapanku, Tante Diana tersenyum dengan ramah. Beliau menggenggam tanganku seketika. "Kamu kemana aja? Kok enggak pernah main ke tempat Mama?" tanya beliau kepadaku.


Aku tersenyum dengan penuh usaha agar terlihat ramah. "Saya dinas jauh, Tante. Tante Diana apa kabar?" tanyaku kembali.


"Kok tante? Dulu kamu panggil saya Mama Diana lho." Beliau semakin mendekatiku dengan merangkulkan tangan di lengan sebelah kanan milikku. Mama Diana? Ya, benar. Pada saat masih bersama Nevan, aku memanggil beliau dengan sebutan demikian. Itu karena keinginan beliau sendiri.


Aku menghela napas dengan sangat pelan. "Saya dan Nevan kan sudah nggak bersama lagi, Tante."


"Ah! Padahal Navya dan Nevan, Nav dan Nev, kalian cocok lho. Yang satu cantik dan yang satu ganteng, namanya pun hampir mirip."


"Sesuatu yang mirip, biasanya pantas untuk disematkan diantara dua saudara, Tante. Nevan bukan jodoh saya."


Tante Diana langsung melepas rangkulan tangan dari lenganku. Beliau menampilkan wajah tidak suka. Aku menilik Nevan lagi, ia tampak kecewa dengan ucapanku. Sebenarnya, aku sangat terkesan dan berterima kasih karena Tante Diana begitu lembut dalam memperlakukan diriku. Akan jarang sekali, aku mendapatkan sesosok orang tua dari laki-laki yang seperti beliau. Namun, jika mengarah ke suatu hal yang berkenaan dengan hubunganku dan Nevan, secara otomatis aku membenci itu.


Jika saja, aku yang meninggalkan Nevan, boleh saja beliau membujukku untuk kembali. Namun, hubunganku dan Nevan dicoreng oleh Nevan sendiri. Nevan pula yang mengantarkanku untuk bertemu dan berkenalan dengan Andrew. Aku sama sekali sudah tidak mencintainya.


"Ma, jangan buat Navya enggak nyaman," celetuk Nevan kepada ibundanya.


Tante Diana melirik Nevan dengan sinis. "Kamu bodoh, kenapa kamu lepas Navya. Mama sebel sama kamu!" omel beliau.


Nevan menggaruk kepalanya seketika. Ia merasa bersalah, namun kesalahannya sudah lama terjadi dan aku sudah memaafkannya. Namun aku tetap tidak bisa kembali. Kadang, aku merasa heran, mengapa aku memilih Andrew yang juga pernah menyakitiku? Mungkin Andrew penuh dengan usaha yang tidak mudah, kah? Atau semua rasa cintaku sudah tertanam untuk dirinya? Entahlah.


Tante Diana kembali meraih telapak tanganku. Bahkan, aku sampai terkejut. "Ke-kenapa, Tante?" tanyaku. Aku beringsut mundur, namun tetap tidak bisa. Genggaman tangan beliau begitu kuat.


"Balik ya sama Nevan. Selama ini cewek-cewek yang digandeng Nevan, pada matre, Navya. Kamu balikan ya? Mama Diana udah klop banget sama kamu," pinta beliau dengan wajah yang sangat memelas.


"Maaf, Tante. Navya enggak bisa."


"Ayolah, Tante janji bakalan kasih semua yang kamu mau."

__ADS_1


"Maaf, Tante. Sebentar lagi Navya akan meni-"


"Navya!" Seseorang menyebut namaku dan secara otomatis memotong pembicaraanku. Seketika, kami bertiga menoleh kepada sang pelaku. Papa di sana bersama mama, mereka datang menghampiri kami.


Duh! Kenapa pas ada Nevan sama Tante Diana sih?!


Tanpa pikir panjang, Tante Diana langsung melepaskan tanganku begitu saja. Beliau sangat antusias untuk menghampiri mama dan papa. Aku menepuk keningku, karena tidak menyangka dan juga bingung harus bagaimana. Sementara itu, senyum Nevan semakin lebar, bahkan giginya yang rapi dan putih miliknya sampai kelihatan. Apa maksud pria ini?!


Aku ingin pulang, rasanya kedatanganku ke pesta pernikahan ini tidak ada gunanya. Sudah tidak bertemu Sita dan suaminya, aku malah harus menghadapi situasi semacam ini. Aku tidak berpikir sampai sejauh ini, bahkan aku melupakan hubungan keluarga Nevan dan Sita yang memang sudah mengenal satu sama lain. Oh, aku benar-benar sedang bernasib malang.


"Mama papa-nya Navya ya? Halo saya Diana Hermawan," sapa Tante Diana kepada kedua orang tuaku dengan senyum yang sangat ramah.


"Halo juga, Nyonya Hermawan. Saya Surya dan ini istri saya--Intan," sambut papa dengan senyum mereka juga. Beliau menerima jabat tangan dari Tante Diana, selanjutnya mama yang melakukannya.


"Wah! Nggak nyangka bisa ketemu di sini ya?"


"Emm ... ngomong-ngomong, kenapa bisa kenal putri saya?"


"Anak saya--Nevan, pacarnya Navya, Pak."


"Eh?!" Papa terkejut seketika, beliau melirik heran ke arahku. Yah, mungkin bingung, padahal aku sudah mengenalkan Andrew kepada beliau. "Nevan?"


"Ah, maaf. Terlalu mengenang hal yang lalu. Maksud saya, mereka pernah berpacaran. Sayang sudah lama putus. Kita batal jadi besan." Tante Diana berkata demikian dengan menampilkan raut wajah yang lesu.


"Oh begitu. Sayang sekali, Nyonya. Jodoh enggak ada yang tahu," timpal mamaku.


"Padahal saya sudah sangat setuju, Jeng. Kalau melihat mereka sama-sama rupawan, jadi ingat masa muda saya sama suami. Sekarang suami saya malah lagi bisnis di luar negeri."


Pada akhirnya perbincangan mereka bertiga berlanjut mengenai hal-hal yang tidak aku mengerti sama sekali. Aku menunduk lemah dan lebih menjauh dari keberadaan mereka semua. Namun tidak dengan Nevan yanh sedari tadi mengikutiku. Meski sangat tidak nyaman, namun sudah tidak ada gunanya aku menggertak dirinya. Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf untuk kekasihku yang jauh di sana. Aku berharap situasi ini tidak masuk dalam konteks pengkhianat. Bukan keinginan hatiku ketika harus bertemun dengan mantan pacar maupun mantan calon mertua.


"Hei, Vya. Emang nggak capek? Duduk yuk?" ajak Nevan kepadaku.


Aku hanya menatapnya sekilas. "Enggak mau!" tolakku kemudian kembali menunduk tanpa menatapnya lagi.


"Capek tahu, pegel kaki."


"Ya udah, duduk sendiri sana. Ngapain sih ngikutin orang mulu?"


"Aku enggak ada teman. Nggak mau kayak orang hilang, lagipula kita bernasib sama, kan? Biar para orang tua yang urus."


"Apa?! Maksud Anda?!" Aku bangkit dari sandaran badanku ke tembok dan langsung menatap Nevan dengan tegas. " Urus apa, Nevan? Jangan bikin masalah!"


Nevan tertawa. "Aku cuma bercanda, Navya."


"Nggak lucu!"


Aku berjalan lagi, kini aku memutuskan untuk segera menemui Sita karena sudah merasa muak dengan perilaku Nevan yang sangat aneh terhadapku. Namun sekali lagi, ia malah menarik tanganku. "Mau kemana?"


"Bukan urusanmu!"


"Ayolah, kita bahkan belum bertemu Sita. Bareng aja ya?"


"Aku menolak!"


"Aku memaksa!"

__ADS_1


"Nevan?! Lepas!"


Nevan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Ia membawaku berjalan menuju singgasana sang pengantin. Kalau bukan karena merasa malu dengan para tamu, aku pasti sudah mendorong tubuhnya dan menamparnya. Aku bingung sekarang, tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menuruti. Nasib macam apa ini?!


Semakin mendekati singgasana milih kedua mempelai, rasa kikukku semakin bertambah besar. Ketika orang tidak paham, pasti mereka akan menganggap kami sebagai sepasang kekasih. Rasanya ingin menangis dengan sanagt keras, namun apa dayaku, jika hal itu aku lakukan yang ada aku malah menghancurkan pesta pernikahan ini.


"Navya, Nevan? Apa ini?" tanya Sita. Tidak sambutan apapun, melainkan rasa heran yang tersirat di wajahnya ketika melihat kami sedang berdua. Sedangkan suaminya tengah menyalami dan berbincang dengan beberapa temannya. Ia hanya menorehkan senyum ramah untuk menyambutku.


"Navyaaaaaa!" Menghilangkan rasa herannya, Sita langsung terpekik ketika menyadari bahwa aku benar-benar ada di sini. Dengan sangat terburu-buru, ia lantas memelul tubuhku. "Kenapa enggak bilang, kalau kamu pulang?"


"Emm, ... aku pengen ngasih kejutan buat kamu," jawabku. Senyumku merekah seketika. Tangan Nevan sudah terlepas karena tarikan tangan Sita pada lenganku. Sepertinya ia menangkap apa yang terjadi pada perasaanku.


"Kenapa sama Nevan ...? Andrew mana ...?" Sita bertanya demikian dengan nada berbisik tepat di samping telingaku dan pada saat pelukan kami belum terlepas.


"Andrew enggak bisa ambil izin .... BTW, gue enggak ada apa-apa sama Nevan," bisikku yang berisi penjelasan untuk Sita. Lalu, kami saling melepaskan.


Nevan tersenyum. "Selamat ya, Sit. Happy wedding day. Do'a yang baik untuk loe sama suami," ujarnya memberikan ucapan selamat kepada Sita.


Setelah itu, suami Sita menghampiri kami. Ia menyambut kami dengan berjabat tangan. Karena belum mengenal, tidak ada basa-basi diantara kami. Aku menyerahkan kado yang isinya tidak seberapa kepada sahabatku itu. Ia tampak girang dan menerimanya dengan suka cita. Aku menyadari bahwa Sita tetaplah Sita. Sahabatku yang sangat baik hati. Meski kalangan pertemanannya sudah merambah lebih tinggi, ia tetap bersikap seperti biasanya. Aku menyesal karena tidak menemuinya dari awal dan malah terlibat urusan Tante Diana dan Nevan.


"Ayo, makan hidangan yang udah ada kalian. Jangan malu-malu. Iya sih, hidangannya gak seberapa," ujar Sita merendah diri.


Aku seperti sedang dijatuhkan disini. Mengingat makananku di Singapura hanya seadanya, sedangkan hidangan yang disajikan begitu berkelas dan mewah. Beruntungnya seorang Sita mendapatkan suami yang kaya raya. Meski sebenarnya aku juga bisa, kalau bersedia kembali dengan Nevan. Namun aku memilih bahahia hati ketika bersama Andrew, dan bukan materi untuk bersama Nevan. Aku tidak mencintai Nevan lagi.


"Emm, ... gue ke sana dulu ya, Vya dan Nevan. Masih banyak tamu, kalian jangan pulang dulu ya? Please ... terutama Vya, gue kangen banget," ujar Sita lagi.


"Ya, gue usahain, Sit," jawabku.


Sita hanya tersenyum. Karena banyaknya tamu yang datang, membuatnya tidak bebas berbincang denganku. Namun sebelum pergi, ia mengajakku berfoto selfie terlebih dahulu. Meski senyumanku yang terpampang di foto itu, terlihat sangat getir.


Aku turun dari tempat ini. Nevan masih mengikutiku, aku sudah tidak peduli. Melihat makanan yang begitu banyak, justru membuat perutku sangat tidak nyaman. Mungkin aromanya bercampur dengan aroma lain. Sehingga aku memutuskan untuk tidak mengambil apapun kecuali air minum. Aku mencari sisi ruang yang lapang lagi. Setelah mendapatkannya, aku menghampiri ruang itu dan bersandar lagi di sana.


Ditengah-tengah keramaian dan bahagianya sahabatku, aku merasa kesepian. Aku hanya butuh penawarnya yaitu Andrew. Andai ia ada di sini.


"Navya?" Nevan seolah tidak jengah dalam mengangguku. Ia kembali memanggil namaku.


"Apa lagi, Nevan? Kenapa sih loe ngikutin gue terus?"


"Sudah aku bilang, kita senasib. Mama-ku juga masih asyik sama kedua orang tuamu, kayaknya belum bisa diajak pulang."


"Seorang tuan muda, masa' nggak ada kenalan sama sekali?"


"Navya?"


"Apa?!"


"Mari kita bersama kembali."


"Apa?" Dahiku mengernyit. Tidak lama, karena aku langsung tertawa konyol. "Jangan becanda, Nevan. Sebentar lagi aku menikah."


"Mama-ku, orang tuamu sepertinya cocok. Kita juga pernah bersama, kan? Bukan hal sulit buat membangun kisah cinta itu lagi, kan? Kamu inget kata mama-ku, hanya kamu yang bermakna bagi kami berdua."


Aku menatap Nevan dengan tajam dan beberapa kali menelan ludah. Ini sungguh konyol!


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2