
Aku membuka mataku perlahan-lahan. Kini, posisiku sudah terbaring diatas ranjang milik Andrew. Aku merasa heran. Bukankah tadi kami bersama di ruang televisi? Mungkinkah, tanpa sadar aku ketiduran? Sepertinya memang benar dan Andrew yang membawaku kemari.
Kemudian, aku menilik waktu pada jam dinding. Tak terasa sudah menunjukkan pukul dua siang. Mungkin karena demam, aku sampai tidak sadar tertidur selama berjam-jam. Namun, kini kondisiku lebih membaik. Pening pun hilang. Akhirnya, aku memutuskan untuk beranjak turun dan aku mengambil langkah keluar.
Hening. Entah, kemana sang pemilik kediaman berada. Aku kembali berjalan lebih ke depan. Dan akhirnya mendapati Andrew yang tengah tertidur pulas diatas sofanya. Kuhampiri dirinya secara diam-diam. Sesampainya disana, aku duduk di lantai dan dihadapannya. Tampan, yah dari dulu aku menilai Andrew berparas seperti idol dari Korea. Kulitnya putih bersih dengan paras oriental seperti warga sana. Meski masih mencintainya, rasanya tetap mengganjal jika aku menerimanya lagi dengan suka rela. Aku memerlukan misi untuk membalas dan membuatnya jera.
Toh, hidupku sudah seperti ini. Niat Andrew sudah sebesar itu. Tampaknya akan sulit jika aku menolak lagi seperti sebelum-sebelumnya. Anggap saja, kami akan impas dengan hubungan tanpa status ini diatas kendaliku. Meski begitu, aku tidak membatasi Andrew untuk mencari wanita yang lain sama halnya denganku. Aku tidak akan terjerat oleh satu ikatan melainkan lebih. Bersama Haris, mungkin. Nanti, jika kami bertemu kembali, pasti ia pun juga tidak akan melepasku. Dengan begitu, aku bisa menjalaninya dengan Haris dan juga Andrew.
Maaf, Ndrew. Mungkin ini cara terbaik, agar kamu tahu akhir dari kita.
Andrew menggeliat dan perlahan membuka matanya. Ia menatapku dengan kesadaran yang belum sempurna. Kemudian sebuah senyuman ia lukiskan diwajahnya. Yah, ia tampan dan begitu lembut. Jauh jika dibandingkan dengan Haris yang sangar dan berkumis, meski masih masuk dalam kategori rupawan. "Kamu udah bangun, toh?" ujarnya.
"Kalau belum, ya nggak mungkin disinilah," ujarku dingin.
"Aku bagaikan mimpi bisa lihat wajah kamu secara gamblang seperti ini."
"Oh ya? Masa'?"
Tiba-tiba saja, Andrew melakukan hal yang tidak terduga. Ia menarik kepalaku sampai mendekati wajahnya. Dan yeah, ia mencuri bibirku. Selalu saja seperti ini. "Jangan sembarangan, bodoh!" dengusku kesal sembari mengangkat kepalaku kuat-kuat.
"Masih boleh kali dalam hubungan ini," jawabnya.
"Nggaklah."
"Hmm... lagian ngapain duduk disini? Kalau nggak nungguin jatah itu?"
Aku mengernyitkan dahiku. Mendengar ucapannya, akhirnya aku berdiri dan duduk di sofa yang berbeda. Ia pun melakukan hal yang sama. Ia tak lagi merebah, pandangan matanya lagi-lagi diarahkan kepadaku. Lantas, aku meledeknya dengan muka jelek yang kubisa.
Hubungan macam apa ini?
Andrew tersenyum saja. Semakin lama membuatku semakin salah tingkah dibuatnya. Oh... jangan sampai ia mengetahui rasa maluku. Aku tidak ingin ia gede rasa. Namun, lagi-lagi ia menggodaku. Ia melambaikan tangannya agar aku mendekat. Tentu saja, aku menolaknya.
"Navya, Navya," ujarnya.
"Apa?" tanyaku.
"Kamu cantik banget."
"Semua orang juga tahu itu."
"Wah! Udah PD ya sekarang?"
"Harus!"
"Sini dong. Aku masih kangen."
"Ogah!"
Tiba-tiba saja, bel pintu berbunyi. Mau tidak mau, Andrew menghentikan setiap gombalannya. Ia hendak menghampiri keberadaan pintu. Tatkala aku mengingat suatu kemungkinan, aku segera mengikutinya dari belakang.
Sesampainya disana aku menahan Andrew terlebih dahulu pada saat akan membuka pintu. Sedangkan Andrew mengernyitkan dahinya karena keheranan. "Kenapa...?" bisiknya kepadaku.
"Aku takut kalau itu papa...," jawabku lirih.
"Emang papa kamu udah kenal aku...?"
Kugelengkan kepalaku. Yah, memang belum tentu papa tahu akan Andrew. Namun, aku khawatir beliau sudah mengetahui bahwa diriku disini. Akhirnya Andrew membuka pintu perlahan-lahan. Sedangkan aku bersembunyi di belakangnya. "H-hai, Sita," sapanya.
Oh... ternyata Sita. Namun, aku masih enggan untuk menampakkan diriku kepadanya. Aku takut ada orang lain di belakangnya. Tanpa persetujuan dari Andrew, Sita menyelonong masuk begitu saja. Tentu saja, ia sudah mendapatiku disini. "Bebeeeeeeeb!" serunya kepadaku.
"H-hai hehe," jawabku kecut.
"Kalian ini?! Astaga! Benerkan dugaan gue, pasti lagi berdua."
"C-ceritanya panjang, Sit."
"Oke, gue paham. Kalian semalam abis kabur bareng kan?"
__ADS_1
"Nggak gitu kok. Duduk dulu, gue ceritain."
Kami bertiga menuju ruang tamu apartemen ini. Sedang Sita masih saja menyimpan rasa kesalnya terhadapku maupun Andrew. Aku paham tentang itu, aku rasa aku telah menyusahkannya lagi. Dan herannya, ia membawa sebuah koper yang tidak asing bagiku.
Dan sepertinya memang milikku. Lantas, ia mendapatkannya dari mana? Apakah aku sudah benar-benar diusir oleh orangtuaku? Entah, akan senang atau sedih, aku masih tidak mengerti.
Sepertinya Andrew akan memberikan waktu kepada kami. Ia tidak ikut duduk melainkan pergi lebih dalam. Ia keluar lagi membawa tas. "Mau kemana?" tanyaku kemudian.
"Santai aja berdua. Aku mau lihat kos-kosan, baru dapet nih dari temen," jawabnya.
"Ha-harus sekarang?"
"Iya, sayang. Biar nanti malam, udah ada tempat tidur."
"Ng-nggak harus buru-buru kok. Besok kan libur."
Andrew tersenyum. Lantas, ia berjalan menghampiriku. Sesampainya didekatku, ia mengecup lembut keningku. "Nggak apa-apa. Biar kamu merasa nyaman dulu."
"Hati-hati kalau gitu, Ndrew. Apalagi kalau ketemu papa."
"Tenang aja, Sayang. Nggak perlu khawatir."
"En-enggak kok. Siapa yang khawatir sama kamu."
Andrew maupun Sita malan terkekeh setelah mendengar ucapanku yang terdengar sangat memalukan. Padahal niatnya bukan seperti itu. Aku hanya khawatir papa mengenali Andrew dan menemukan diriku. Yah, kuakui memang ada rasa khawair pada Andrew.
Tak lama kemudian, pria itu mengambil langkah untuk keluar. Selepas ia pergi, aku kembali gusar. Hatiku tidak tenang. Bagaimana kalau papa mengenal Andrew dan mobilnya? Bagaimana jika mereka bertemu? Dan jika Andrew dihajar habis-habisan? Ya Tuhan, semua terasa memberatkan bahu dan pikiranku.
"Udah tenang aja, Beb. Do'i bisa jaga diri kok," celetuk Sita tiba-tiba. "Gue rasa, bokap loe belum kenal sama do'i dan mobilnya."
Aku menatapnya seketika. "Kok loe tahu?" tanyaku kemudian.
"Yah, tadi pagi sebelum gue berangkat kerja, bokap loe nyari loe ditempat gue."
Aku segera mendekati Sita. "Kok bisa? Gimana? Loe bilang apa? Bokap nyokap loe gimana?"
"Pelan-pelan ih. Ambilin minum dulu sih, gue haus."
Sesuai permintaannya, aku segera mengambil langkah menuju dapur. Sesampainya di dapur, aku mengecek beberapa bahan yang bisa dibuat minuman. Hanya ada teh dan kopi. Aku mengerti, seorang pria kurang minat terhadap susu ataupun semacamnya.
Akhirnya, aku memilih teh sebagai suguhan untuk Sita. Aku rasa ia tidak akan bersedia jika dibuatkan kopi disiang bolong seperti ini. Beruntungnya, masih ada beberapa macam cemilan yang masih baru. Sepertinya Andrew belum lama membelinya. Atau mungkin tadi pagi yang akan ia berikan kepadaku. Betapa beruntungnya sisi diriku yang lain, setidaknya aku masih memiliki satu budak cinta yang luar biasa seperti Andrew. Ah... tidak! Jangan sampai aku melemah lagi.
Setelah menyiapkan hidangan ringan, aku segera kembali kepada Sita. Sesampainya dihadapannya, aku menyajikannya diatas meja tepat didepan Sita yang tengah duduk. Kemudian, aku duduk disamping dan menghadapnya. "Tadi gimana?" tanyaku.
Sita masih meneguk minuman yang aku berikan. Lantas, ia menatapku kembali setelah melakukan hal tersebut. Ia menjawabku, "bokap loe bingung, Beb. Gue rasa sih, ada satu ketakutan tersendiri."
"Takut? Takut apaan? Gue nggak percaya kalau papa takut kehilangan gue."
"Eh... nggak boleh gitu, Beb. Pasti ada rasa takut untuk itu, namanya orangtua, loe anak satu-satunya. Emm... tadi bokap gue bicara baik-baik sama bokap loe."
"Lalu?"
"Yah, pembicaraan bapak-bapak, gue kurang paham. Yang pasti, bokap gue saranin supaya bokap loe ngasih waktu tenang dulu buat loe."
"Emang bokap loe tau masalah gue?"
"Taulah, gue yang cerita hehe."
"Sita???"
"Sorry. Gue kan terlalu akrab sama papa, jadi sering curcol ngelantur. Tapi dari beliau, gue bisa ngasih nasehat ke loe kan?"
"Ya sih. Tapi, tetep aja gue malu."
Sejujurnya, pengakuan Sita tentang hubungannya dengan sang ayah membuat hatiku sedikit terluka. Bukan tidak suka, melainkan iri. Seandainya hubunganku dengan papa juga seperti itu. Pasti masalah semacam ini tidak akan terjadi, aku benar-benar benci berada didalam situasi serumit ini. Aku ingin pulang, aku ingin memelul mama. Namun, aku belum siap untuk sekarang.
Uhh... jangan sampai gue nangis dihadapan Sita.
__ADS_1
Sebuah ponsel dan dompet diberikan kepadaku. Dan kedua benda tersebut adalah milikku. Aku menerimanya dengan perasaan keheranan. "Loe dapet ini darimana?" tanyaku kemudian.
"Dari nyokap loe, Beb. Tuh sama koper isi beberapa baju loe." Sita berujar sembari menelunjuk kearah koper yang ia bawa.
"Mama? Emang kalian ketemu?"
Sita mengangguk mantap. "Gue rasa nyokap loe ngumpet-ngumpet. Jadi, bisa ketemu dan bawain semuanya."
"Haah? Kalian ketemu dimana?"
"Beliau nyegat gue disamping kantor, Beb. Habis itu, beliau langsung pergi. Gue rasa, nggak ingin sampe ketahuan deh. Pesannya sih, loe harus bisa jaga diri dan jangan terlalu khawatir."
Mama?
Apa yang sedang aku lakukan disini? Karena diriku, semua orang harus terlibat termasuk Sita. Kuusap wajahku dengan kasar, aku menatap Sita penuh keharuan. Sampai akhirnya, aku tidak bisa menahan air mataku. Setelah semalam aku sembunyikan, kini buliran bening ini tidak bisa tertampung lagi di pelupuk mataku.
Lantas, Sita memeluk erat tubuhku. Ia hanya berucap agar aku bisa lebih sabar. Namun, tangisku pecah seketika. Terlebih, saat mengingat wajah mama. Bagaimana beliau akan berlaku sekarang? Bagaimana khawatirnya beliau sekarang? Demi anak sepertiku, beliau bersedia menjadi tameng dan rela ditebas habis oleh papa menggunakan segala macam caci maki. Belum lagi, jika Haris datang dan tidak menemukan diriku. Aku rasa, pria kasar itu akan mengamuk tidak jelas.
Selang beberapa menit kemudian, aku merasa cukup lelah untuk menangis. Aku melepaskan diri dari pelukan Sita. Kuusap secara serampangan buliran air mata yang masih mengalir. "Maaf ya Sit, gue selalu nyusahin loe," ujarku.
"Nggak kok, Beb. Kita kan sahabat udah dari lama, aku juga nggak bisa kalau ngebiarin loe terpuruk terus kayak gini," jawab Sita.
"Thanks ya, Sit. Gue nggak tahu harus bales pake apa buat semuanya."
"Pake cerita dong hehe. Jadi, gimana hubungan loe sama Andrew sekarang? Emm... loe tadi malam nggak nglakuin apa-apa kan? Baju yang loe pake konyol banget, gede gila."
"Iyalah punya Andrew. Ngelakuin apa? Gila apa, gue bisa sejauh itu."
Aku mendengus kesal setelah mendengar pertanyaan tidak berbobot tersebut. Tidak habis pikir, Sita bisa berpikiran kotor seperti itu. Inilah yang aku takutkan, jika aku tetap mau menumpang dan masih satu atap dengan Andrew. Pasti akan muncul beberapa kesimpulan yang tidak jelas.
Apalagi, tidak mungkin seorang pria lajang bertahan akan hasratnya saat bersama orang yang ia cintai. Bisa-bisa aku dilahap habis olehnya sebelum waktunya. Meski aku bukan orang suci dan beberapa kali mendapat kecupan dari Andrew, tetap saja aku ingin memegang teguh atas kehormatanku. Setidaknya, aku tidak terlalu cacat.
"Hei! Kok bengong sih?!" seru Sita kepadaku.
"Lagian loe nanyanya sembarangan!" jawabku.
"Ya maaf. Mau gimanapun kan, kalian tetap saling sayang. Yah, siapa tahu ada pihak ketiga yaitu setan."
"Nggak Sit. Hubungan gue sama Andrew masih nggak jelas. Gue sih niatnya mau manfaatin dia haha."
"Ehh?"
Sita memasang wajah penuh tanda tanya. Yah, hal ini memang cukup tabu untuk dilakukan olehku. Apalagi dalam perasaan yang masih sama. Lantas, apa yang bisa aku manfaatkan dari diri Andrew? Untuk hal itupun aku juga masih bingung. Namun, tidak membuat gentar. Setidaknya aku butuh sebuah uji coba kelolosan.
"Jadi, tadi Andrew keluar? Nyari kos?" tanya Sita lagi.
Aku mengangguk pelan. "Iya. Gue yang tinggal disini secara gratis," jawabku mantap.
"Loe? Loe nggak becanda kan?"
"Nggaklah. Bukan gue yang minta, dia yang nyaranin."
"Iya sih. Gue juga paham tentang itu. Dan nggak mungkin juga kalian tinggal berdua. Tapi, emang nggak keterlaluan Beb?"
"Nggak Sit. Loe tahu, Sit? Semalam Andrew mabuk, makanya nyamperin gue ke rumah. Gue kepergok sama papa dan akhirnya kabur kesini. Masa' gue ninggalin Andrew gitu aja, hujan deres lagi."
"Oh... gila banget sih si do'i. Gue nggak habis pikir ada cowok yang nyampe segitunya. Tapi, kenapa loe nggak langsung terima cintanya?"
Kuhembuskan napasku pelan-pelan. Aku menatap gusar ke arah Sita. Aku masih bimbang atas alasan dibaliknya. Mungkin akan terdengar sangat konyol dan sulit dimengerti. Namun, aku tetap berlaku seperti itu. "Sampe sekarang, gue masih kecewa berat sama kebohongannya, Sit," jawabku.
"Kenapa Beb? Andrew udah menyesal dan banyak berkorban lho?"
"Gue tahu. Entahlah, gue masih belum ikhlas menerima kesalahannya saat itu. Selama berbulan-bulan gue diambang ketidak-pastian. Dan disaat gue sayang banget sama dia, ada kabar yang cukup mengejutkan. Gue hancur seketika saat itu."
"Hmm... iya sih. Gelas yang udah retak pun tidak bisa kembali ke bentuk sempurna, walau masih berfunsi."
"Gue mau lihat lagi, seberapa jauh perasaannya. Kami juga tidak membatasi sebuah hubungan dengan orang lain."
__ADS_1
Sita diam seketika. Ia bisa paham, namun masih merasa enggan untuk mengerti. Meski begitu, Sita tidak berani menampik semua niatanku.
Bersambung...