
Pagi hari telah tiba. Tak ada suara kokok ayam, melainkan deru kendaraan yang sangat kencang. Yah, namanya juga kompleks perkotaan bukan di pedesaan. Mau tidak mau, akhirnya aku membuka mataku perlahan. Paparan sinar mentari menerobos masuk melalui jendela kaca di kamar ini, sampai membuatku terpejam lagi. Namun, apa dayaku sepertinya aku sudah kesiangan.
"What?! Kesiangan???" pekikku. Aku melonjat begitu saja sampai terbangun seketika. Aku menilik waktu pada jam di ponselku. Masih setengah enam, namun sudah seterang ini.
Tiba-tiba saja, perutku melilit begitu sakit.
Ah... jangan-jangan sudah tanggal jatah bulanan. Lantas, aku segera mencari keberadaan barang milik wanita dan bergegas lari secepat mungkin. Bahkan pintu kamar kubiarkan tertutup dengan sendirinya dan menimbulkan suara yang keras menghantam.
"Sintaaaaa! Gue dulu," pintaku kepada Sinta sebelum ia mendekati kamar mandi.
"Enggak, gue dulu! Gue kebelet, Nav," jawabnya menolak, lantas kami berlarian saling mengadu kecepatan.
"Gue dulu, Sintaaaa! Pake ini doang lhoooo."
"Iiiiihhh... gue udah kebelet."
"Gue bocor nanti."
"Mending loe bocor doang, kalau gue keluar di celana, gimanaaaa?! Gue dulu."
"Enggak ini entat berceceran, Sinta."
Aku terus berebut pintu kamar mandi itu dengan Sinta. Sampai-sampai kami tidak menyadari kehadiran Raya yang sedang berkacak pinggang. "Wooeee, pada sabar napa sih?" tegas Raya.
"Orang gue yang duluan kok," ujar Sinta.
"Ehhh... itu duit loe jatuh, Sin," balasku.
Sontak saja, Sinta melepas daun pintu kamar mandi dan menatap mencari keberadaan uangnya yang jatuh. Dalam kesempatan ini, aku langsung mengambil alih kamar mandi dan masuk ke dalam. Pada kenyataannya, aku memang telah membohongi Sinta. Kekuatan uang memang luar biasa, bukan?
"Navyaaaaaaaa???!!!" pekik Sinta tiba-tiba sampai membuatku terperanjat kaget.
"Maaf ya Cantik hahaha," jawabku dari dalam kamar mandi.
Sinta pun terdengar menggerutu tidak menentu. Aku tidak memperdulikan dirinya dan memulai ritual buang hajatku. Setelahnya, aku membersihkan diri. Beruntungnya aku tidak terlambat menyadari. Jadi, tidak terjadi kebocoran pada diriku ini. Hari pertama jatah bulanan pada diriku, memang ditandai dengan sakit perut terlebih dahulu. Dan hal ini sangat tidak membuat nyaman.
Setelah selesai, aku membuka pintu kamar mandi dan bergerak keluar. Karena merasa iba kepada Sinta, jadi aku tidak melanjutkannya dengan mandi. Dan benar saja, Sinta masih mondar mandir di dapur. Sepertinya ia sedang menunggu ritualku selesai. Rasanya cukup menggelikan, ini pertama kalinya aku memperebutkan toilet dengan orang lain. Padahal di rumahku sendiri tidak pernah.
"Licik loe!" Sinta mengataiku dengan sinis sembari terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Aku pun hanya terkekeh dibuatnya. Bahkan, aku melupakan kata maaf kepadanya. Mungkin nanti, jika ia telah keluar lagi, aku harus meminta maaf dengan benar. Setelah itu, aku mendapati Raya yang tengah asyik memasak sarapan. Kukerutkan dahiku karena heran. Dapat sayur dimana dirinya?
Kemudian, aku memutuskan untuk membantu Raya memasak sarapan tersebut. "Masak apa, Ray?" tanyaku kemudian.
"Ayam, Nav," jawabnya.
"Diapain?"
"Dikecap, enak nih kayaknya buat sarapan."
"Wow! Gue mauuu."
"Bantuin gih, kupas bumbu. Bisa masak kan?"
"Hmm... bisa. Kalau yang simpel mah."
"Kirain nggak bisa."
"Tadinya nggak bisa, tapi gegara Andrew jadi bisa."
"Hahaha... dasar nge-bucin loe."
"Sekarang kebalik kan? Hehe."
Aku mencari beberapa bumbu dasar. Setelah mendapatkannya, aku membawa ke sebuah meja untuk meraciknya dengan tenang. Sedangkan Raya masih sibuk menggoreng sesuatu, mungkin kerupuk atau semacamnya. Aku belun tahu pasti, apakah di negara ini ada tempe atau tahu. Yah, aku terlalu miskin disini, sampai belum sempat berjalan-jalan keliling Singapura. Bahkan patung Marlion yang terkenal itu saja, aku belum sempat melihat dengan jelas.
Semoga saja nanti, setidaknya untuk sekedar menghibur diri. Mungkin sendiri atau bersama kedua temanku ini. Sebisa mungkin jangan bersama pria karena aku takut risau kembali, sampai akhirnya tidak jadi bahagia.
"Ngomong-ngomong dapet daging ayam dariman, Ray?" tanyaku kemudian.
__ADS_1
"Dari swalayan, Nav. Kemarin sekalian beli makanan, bahan dari Indo udah mulai habis," jawab Raya.
"Mahal nggak?"
"Nggak tahu deh. Kalau dirupiahin jadi berapa hehe."
"Hmm... kita giliran aja, Ray. Seminggu siapa yang belanja gitu. Biar adil."
"Boleh juga, biar nggak salah paham ya kan?"
"Iya, gue baru kali ini sih tinggal sama orang lain. Nggak pernah nge-kost juga."
"Kalau gue sih pernah. Sinta yang belum pernah."
"Yaudah, entar kita atur aja. Termasuk bebersihnya sembari nostalgia jaman sekolah haha."
"Oke, oke. Tapi, Sinta nggak bisa masak dia. Jadi paling ikut itungan aja ya?"
"Gampang. Gue juga belum terlalu bisa, jadi sambil belajar bareng aja."
Raya tampak menganggukkan kepala. Aku pikir mereka mirip sekali, sampai tingkahnya saja bisa dibilang sama. Ternyata, Sinta tidak lihai dalam memasak. Sedangkan Raya terlihat sangat cekatan. Sepasang sahabat yang unik dan juga saling melengkapi. Aku menjadi rindu kepada Sitaku. Bagaimana kabar dirinya? Sudah memiliki pasangan atau belum? Sejauh ini kami hanya saling berkirim pesan seperti biasanya saja. Tidak terlalu banyak yang dibahas, lantaran diriku terlalu kelelahan.
Tak lama kemudian, racikan bumbuku telah selesai. Aku membawanya dan kuserahkan kepada Raya. Lantas, ia mengangkat hasil gorengannya dan dimasukkan ke sebuah baskom kecil. Ia melanjutkan dengan tumisan bumbu, memasukkan ayam yang telah direbus dan dibubuhkan beberapa bumbu penyedap lainnya.
"Guys, gue kayaknya diare deh. Nggak enak banget deh ih!" ujar Sinta tiba-tiba.
"Iiiyuuuhhh," jawabku menggodanya.
"Jangan sok jijik loe, Nav. Ketularan baru tahu rasa loe."
"Lah, sensi amat. Yang lagi dapet siapa, yang sensitif siapa."
"Lagian loe ngeselin."
"Hmm... iya iya, gue salah. Gue minta maaf yaaaa."
"Pulang kerja traktir gue."
"Terserah gue, orang yang minta gue."
"Yaudah terserah. Entar kalau diare loe tambah parah, jangan salahin gue."
"Lah, jahat amat do'anya? Ya jangan dong."
"Hahaha."
Sinta berlalu pergi sembari cemberut, sepertinya ia tidak terima dengan suara tawaku yang kencang. Yah, lucu juga menggoda wanita seumuran denganku itu. Ibaratnya, kami kembali menjadi para gadis remaja lagi. Tidak ada orangtua, tidak ada pacar bahkan tidak ada aturan yang menjerat.
Tak lama kemudian, aku beranjak kembali ke kamar. Karena sudah tidak ada yang perlu kubantu lagi. Raya sudah bisa mengatasi. Sesampainya di kamar, aku mencari pakaian gantiku yang sekarang bergaya simpel untuk kupakai bekerja nanti. Aku hanya membawa celana pendek, pakaian dalam dan kaos tipis untuk kupakai setelah mandi.
Kuambil alih, kamar mandi yang sedang kosong itu. Aku masuk ke dalam, melepas semua yang membalut tubuhku. Kemudian kunyalakan shower berisi air dingin. Dibawah guyurannya, sekujur tubuhku basah. Mataku yang masih terkantuk kini mulai segar. Kepeningan di kepala pun mulai menghilang. Meski dingin sisa dari hujan semalam, masih merambut masuk ke dalam pori-pori kulitku.
****
Tepatnya pukul 06.35 waktu Singapura. Aku, Raya dan Sinta sudah selesai merapikan diri. Balutan celana bahan panjang berwarna cokelat, kemeja berwarna merah kini membalut di tubuhku. Dan nantinya kemejaku akan terbalut lagi oleh sebuah blazer berwarna senada. Sesimpel ini diriku sekarang.
Sedangkan wajahku tetap kubiarkan polosan tanpa sentuhan make up sedikitpun. Rambutku yang pendek lebih cepat mengering dan mudah diatur. Begini saja, sudah cukup sempurna. Lebih cepat pula, tidak harus memakai ini itu untuk memperlambat waktu.
"Navya, sarapan yuk. Keburu jemputan datang," ajak Raya.
"Iya, emang masih dijemput apa? Ini kan udah hari kedua? Kita naik taksi kali?" tanyaku sembari melangkah keluar.
"Entahlah, Pak Fandy juga belum ngomong apa-apa kan?"
Aku menggeleng. "Belum sih. Yaudah turutin aja, daripada berangkat sendiri malah dijemput entarnya. Lah, Sinta mana?"
"Manggil Andrew."
"Manggil Andrew???"
__ADS_1
"Iya, kasian do'i makan sendirian mulu."
"Emm... gue bakalan canggung sama dia, Ray. Setelah kejadian tadi malem itu."
"Hahaha... santai, Sis. Ada kita-kita."
Aku hanya bisa menghela dan menghembuskan napas saja. Memang benar, pasti Andrew merasa kesepian. Namun, kecanggungan pasti akan merasuk diantara kami berdua. Sialnya, Raya dan Sinta seolah sedang sengaja untuk mengerjaiku. Atau mungkin berencana menyatukan kami kembali. Namun, rasanya tidak mungkin mereka melakukan hal sejauh itu. Terlebih kami baru saling mengenal. Meski aku sudah banyak menceritakannya, tetap saja tidak mudah bagi orang lain untuk ikut campur ke dalam masalahku.
Deg! Pintu terbuka oleh seseorang. Aku menelan ludah seketika. Apa ini? Mengapa bertemu dengan Andrew seperti ini rasanya? Seolah kami sudah lama tidak saling menyapa padahal tadi malam sempat berjalan-jalan bersama. Apakah aku masih tidur? Dan aku sedang bermimpi mengenal Andrew untuk pertama kali, begitu?
Dan benar saja, Sinta melangkah masuk ke dalam rumah diiringi oleh Andrew dibelakangnya. Aku menundukkan kepalamu seketika bersama debaran jantung yang tidak menentu. Aku tidak mengerti, mengapa diriku seperti ini.
"Hai, Ray. Selamat pagi, sorry nih. Gue jadi ngrepotin kalian." Suara Andrew terdengar membuatku seolah berkunang-kunang. Kini aku hanya diam. "Hai, Vya. Selamat pagi," lanjutnya untukku.
Aku berusaha mengangkat kepala yang rasanya sangat berat. "Eh, ya. Hai ju-ga. Selamat pagi he-he," jawabku terbata-bata.
"Hihi...." Suara cengingisan dari Raya dan Sinta terdengar samar di telingaku.
Sialan, bocah-bocah ini. Gue juga kenapa sih??? Kayak baru kenal aja, heraaan!
Setelah puas menggodaku, Raya dan Sinta mengajak aku dan Andrew ke meja makan. Mereka mempersilahkan kami duduk bak menerima tamu kehormatan. Aku pikir, mereka benar-benar mengundang Andrew dengan maksud lain yaitu mengerjai diriku. Ingin rasanya aku mengumpat keras dihadapan wajah mereka. Namun, apa daya, itu tidak mungkin terjadi.
Lantas, aku hanya menerima perlakuan ini. Sikap Andrew pun lebih tenang daripada biasanya. Ia tidak banyak memperhatikan diriku lagi. Tidak berceloteh gombal dan manja terhadapku lagi. Ia malah asyik berbincang dan melempar canda dengan kedua teman tinggalku itu. Lalu, mengapa rasa hatiku ada yang hilang seperti ini? Aku merasa ada sesuatu yang tidak aku relakan, namun aku tidak tahu itu tentang apa.
Oke, bodo amat! Yang penting makan lalu berangkat.
"Aduh, tangkepin itu!" pekik Raya tiba-tiba sembari menjatuhkan sesuatu. Sontak saja, refleks menangkap benda tersebut. Namun, tanganku malah berada diatas telapak tangannya Andrew. Kami saling bertatap mata seperti kejadian yang sering terjadi didalam drama korea.
"What the hell! Rayaaaaa!" bentakku sembari menarik tanganku.
Keduanya tertawa tanpa rasa bersalah. Aku mendengus kesal sekaligus malu. Jantungku sendiri masih berdegup tidak menentu.
Oh shiit! Apa-apaan ini? Jatohnya gue yang ngejer Andrew. Gimana kalau dia berpikir kalau aku sedang merencanakan semuanya.
Aku menilik benda yang dilempar Raya tersebut yang ternyata adalah sebuah kunci rumah ini. Bodohnya diri ini mudah sekali tertipu dengan ulah macam itu. Aku benar-benar malu. Jangan sampai reputasiku kembali jatuh dihadapan Andrew. Tidak mungkin aku menarik kata-kataku tentang perjanjian itu. Lagipula aku sudah setuju, tidak mungkin aku melarang Andrew untuk tidak mencari yang lain lagi.
Aku tidak segila itu. Baiklah, aku memang gila, namun aku masih memiliki rasa malu. Namun, entah mengapa debaran jantungku rasanya sama seperti kami pertama kali bertemu. Aneh, sangat aneh. Aku tidak boleh memikirkan hal ini terlalu dalam. Kemudian, aku melanjutkan aktivitas bersantapku sembari mendengar celotehan mereka bertiga yang sangat terdengar garing.
Tak lama kemudian, seseorang terdengar mengetuk pintu kami yang sebenarnya telah terbuka. Sontak saja, kami semua menilik tentang siapa yang datang.
"Pak Fandy guys," ujar Sinta saat ia menangkap siapa pelakunya.
"Suruh masuk aja, suruh sarapan," usul Raya.
"Emang dia mau? Orang elit guys," selaku.
Andrew berdiri dari duduknya. "Biar gue aja yang nyamperin. Gue udah beres nih, kalian lanjut dulu," ujarnya sembari melangkah ke arah belakang dengan membawa piring kotornya.
Aku menyusul dirinya karena tidak enak jika ia mencuci piring tersebut. "Biar gue aja yang nyuci," usulku.
"Hmm... oke."
Singkat, padat dan jelas sekali. Andrew telah berubah dalam satu malamkah? Ia tidak keras kepala seperti biasanya. Ia langsung menyetujui permintaanku lalu melangkah pergi begitu saja. Bahkan tanpa rasa terima kasih sedikitpun. Rasanya kesal sekali. Tapi, mengapa harus kesal? Bukankah ini yang aku inginkan?
Dengan beberapa gerutu kesalku, aku menyibukkan tanganku untuk mencuci piring-piring yang kotor, termasuk milik Raya dan Sinta. Ah... aku rindu Bi Emi. Aku jarang sekali melakukan hal seperti ini. Ternyata jadi orang mandiri itu tidak mudah. Harus berbagi tempat dengan orang lain, pengeluaran banyak dan melakukan segalanya sendirian. Namun, Navya harus bisa! Demi papa, aku harus bisa bertahan melawan semua lelah dari beberapa hal yang tidak pernah aku lakukan.
Selepas itu, aku menuju ruang depan kembali. Andrew dan Affandy sudah tidak ada, tampaknya mereka telah berada dibawah. Sedangkan kedua temanku memburu, agar aku lebih cepat dalam menyiapkan diriku. Kuambil tas ransel kecilku dan juga memakai sepatu bertumit pendek. Aku segera bergegas menyusul mereka semua. Tak lupa juga aku mematikan lampu dan mengunci pintu rumah ini. Selanjutnya aku menuruni tangga demi mencapai bawah sana.
"Hai, Navya. Pagi yang cerah ya?" sapa Affandy sesampainya aku dibawah.
"Hai juga, Fandy. Hmm... ya, secerah hatiku haha," jawabku.
"Yang jelas wajah kamu juga. Terlebih kalau kembali feminim seperti dulu."
"Hmm... thanks. Cantik nggak harus dandan terus kan?"
"Hehe iya sih. Kalau itu kamu, pasti akan terlihat cantik terus."
Aku tersenyum sekilas mendengar pujian dari Affandy tersebut. Lantas, aku menatap Andrew. Ia semacam tidak peduli kepadaku. Tampaknya rencananya tadi malam bukan omong kosong belaka. Baiklah, lagipula ini yang aku inginkan. Semoga ia bisa mendapatkan jodoh terbaik dan tidak seperti diriku.
__ADS_1
Kemudian aku mulai masuk ke dalam mobil milik Affandy dengan bimbingan tangannya. Tanpa aku sadari, ternyata Affandy telah menggandenga tanganku sejak tadi. Namun, sudah terlambat untuk kulepaskan karena aku sudah sampai didalam mobilnya. Hanya ucapan terima kasih saja yang terlontar dari bibirku untuknya. Lantas, ia segera memacu mobilny perlahan kemudian kencang. Kami meninggalkan rumah ini untuk sementara waktu.
Bersambung...