
****
"Ma, Vya mau ngomong sesuatu sama Mama," ujarku kepada Mama.
Mama menoleh, beliau menatapku dalam-dalam. Lalu mengenggam tanganku. "Ada apa sayang?" tanya Mama.
Kuhembuskan napasku dengan berat. Memberikan ruang ketenangan dalam hatiku terlebih dahulu. Sembari memastikan bahwa Papa tidak akan mendengar hal ini. Lalu kubisikkan, "Aku dapat tawaran kerja yang bagus, Ma."
"Oh ya? Bagus dong sayang? Darimana?"
"Masalahnya ke luar negeri. Dari temen aku."
Mama menatapku lebih dalam lagi. Lalu, beliau menunduk bimbang. "Ke negara mana?"
Kugelengkan kepalaku berkali-kali. "Aku nggak bisa bilang sekarang, Ma."
Kini giliran Mama yang mengambil napas berat. Mungkin, beliau merasa sedikit kecewa. Karena aku belum juga mau terbuka. Bukan seperti itu maksudku. Ada beberapa hal yang masih aku pertimbangkan.
Yah, semua masih aku rahasiakan dengan baik. Sebagai tameng agar Mama tidak keceplosan dihadapan Papa nantinya. Jika aku benar-benar mengambil keputusan itu, setidaknya tidak ada yang bisa mencariku. Termasuk Haris.
Tapi, beda cerita kalau Haris bermain uang. Hanya untuk mendapatkanku. Ahhh... konyol sekali.
Mama mendekatkan diri padaku, merangkul bahuku dengan hangat. Belaian seperti ini yang sudah lama sekali aku rindukan. Tapi, baru kali ini aku dapatkan.
"Berangkat saja, Navya," ujar beliau.
Sontak saja aku menatap mata Mama dengan keseriusan. "Haruskah Ma?"
"Supaya kamu bisa menghindari perjodohan dari Papamu."
"Tapi Mama gimana?"
"Mama nggak apa-apa, sayang. Kebahagiaan kamu adalah yang terpenting sekarang ini. Maafin Mama yang nggak pernah ada didekat kamu, biarlah Mama yang hadapi Papa nantinya."
Aku melekatkan tubuhku pada Mama. Memeluk beliau dengan erat. Sembari menitikkan air mata haru. Mungkin, ini adalah salah satu cara Mama untuk menebus kesalahan yang sempat beliau perbuat. Tentu saja, mengenai perjodohan ini juga.
Mama membalas pelukanku. Sembari mengusap lembut rambutku. Membisikkan beberapa kata sayang untukku.
Meski, telah aku dapatkan satu lampu hijau. Aku masih enggan untuk memutuskan. Mau bagaimanapun, aku tidak tega untuk meninggalkan Mama. Sakit sendiri, karena sikap Papa yang luar biasa keras. Belum lagi umpatan dari keluarga Haris pasti menyerang keluarga kami. Sepertinya memang membutuhkan waktu yang lama. Sampai adanya cara agar aku bisa membuka kedok biadab Haris.
Tiba-tiba, ketukan pintu terdengar oleh telingaku. Seseorang datang ke kamar, dimana aku dan Mama berada.
"Siapa?" tanyaku.
"Bibi, Non," jawab Bi Emi, yang ternyata adalah pelakunya.
"Ada apa, Bi?"
"Ibuk sama Non Vya, dipanggil sama Bapak."
Aku menelan ludahku dengan ngilu. Ada apa lagi ini? Aku dan Mama saling menatap satu sama lain. Kami sama-sama enggan untuk keluar. Untuk menemui Papa yang seperti itu.
Sedangkan Mama, menggenggam tanganku. Mengajak diriku untuk turun. Memenuhi panggilan dari Papa. Meski enggan, akhirnya kami beranjak dari duduk. Berjalan keluar hendak menemui Papaku.
"Ma, jangan bilang Papa dulu soal tadi ya?" pintaku.
Mama tampak menganggukkan kepala sembari tersenyum teduh. Tanda bahwa beliau menyetujui permintaanku. "Kamu yang tenang, Mama udah nggak jahat lagi sayang," ujar beliau.
"Hehe... iya Ma."
Setelah itu, kami telah sampai di ruang tengah. Dimana Papaku berada. Beliau begitu asyik memainkan ponsel sembari meminum kopi. Syahdu sekali, melihatnya. Tidak ada sedikitpun rasa bersalah dihati beliau. Macam bandit yang menjual anak putri satu-satunya.
Membuatku semakin muak saja. Tidak peduli dengan status Ayah yang beliau sandang. Menurut Papa sudah keterlaluan. Entah setan mana yang merasuki. Jika saja aku bisa menyeret tubuh beliau. Aku akan membawanya kepada seorang Kyai untuk diobati. Agar sadar, bahwa yang dilakukan beliau selama ini adalah salah besar. Besar sekali!
Mau tidak mau, aku dan Mama duduk di kursi kosong yang lain. Seolah menunggu sidang vonis dari hakim yang tidak adil. Ahh... menyebalkan sekali!
Papa menatapku dengan tajam, lalu tersenyum sampai terlihat gigi-gigi putih yang masih rapi. "Gimana, Navya?" tanya beliau padaku.
"Apanya?" tanyaku kembali dengan sengit.
"Lembut sedikit jadi anak perempuan, saya ini Bapakmu!"
"Aku tidak peduli!"
__ADS_1
Mama merengkuh tanganku. Membisikkan sesuatu, "Jangan emosi, Nak."
"Oke, gimana soal hal apa ya Bapak Surya yang terhormat?"
"Sudah nyaman belum kamu sama Haris?"
Deg!
Seperti inilah yang selalu Papa pertanyakan. Hampir setiap hari. Sedang jawabanku tetap sama. Tidak ada yang namanya kenyamanan, antara aku dan Haris. Yang ada hanyalah perindingan karena selalu dekat dengan lelaki iblis itu. Aku jengah dan ingin mati saja rasanya.
Namun, sampai sekarang aku belum bisa melakukan apapun. Nominal uang yang Papa pinjam pun masih tersimpan rapat dihati beliau. Seolah ada sesuatu yang janggal disembunyikan. Janggal? Mungkinkah Papa berbohong? Agar aku bersedia menerima perjodohan ini. Lalu, apa benar Papa memiliki penyakit berbahaya?
Yang aku ingat, Papa tidak pernah menunjukkan gejala gangguan kesehatan apapun. Sampai sekarang ini. Astaga! Jangan-jangan aku telah ditipu? Setelah aku masuk kedalam perangkap asmara dengan Haris. Aku tidak akan bisa berbuat apapun, karena Haris penuh kekuasaan di negara ini. Mungkin semua aparat Negara bisa tunduk dengan uangnya.
"Navya!" seru Papa padaku lagi.
"Iya, santai dikit napa sih?" ujarku diiringi senyum sinis.
"Semakin lama kamu ini nggak bisa hormat sama Bapakmu ini ya? Kamu mau jadi anak durhaka?"
"Mau aja, toh yang katanya Bapakku ini. Bukan ayah yang pantas dihormati!"
Mama pun menjadi panik. Berusaha melerai perdebatan kami, "Sudah dong! Anak sama Bapak nggak ada yang ngalah gini sih, setiap ketemu!"
"Ini salah kamu, selalu manjain anak ini! Sama manjanya kayak kamu, dikit-dikit nangis."
"Helloooo... ngaca dong! Anda sendiri lelaki seperti apa? Bisa nggak disebut seorang ayah dan suami? Nggak ada seorang ayah yang tega menjual anaknya sendiri! Dasar pecundang!"
BRAAAKKKK!
Papa menggebrak meja, setelah mendengar ucapanku. "Navyaaaaa!!!"
Aku hanya acuh. Karena sudah terbiasa dengan semua ini. Hanya senyuman sinis yang beberapa kali aku pasang. Berbeda denganku yang keras kepala. Mama hanya diam pasrah, seolah tidak ada daya sama sekali. Aku rasa persetujuan beliau tentang perjodohan ini, juga merupakan bentuk ketakutan pada Papaku.
Papa berkacak pinggang, mata beliau tampak memerah menahan amarah. Namun, tidak lama kemudian beliau menatap langit-langit atap ruangan ini. Disertai helaan napas berat yang dihembuskan kembali. Pejaman mata pun dilakukan oleh beliau. Sepertinya, sedang menahan emosi yang menggebu-gebu karena sikapku yang kurang ajar ini.
"Tidurlah kalian, sudah malam." Papa memerintahkan kami untuk beristirahat. Aku sampai heran dibuatnya. Mengapa respon seperti ini yang diberikan? Bukan kemarahan seperti biasa.
Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas pergi. Meninggalkan Papa maupun Mama diruangan ini guna menuju kamar pribadiku.
Aku mengarahkan diriku terlebih dahulu kearah kamar mandi. Untuk membasuh wajah dan juga gosok gigi.
Setelah itu, menuju kamarku. Kubaringkan tubuhku dengan posisi ternyaman. Memejamkan mata. Namun, gambaran wajah Haris terpampang jelas dibenakku. Membuatku bergidik beberapa kali. Terlalu banyak yang aku khawatirkan jika benar-benar menikah dengannya. Harga diriku akan jatuh seketika. Bukan hanya aku, tapi keluargaku juga. Belum lagi, sifatnya sangat tempramental. Meski cukup tampan, namun ketampanannya dipergunakan untuk memikat wanita cantik manapun.
Kuakui selama ini Haris lebih bisa menahan diri. Namun, tetap saja ada rasa jijikku padanya. Apalagi jik Haris melakukan itu hanya untuk meluluhkanku saja. Kemudian membuangku seketika. Beberapa kali disakiti oleh pria, sampai aku bisa hafal dengan niat tersembunyi yang pria simpan dibalik kelembutannya. Termasuk Haris.
Sudahlah! Memikirkan tentang Haris, tidak akan ada habisnya. Lebih baik tidur pulas, akan kuhadapi lagi diriny esok hari. Karena ia telah membuat rencana untuk datang kemari.
Sebelum aku terlelap dengan nyenyak. Tiba-tiba ponselku berdering, menandakan bahwa seseorang sedang memanggilku. Awalnya aku malas, namun penasaran. Aku rasa Andrew atau Haris.
Tapi, dugaanku salah. Saat kuraih ponselku dari atas meja kecil, bukan mereka yang meneleponku. Melainkan kontak yang bernam Fandy atau Affandy. Untuk apa semalam ini, ia menghubungiku? Membuatku bimbang beberapa saat. Karena, ini pertama kalinya Affandy melakukan panggilan suara ini. Aku rasa ia ingin menanyakan tentang keputusan apa yang sudah aku ambil.
"Selama malam, Bapak Direktur," sapaku pada dirinya, yang kini entah dimana.
"Hahaha... Navya ngelawak ya? Emm... maaf aku ganggu kamu, Vya," jawabnya dengan tawa yang begitu renyah.
"Hehe... Kenapa Fandy?"
"Kok kamu belum tidur?"
"Rencana untuk tidur yang telah saya buat, harus tertunda karena suara yang Bapak sebabkan."
"Ya Tuhan! Maaf ya Vya."
"Hehe... nggak apa-apa kok Fandy, belum bisa tidur juga ini. Ada apa emang?"
"Gimana soal tadi siang?"
"Emm... aku belum memutuskan apapun Fandy."
"Ayolah, aku bantu. Masa' kamu mau menyetujui perjodohan itu sih Vya, padahal kamu bilang menderita banget. Aku jadi mikir saat kita bertemu dijalan waktu itu gara-gara pacar kamu ya?"
"Sorry Fandy, aku salah kirim waktu itu. Harusnya buat sahabat aku, iya waktu itu emang gara-gara dia."
__ADS_1
"Hmm... aku malah seneng kalau kamu bisa terbuka langsung, Navya. Bukan karna salah kirim. Kalau bener dia, kamu setujui aja. Jarang ada lho kesempatan ini, aku bantu buat rahasiain sama pihak perusahaan. Yang penting kamu udah bilang salah satu anggota keluarga kamu. Nanti, malah aku dikira bawa kabur anak orang lagi."
Aku terdiam. Ada benarnya, ada untungnya juga jika mengikuti saran dari Affandy. Tapi, aku masih terlalu takut. Aku khawatir melibatkan Affandy dalam masalah ini. Terutama perusahaan yang bisa tercoreng namanya hanya karena pegawai bawahan sepertiku. Meski, aku tau peranan Affandy saat ini sangat bisa mempengaruhi perusahaan.
Namun, sekali lagi tentang Haris. Tidak mungkin, ia bisa diam saja. Pasti akan berbuat sesuatu untuk menemukanku. Usahanya untuk mendapatkan diriku selama ini, masih saja gagal. Jika menilik lagi pada sifatnya, Haris tidak akan menyerah begitu saja.
"Navya?" Affandy memanggilku. Memastikan, apakah aku masih terjaga.
"Iya Fandy, aku masih ada kok," jawabku.
"Kirain udah tidur lho. Jadi, gimana?"
"Sorry ya Fandy, aku butuh waktu lagi buat memutuskan ini. Kamu cari karyawan yang lain dulu, kalau nungguin aku terlalu lama malah jatuhnya nggak jelas."
"Yah, bisa sih gitu. Tapi, rencana awal kan aku cuma mau bantu kamu. Ehh... kebetulan kinerja kamu juga sangat bagus kok. Sayang banget kalau nggak naikin levelnya."
"Thank's ya."
"Iya Vya, sama-sama. Silahkan dipikirkan lebih matang lagi selama sisa dua minggu ini ya? Karna seminggu setelahnya kita akan prepare buat keberangkatan."
"Iya Fandy."
"Oke, kalau gitu kamu tidur gih. Udah malem, selamat tidur. Semoga mimpi indah."
"Selamat tidur kembali."
Affandy menutup panggilannya. Menyisakan beberapa kebimbangan hati lagi. Aku perlu alasan dan juga cara untuk memutuskan hubunganku terlebih dahulu dengan Haris. Dalam waktu sesingkat itu. Bisakah?
Lalu bagaimana caranya? Kalau langsung to the point, pasti ia tidak akan setuju. Lalu marah-marah dengan ancaman yang menakutkan. Hinaan pada Papa dan Mamaku pasti dilontarkan. Ya Tuhan, bantu aku.
Dering ponsel terdengar lagi. Aku yang masing terbengong meraih benda kotak itu kembali. Lalu kuangkat tanpa melihat pemilik nomornya. Karena, aku pikir masih orang yang sama yaitu Affandy.
"Kenapa lagi, Pak?" tanyaku acuh.
"Pak? Siapa? Kamu abis telpon sama siapa?"
Oh sial! Sontak saja aku membangunkan diriku. Suara Haris terdengar melalui ponselku. Bodohnya, aku tidak memperhatikan lebih dulu. "Pa-pak Haris yang terhormatlah, siapa lagi?"
"Serius Navya!"
"Gue juga serius!"
"Alah! Pasti loe abis telponan sama cowok lain kan?"
"Udah deh Ris, kalau cuman mau ngajak berantem malem-malem mending matiin aja. Gue capek!"
"Sial! Kenapa sih loe jadi cewek nggak bisa lembut sedikit sama gue? Gue kan cuma memastikan, calon istri gua nggak selingkuh."
"Calon istri??? Masih mimpi aja loe!"
"Sudah sejauh ini Navya. Ternyata kamu masih nolak aja ya? Sayangnya, nyampe sekarang pun masih belum bisa lepas tuh. Gue saranin, loe nggak aneh-aneh sama cowok lain."
"Hmmm... gue capek Ris. Kenapa telpon?"
"Aku mau ingetin kamu aja, besok dandan yang cantik. Gue mau apel."
"Kenapa nggak apelin orang lain aja sih?"
"Kan aku sayangnya sama kamu Navya. Udah jatuh hati sama kecantikan kamu."
"Idih... Najisss!"
"Terserah, pokoknya dandan yang cantik. Kita jalan. Muuuaacchh."
Setelah mengatakan itu, Haris segera menutup panggilan ini. Rasanya mual sekali, mendengar segala gombalan yang ia lontarkan. Menjijikkan!
Tapi, esok harinya. Aku tetap harus menurutu keinginannya untuk bertemu. Saat sedang seperti ini, aku benar-benar ingin pergi. Pergi ke Singapura secara diam-diam. Agar aku terlepas dengan Haris dan Papa.
Tapi, bagaimana dengan Mamaku nantinya? Apakah beliau akan baik-baik saja? Soal hutang, apakah Papa akan dipenjara? Atau penyakit, akan mengantarkan Papa kedalam ruang rawat? Bagaimana kalau Haris membahayakan keluargaku ataupun perusahaanku. Lebih parahnya, jika Affandy ketahuan bahwa ia adalah orang yang membujukku. Segala macam pertanyaan ini sangat sulit kujawab sendiri.
Uhh... aku benci situasi ini. Padahal, aku masih orang biasa. Bukan artis, bukan tokoh politik. Aku hanya tokoh novel, novel tentang percintaan yang miris.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like+ komen