
Mereka saling berpelukan dengan air mata yang berderaian. Sedangkan aku masih tetap sembunyi di dalam kamar nan indah bernuansa merah muda milik Kak Kate. Mereka bertemu di tengah malam, karena yang kulihat Affandy tergopoh-gopoh datang dengan tubuh sempoyongan. Aku hanya bisa menelan ludah saja pada saat mereka bertengkar hebat tanpa bisa melerainya beberapa saat yang lalu. Entahlah, aku tetap tahu akan posisi diriku yang tidak boleh ikut campur di dalam urusan mereka.
"Kamu jangan pergi lagi, Kate." Suara Affandy terdengar sangat parau, mengandung semacam penyesalan yang tiada terkira. Jika, didengar dengan seksama, maka akan menimbulkan rasa yang menyayat dan menyebabkan luka.
"Aku masih di sini. Tapi, ... untuk esok, aku enggak tahu. Maaf." Jawaban itu yang diberikan oleh Kak Kate kepada pria pujaannya. Rasa kecewa di dalam hatinya tampaknya jauh lebih kuat daripada rasa cintanya.
"Beri kesempatan aku sekali lagi dan aku akan berubah. Aku akan menebus semua kesalahanku. Aku ingin kamu dan ternyata aku enggak bisa kehilangan kamu, Kate." Kalimat itu, masih dengan suara yang parau, bahkan mungkin lebih daripada sebelumnya. Membuatku semakin iba terhadap atasanku tersebut. Namun, aku tidak bisa berbuat banyak dan diam seperti ini yang aku bisa. Affandy, semoga ia bisa mendapatkan jawaban yang terbaik dan juga jalan yang indah dalam cintanya.
Dari balik pintu kamar ini, aku melirik keberadaan mereka yang terduduk lesu dan tampak dari sini. Kak Kate memilih diam dan menunduk tanpa berkata-kata lagi. Sebenarnya, aku ingin pergi dari apartemen miliknya ini. Tetapi, waktu sudah sangat malam, aku tidak berani berada di luar. Belum lagi, taksi online maupun taksi biasa pasti sulit dicari. Oh, saat ini aku merasa sedikit menyesal karena menerima tawaran dari wanita berparas jelita itu. Aku juga tidak mungkin berbicara dengan Andrew, kekasihku itu pasti merasa khawatir. Jika memiliki mobil di sini, pasti ia akan bergegas menjemput diriku, tetapi itu tidak mungkin.
"Pulanglah, aku ada teman berkunjung," ujar Kak Kate setelah beberapa saat terdiam. Yang aku lihat dari sini, ia telah mengangkat kepalanya dan menatap Affandy.
Aku rasa, dahi Affandy sedang mengernyit saat ini. Mungkin saja, karena ia belum mengetahui perihal keberadaanku di sini. "Siapa?" Benar saja, itulah yang ia tanyakan untuk mengetahui siapa yang datang.
"Hanya teman."
"Ya, siapa?"
"Emangnya, aku harus lapor sama kamu?"
"Harus! Cowok?"
Tidak ada jawaban dari Kak Kate. Aku menyudahi aktivitas mengintipku dan menyandarkan kepalaku pada dinding berwarna merah muda. Sepertinya, Kak Kate tidak ingin jika Affandy tahu bahwa aku ada di sini. Mungkin karena kala itu Affandy sempat menyukai diriku.
"Sekali lagi, siapa?" Suara Affandy yang tadinya terdengar parau, kini lebih tegas. Mungkin ada rasa cemburu dan khawatir jika yang datang adalah seorang pria lain. "Kamu jangan sembrono dan ikut-ikut budaya orang lain dengan bawa masuk seorang cowok, Kate."
"Terus ... kamu sendiri ngapain datang ke sini malem-malem? Hah?!" Kak Kate membalas ketegasan suara Affandy. Mungkin ia geram dan ingin cepat-cepat membuat pria itu pergi dari sini.
"Aku berbeda dan aku enggak mungkin berbuat hal buruk sama kamu."
"Tapi, kamu tetep bukan suami aku, Fandy! Pulang!"
"Siapa dulu yang dateng?"
"Kamu enggak perlu tahu!"
"Aku sayang sama kamu dan pasti aku juga berhak untuk itu. Aku udah bujuk papa kamu dan dia udah setuju sama hubungan kita. Meski kamu berupaya jauh dari aku, tapi aku yakin kamu masih suka sama aku."
"A-apa? Papa? Jangan konyol, Fandy! Kita enggak ada hubungan apa-apa. Kenapa kamu harus bujuk papa aku?"
"Udah aku bilang karna aku sayang sama kamu!"
"Kalau sayang, kenapa kamu sakitin aku?"
"Aku ... aku hanya belum tahu tentang hatiku."
"Alasan paling bodoh se-dunia! Aku ini cantik dan aku bisa dapetin cowok lebih baik daripada kamu, Fandy. Aku lelah dan aku udah sadar tentang hal itu."
"Tapi, hati kamu masih sama aku, kan?"
"Aku bakalan lupain kamu!"
"Aku akan terus bujuk kamu."
"Aku enggak peduli!"
"Aku enggak percaya."
"Fandy!"
"Apa?"
"Ih!"
Lucu, mendengar pertengkaran mereka yang terakhir, justru membuatku tersenyum-senyum sendirian. Benci tetapi cinta, hal yang pernah terjadi kepadaku juga. Aku sangat yakin mereka akan bersama, tetapi bukan sekarang waktunya. Mungkin nanti, sebentar lagi atau beberapa jam lagi? Ah, entahlah. Semoga saja mereka mendapatkan jalan terbaik.
Aku memainkan ponselku sembari menunggu peperangan di antara mereka selesai. Tidak ada pesan masuk, terakhir aku berkata kepada Andrew bahwa aku tidak bisa menanggapi pesannya karena bersama orang lain. Mungkin saja, ia sudah tertidur saat ini. Hmm ... aku rindu, bahkan sangat. Namun belum bisa pulang karena terjebak di sini bahkan bersama kedua sejoli yang masih bersitegang satu sama lain.
"Jadi, ... siapa, Kate?" Suara Affandy terdengar lagi. Masih saja ingin mengetahui siapa yang ada di sini yang sebenarnya hanya diriku.
"Siapa yang siapa?" balas Kak Kate kemudian. Membuatku diam-diam, mengintip lagi. Sepertinya, aku sudah kurang ajar. Namun tetap merasa penasaran. Dan lagi, kini aku malah seperti nyamuk di antara kedua insan itu.
"Yang datang dan di mana? Kenapa enggak ada orangnya?"
Dalam beberapa saat, Kak Kate terdiam. Entah apa yang membuatnya sulit mengatakan namaku. Apa benar, Kak Kate masih khawatir tentang perasaan Affandy kepadaku, seperti yang aku duga sebelumnya? Jika benar, lantas mengapa ia malah mendekatiku? Bahkan seperti adiknya sendiri. Ataukah hanya untuk mengorek antara hubunganku dengan Affandy? Dengan kata lain, ia belum bisa mempercayaiku sepenuhnya. Pun meski, aku sudah bersama Andrew, bahkan sudah merencanakan pernikahan.
Kali ini, hatiku dirundung bimbang. Jika semua dugaanku benar, jujur aku merasa sangat kecewa. Aku tidak menyukai hal seperti itu, aku tidak ingin berteman jika di balik itu semua masih terdapat semacam kecurigaan. Sekali pun itu adalah Kak Kate.
"N-navya." Akhirnya namaku terdengar Kak Kate ucapkan. Namun, dengan nada terbata-bata penuh dengan keraguan.
__ADS_1
"Navya?" tanya Affandy. Mungkin, ia merasa sangat heran dan tidak menyangka atas kedekatan kami berdua.
"Y-ya, puas kamu? Udah pulang sana."
"Mana orangnya?"
"M-mau ngapain lagi, kamu?"
"Mau bicara doang kok."
"M-mungkin udah tidur."
Saat aku mengintip lagi, Kak Kate menunduk. Ia mengikuti gerakan Affandy yang telah berdiri. Ada sesuatu yang sepertinya hendak mencegah Affandy untuk bertemu dengan diriku. Ya, terlihat sangat jelas bahwa ia cemburu, kesal dan mungkin beberapa perasaan lainnya semacam itu.
Pelan-pelan, aku pun berdiri dari dudukku. Aku menutup pintu kamarnya secara perlahan juga. Kemudian, aku berjalan menghampiri ranjang. Aku tidak langsung mengambil posisi tidur di sana karena masih merasa sungkan. Hanya duduk kembali di samping ranjang tersebut. Hingga, tidak berapa lama kemudian, tapak kaki mereka berdua menuju kamar ini.
"Aku buka ya, Kate?" Affandy meminta izin, mungkin atas pintu kamar itu.
"Ngapain sih? Enggak enak, kalau Navya-nya udah tidur!" tegas Kak Kate yang masih terdengar di telingaku.
"Ketuk dulu."
"Fandy!"
"Apa? Emang salah, aku mau nyapa teman?"
"Ini udah malam masalahnya."
"Kan ketok dulu, kalau enggak ada jawaban ya enggak jadi. Kenapa sih?"
"Ya, aku melarang!"
"Kenapa melarang?"
"E-enggak apa-apa. C-cuma enggak enak sama Navya-nya."
"Navya orangnya santai."
"Kenapa kamu tahu?"
"Dia temanku."
"Iya."
"Fandy ...."
Niatku untuk berfokus pada ponselku ataupun hal lain, kini kembali buyar. Percakapan mereka yang masih terdengar, membuatku mau tidak mau mengikuti alur selanjutnya. Sialnya, saat ini justru namaku yang menjadi bahan perdebatan. Malahan, Affandy mengatakan 'iya' pada saat Kak Kate bertanya tentang rasa sukanya kepadaku di masa lalu. Lantas, apakah Affandy sengaja mengatakan hal itu untuk memancing rasa cemburu? Entahlah, aku belum tahu.
"Kamu cemburu?" tanya pria yang merupakan atasanku itu.
"E-enggak! Jangan GR!" tegas Kak Kate lagi. Aku tahu ia tengah berbohong. Terdengar jelas dari nada bicaranya yang terbata-bata.
"Kamu jelas cemburu."
"Enggak!"
"Cemburu!"
"Enggak!"
"Lalu, kenapa bahas soal aku suka sama Navya dan lagi ... muka kamu cemberut, ditekuk-tekuk macam kesal."
"A-aku enggak gitu, kok."
"Kamu cemburu."
"Enggak!"
Affandy terdiam, itu yang aku dapat tangkap. Tentang tingkah mereka di luar pintu kamar, aku tidak tahu sama sekali. Cukup rumit, mungkin lebih rumit dari kisah cintaku dengn Andrew. Dan ... juga menyebalkan karena membawa-bawa namaku. Aku tidak tahu, setelah ini harus bersikap bagaimana di hadapan Kak Kate. Aku rasa, wanita cantik yang berprofesi sebagai sekretaris itu mengira bahwa aku sudah terlelap dalam tidur.
Aku menghela napas dalam, dan mengembuskannya di detik berikutnya. Ingin sekali pulang, tetapi jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ini gila! Sudah terhitung hampir dua jam pertengkaran mereka terjadi dan lebih gilanya lagi, aku bertahan duduk di samping pintu sembari mengintip. Esok masih kerja dan kami belum tidur sama sekali.
"Fix! Kamu cemburu. Oke, berarti kita baikan. Kamu enggak boleh nolak aku lagi. Besok kita kencan," ujar Affandy seenaknya sendiri dalam membuat keputusan.
"A-apa? Jangan sembarangan kamu! Aku enggak mau kencan sama kamu," tolak Kak Kate di detik berikutnya.
"Tapi, kamu cemburu dan kelihatan banget, Kate. Buat apa mengelak lagi?"
"Emang kalau cemburu haru--"
__ADS_1
"Nah, kan! Kamu udah mengakuinya sendiri."
"E-enggak gitu maksud aku. A-aku enggak, a-aku, i-itu."
"Besok malem, aku datang lagi. Jam tujuh malam, aku harap kamu udah dandan cantik dan kita jalan. Jangan lupa salam hangat untuk Navya. Aku pulang ya, Sayang. Kamu bobo' yang nyenyak, enggak perlu antar aku ke bawah kok. Muach!"
"Fandy!"
"Kenapa? Masih mau aku di sini?"
"E-enggak! Apaan sih! Pulang sana!"
"Hehe ... oke, bye, Sayang. Aku tunggu besok."
"Haish!"
Setelah itu, tidak ada perdebatan lagi. Beberapa saat yang lalu, Kak Kate masih bersikeras untuk menolak Affandy. Tetapi, yang aku dengar sekarang, justru ia tidak berkutik atas keputusan yang dibuat oleh Affandy secara seenaknya saja. Dan mungkin, pria itu telah pulang sekarang, terbukti tidak ada suaranya sama sekali. Bahkan Kak Kate juga.
Aku berjalan menuju pintu. Setelah itu, aku melirik lagi setelah membuka benda itu dengan sela yang kecil. Terdengar pintu utama apartemen ini yang sedang dikunci. Dengan gerak cepat, aku segera menuju ranjang milik Kak Kate. Aku merasa bimbang, haruskah aku naik dan pura-pura tidur? Atau duduk di bawah saja? Aku tidak ingin dianggap lancang karena berbuat seenaknya.
Tidak sampai lama, aku melihat sofa berjumlah satu namun panjang. Dengan gerak cepat, aku mendatangi benda tersebut. Aku merebahkan diri di atasnya dan berpura-pura terlelap.
"Navya?" Beberapa menit kemudian, terdengar suara Kak Kate yang mencoba membangunkan diriku, pun meski aku belum tertidur sama sekali.
Aku membuka mataku perlahan. "Iya, Kak," jawabku untuknya.
"Ngapain tidur di sini? Pindah ke ranjang aja, biar enakan."
"Tapi?"
"Kasur aku besar, badan kita kecil, jadi pasti muat. Malahan, tersisa banyak."
"Enggak apa-apa, kah?"
Kak Kate menggelengkan kepala. "Enggak apa-apa, Dek."
Aku membangunkan diriku. Lalu, sebelum menuju ranjang besar dan berwarna manis itu, aku menuju kamar mandi terlebih dahulu.
Aku menatap wajahku pada cermin yang sepertinya sengaja dipasang di sini. Wajahku telah basah oleh air yang dingin. Kuhela napas beberapa kali, karena perasaan ini sungguh getir. Kak Kate mendekatiku, bahkan begitu baik kepadaku. Namun, pemikiran atas dugaan-dugaanku sebelumnya masih sangat mengganggu. Aku takut jika Kak Kate hanya sebatas mencari tahu perihal hubunganku dengan Affandy, bukan tulus ingin berteman.
Kuhela napas lagi, dan mengembuskannya kembali. Tidak, itu tidak mungkin. Ah, jika seandainya benar, aku juga tidak merasa dirugikan. Malahan, ia sering mentraktirku makan siang. Tidak bersedia diganti sama sekali. Seharusnya, aku membayar kebaikannya itu dengan menerima dirinya dengan baik sembari membuktikan bahwa aku dan Affandy tidak pernah ada hubungan apa pun, kecuali teman dan atasan. Lagi pula, aku sudah maju dengan mantap bersama Andrew.
Kemudian, aku keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar itu. Aku mengeringkan kakiku dengan sebaik mungkin. Selanjutnya, aku kembali menghampiri Kak Kate yang tengah membaca buku di atas ranjangnya.
"Ayo sini, naik aja jangan sungkan sama aku, Nav," ujar Kak Kate kepadaku. Ia tersenyum, seolah tidak ada apa pun yang menerpa dirinya.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Kak," jawabku. Kemudian, aku naik ke atas ranjang itu. "Aku pikir, Fandy bakalan menginap."
"Hmm ... enggak mungkinlah, Nav. Kami belum menikah."
"Kalau belum, berarti ada kemungkinan akan."
Kak Kate terdiam. Sepertinya, perkataanku sangat lancang. "Ah, maaf, Kak," lanjutku.
Kak Kate menggeleng. "Enggak apa-apa kok. Lagian, jodoh enggak ada yang tahu."
"Emm ... jadi, tadi udah baikan, kah?"
"Menurut dia udah, menurut aku belum."
"Kenapa gitu?"
"Aku masih ragu."
"Wajar, Kak. Aku dulu juga gitu pas sama Andrew. Pas dia deket sama cewek lain, aku baru sadar sama perasaanku dan untungnya enggak terlambat. Tapi, jatuhnya dia kayak kasih harapan sama cewek itu. Bahkan, bikin cewek itu nyampe terobsesi sama Andrew."
"Hmm ... aku tahu, siapa yang kamu maksud. Aku pun dengar, kamu pernah berantem di gudang arsip belakang, nyaris ngebunuh dia, kan?"
Aku menyengir. "Iya, Kak. Pada saat itu, kan, aku lagi bodoh-bodohnya. Penampilanku pun bener-bener aku ubah, rambutku selalu aku pangkas. Dan ... ternyata keberanianku juga lebih besar daripada sebelumnya. Macam preman pasar yang enggak ada ampunnya."
"Jangan begitu lagi, ya? Kamu terlalu sayang buat jadi orang jahat. Boleh aja ngasih pelajaran, tapi hindari beberapa kemungkinan yang mengarah ke penganiayaan. Untung kamu kenal sama Fandy di luar pekerjaan, jadi ada yang bisa bantu kamu."
"Iya, Kak. Enggak lagi. Ah, maaf, aku malah yang jadi curhat. Tapi, Kak. Aku harap Kak Kate bisa percaya sama aku, aku dan Fandy enggak pernah ada apa pun. Dari dulu, perasaanku berputar sama Andrew aja. Aku dan Fandy enggak sengaja ketemu pas di Indo, ada masalah besar dulu. Dan, ternyata dia orang penting di sini, dia juga yang bantu aku nyelesaiin masalahku. T-tapi, bukan berarti kamu ada hubungan apa-apa. Jadi, Kak Kate jangan salah paham, ya?"
Kak Kate terdiam. Ia menatapku tajam, cukup lama. Sampai akhirnya, ia kembali berkata setelah tertawa, "Mana ada aku begitu sama kamu. Ada-ada aja."
Bohong! Ya, ia sebenarnya cemburu, tetapi tidak mengakuinya. Kini, aku hanya bisa tersenyum saja. Sudah aku jelaskan semuanya, untuk menghindari kemungkinan kesalahpahaman di antara kami. Aku berharap bahwa Kak Kate tetap bijak dalam bersikap.
Bersambung ....
__ADS_1