Who Is My Love

Who Is My Love
Kosong


__ADS_3

Hembusan angin malam semakin dingin menerpa tubuhku seakan menembus sampai ke tulang-tulangku. Dan dikarenakan hari semakin malam dan gelap kelabu, Rezky mengajakku untuk segera pulang. Disaat ia merasa aku sudah cukup tenang atau air mataku sudah tidak berderai lagi.


Tatapan mataku terasa kosong. Setelah meluapkan kesedihanku. Kini hanya tersisa perasaan yang hampa. Entah apa yang secara pasti aku rasakan. Rasa kecewa memang ada dan mungkin sangat besar. Namun, aku memang bukan siapa-siapa. Aku tidak pantas menuntut sesuatu dari Andrew. Aku harus memahami posisiku sekarang.


"Vya lo bisa pulang sendiri?" Tanya Rezky, aku menangkap raut iba di wajahnya. Tentu saja iba padaku yang menyedihkan dan bodoh ini.


"Bisa kok, tenang aja gue masih sehat hehe." Jawabku sembari menyunggingkan senyuman palsuku, terbukti tidak ada kerutan disamping mataku saat kulebarkan paksa senyum dibibirku.


"Gue anterin dulu aja ya?"


"Gak usah Rez, lagian mobil lo taroh mana?"


"Bisa kok gue titipin temen yang kerja deket sini. Lo lagi gak bagus Vya kondisinya."


Aku hanya menggeleng pelan mendengar kekhawatiran Rezky. Aku tidak ingin semakin merepotnya. Terlebih ia baru saja mengungkapkan perasaannya padaku. Aku hanya tidak mau dianggap memanfaatkannya dalam kondisiku saat ini setelah mendengar kabar yang tidak terduga.


Aku dan Rezky melenggang menghampiri mobil kami yang terparkir. Setelahnya, membuka pintu bermaksud untuk segera mengemudikannya. Namun, gerakanku terhenti oleh tangan Rezky.


"Vya lo yakin?" Tanyanya padaku.


"Tentu saja sangat yakin." Jawabku.


"Maafin gue."


"Hehe gak kok bukan salah lo, by the way makasih ya buat semuanya."


"Tapi gara-gara gue yang sok ikut campur lo...."


"Ssstttt... lo gak salah apa-apa Rez. Udah ya keburu malem."


"Ehmm... hati-hati yaa."


Kini aku berada di dalam mobil putihku. Ku pacu perlahan meninggalkan taman. Dengan perasaan yang masih kalut aku pulang dengan kabar yang tidak terduga. Padahal baru saja aku merencanakan akhir pekanku bersama Andrew. Begitu juga dengan penggandaianku beberapa saat yang lalu jika bersamanya di taman.


Sesekali aku pejamkan mata dan menguatkan hati. Aku tidak ingin menangis. Tidak ingin juga berakhir patah hati seperti saat aku memutuskan hubungan dengan Nevan. Aku tidak mau sehancur itu lagi.


Helaan nafas panjang beberapa kali aku tarik dan hembuskan kasar. Tidak bisa aku pungkiri aku memang memiliki perasaan cinta yang sangat besar untuk Andrew. Bahkan lebih besar daripada perasaanku ketika masih bersama Nevan. Teringat setiap perhatian dan pengertian yang Andrew curahkan selama ini. Disaat ia tidak ingin aku marah atau selalu mengalah ketika ingin jalan bersama dan banyak hal lagi, intinya ia terus membuatku senang.


Beruntung mataku masih bisa fokus untuk menyetir. Jalanan juga tidak terlalu ramai dan macet. Aku menangkap sebuah mobil yang tidak asing bagiku dari pantulan kaca spion yang tepat berada dibelakangku. Tampaknya Rezky, mungkin rasa khawatirnya tidak kunjung mereda. Padahal arah rumah kami berbeda.


"Thanks Rez." Gumamku bermonolog sendiri.

__ADS_1


Memang ada perasaan bersalah di hatiku. Karena telah menuduh Rezky yang seakan ingin ikut campur dan merusak hubunganku dengan Andrew. Nyatanya ia hanya ingin aku mengetahui kebenaran walaupun pasti akan terasa sulit.


Sesampainya dirumah dan pintu yang telah dibukakan Bi Emi. Aku melenggang masuk kearah kamarku. Tanpa menggubris sedikitpun sapaan Bi Emi.


Aku merebahkan tubuh kecilku diatas ranjang. Bola mataku bergerilya menyapu langit-langit kamar. Saat ini aku tidak tau harus bagaimana. Perasaan rindu yang aku tahan tergantikan dengan rasa syok yang luar biasa.


Untuk saat ini tidak ada lagi air mata yang keluar dari mataku. Mungkin sudah mengering atau mataku sudah lelah. Namun, aku tidak menjamin nanti ketika akan bertemu Andrew. Akankah aku marah? Atau menangis? Atau bahkan mengamuk seperti orang gila?


"Aku harus gimana???"


Rasanya ingin sekali cepat terlelap malam ini. Dan bangun dengan keadaan amnesia atau tidak bangun sekalian. Supaya tidak harus menghadapi masalah lagi kedepannya. Oh, seandainya tidak ada yang namanya cinta mungkin manusia tidak akan merasakan sakit.


"Drrrttt... drrrttt... drrttt."


Ponselku terus bergetar dari arah tas selempangku. Aku belum sempat mengeluarkannya. Lagi pula untuk apa? Untuk siapa pula? Dan akhirnya aku hiraukan. Meski ada lima kali barang itu memperingatiku kalau ada seseorang sedang memanggil.


Aku hanya terus melamun tanpa ekspresi dan akhirnya terlelap dengan sendirinya.


_______________________________________


Keesokan harinya, aku bangun dan mandi. Dengan perasaan yang masih kalut aku beranjak dari kamarku. Bahkan polesan make up pun sedikitpun tidak ada diwajahku. Dan rambut yang hanya kusisir terurai. Sehingga aku tampak kusut dan pucat. Seperti tidak ada daya dan semangat dari dalam diriku. Mungkin semua orang yang melihatku saat ini akan menunjukkan rasa kasihan.


"Non sarapan dulu." Ujar Bi Emi seketika.


"Ehmm."


"Non kenapa lagi non kok murung gitu?"


"Gak."


Hanya jawaban yang singkat, jelas dan padat yang sanggup aku lontarkan. Tanpa mau menghampiri dan menatap Bi Emi. Aku berangkat lebih awal dan tidak berselera untuk sarapan. Mungkin Bi Emi sedang bingung saat ini.


Dengan cepat kupacu mobilku menuju kantorku berada. Tanpa ekspresi, tanpa suara dan tentunya tanpa semangat sedikitpun.


Sesampainya di kantor, Sita menghampiriku.


"Pagi beb?" Sapanya.


Aku tidak bergeming. Namun tubuhku berputar menghadapnya dengan wajah yang masih saja tanpa ekspresi. Mungkin sekarang terlihat sangat sayu dan mengenaskan.


"Assstaaagaaaa bebeb." Sita tersontak.

__ADS_1


"Kok kamu pucat gitu. Kamu sakitt?? Ayok ke klinik aja kalo sakit." Lanjutnya seraya berniat membangunku dari posisi duduk.


"Gak!"


"Ihhh kamu kenapa???"


"Bajingan dia bajingan."


"Haaaah??"


"Sita tolong biarin gue sendiri dulu sorry."


Sita menunjukkan rasa kecemasan. Mau tidak mau, ia melangkah menjauhiku. Sampai diwaktu do'a dan briefing tiba aku baru bergerak.


Disaat semua rekanku mendengar briefing dengan seksama aku hanya menatap tembok kosong sampai hampir tidak berkedip selama lima menit lamanya. Bahkan ketika semua orang berdo'a dengan menundukkan kepala. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Setelah dibubarkan untuk memulai pekerjaan pun aku harus disenggol oleh Sita agar tersadar. Dan tentu saja aku tersentak gelagapan.


"Vyaa." Panggil Rezky.


"Oh ya Rez." Jawabku.


Rezky menghela nafas pelan. Mungkin rasa bersalah masih tersimpan dihatinya. Meskipun aku sama sekali tidak menyalahkannya.


"Vya istirahat aja ya di klinik minta obat siapa tau dapet form pulang." Ujarnya.


"Haha apasih lo, i'm fine, i'm oke."


"Vya jangan terlalu memaksakan diri."


"Hehehe enggak dong."


Aku meninggalkan Rezky kembali ke tempatku bekerja. Aku akan memulai pekerjaanku. Dan yeah, dengan kondisiku seperti sekarang ini. Akan muncul manusia julid dan pastinya mulai menerka-nerka apa yang terjadi padaku tanpa mau bertanya. Kalaupun bertanya aku juga tidak akan menjawab. Jadi, aku berusaha mengabaikannya.


"Semoga hatiku tetap kuat sampai jam pulang atau sampai Andrew kembali dan aku sudah melupakannya dengan cepat meskipun pasti sangat mustahil."


Bersambung...


Yang udah baca. Bolehlah tekan tombol like dan corat-coret dikolom komentar.


Biar saya tambah semangat biar keliatan ada yang baca.


Jadi saya bisa lanjut sampai tamat 😁😁

__ADS_1


__ADS_2