Who Is My Love

Who Is My Love
Penasaran


__ADS_3

Sampailah aku di sebuah kafe yang cukup ternama. Ruangannya yang lumayan luas berisi ramainya para pengunjung. Bola mataku bergerilya mencari keberadaan Rezky. Namun tidak aku temukan juga. Saat ini aku terlihat seperti orang linglung yang tidak tau arah.


"Mana sih tu orang?" Gumamku kesal.


"Doooorrrrrrr!!!"


Suara seseorang mengagetkanku seketika. Aku bergerak mengarahkan tubuhku untuk berputar ke belakang.


"Ihhh Rezky!!!! iseng banget sih lo!!" Ujarku kesal sembari menepuk pundak Rezky dengan sangat kencang.


"Hahaha lagian lo di panggilin malah bengong." Jawabnya sambil meringis kesakitan.


"Gue nyariin lo dodol."


"Oke. oke. Ayuk sono noh."


Rezky mengajakku ke sebuah meja yang telah ia pesan. Seorang pelayan pria menghampiri kami dan memberikan buku menu. Aku dan Rezky memesan sesuai selera kami.


Tak lama kemudian sang pelayan kembali dengan nampan berisi makanan. Setelah aku berterima kasih ia berlalu kembali.


"Baik amat lo Vya." Ujar Rezky mencoba membuka perbincangan.


"Baik?"


"Ehmm... pelayan tadi kan kerja kita yang beli bukannya dia yang harusnya terimakasih?"


"Haha, dia kan kerja Rez dia ngasih pelayanan terbaik gak ada salahnya kita menghargai."


Tanpa menjawabku lagi Rezky menatapku dengan senyumannya. Hal ini membuatku sedikit salah tingkah. Tidak biasanya ia berlaku seperti ini.


Aku menyesap jus alpukat dan memotong-motong seporsi pancake yang telah aku pesan. Terasa begitu lembut irisan pancake di lidahku. Sudah lama juga aku tidak menyantap makanan tersebut. Sehingga membuatnya bisa terasa lumer dimulut.


"Jadi, apa yang mau lo omongin Rez?" Tanyaku pada Rezky disela-sela aktivitas gigi yang sedang menghancurkan makanan.


"Ehmm gimana ya."


"Kok gimana sih?"


"Terlalu rame disini Vya."


"Emang sepenting apa sih? Lagian kan kita gak kenal mereka-mereka kok."


"Lumayan penting."


Aku berdehem kecil memperbaiki tenggorokan yang sedikit tersumbat makanan. Sedangkan Rezky kembali menyantap hidangan yang telah dipesannya. Sebenarnya apa yang akan ia bicarakan? Mengapa ia tampak ragu-ragu.


Sudah hampir satu jam aku dan Rezky terdiam. Kini rasa bosan mulai datang menggerayangi hatiku. Namun aku merasa tidak enak jika mencerca pertanyaan pada Rezky. Meski sebenarnya aku sudah tidak tahan dengan rasa penasaran yang meluap didadaku.


"Drrrttt... drrrttt... ddrrrttt..." Dering ponselku berbunyi dari arah tas selempang yang kukenakan. Aku menatap Rezky kemudian.


"Angkat aja gak papa." Katanya.


"Sorry yah bentar, gue ke belakang dulu."

__ADS_1


"Oke."


Dengan cepat aku melenggang menuju toilet kafe. Beruntung keadaan tidak terlalu ramai. Dan pastinya areanya sangat bersih. Mungkin karena ada cleaning service yang begitu rajin bekerja. Sehingga membuat pengunjung tidak merasa jijik ketika akan mampir buang hajat.


Kuraih segera ponsel yang berada di dalam tas selempangku. Tampaknya sudah ada tiga kali panggilan yang masuk. Yang tak lain dan tak bukan adalah Andrew. Aku bersyukur, ia meneleponku untuk keempat kalinya. Dengan semangat aku menekan tombol angkat.


"Hay." Sapaku dengan senyuman yang begitu indah merekah diwajahku.


"Hay juga cantik. Apa kabar kamu?" Jawab Andrew dari kejauhan sana.


"I'm fine. Kamu gimana? kok baru telpon sekarang?"


"Maaf ya Vya maklumin disini kampung jadi susah sinyal."


"Ehmm gitu toh."


"Kamu lagi dimana?"


"A...aaku lagi di kafe bareng Sita hehe."


Entah mengapa aku berbohong pada Andrew saat ini. Sebenarnya ada sedikit rasa tidak enak hati. Terlebih Rezky adalah teman baiknya Andrew.


"Ohh... lagi maen toh jadi aku ganggu dong?"


"Enggak kok enggak sama sekali. Gak papa pokoknya."


"Hihi kamu kangen aku ya?"


"Idihh ge-er banget kamu."


"Kamu kali yang kangen."


"Tau aja kamu Vya. Yaudah deh kalo gitu aku gak enak kalo kelamaan. Pokoknya hati-hati ya."


"Ehmm."


Ada perasaan tak rela ketika Andrew menutup panggilannya. Aku masih merasa rindu dengan suaranya. Seandainya saja saat ini aku bebas dan sedang berada dikamarku. Aku pasti akan melakukan panggilan selama berjam-jam. Sampai kami lelah dan mengantuk dengan panggilan yang belom terputus.


Kualihkan rasa tak rela dan mengingat sekilas perhatian Andrew. Kini senyum ceria mengembang lagi di wajahku. Hatiku berbunga-bunga. Seolah setiap langkah kakiku menumbuhkan semangat tersendiri. Yah, mungkin kalau orang lain tau. Mereka akan menilaiku berlebihan alias lebay.


Aku kembali ke tempat Rezky berada.


"Kayaknya lagi seneng." Ujar Rezky.


"Ahh enggak biasa aja hehe." Jawabku


"Ehmm Vya?"


"Iyaa."


Rezky tidak melanjutkan perkataannya, raut wajahnya menunjukkan suatu keraguan lagi. Aku menghela nafas dalam. Semakin lama aku juga bosan jika ia terus seperti itu. Pertahanan sabarku yang telah aku bangun sejak tadi pun kini berangsur runtuh. Aku gemas kutatap mata Rezky dengan tegas dan tajam.


"Jadi apa?" Tanyaku.

__ADS_1


"Gimana ya? Kalo gue ngomong ini lo bisa siap gak yah?"


"Apain sih rempong banget tinggal ngomong doang."


"Disini terlalu banyak orang Vya."


"Terus lo gak jadi ngomong sekarang?"


Lagi-lagi Rezky hanya terdiam. Tampaknya ia sedang menimang-nimang. Jadi tidaknya sesuatu yang akan ia katakan padaku. Membuat semakin geram. Beruntung memang banyak pengunjung. Kuurungkan niatku untuk memarahinya lebih kencang.


"Kalo gak jadi gue balik sekarang Rez udah malem."Kataku tegas.


"Jangan dulu dong bentar."


"Kan gue udah ngomong kalo gue gak bisa lama-lama."


"Yaudah gini aja kita nyari tempat yang agak adem aja."


"Maksud lo?? lo jangan mainin gue sekarang!"


"Oke... oke... gue udah mikirin dan gue putusin buat tetep ngomong oke."


"Yaudah cepet."


"Ta... tapi kita cari tempat yang enak dulu yah."


"Kemana lagi?"


"Ehm... Taman pinggir danau buatan yang gak jauh dari sini gue janji gue bakal ngomong."


Aku mendengus kesal mendengar permintaan Rezky. Untuk apa juga nongkrong di kafe selama satu jam dan aku tidak mendengar sepatah katapun tentang hal yang akan Rezky utarakan. Karena rasa penasaran yang semakin besar, mau tidak mau aku akhirnya menyetujui permintaan Rezky.


"Gue yang bayar aja Vya." Ujar Rezky menghentikan tanganku yang akan meraih dompet.


"Gak usah deh gue aja."


"Gak papa gue yang aja gue yang bayar oke."


Tanpa aku menjawab Rezky bergerak cepat untuk membayarnya di kasir setelah ia meminta bon pada salah satu pelayan. Lalu berjalan menghampiriku kembali.


"Thanks." Ucapku padanya.


"Gak masalah sekali sekali hehe."


"Yaudah buru keburu malem!"


"Iya iya anak baik. Takut amat gue gak bakal aneh-aneh Vya."


"Hiihh!!"


Rezky berjalan lebih awal didepanku dan aku mengikuti tepat di belakangnya. Menuju ke tempat parkir mobil milik kami berada.


Kemudian menggemudikannya masing-masing ke sebuah taman danau buatan. Yang menjadi destinasi anak muda untuk nongkrong. Karena fasilitas tempat duduk dan kafe kecil sudah disediakan disana.

__ADS_1


Entahlah apa yang akan disampaikan Rezky sampai-sampai menungguku begitu lama. Aku pikir ini bukan soal pekerjaan saja saat ini. Aku merasa ada masalah lebih serius dari itu.


Bersambung...


__ADS_2