
Selang waktu berlalu, minggu berikutnya telah tiba. Selama itupun, aku masih menumpang di apartemen Andrew, sedangkan dirinya tidur disebuah kamar kost. Hubungan kami masih sama saja. Ia mencintaiku, sedangkan aku masih abu-abu. Untuk urusan pekerjaan, juga masih berjalan seperti biasanya. Keberangkatan ke Singapura akhirnya aku setujui, dan itu juga masih bersama Andrew. Dan dalam seminggu ke depan, aku mendapatkan libur demi mempersiapkan keberangkatanku dan proses mutasi. Namun, hari ini masih hari kerjaku, dengan kata lain hari terakhir aku bekerja disini.
Papa sendiri, tampaknya sudah berhenti dalam mencari diriku. Komunikasiku dengan mama tidak berjalan lancar, lantaran akses kami sangat sedikit. Mungkin bisa melalui ponsel, namun aku lebih memilih beliau yang menghubungi. Bukan tidak ada alasan, itu semua karena aku takut mama terpergok oleh papa. Untuk Haris, yah ia masih bersikeras mencariku. Nomor kontak miliknya bahkan aku blokir dari segala akses. Namun, ia selalu muncul menggunakan nomor baru. Beberapa kali ia sempat muncul didepan kantorku. Karena aku selalu pulang bersama Andrew dari parkiran dalam, ia tidak pernah menemukanku.
Dalam posisi seperti ini, diriku seperti seorang buronan yang sedang diincar polisi. Takut, gelisah, risau dan tentunya hidupku tidak tenang. Beruntungnya, identitas Andrew belum diketahui oleh siapapun. Yah, aku sama sekali tidak mau membayangkan jikalau Andrew ketahuan. Akan remuk dirinya di tangan papa dan Haris. Meski aku sedang mempermainkannya, tak lantas membuatku begitu tega membuatnya masuk dan jatuh menjadi korban atas ego kedua orang itu.
"Beb?" panggil Sita kepadaku.
"Eh, ya, Sita?" balasku.
"Bengong aja loe. Masih mikirin masalah ya?"
"Emm... nggak mungkin kalau gue nggak kepikiran, Sit."
"Iya sih. Keluar yuk, makan. Udah istirahat nih."
"Nggak mau. Gue nggak mau berkeliaran, takut ketemu Haris."
"Ya ampun, Beb. Nasib loe gini amat."
"Udah loe keluar aja, gih."
"Sorry ya gue nggak bisa nemenin ke kantin. Ada janji sama yang lain."
"Santai aja, Sayang."
Benar, hidupku sekarang jauh dari kata beruntung. Sekedar berjalan keluar pun aku sama sekali tak memiliki nyali. Aku masih takut. Sehingga, mau tidak mau aku hanya berdiam diri didalam kantor. Makan siang hanya di kantin. Sedangkan di apartemen, Andrew yang senantiasa membawakan. Kalaupun tidak sempat, aku memesan secara online.
Rasanya, aku ingin cepat-cepat berangkat ke Singapura. Ditempat ini, aku sudah tidak memiliki jati diri. Aku tidak leluasa dalam melakukan apapun. Bahkan aku sudah masa bodoh dengan hutang yang menjerat papa. Ya! Aku lelah sekali. Yang ada didalam benakku sekarang adalah memanfaatkan setiap waktu atau bahkan orang lain dengan baik. Parah bukan?
"Sayang, makan yuk," ajak Andrew sesaat setelah ia datang menghampiriku.
"Males, Ndrew," jawabku.
"Kamu tadi pagi juga nggak sarapan lho."
"Biarinlah."
"Ayolah, Navya."
Kuhela napasku dan menghembuskannya kembali. Meski merasa sangat malas, namun perutku tetap bergejolak meminta makan. Lalu, dengan gerak malas, aku mengikuti kemauan Andrew. Kami berjalan bersama menuju kantin perusahaan.
Sesampainya disana, kami menukar kupon makan. Hari ini, Andrew tidak bersama teman prianya yang lain, lantaran aku sendirian. Aku rasa, Sita sudah menitipkanku kepadanya. Sepertinya para rekan wanitaku juga sedang berada diluar bersama Sita. Sehingga aku sendiri, karena hanya ada karyawati lain dari divisi yang berbeda dan tentunya aku tidak mengenal mereka.
Kami menuju ke sebuah bangku yang berdekatan dengan dinding kantin. Duduk berdua dan saling berhadapan. Dengan sabarnya Andrew membukakan botol minuman milikku. "Thanks," ujarku kemudian.
"Iya sama-sama. Makan gih, keburu habis waktunya," jawabnya.
"Iya. Kenapa sih kamu betah banget sama sikapku?"
"Nggak perlu nanya lagi, Navya."
"Yah, kamu cowok terbucin yang baru ada."
"Emangnya kamu tahu diluaran sana?"
"Enggak sih. Cuma, baru sekarang aku ketemu cowok macem kamu."
"Hehe... aku nggak main-main sama kamu, Navya. Tapi... sebelum berangkat, kamu harus pulang setidaknya satu kali. Mereka orangtua kamu, aku bakal nemenin kok."
Aku memilih diam. Sebenarnya bukan sekali dua kali, Andrew menyarankan hal ini. Tapi, aku tetap menolak karena tidak siap dengan segala kemungkinan buruk. Parahnya lagi, jika aku dikurung oleh papa seperti sedia kala saat aku hendak menghindari pertemuan dengan Haris. Aku tahu, Andrew bersedia menjadi tameng untukku, hanya saja aku ragu dan takut jika ia dituduh sebagai seorang penculik.
Sesuap demi sesuap kutelan dengan rasa getir. Meratap nasib miris ini yang tidak kunjung berakhir. Padahal ini hari terakhir aku bekerja disini, namun entah mengapa rasanya sepi. Bahkan, aku sudah tidak enak hati menahan Sita untuk menemaniku. Lantaran, selama ini aku selalu membuatnya susah dan kerepotan.
"Hei? Boleh gabung?" tanya Affandy yang tiba-tiba gabung.
"Silahkan," jawabku. Lain halnya dengan Andrew, ia tampak tidak senang dan memilih diam tanpa menolak. Kuangkat satu alisku, menandakan bahwa aku memiliki suatu rencana. Sepertinya membuatnya sedikit kesal bisa menjadikan hiburan tersendiri.
"Hai Fandy," sapaku kemudian. Andrew menatapku seketika. Aku rasa, ia tengah heran karena aku memanggil nama Affandy dengan begitu akrabnya. Sedangkan, Affandy tersenyum. Selama ini, aku memang menyangkal tebakannya mengenai hubunganku dengan Andrew. Sehingga ia tidak merasa takut untuk bergabung.
"Hai juga, Vya," jawabnya. "Gimana? Besok udah harus prepare nih?"
__ADS_1
"Sedih sih. Bertahun-tahun kerja disini, harus cabut gitu aja hehe."
"Disana nanti kan, dapet suasana baru. Kamu bisa sekalian liburan."
"Yap! Semoga aja begitu. Jadi, ada yang mau diomongin sama aku?"
"Nggak sih. Kebetulan pengen makan di kantin, nggak sengaja lihat kalian. Jadi, gabung gitu aja."
Begitulah kilasan percakapanku dengan Affandy dan berlanjut lebih lama. Andrew sama sekali tidak berkata-kata, ia bahkan menjawab pertanyaan dari Affandy hanya sekenanya saja. Aku tahu ia tengah menahan perasaan dongkol karena merasa tidak dianggap oleh kami. Namun, ia harus memikirkan tentang kesepakatan hubungan kami. Pembalasan memang lebih menyakitkan.
Tak hanya berbincang, sesekali aku dan Affandy saling melempar kelakar dan canda tawa. Bahkan aku sudah tidak peduli atas penilaian orang lain terhadapku. Yah, tiada gunanya mendengar nyinyiran orang, begitulah pikirku.
Selang waktu berlalu, Affandy pamit lebih dulu untuk membereskan sesuatu. Kini, aku tinggal berdua saja bersama Andrew. Selepas Affandy pergi, aku masih sempat tersenyum-senyum sendiri. Sehingga Andrew menatapku lebih tajam lagi. "Apa?" tanyaku.
"Nggak," jawabnya cuek.
"Yaudah."
"Kok dia sih?"
"Apanya?"
"Pelampiasan kamu."
"Enggaklah. Kita tuh sebenarnya udah kenal lama, sebelum Fandy datang ke kantor ini. Aku rasa, waktu itu dia masih bolak bali Indo-Singapore."
"Oh."
Senyum licik kupasang diam-diam. Andrew masuk ke dalam perangkapkum Sedangkan disisi lain, aku meminta maaf untuk Affandy lantaran memperalat dirinya. Mungkin, jika bertemu nanti, aku akan jujur akan sikapku saat ini. Yah, siapa tahu dia malah bisa membantuku. Lagipula, Affandy cukup asyik dalam diajak berbicara ataupun curcol belaka. Ia lihai dalam memberikan nasehat. Wajar memang, untuk sekelas Affandy yang salah seorang petinggi.
"Kamu mah nyarinya pinter, yang lebih dariku," ujar Andrew kemudian.
Aku mengernyitkan dahiku sembari menatapnya. Setelah cukup mengerti, aku langsung terkekeh sembari berkata, "iya sih. Kalau dipikir-pikir Fandy boleh juga nih."
"Navyaaaaa."
"Apa?"
"Kan udah sama kamu."
"HTS."
"Bodo'!"
"Hmm... yaudah terserah kamu. Tapi, aku prediksi kamu bakalan balik padaku."
"Jangan terlalu berharap banyak ya hehehe."
Andrew mencubit gemas satu pipiku. Aku mengadu dan mencoba menyingkirkan telapak tangannya. "Dasar," ujarnya.
Lambat laun, waktu makan siang semakin habis. Sebelum kembali ke ruang kerja, kami menuju toilet sesuai gender masing-masing. Setelah, aku masuk dan selesai membuang panggilan alam, aku menuju ke hadapan cermin besar. Cantik, itu satu ucapan yang pas untuk wajahku. Pantas, beberapa lelaki tergila-gila kepadaku. Boleh sesekali menyombongkan diri, bukan? Karena satu kelebihan ini yang aku tangkap dari diriku dan membuatku jatuh ke lubang masalah.
Pada kenyataannya, seseorang yang berparas cantik tidak selamanya bahagia. Iri, dengki, fitnah, ancaman dan teror dari penggemar kerap kali dialami. Itu salah satu alasan mengapa aku memilih cuek dan dingin terhadap orang lain yang kurang akrab. Bukan karena ingin sombong, namun lelah dengan mereka yang terkadang memberikan penilaian yang tidak sesuai.
Sudahlah, lupakan tentang orang lain. Aku harus segera bergegas. Aku berjalan sendiri tidak lagi bersama Andrew. Lantaran malas untuk menunggu. Dari kejauhan kulihat segerombol karyawati satu divisi denganku, termasuk Sita. Mereka masuk bersama dari arah area parkir sembari bercanda tawa. Sebenarnya, aku cukup iri kepada Sita yang begitu mudah akrab dengan yang lain. Tapi, prinsip awalku memang sudah terlanjur salah.
Dengan malu-malu aku berjalan lebih dulu sebelum mereka. Daripada terkena tatapan penuh iba, aku tidak ingin dikasihani. Setelahnya, aku menuju ruang kerjaku sendiri. Mulai memainkan jari-jari diatas papan keyboard. Aku harus fokus untuk yang terakhir kalinya disini.
"Beb?" Suara Sita terdengar memanggilku tiba-tiba.
Lantas, aku menolehkan kepala untuk menatapnya. Aku tersenyum sembari menjawabnya, "gimana tadi?"
"Makan-makan rumpi biasa kok."
"Oh... baguslah hehe."
"Loe marah ya?"
"Marah? Kenapa harus marah?"
"Loe keliatan kecewa sama gue."
__ADS_1
"Nggaklah, Sit. Kecewa karna apa? Haha."
"Hari ini kan hari terakhir loe kerja disini, gue malah nggak nemenin."
"Nggak masalah kok. Ada Andrew sama Fandy tadi."
"Tetep aja, gue sahabat loe."
"Apaan sih? Jangan lebay deh, udah sono balik, udah mulai kerja nih."
"Baliknya bareng gue aja ya?"
"Iya siap."
Sita berlalu lagi. Kalau boleh jujur, sebenarnya sedikit kecewa. Namun, aku tidak berhak untuk itu. Sita memiliki lingkup luas untuk berteman dan bukan terbatas didiriku saja. Lagipula, jika esok aku pergi, Sita pasti akan mencari kawan lain. Sehingga aku membiarkannya bersama orang lain.
Aku sangat menyanyangi Sita seperti saudaraku sendiri. Ingin sesekali aku mendengar cuitan tentang kisah cintanya, namun ia terlalu santai sampai tidak pernah bermasalah tentang itu selain dengan mantannya dulu. Baiklah! Aku harus kembali bekerja.
****
Akhirnya, sampai juga dipenghujung siang dan kini menjelang sore hari. Jam kerja habis, aku berkemas beberapa barang yang diperlukan, milikku pribadi kubawa pulang. Setelah itu, kurapikan meja dengan bersih. Aku menatap tempat kerjaku, seolah ada haru dalam hatiku. Ini terakhir kalinya aku duduk disini setelah sekian lama melawan jenuh dan lelah dalam bekerja di meja itu.
Kenangan beberapa tahun yang lalu banyak terjadi di gedung kantor ini. Uang tabungan pun sedikit terkumpul dan menghasilkan sebuah mobil untuk aku laju. Aku hebat. Setelah meniti bangku kuliah, aku berhasil bekerja sendiri sampai sekarang. Bahkan, aku mendapat kesempatan untuk berkarir di luar negeri.
Selamat tinggal, meja kesayanganku.
Tak lama kemudian Sita menghampiriku. "Ayo, Beb," ajaknya.
"Emm... gue bilang Andrew dulu. Kasian kalau bingung," jawabku.
"Wah, ternyata masih punya rasa iba sama do'i ya? Hehehe."
"Gue masih manusia kali, Sit. Haha."
Aku menatap kearah Andrew yang kebetulan menatapku juga. Lantas, aku memberikan isyarat untuk pulang bersama Sita. Ia mengiyakan saja. Mungkin ia paham akan perpisahan kami. Kemudian, kami berjalan bersama keluar dari ruangan ini. Aku dan Sita menuju kearah parkiran setelah mencapai lantai bawah.
Hiruk pikuk karyawan lain terdengar bising. Mereka saling berebut pintu masuk ke area parkir. Seolah sudah tidak sabar untuk melepas segala kepenatan di kasur kamarnya. Pemandangan terakhir yang terlihat oleh mataku.
"Ayo, Beb," ajak Sita dari dalam mobilnya, setelah ia mendapatkannya.
"Iya," jawabku sembari bergerak masuk.
Kini kami telah berada didalam. Sita melaju mobilnya perlahan-lahan.
Namun, sesuatu tidak terduga terjadi. Seseorang menghentikan laju mobil milik Sita tepat didepan gerbang kantor ini. Haris! Pelakunya adalah pria itu. Ia membuka paksa pintu mobil. Aku panik luar biasa. Mengapa ia tahu akan keberadaan diriku didalamnya. Aku takut. Sita pun tidak bisa melaju cepat, jika ia melakukannya, otomatis tubuh Haris terpental. "Duh gimana nih, Beb?" tanya Sita panik.
Tubuhku sendiri sangat gemetar. Terlebih masih tepat didepan gerbang kantor. Semua orang menatap kami. Tapi, aku tidak ingin merepotkan Sita lagi. "Loe tenang aja ya, gue bakal keluar," ujarku.
"Ta-tapi, loe bakal ha-"
"Nggak apa-apa. Ini resiko milik gue. Loe pergi aja, gue bakal ikut Haris."
"Beb....? Hati-hati."
"Gue nggak tau nasib gue, Sit. Haha."
Lantas, aku membuka pintu perlahan. Dengan gerak kaku aku menghadapi Haris. Ia menatap tajam penuh amarah.
Plak! Sebuah tmparan keras, ia daratkan di pipiku. Sakit sekali. "Bego loe! Loe anggep gue apa, Navya?!" tegasnya kepadaku.
"Loe yang anggep gue apa? Gue bukan barang atau mainan."
"Dasar cewek murahaannn loe! Ikut gue, gue masih punya banyak perhitungan sama loe."
Haris menggenggam tanganku. Mau tidak mau, aku mengikutinya. Sebelum jauh, aku menatap Sita yang masih belum pergi dan mengintip kami dari jendela mobil yang ia buka sedikit. Aku tersenyum sikilas. Bekas laju tangan dari Haris di pipiku rasanya sakit dan perih. Benar, aku memang sudah keterlaluan karena kabur darinya. Mungkin inilah segala konsekuensinya. Aku akan terima, selama tidak merenggut kehormatanku.
Lagi-lagi, dengan gerak kasar Haris mendorong diriku ke dalam mobilnya. Aku hanya bisa mengaduh sakit, lantaran lenganku terantuk sesuatu di mobilnya. Kemudian, ia melaju mobilnya meninggalkan gedung kantor itu. "Salah loe sendiri, bikin gu semarah ini!"
"...."
Bersambung...
__ADS_1