
****
"Apa kamu gila?!" Pertanyaan itu yang muncul dari bibir Andrew. Seketika saat ia mendengar usulan yang menurutnya gila. Ya, dari bibirku mengenai Linseyld.
Aku menggeleng dan menorehkan senyuman licik dari bibirku. "Aku nggak gila, Sayang. Itu hukuman yang tepat dan bagus!" jawabku.
Andrew menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Sepertinya, ia tengah menguasai diri supaya tidak membuatku kecewa. Kemudian, ia duduk di atas ranjangnya. Matanya menatapku dengan tajam sekaligus penuh keraguan.
Namun, menurutku usulan dariku adalah hal yang tepat. Aku tidak ingin lagi dianggap patung oleh Linseyld. Hati wanita ular itu telah dibutakan oleh paras Andrew yang membuat hatinya tertarik. Seperti seorang yang sudah kehilangan rasa malu, ia ingin merebut Andrew dariku. Tentu saja, aku tidak mau.
"Enggak, Navya. Ini bukan hal yang bagus, kita hanya perlu mengabaikan dia aja, Sayang. Aku akan mem-blok nomernya kok."
"Apa kamu yakin, setelah melakukan itu dia bisa berhenti? Andrew jangan jadi cowok yang naif, Linseyld bukan orang sebodoh itu!"
"Tapi, Sayang. Sama aja kita jahat kalau masih melakukan itu padanya."
"Aku nggak peduli. Aku ingin menghukum cewek itu. Kalau kamu nggak mau, yaudah! Jangan salahin aku kalau aku berbuat sesuatu sendiri."
Aku mundur, bahkan berbalik badan. Aku membuang pandangan dari Andrew dan keluar dari kamar miliknya sempat aku masuki. Naif, itulah satu hal yang melekat pada diri Andrew. Seyakin itu dirinya untuk berusaha mengabaikan Linseyld tanpa memberinya pelajaran. Dititik ini, aku kembali meragukan tentang hatinya padaku. Entahlah, aku berusaha untuk tidak seperti ini. Namun penolakan Andrew membuatku harus merasakannya.
Langkahku terhenti, tepatnya di tempat yang berjarak dua meter lagi dari pintu keluar. Aku menoleh ke belakang, tidak ada Andrew disana. Ia bahkan tidak mengikuti diriku yang tengah kesal terhadapnya. Baiklah, tak apa. Tampaknya aku memang yang harus lebih bersabar menghadapi ulah Linseyld.
"Vya!" Akhirnya Andrew memanggilku. Beruntung, aku belum sempat keluar dari rumah ini. Namun, bukan berarti aku bisa segera menghilangkan rasa kesalku. Aku hanya berhenti dan terdiam tanpa berbalik badan.
Dan tiba-tiba, Andrew menarik tanganku seketika. Ia merengkuh tubuhku dan dipeluknya. Bahkan, ia mengecup berkali-kali di pipiku. Aku mencoba beringsut menjauh, tapi tenaga Andrew jauh lebih kuat.
"Apa sih! Lepasin!" tegasku geram.
"Enggak mau. Jangan ngambek lagi ya, Sayang?"
"Enggak! Kamu lebih milih bertahan atas godaan dia daripada bertahan untuk menghukum dia, Ndrew. Apa kamu merasa tersanjung dan bangga sih? Banyak yang suka? Hah?!"
"Kamu kok ngomongnya gitu sih, Vya? Aku nggak sejahat itu, Sayang. Apa-apaan? Kamu pikir aku nyaman atas ulah dia?! Oh ... ternyata kamu emang nggak pernah percaya padaku, Vya."
Seketika itu juga, Andrew melepaskan rengkihan tangannya. Dan memang, aku yang bersalah. Mulutku seperti kereta yang berjalan cepat. "Maaf, aku salah."
"Naiklah, Vya. Aku ingin sendiri."
"Apa? Kamu ngusir aku?"
"Tolong."
"Nggak mau!"
"Navya!"
Aku tetap menggeleng. Bahkan kurengkuh tubuh Andrew. Ia tidak merespon lagi. Entahlah, aku tidak ingin kami bertengkar. Aku takut, jika aku meninggalkannya sekarang. Aku takut, Andrew akan memikirkan hal lain dan bahkan berencana untuk meninggalkanku. Aku tidak mau itu terjadi lagi.
"Kalau kamu seperti ini terus, aku juga capek, Navya."
"Ma-maaf."
"Aku hanya butuh kepercayaan kamu aja. Aku tahu, aku nggak bisa bahagiain kamu kayak yang lain."
"Maaf."
Ia menghela napas, panjang sekali, tampaknya benar-benar kecewa padaku. Bagaimana tidak, selama ini yang mendominasi hubungan kami. Aku tidak mau mengalah dan juga pernah beberapa kali mengungkit kesalahannya. Jujur, wanita seperti diriku bukanlah wanita yang baik, aku mengakui itu. Namun, kilasan bayangan tentang kesalahan Andrew juga terkadang muncul. Hal itu membuatku khawatir. Terlebih, saat muncul Linseyld dan wanita yang mengidolakan dirinya.
Entah sudah pukul berapa, aku masih saja memeluk tubuh Andrew dengan erat. Seolah tidak ingin jika ia menghilang. Bahkan, aku terus menahan rasa kaki yang semakin pegal. Meski pelukanku tidak disambutny, namun aku berusaha meminta maaf sampai ia kembali seperti biasanya. Di bawah lampu ruangan ini yang begitu terang.
"Uh ...." Akhirnya rasa tak tertahan muncul juga. Aku mengubah posisi kakiku. Sialnya, keluhan mulutku ikut terucap dan membuatku sedikit malu.
"Kenapa? Capek?" tanya Andrew seketika itu juga. Hal itu membuatku mengangguk malu-malu tanpa melepas rengkuhan tanganku terhadapnya. Namun, pada akhirnya ia membalas, bukan! Namun menopang punggungku.
"Eh???" Aku terkejut pada saat Andrew tiba-tiba menggendong diriku macam putri duyung. Apa maksudnya? Ia hanya tersenyum. "Ngapain? Turunin! Aku berat!"
"Berat?" tanya Andrew diiringi suara tawanya yang cukup keras. "Kamu terlalu ringan, makin hari makin kurus, Sayang."
"Emm ... en-enggak tahu. Kenapa? Kurang montok ya? Maaf, aku udah makan banyak. Tapi, tetep aja kurus."
"Tapi cantik."
"Udah enggak marah?"
"Masih."
__ADS_1
"Maaf dong."
"Iya, iya. Dimaafin, mana bisa aku marah sama kamu kalau kamunya ngerayu-rayu aku."
"Si-siapa yang ngerayu?"
Telingaku terasa panas pada saat Andrew mengejekku. Mungkin sudah menjulur sampai wajah. Tentu saja aku malu, sampai ia biss tertawa lebih keras lagi. Yah, setidaknya usahaku tidak sia-sia. Andrew tidak merasa kecewa dan memaafkanku. Kami tidak perlu bertengkar terlalu lama lagi.
Namun, apa benar aku begitu ringannya? Maksudku tubuhku. Mengapa ia tahan lama dalam menggendong diriku? Ah ... aku kalah jauh jika dibandingkan dengan Linseyld yang sexy itu. Astaga! Tidak! Aku jauh lebih cantik darinya. Andrew juga tidak akan mungkin mengkhianatiku. Aku yakin!
"Turunin dong, emang nggak capek apa?"
"Nggak mau! Aku masih kuat."
"Andrew!"
"Bisa nggak sih panggil aku Mas, Kak, Beb, Sayang, Cinta, Honey?"
"Enggak."
"Vya?"
"Iya, Cintaaaa. Week."
"Eh?"
"Iya, Sayang. Turunin ya?"
"Iya. Hmm ...."
Andrew menurunkan tubuhku, namun bukan berarti ia melepaskanku begitu saja. Ia kembali memeluk diriku. Menatapku sembari tersenyum, aku masih terdiam heran. Baru saja, ia menyuruhku untuk pulang dan kini ia malah menahan-nahan. Pria macam apa sebenarnya dirinya? Terkadang nakal, namun ternyata tidak tegaan juga. Bisa dibilang baik dan bodoh, namun sangat menawan. Ia sangat tampan, sangat menggiurkan setiap insan wanita yang menatapnya.
Lalu, apa memang aku harus bertahan? Memikirkan itu membuatku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kembali. Kuletakkan kepalaku ke dalam pelukan Andrew. Perlahan, ia menggerakkan badannya seolah sedang berdansa denganku.
"Maaf, Sayang. Kayaknya aku tadi terlalu kasar sampai menyuruh kamu pulang."
"Ya, aku yang salah. Maaf, belum percaya padamu secara penuh, Ndrew."
"Kenapa kamu ingin melakukan itu sama Linseyld? Bukankah kamu malah terluka nantinya?"
"Aku ingin memberikan pelajaran, itu aja kok. Lagian, dia nggak akan nyerah gitu aja, Ndrew. Dia terobsesi sama kamu, bisa jadi dia cari cara licik buat misahin kita. Apa kamu mau pisah sama aku?" Aku bertanya sembari menatap wajah Andrew dengan mengangkat kepalaku untuk menghadapnya.
"Makanya, aku enggak mau hubungan kita kayak dulu lagi. Aku yakin aku bisa bertahan, selama kamu tetap setia dan bisa menjaga batasan tertentu. Dan aku juga punya cara biar bisa tahu gerak gerik kalian kok."
"Hmm ... tapi aku risih, Sayang."
"Tahan dulu untuk hal itu. Tunggu aku sampai aku bersiap diri untuk keluar."
"Vya? Sebenarnya setelah semua berjalan lancar, apa rencana kamu berikutnya?"
"Aku masih memikirkan tentang itu."
"Hmm ...."
Ya, aku masih memikirkan cara menyelesaikannya. Jika Andrew bersedia, aku yakin rencana ini akan berjalan lancar. Bahkan Linseyld akan merasa sangat malu. Cara terbaik untuk membuat wanita itu jatuh yaitu dengan menusuknya diam-diam dari belakang. Cara biasa, menurutku tidak akan mempan. Lagipula, jika seseorang sudah terobsesi pada orang lain, pasti segala cara bisa dihalalkan. Aku yakin, ia akan berusaha keras mendapatkan Andrew dariku. Namun, apa Andrew tetap tidak mau? Padahal alasan yang kuberikan menurutku sudah sangat cukup.
Ah ... pelukan kami sampai berjalan cukup lama. Hampir pukul sepuluh malam, aku benar-benar menjadi gadis yang tidak tahu diri. Bisa-bisanya aku berduaan dengan kekasihku sampai semalam ini. Namun, diantara semua pria yang pernah bersamaku, sejauh ini hanya bersama Andrew aku se-berani ini. Bahkan, sempat menginap didalam apatemen yang ia sewa dan tidur bersamanya. Hanya tidur dan tidak melakukan hal-hal diluar batas, kala itu Andrew sedang gila-gilanya karena memikirkan diriku. Ya, mungkin kami adalah pasangan yang gila.
"Ndrew?"
"Hmm ...."
"Apa kamu enggak pegel?"
"Eh? Haha. Iya, aku lupa, Sayang. Capek ya, berdiri terus?"
"Iyalah, aku pulang ya?"
"Duduk dulu, kita belum bicara."
Andrew membawaku ke sebuah sofa. Setelah itu, kami duduk bersebelahan. Menatap televisi yang sejak tadi tidak dimatikan sama sekali. Saling diam dalam beberapa saat, meski ia merangkul pundakku dan aku merebahkan kepalaku di atas badannya. Genggaman tangan Andrew juga tidak terlepas dari telapak tanganku. Beberapa kali, ia terdengar menghela dan mengembuskan napasnya. Mungkin, ia tengah gusar.
Hanya suara televisi, denting jam dan sesekali mesin pengemudi kendaraan yang lewat didepan rumah ini. Andrew belum juga membuka pembicaraan lagi. Bahkan, ia belum mengizinkan diriku untuk pulang ke lantai atas. Entah, apa penilaian Raya dan Sinta terhadap diriku karena tidak kunjung kembali. Mungkin mereka mengira diriku berbuat yang tidak-tidak, walau kenyataannya bukan begitu.
"Vya Sayang?" Akhirnya Andrew menyebut namaku.
__ADS_1
Aku menatap wajahnya seketika. "Iya, gimana?" tanyaku.
"Aku setuju. Tapi ...."
Aku segera membangunkan kepalaku dari sandaranku terhadap tubuh Andrew. Dan kemudian menatapnya penuh harap. "Tapi apa?"
"Ada syaratnya, Sayang."
"Ya ampun, Ndrew. Ini kan demi kamu, hubungan kita. Masa' ada syaratnya."
"Ada dong, ada dua. Pertama kamu dilarang ngambek."
"Kedua?"
"Emm ... yang kedua, malem ini kamu harus nginep disini!"
"Haah?! Gila apa?! Nggak maulah!"
"Kenapa? Nginep doang kok, aku nggak bakalan ngapa-ngapain, kan aku udah janji. Lagian kita pernah tidur bareng di apartemen."
"Konyol! Mau ditaruh dimana mukaku di depan Raya dan Sinta, Ndrew? Lagian waktu tidur sama kamu, itu kan terpaksa. Itupun gara-gara kamu juga. Ngawur aja."
Andrew mengembuskan napas kecewa akan penolakanku. Tentu aku menolaknya, aku tidak bisa membayangkan apa jadinya jika aku tinggal di tempay ini bersamanya. Janji yang ia ucapkan untuk tidak merusak diriku bisa saja terlupakan dan menghasilkan perilaku yang tidak senonoh. Aku memang bukan wanita yang benar dan suci, namun prinsipku tetap aku pegang sedari dulu.
Demi membuat Andrew lebih ceria lagi, aku memberanikan diri untuk memberikan kecupan pada pipinya. Dan benar saja, ia langsung tersenyum setelah aku melakukan hal itu. Ia menoleh kembali ke arahku sembari tersenyum-senyum sendiri.
"Apaan?" tanyaku kemudian lantaran merasa salah tingkah karena ditatapnya seperti itu.
"Lagi dong, Vya?" pinta Andrew.
"Cukup! Udah! Nggak mau! Aww!"
Andrew menarik diriku ke dalam pelukannya lagi. Bahkan, wajah kami sudah sangat dekat, kira-kira lima centimeter jaraknya.
"Besok nggak bisa bebas kita, Sayang. Masa' kamu nggak mau nginep semalem aja disini? Sumpah! Aku nggak bakal ngapa-ngapain kok. Aku tidur di bawah, ya?"
Aku tetap menggelengkan kepala. "Nggak, kamu jangan ngajakin aku sesuatu yang salah dong, Ndrew. Lagian aku di lantai atas, enggak jauh. Deket banget malah."
"Aku mau menatap wajah kamu sepanjang malam. Itu aja kok."
"Sekarang juga udah, kan?"
"Kurang."
"Ayolah, ini bukan drama Korea, Ndrew."
"Nggak! Kamu harus disini malam ini."
"Nggak mau!"
Aku belum melanjutkan lagi kata-kataku, karena Andrew telah menarik wajahku seketika. Ia mengecup bibirku tanpa persetujuanku, sedangkan diriku berusaha melepaskan diri. Namun tetap saja, aku tidak kuasa. Lagi-lagi aku larut ke dalam romantisme itu. Membaurkan napas bersamanya dimalam ini.
"Nginep sini. Aku janji tidur di bawah ya Navya Sayang." Andrew berucapa sesaat setelah melepaskan romantisme itu.
"Jangan konyol ...."
"Enggak, aku serius."
"Aku mau pulang. Ada Raya dan Sinta."
"Mereka juga pernah."
"Sok tahu kamu!"
"Enggak, itu bener kok."
"Tahu dari mana?"
"Dari ucapan blak-blakan mereka setiap hari. Kamu harus nginep sini."
"Apaan sih? Enggak mau! Aku mau pulang, ngantuk."
"Aku nggak izinin."
"Andrew!"
__ADS_1
"...."
Bersambung ....