
Dalam sehari, aku menghabiskan waktu hanya untuk berdiam diri didalam kamarku. Aku hanya keluar untuk ke kamar mandi saja. Sedangkan selera makanku seketika hilang begitu saja. Aku belum cukup daya dalam menyantap dengan nikmat. Bagaimana tidak? Aku hampir kehilangan akal sehatku. Namun, dengan adanya Sita, Andrew bahkan Affandy, aku berhasil menghilangkan trauma itu dalam sekejap mata. Sebenarnya bukan trauma, namun sebuah kondisi yang masih syok.
"Non, makan dulu atuh," bujuk Bi Emi tiba-tiba sembari melangkah masuk ke dalam kamarku yang pintunya tidak terkunci.
Aku menoleh kepadanya. "Aku belum selera, Bi," jawabku.
"Jangan gitu ah, nggak baik. Non Vya udah kurus banget lho."
"Tapi, aku belum pengen makan apa-apa, Bi."
"Ini lho liat dulu, ayam kecapnya menggoda. Udah lama kan nggak mencicipi masakan Bibi?"
Aku menatap hidangan itu yang kini berada dihadapanku. Masakan Bi Emi memang paling juara. Aroma nikmatnya menyeruak masuk ke dalam hidungku yang mancung. Lama kelamaan akhirnya aku tergiur. Dengan gerak malu-malu aku mengambil hidangan itu untuk kusantap. Tentu saja, dengan suara cengengesan yang Bi Emi suarakan.
Sesendok demi sesendok nasi dan ayam aku kunyah kemudian tertelan di tenggorokan. Rasanya mantap! Seleraku yang sempat menghilang kini kembali muncul. Perutku yang kosong sejak tadi pagi, kini telah terisi lagi. Semburat senyumku pun ikut mengembang karena merasa kenyang perlahan-lahan. Hal ini membuat Bi Emi merasa bangga atas dirinya sendiri. Sampai menimbulkan tawa kecilku karena malu-malu dan merasa lucu.
"Bibi, kangen ya sama aku?" tanyaku kemudian.
"Iyalah, Non. Bibi kesepian, apalagi Bapak kemarin-kemarin kayak orang linglung nyariin Non. Tapi, Bibi tahu Non dimana," jawab Bi Emi.
"Dimana emangnya?"
"Paling ditempat Den Andrew, soalnya yang Bibi denger ditempat Non Sita malah nggak ada."
"Kok bisa mikir gitu, Bi? Keliatan banget ya?"
"Gini-gini Bibi jago menebak isi hati seseorang, Non. Apalagi Den Andrew tadi antusias banget ngebelain Non. Yah, walaupun yang satu juga iya sih. Tapi kan, belum kelihatan banget."
"Siapa? Fandy?"
"Iya kali, Non. Yang dateng bareng Den Andrew tadi pokoknya. Manis juga ya? Hehe."
"Hmm... aku belum pengen pacaran atau semacamnya lagi, Bi. Terserah mereka mau apa, yang penting aku nggak jerat siapapun sekarang. Jadi mereka juga bebas cari yang lain. Lagian, aku juga baru kenal sama Fandy, nggak tahu apa-apa tentang dia."
Bi Emi meraih telapak tanganku dan menghembuskan napas pelan. Ia menatapku penuh rasa kasihan. Yah, mungkin aku memang masih pantas untuk dikasihani. Aku tidak tahu apa perbincangan kedua pria itu dengan papa, sampai Bi Emi mengatakan semua itu. Aku masih ingin mencari ketenangan sendiri tanpa bayang-bayang wajah lelaki. Meski Andrew nantinya tidak akan berhenti menaruh harapan kepadaku.
Karena kata orang, sedikit egois pada diri sendiri bukanlah suatu kesalahan. Lagipula, sejak awal aku sudah menegaskan agar Andrew berhenti. Namun, ia sendiri yang masih bersikeras. Jadi bukan salahku, kan? Sebagai wanita aku masih makhluk yang lemah hatinya. Aku bukan pemeran drama yang selalu menjadi wanita sempurna dengan kebaikan hatinya. Ada masanya aku bisa egois dan juga lemah.
"Yaudah Bibi keluar dulu ya, Non," pamit Bi Emi. "Nanti piringnya diantar aja, biar Non Vya juga keluar kamar hehe."
"Iya Bi, siap!" jawabku.
Kemudian Bi Emi berlalu meninggalkan aku dan hidangan yang belum habis ini. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berusaha menghabiskannya. Dengan demikian tidak tersisa satu butir nasi pun diatas piring. Sepertinya, aku memang lapar namun enggan untuk makan sedari awal. Betapa baiknya Bi Emi saat mengerti apa yang aku perlukan. Ia bahkan lebih peka daripada papa dan mama. Yah, kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Setelah selesai, aku beranjak turun dari ranjang. Bisa dikatakan aku ini wanita tidak sopan, lantaran makan didalam kamar dan diatas tempat tidur. Betap manjanya diriku. Tapi, kembali lagi pada mood-ku yang memang belum kunjung membaik.
Aku berjalan ke dapur demi menaruh piring atau mencucinya di wastafel. Aku sangat malu jika membiarkan orang lain mencuci satu piring makanku. Terlebih kepada Bi Emi yang sudah berbaik hati mengantarkan makan siangku itu. Kemudian setelah mencucinya aku berencana kembali ke dalam kamarku.
"Navya, kamu udah makan?" tanya papa tiba-tiba.
Seketika saja, aku menoleh ke arah beliau sembari mengangguk pelan. "Udah kok," jawabku.
__ADS_1
"Syukurlah. Kamu terlalu kurus, pokoknya kamu harus sehat terus."
"Iya, makasih atas perhatiannya."
Setelah itu, aku kembali melanjutkan langkahku tanpa memperdulikan beliau lagi. Kondisi terburuk antara ayah dan anak. Namun, setidaknya tidak ada pertentangan lagi, tidak ada ujaran yang kukatakan dengan tegas kepada beliau. Dan satu lagi, kami tidak saling menyakiti lagi. Setelah ini, papa akan mendekam di penjara, kalau ayah Haris telah memberikan laporan. Sedangkan aku terbang ke Singapura dengan harapan mendapatkan uang untuk menebus papa.
Mungkin setelah ini, mama adalah orang yang paling menderita dan kesepian. Sebenarnya aku tidak kuasa untuk membiarkan beliau sendirian. Namun, kembali lagi pada kasus papa dan juga perjanjian kerja yang telah aku tanda tangani. Entah, mengapa selepas menjodohkanku dengan Haris, papa jarang sekali berangkat ke kantor. Aku rasa, papa telah mendapatkan fasilitas cukup mewah dari orang-orang kaya itu atau mungkin waktu cuti yang lumayan lama sampai tanggal pernikahan kami. Dan mungkin juga, saat ini papa telah mendapatkan surat pemecatan.
Miris sekali, nasib keluargaku.
Semoga tidak ada yang mengikuti langkah keluargaku. Apalagi hanya karena uang dan ambisi atas harta, sampai menjual anaknya sendiri. Tidak hanya anak yang menderita, tapi diri sendiri lantaran tidak semua rencana berjalan dengan semestinya. Apalagi untuk orang semacam diriku yang sedikit keras kepala dan juga sulit dalam mencinta. Papa gagal untuk menjodohkanku dengan orang itu. Sampai akhirnya kami sekeluarga yang harus menanggung akibatnya.
Yasudahlah, toh sudah terjadi. Hanya merenung sendiri didalam kamar ini, adalah hal yang paling menyenangkan. Tidak ada ancaman dari Haris lagi yang terkadang membuatku tidak punya nyali untuk sekedar keluar. Aku sudah bebas. Sepertinya tidur lebih dulu tidak buruk juga.
Namun, saat hendak memejamkan mata, ponselku berbunyi. Aku meraih benda kotak tersebut dan memainkan ibu jariku diatas layarnya. Tampak nomor milik Affandy tengah memanggilku. Aku pikir adalah Andrew. Dan nyatanya bukan, sepertinya Andrew masih sibuk memindahkan barang yang sempat ia bawa ke kostnya.
"Hai, Fandy," sapaku sesaat setelah mengangkat telepon itu.
"Hai, Navya. Gimana? Udah baikan?" tanyanya.
"Udah kok. Kenapa?"
"Nggak apa-apa sih. Pengen tahu keadaan kamu aja hehe."
"Hmm... gitu ya? Aku udah baik-baik aja, Fandy. Nggak perlu khawatir, lagian nggak ada untungnya khawatirin aku."
"Hmm... pasti ada, Navya. Kamu kan calon karyawan aku nanti, udah menjadi tugas dan tanggung jawab aku."
"Oh ya? Harus segitunya ya sama karyawannya? Kan banyak yang lain, Ndy?"
"Iya, iya paham. Loe suka sama gue kan? Haha."
"Ehh... i-itu ya. Gimana ya?"
"Enggak, enggak. Aku becanda kok, Fandy."
"Hahaha... iya iya?"
Perbincangan kami terus berjalan dengan obrolan yang kadang terasa tidak penting. Terlebih Affandy tidak terlalu monoton. Kadang membahas soal pekerjaan ataupun keadaanku. Tak lupa tentang kondisi di Singapura sana. Affandy selalu mewanti-wanti, agar aku memakai aplikasi rute agar tidak tersesat di negara orang. Apalagi aku tidak pernah ke luar negeri.
Selang waktu berjalan, setengah jam berlalu. Kami telah mematikan panggilan itu. Aku kembali menaruh ponselku dan berencana memejamkan mata. Udara dingin karena suhu AC menyeruak masuk ke dalam pori-pori kulitku, sepertinya siang ini mendung dan sebentar lagi akan turun hujan. Remote yang berada diposisi jauh membuatku malas untuk bergerak. Sampai akhirnya aku memilih meraih selimut dan menutupi diriku dengan kain hangat itu, kemudian terlelap tidur.
****
"Navya? Sayang?" Seseorang terdengar memanggil namaku sembari mengetuk pintu kamarku. Lantas, aku membuka mata dan mengusapnya perlahan agar bisa melihat dengan jelas.
"Iya, Ma," jawabku setelah menyadari suara itu adalah milik mama. Aku segera bergegaa turun dan menghampiri daun pintu kamarku. Aku membuka perlahan dan menatap mama yang tengah berwajah cemas.
"Kenapa Ma?"
"Ada bapaknya Haris, Sayang."
__ADS_1
Kukernyitkan dahiku heran. Untuk apa orang itu datang kemari? Jangan-jangan hendak menjemput papa. Tapi, kenapa secepat ini? Tidak bisakah sampai keberangkatanku? Tiada gunanya bertanya terus didalam hati. Aku segera mengambil langkah untuk keluar dari kamar dan bergegas turun. Langkahku terburu sampai membentuk gerak lari.
Sesampainya dibawah, ternyata beliau masih duduk santai bersama papa. Aku meneliti setiap area ruang tamu ini. Tidak ada polisi sama sekali. Aku bernapas lega diam-diam. Kemudian mencoba bergabung bersama mereka. "Ada apa, Om?" tanyaku kemudian.
"Tidak apa-apa. Hanya mau memastikan saja, Navya. Apa benar Haris melakukan hal bodoh itu?" tanya beliau.
Aku mengangguk. "Iya! Itu benar."
"Bisakah kamu mencabut tuntutan itu? Saya bersedia membayar berapapun dan hutang ayah kamu saya anggap lunas?"
Politik uang, kekuatan uang, maksud dengan uang. Aku muak dengan segala alasan dan juga penyelesaian masalah dengan uang dan uang. Jika aku menerima uang itu, harga diriku dan keluargaku akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Belum lagi, jika Haris bebas, aku rasa pria itu akan datang dan membalas dendam. Aku bisa kembali gila.
Lantas, aku menatap tajam kepada ayahnya Haris yang bahkan aku lupakan siapa namanya. Tatapan orangtua yang penuh harap akan kebebasan anaknya. Tapi, bodohnya dengan kekuasaan dan harta lagi. "Tidak, Om. Maksud saya, Tuan. Haris sudah masuk ke dalam tindak pidana. Sekalipun, saya mencabutnya polisi tidak akan melepaskan seorang kriminal begitu saja," tolakku.
"Tolong, jangan sebut nama anakku sebagai orang yang kriminal. Itu semua dilakukan demi mendapatkan dirimu, Navya," jawab beliau.
Aku tersenyum sinis. "Mendapatkan diriku atau martabatku? Setelah semua dia dapatkan, lantas aku dibuang begitu saja? Begitu?"
"Sudahlah, lupakan soal itu. Yang saya minta hanya kerjasama kamu. Ingat orangtuamu memiliki banyak hutang kepada kami."
"Cukup, Pak!" Papa yang tadinya diam kini ikut andil dalam perdebatanku dengan ayahnya Haris. Sontak saja, beliau terkejut akan penegasan papa. "Kini saya sadar, saya yang berhutang. Saya harus bertanggung jawab, saya bersedia menyerahkan diri ke kantor polisi," lanjut papa.
Ucapan papa sangat mengejutkan lagi di telinga bos beliau tersebut. Aura kemarahan begitu jelas dan terlihat di wajah sang atasan yang juga ayah dari Haris. Beliau tidak habis pikir dengan pengkhianatan yang papa lakukan. Dalam situasi ini, tubuh mama yang berada didekatku terlihat bergetar. Aku rasa mama merasa khawatir serta takut.
"Ingat ya, Surya. Hutang kamu begitu banyak, saya bisa jebloskan kamu ke penjara dan menyita semua barang-barang milikmu. Termasuk rumah ini," tegas ayah Haris.
"Ambil semua, Pak. Tapi, rumah ini bukan milik saya lagi," jawab papa, yang juga membuatku terkejut. Aku tidak mengerti apa maksud dari semua yang beliau katakan.
"A-apa maksud kamu?!"
"Bapak bisa mengambil beberapa apartemen dan juga restoran yang sudah saya beli. Tapi, tidak dengan rumah ini. Saya tidak bodo, Pak. Saya meminjam uang yang juga untuk membeli beberapa bangunan sebagai investasi. Tapi tampaknya harus berhenti sekarang. Silahkan ambil semua. Tapi tidak dengan rumah ini."
"Saya ingin rumah ini dan semua yang kamu miliki, Surya!"
"Rumah ini milik, Navya. Sertifikat resmi milik Navya. Dan Navya tidak memiliki hubungan atas hutang itu. Anda tidak berhak mengikutsertakan rumah ini untuk masuk sebagai barang yang disita."
Deg! Sejak kapan rumah ini menjadi milikku? Mengapa papa tidak memberitahukanku? Memangnya bisa mengatasnamakan sertifikat tanpa kehadiran diriku? Apapun itu, ternyata papa masih memperdulikanku. Aku rasa, perjodohan itu dilakukan beliau karena desakan keluarga Haris yang bisa mencelakaiku. Namun, selama ini papa mencari jalan keluar sendiri dan membuat beberapa antisipasi jika hari ini datang.
Bodohnya, aku tidak paham dan malah tidak sabaran. Jika saya, papa mengatakan semuanya, aku rasa aku bisa membantu papa. Setidaknya aku bisa lebih menahan diri, sampai papa mendapatkan jalan keluar. Tapi, soal hutang, aku masih belum mengerti, mengapa papa menerima uang panas itu tanpa pikir panjang. Aku rasa, papa memiliki alasan tersendiri. Lagipula, manusia sering merasa tergiur akan lembaran berharga itu.
"Baiklah, saya akan mengambil gedung-gedung yang kamu miliki, Surya. Dan mulai hari ini, kamu resmi saya pecat!" tegas ayah Haris.
"Saya heran. Kenapa seorang ayah bisa memanjakan putra sampai seperti ini? Kenapa tidak memberikan waktu pada Haris untuk berbenah diri? Memangnya harga diri saya dan keluarga begitu rendah, sampai mau diiming-imingi dengan uang itu?! Tolong Bapak segera pergi dari sini! Ayah anak sama saja, memuakkan semua! Papa saya akan mempertanggungjawabkan semuanya. Dan saya akan membayar sisa hutangnya!" tegasku kembali.
"Tunggu saja, Surya dan kalian semua. Para aparat akan segera datang. Boleh saja, kalian menolak untuk membebaskan putraku. Aku memiliki banyak uang untuk membebaskan putraku sendiri.
Tatapan orang kaya itu begitu nanar memandang kami satu per satu. Kemudian beliau berdiri duduknya dan segera berlalu pergi. Tentunya dengan segala sumpah serapah yang tidak enak didengar telinga. Lalu dengan ragu-ragu, aku menghampiri papa yang tengah putus asa. Selama ini, aku telah banyak berdosa. Aku mengatakan macam-macam hal buruk terhadap beliau tanpa tahu maksud akan rencana beliau.
"Pa, tunggu Navya membebaskan Papa, ya?" ujarku sembari memeluk tubuh papa.
Papa membalas pelukanku, sembari memberikan jawaban, "maafkan Papa yang tidak pernah jujur. Ada banyak alasan kenapa Papa selalu mendesak kamu, Nak. Papa terus ditekan dan diancam. Papa tidak mau kamu dalam bahaya. Tapi, Papa tidak bisa mengatakannya padamu, bahkan Mama kamu. Sampai akhirnya, kamu sendiri yang menjebloskan Haris ke penjara itu. Papa senang sekali."
__ADS_1
Derai air mataku muncul kembali membasahi pipi. Aku terus memeluk tubuh papa tanpa tahu alasan yang pasti. Aku meraung seolah tidak mau melepaskan papa, barang sekali saja. Kini kusadari, aku masih memiliki banyak cinta untuk papa. Namun, tertutup akan tebalnya kesepianku setelah kepergian papa ke luar kota.
Bersambung...