
Dua minggu berlalu setelah semua peristiwa yang aku alami. Sampai saat ini aku masih mencoba terus menguatkan diri agar melupakan Andrew. Sama sepertiku mungkin ia juga begitu. Terbukti saat aku melewati hari-hari di kantor. Andrew dan aku sama sekali tidak bertegur sapa satu sama lain layaknya orang yang tidak pernah saling mengenal.
Miris bukan? Yang awalnya kami saling berbagi kasih sayang sekarang ibarat musuh bebuyutan. Bahkan sampai sekarang Andrew masih terlihat sangat rapuh, tidak serapi dan serajin seperti dulu. Tampaknya pengaruhku begitu besar padanya.
Andrew berbeda dengan Nevan. Meski awalnya bersikeras menahan diriku. Setelah mendengar keputusanku dan reaksi benciku, ia tidak lagi mengangguku. Entahlah, aku juga tidak tahu menahu tentang hubungannya dengan Lusi, kekasihnya. Apakah masih dalam perjanjian atau sudah sah menjalin kasih kembali. Itu bukan urusanku.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kondisi ruang kerja sangat kondusif tanpa berisik. Lia juga tidak pernah mengganggu setelah itu. Mungkin ia takut pada Rezky kalau tidak Andrew. Intinya aku sudah menjalani hari dengan tenang. Meskipun aku tidak bisa memungkiri rasa tertekan karena masih dalam satu ruang lingkup dengan mantan seseorang terkasih.
"Hey," Ujar Rezky dari arah belakangku.
"Ya Rez," Jawabku.
"Soal proposal yang kemarin gimana?"
"Udah beres kok,"
"Good job!"
Aku menyerahkan sebuah berkas pada Rezky. Ia hanya membalasku dengan senyum simpul yang begitu manis. Sebenarnya aku masih bertanya-tanya dalam hati. Apakah Rezky masih menyukaiku saat ini? Untuk sikapnya yang begitu tenang seperti itu, aku rasa tidak lagi. Aku sangat lega jika memang benar, jadi aku tidak akan menyakiti seseorang lagi.
Waktu berjalan begitu cepat. Rasa penat dan jenuh menerpaku. Aku ingin tidur saja ketika jam makan siang tiba. Bukan karena tidak selera makan, namun rasanya aku masih kenyang dengan sarapanku tadi pagi. Belum lagi aku sangat letih dan sedikit pusing hari ini.
"Beb?" Panggil Sita kepadaku.
"Emm..." Jawabku sekenanya.
"Makan yuk,"
"Ah gak deh ngantuk,"
"Lo gak laper?"
"Nggak Sit nggak pengen keluar aja,"
"Serius nih?"
"Emm,"
"Oke deh, mau titip sesuatu gak?"
"Coffe latte aja ya,"
"Wokey,"
Sita berlalu meninggalkanku sembari bersenandung kecil. Aku iri padanya yang sangat mudah mengendalikan hati. Ia tidak terlihat sedih lagi. Padahal insiden kami hampir sama, namun Sita lebih cepat move on daripada aku. Mungkin itu salah satu kelebihan seseorang yang periang.
Suhu AC lebih terasa dingin ketika suasana ruangan sepi atau hanya segelintir orang saja didalamnya. Aku tidak tau siapa saja yang masih didalam ruang kerjaku. Dan aku juga tidak mau tau.
Tubuhku yang terduduk di kursi putar kurapatkan pada meja kerja. Kedua tangan aku tekuk pada papannya kemudian kepalaku kuletakkan dengan lesu diatas tangan.
Suhu AC membuatku sedikit bergidik kedinginan. Aku hanya memakai lengan panjang yang tipis tanpa blezer, namun tidak menerawang. Seandainya aku memegang remote pengatur suhunya sudah pasti akan aku matikan sekarang juga.
Meskipun kedinginan, didalam tubuhku terasa mendidih. Kepalaku berkunang-kunang sakit sekali. Aku hanya bisa terpejam dengan nafas hangat terus berhembus dari hidungku.
Antara sadar dan tidak sadar, aku merasa sebuah tangan mengusap lembut dahi dan pipiku. Aku pikir itu hanya mimpi jadi aku mengabaikannya. Tiada daya lagi untuk mempedulikannya. Sampai akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi, tertidur dengan pulas.
_____________________________________________
__ADS_1
"Beb bangun beb," Terdengar samar suara Sita.
"Emm," Ujarku.
"Lu demam beb, sakit ya? Ke klinik aja,"
"Nggak kok Sit tenang aja,"
Brrruukkk!!!
Sebuah blazer abu terjatuh ke lantai dari tubuhku. Spontan aku kaget lalu mengambilnya. Aku tidak mengetahui siapa pemiliknya, terlebih blazer tersebut adalah pakaian untuk pria.
"Sit punya lo?" Tanyaku kepada Sita.
"Bukanlah beb masa' gue pake punya cowok,"
"Terus?"
"Gak tau deh, tapi semenjak gue dateng udah nutupin badan lo,"
"Masa' sih?"
"Punya Andrew kali haha, yaudah nih coffe lattenya gue balik kerja dulu,"
"Thanks Sit,"
Bola mataku menyelidik kearah tempat kerja Andrew berada. Sebuah bilik kerja yang selama ini aku hindari bahkan memandang pun aku tidak mau.
Andrew berdiri disana mungkin ia baru kembali dari makan siang. Tubuhnya terbalut kemeja abu yang kusut tidak digosok. Ia sedang membahas sebuah berkas bersama salah satu rekannya.
Benakku melayang mengingat salah satu kebiasaan Andrew yang selalu memadu padankan warna pakaian. Aku segera memeriksa saku-saku blazer. Siapa tau ada petunjuk kepemilikan.
Benar saja di satu saku kirinya terdapat sebuah kertas kecil dari ATM bertuliskan nama Andrew yang baru saja mentransfer uang ke rekening miliknya yang lain. Aku kaget bukan kepalang.
Jangan-jangan belaian lembut di dahi dan pipiku tidak hanya mimpi. Atau Andrew sedang mengecek kondisiku. Lalu bagaimana aku akan mengembalikan barang tersebut?
Aku hanya bisa termangu-mangu sejenak sembari menyeruput segelas coffe latte. Aku tidak habis pikir Andrew melakukan ini. Mungkinkah ia masih memperhatikanku selama ini? Secara diam-diam ia menjagaku tanpa mengganggu sama sekali.
Seandainya kami masih bisa berbincang sedikit aku pasti akan berterima kasih padanya. Tanpa harus pusing-pusing mencari cara yang tepat untuk mengembalikan blazer miliknya.
Sudahlah! Aku harus bekerja dulu.
Suara ketikan yang bersamaan terdengar bagaikan paduan suara. Menggema dan mengisi seluruh ruangan. Begitu juga dengan bisikan-bisikan pelan karyawan yang saling berdiskusi mencoba menjaga suasana tetap kondusif.
Sesuai berjalannya waktu, semakin lama pekerjaan terselesaikan. Tubuhku terasa semakin mendidih namun juga menggigil. Sepertinya aku demam. Beruntungnya aku bisa bertahan sampai waktu pulang.
Sita tampak berlarian kecil menghampiriku. Sebenarnya aku yang ingin mendatanginya. Namun, tubuhku malah begitu lemas. Sebelum energiku terkumpul ia sudah datang kemari.
"Beb lo nggak apa-apa kan?" Ujar Sita begitu khawatir.
"Enggak Sit hehe," Jawabku.
"Lo pucet tauk,"
"Kurang istirahat doang semalem,"
"Hmm... Lo belom bisa lupain dia?"
__ADS_1
"Begitulah,"
"Pelan-pelan aja, bisa balik sendiri nggak?"
"Bisa kok,"
"Yaudah gue balik duluan ya ada janji sama bokap,"
"Iya hati-hati,"
Sita berlalu meninggalkanku. Sebelum pulang aku merapikan meja terlebih dahulu. Tak lupa melipat blazer abu serta menyampirkannya di tangan kiri. Kemudian melangkah keluar dengan sekuat tenaga. Meski beberapa kali terhenti karena pusing yang aku rasakan. Aku tetap berusaha berjalan untuk pulang.
Sampai akhirnya aku memilih berhenti sejenak di depan ruang arsip. Jangan sampai aku pusing ditengah jalan, bisa mampus aku.
"Emm..." Suara deham terdengar dari arah sampingku. Aku menengok kesana, Andrew sedang berdiri berjarak kurang lebih dua meter dariku.
Aku terdiam tanpa bisa berkata-kata. Namun, aku tetap memasang telinga. Siapa tau ia akan berbicara lagi nantinya.
Sialnya, lima menit berlalu kami tidak bergeming sama sekali. Ingin rasanya segera berlalu namun aku masih mempunyai tanggungan dengan blazer milik Andrew. Tentu saja aku harus segera mengembalikannya.
"Jangan panik, bawa aja abis itu dibuang kalo kamu nggak mau ngomong sama aku," Ucap Andrew. "Jangan pernah membebani hatimu lagi," Sambungnya.
"Maaf," Jawabku.
"Kamu nggak pernah salah,"
Andrew sepertinya akan pergi. Ia mulai mengayunkan kakinya berjalan melewatiku.
"Ndrew?" Ujarku menghentikan langkahnya. "Aku nggak sebusuk itu Ndrew, aku masih punya rasa terima kasih," Sambungku.
"Aku tau," Jawabnya yang kini membalikkan badannya menghadapku.
"Makasih buat selimut kecilnya,"
"Sama-sama, jaga kesehatan yang baik,"
"Emm,"
Nyuuuttt!!!
Sial! Kepalaku berdenyut lebih keras lagi, pusing sekali. Aku tidak kuat untuk sekedar berjalan. Meskipun tidak pingsan, mataku terasa buram untuk melihat dan tubuhku terjatuh ke lantai. Bagaimana nantinya aku akan menyetir jik seperti ini?
"Navya kamu nggak papa?" Ujar Andrew sembari memegangi pundakku membantu berdiri.
"Nggak kok nggak papa,"
"Nggak! Aku anter ya?"
"Nggak usah Ndrew,"
"Jangan bandel disaat kondisi seperti ini kamu, aku nggak akan ambil kesempatan tenang aja,"
Andrew memapahku kearah mobilku serta meminta kuncinya. Aku tidak tau lagi, jika aku menolaknya aku harus meminta bantuan siapa lagi. Jadi, mau tidak mau aku menerimanya.
Andrew mengantarkanku pulang dengan mobilku setelah menitipkan mobil miliknya pada security. Rasanya dejavu. Benar ini hampir sama pada saat aku kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Aku hanya berharap tidak luluh kembali. Kalau pun membaik semoga bisa menjalin pertemanan lebih baik.
Bersambung...
__ADS_1