
"Perasaan cinta ini yang membuatku tak tahu malu."
______________________________________________
Dengan perasaan yang masih kesal aku melangkah masuk ke kantor. Sesekali kusinggungkan senyum tipis yang terkesan dipaksakan kepada karyawan lain untuk menjawab sapaan selamat pagi mereka. Meskipun raut wajah masamku yang tidak bisa disembunyikan. Benakku masih teringat dengan kejadian tadi pagi. Rasa kesalku pada Andrew dan Nevan masih saja bersarang di hatiku saat ini.
"Navyaaaaa....." Terdengar lengkingan khas suara milik Sita dari arah belakang yang berhasil menarik perhatian orang. Ia tampak berlarian kecil kearahku ketika aku menengoknya.
"Kenceng amat sih lo!" Dengusku.
"Biarin sih beb. kan biar lo denger haha."
"Nyebelin tauk."
"Ihh. Kenapa sih tu muka kayaknya jengkel amat masih pagi kaleee."
"Gak papa."
Sita tak melanjutkan lagi pertanyaanya, ia cukup paham dengan suasana hatiku saat ini. Kami melangkah bersama ke ruang kerja kami. Terlihat hanya segelintir orang yang baru datang. Mungkin sisanya belum berangkat atau masih di perjalanan. Aku mendudukkan tubuhku di kursi kerjaku sembari mengotak-atik komputerku. Aku mempersiapkan berkas-berkas untuk hari ini sekalian menunggu waktu do'a pagi dan briefing bersama.
Terdengar riuh perbincangan segerombol karyawan pria memasuki ruangan, mereka merupakan rekan satu timku. Tampak Andrew salah satunya. Kutengok sebentar kearahnya, namun seketika pula kupalingkan wajahku lagi saat Andrew menatapku. Aku memilih kembali mengotak-atik komputer. Yah, suasana hatiku belum stabil.
"Pagi cantik." Sapa Andrew yang tiba-tiba telah berada di sampingku.
"Ehmm.." Jawabku singkat.
"Jutek amat sih. Kamu marah nih gara-gara tadi?"
"Gak. Udah deh sana balik ama temen-temen kamu gak enak pagi-pagi udah berduaan."
"Iya-iya tapi jangan ngambek gitulah ntar cantiknya ilang. Entar makan siang bareng ya."
Aku tak menjawab ajakan Andrew, setela mengusap halus rambutku ia kembali ke gerombolan pria-pria yang saling berkelakar. Tak lama kemudian jam mulai kerja sudah dekat, semua karyawan bergerombol membentuk kerumunan di sudut ruang yang kosong dengan luas yang mampu menampung dua puluhan orang. Kami semua berdo'a pagi dan briefing yang diarahkan oleh Rezky sebagai ketua tim.
Setelah itu kami kembali ke tempat kerja masing-masing. Mulai disibukkan dengan tugas-tugas yang diberikan. Ada pula yang membentuk kelompok untuk mendiskusikan suatu proposal.
Perlahan namun pasti jarum jam mulai berputar dan hari semakin siang. Rasa kantuk dan jenuh yang luar biasa mulai menyerangku. Beberapa kali bibirku menguap dan mataku berair, namun pekerjaanku belum juga selesai. Kesibukkan ini memang berhasil membuatku lupa akan kejadian dan rasa kesalku tadi pagi.
"Nih biar kagak ngantuk." Kata Rezky yang sudah berada disamping kursi kerjaku sembari memberikan segelas kopi susu.
"Tumben baik lo." Ucapku.
"Eeee. Bukannya terimakasih malah ngeledek."
"Haha, emang gitu kok."
"Ni tu dari babang lo. Doi lagi sibuk tuh, pas gue mau ambil kopi dia nitip sekalian ambil buat lo. Orang kalo berdiri bentar-bentar ngelirik lo."
__ADS_1
"Walah kirain asli baik dari hati gitu ternyata suruhan haha. Yadah thanks ya sekalian nitip salam semangat buat dia ya hehe."
Rezky hanya menggangguk dan tertawa geli mendengar perkataanku. Ia berlalu kearah tempat kerjanya. Rezky memang sosok yang supel dan friendly terhadap siapapun. Meskipun ia adalah ketua tim sifatnya selalu kekeluargaan dan tidak pernah merasa sok paling pintar. Itulah yang membuat orang lain nyaman bergaul dengan pria berkulit sawo matang tersebut.
Aku seruput kopi susunya dan mengerji-ngerjipkan mataku agar kembali segar. Kulihat kearah meja Andrew, ia tampak berdiri dengan raut wajah yang serius kedua tangannya memegang beberapa berkas dan mendiskusikannya dengan rekan disampingnya.
"Gantengnya.." Gumamku pelan.
Aku menepuk-nepuk kepalaku dan memfokuskan kembali otakku pada pekerjaan. Kumainkan jari-jariku di atas keyboard komputer. Dan yang terpenting selalu rajin untuk mengeceknya. Agar tidak ada yang namanya kesalahan yang mengharuskan untuk bekerja dua kali. Aku memang selalu detail dalam melakukan pekerjaaan sehingga membuahkan hasil yang sempurna. Alih-alih tanggungjawab aku juga tidak ingin direpotkan oleh masalah sepele karena ketidaktelitian.
Tiba-tiba seorang office boy masuk ke dalam ruangan tempat tim kami bekerja. Dengan membawa sebuket bunga mawar putih begitu indah dan sebatang cokelat merk ternama yang mungkin harganya mahal. Ia berhasil membuat seisi ruangan terheran-heran. Dan yang paling mengherankan adalah arah langkahnya yang menghampiriku. Aku terkesiap. Apakah untukku?
"Mbak Navya ya?" Tanyanya padaku.
"Iya mas." Jawabku.
"Ini ada titipan buat embak." Katanya sembari memberikan buket bunga dan cokelat tersebut.
"Loh.. Dari siapa mas?"
"Itu ada suratnya mbak."
"Makasih ya mas."
"Sama-sama mbak."
"Semangat ya kerjanya. Jangan lupa makan :) By: NS." Itulah bunyi kalimat yang tertera pada surat.
Aku tersekiap dengan inisial NS yang tertulis. Yang menurutku adalah inisial dari nama Nevan Satya. Lagi-lagi kebingungan menerpa hati dan pikiranku. Mengapa Nevan sebegitu kukuhnya mengejarku lagi? Lalu langkah apalagi yang harus aku lakukan agar ia berhenti?
"Wooowww cokelat mahal nih. wahh...wahhh... wahhh.. dapet dari cowok kaya mana lagi nih? padahal si abang Andrew lagi sibuk kerja loh." Celetuk Lia si tukang gosip dengan sengaja ingin memanaskan suasana.
Kuputar bola mataku padanya dengan sinis. Aku memilih diam namun bukan berarti takut. Mengingat saat ini kami masih berada dalam situasi bekerja. Aku hanya tidak ingin ada masalah yang timbul. Namun ternyata Sita malah lebih geram dengan perkataan Lia, ia terpancing dengan kesengajaan yang Lia katakan tersebut.
"Sirikk aja sih lo Lia, Mau dapet dari mana kan emang Navya lebih pantes toh dia cantik gak kayak lo kayak tante-tante." Balas Sita.
"Enak aja lo kalo ngomong elo yang kayak nenek-nenek suka banget ikut campur lo!" Jawab balik Lia.
Aku berdiri dan segera menghampiri Sita. Aku membujuknya untuk berhenti agar tidak menyebabkan kegaduhan. Sedangkan rekan-rekan yang lain mulai gaduh ada yang membela Lia yang tak lain adalah gengnya yang serupa sifatnya. Di sisi lain banyak yang memberikan nasehat sabar padaku dan Sita agar tetap tenang dan tidak tersulut emosi.
Ternyata hal tersebut juga berhasil memancing Andrew. Kulihat ia tampak berjalan ke arah tempatku bekerja.Lalu aku menyusulnya kembali. Andrew mengambil buket bunga yang tergeletak di mejaku. Aku hanya terduduk meringis di mejaku. Kulihat ia membaca sekilas suratnya dan menyisipkan diam-diam ke saku celananya. Mungkin hanya aku yang tau.
"Jangan pada mikir yang enggak-enggak kalo gak tau apa-apa. Apalagi nyampe ada niatan ngejatohin orang lain. Emang pada tau ini barang dari siapa?" Kata Andrew mengarah ke Lia dan teman-temannya yang masih menyimpan iri padaku.
"Ini dari gue. Toh gak ada salahnya gue ngasih kejutan buat Navya? Gue sibuk bukan berarti gue gak bisa ngasih apa-apa sama dia gue emang sengaja nitip sama OB. Jadi yang gak tau apa-apa jangan sok tau." Lanjut tegas Andrew membelaku.
Ternyata perkataan Andrew berhasil membuat Lia terkesiap malu. Dan suasana menjadi kondusif kembali. Kami semua kembali fokus pada pekerjaan sampai jam makan siang tiba.
__ADS_1
Aku menghela nafas lega dan berdiri . Aku beranjak untuk menghampiri Sita bermaksud ingin mengajaknya makan siang bersama.
"Mau makan bareng?" Tanyaku padanya.
"Enggak dulu deh beb gue ada janji ama cowo gue. Lagian tadi babang lo pesen pengen bareng lo hari ini." Jawabnya
"Ehmm... yaudah deh."
Aku masih berdiri di samping kursi kerja Sita dan menatap Andrew di seberang dari tempatku berdiri. Ia menatapku dengan senyumannya mengisyaratkan agar aku menunggunya. Aku memilih menunggunya di tempat kerjaku sendiri. Karena masih ada rasa gengsi untuk menghampiri.
"Ayukk." Ajak Andrew yang sudah ada di sampingku.
"Ehmm.." Jawabku.
Aku dan Andrew menghampiri mobilnya yang terparkir di sudut tempat parkir. Kemudian kami memasukinya. Kulihat Andrew menatap mobilku yang terparkir tak jauh dari kami berada. Ada raut wajah heran tersirat di paras tampannya.
"Ehmm... kamu tadi berangkat sendiri?" Tanyanya.
"Iyalah." Jawabku jutek.
Andrew tampaknya memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia memacu mobilnya perlahan. Kami menuju ke sebuah restoran padang yang cukup diminati para rekan kami. Kami melenggang masuk dan memilih meja di pojok yang tak terlalu banyak orang singgah.
Tidak berapa lama datang seorang pelayan. Aku dan Andrew memilih menu yang tertulis. Pelayan pun berlalu. Dan kembali dengan nampan yang berisi pesanan kami. Karena perut terasa begitu lapar dengan lahap aku santap hidangan tersebut sama halnya dengan Andrew.
"Vya kamu marah ya?" Tanyanya disela-sela kunyahan giginya.
"Gak." Jawabku singkat.
"Kamu gak bareng dia tadi ya? terus dari tadi diem mulu."
"Gaklah emang aku semurahan itu apa asal naik mobil orang aja."
"Ya gak gitu maksud aku, aku kan cuma gak pengen ngatur-ngatur kamu lagian aku kan gak punya hak...."
"Hak? ya kamu emang gak punya hak. Karna aku bukan siapa-siapa kamu kan? semurah itu apa aku Ndrew kalo kamu gak ndeketin aku gak ngasih ini itu ke aku. Kamu ngomong sayang ke aku dan kamu bahkan udah cium-cium aku. Emang aku bakalan punya perasaan kayak gini ke kamu??!!"
"Tu kan. Kamu pasti bahas yang enggak-enggak. Suatu saat Vya kalo semua udah pasti semua pasti berjalan lancar. Aku gak mau nyampe nyakitin kamu aku gak bisa kalo sampe nyakitin kamu. Bukan berarti aku gak peduli. Ayolah."
"Fuhh... terserah!"
Beruntung tak banyak orang yang ada di dekat kami. Sehingga perdebatan ini mungkin hanya kami yang dengar. Aku memilih untuk melanjutkan menyantap hidangan pesananku. Aku sudah cukup paham jawaban Andrew yang selalu sama saja. Malah akan memperpanjang masalah saja. Aku menghela nafas dalam agar merasa lebih tenang.
Setelah itu aku dan Andrew beranjak kembali ke kantor. Karena jam makan siang yang hampir usai. Di dalam mobil, aku masih saja berdiam diri. Sedang Andrew terus membujukku untuk tidak marah lagi. Dengan segala caranya membujuk dan bercanda. Sebisa mungkin aku menahan tawa. Sampai akhirnya ia secara tiba-tiba mencium pipiku yang membuatku tersentak kaget. Hal tersebut membuatnya tertawa tergelak-gelak yang berhasil membuatku tersugesti sampai tidak bisa menahan tawa lagi. Kami berbaikan dan bersikap seperti semula kembali.
Bersambung....
______________________________________________
__ADS_1
Aduhhh Navya lemahnya hati dikau...