
Kurang lebih satu bulan sudah berlalu. Hariku masih tetap sama, seperti neraka dunia rasanya. Papa masih saja tidak berubah, sedang Mama tidak ada habisnya untuk membelaku. Membelaku dari desakan perjodohan gila itu.
Walaupun semua tidak pernah berhasil baik. Papa begitu arogan, harta yang beliau berikan selama ini selalu diungkit-ungkit. Aku sampai kewalahan. Sedangkan Mama pun sama bingungnya.
Namun, satu titik baru aku dapatkan. Hubunganku dengan Mama mulai membaik. Tentu saja dengan bantuan Bi Emi yang tiada henti membujukku untuk lebih hormat pada orang tuaku. Terlebih Mama sebagai ibu yang telah melahirkanku.
Yah, setidaknya ada satu bahu lagi untuk sekedar bersandar.
Lalu ada hal lain lagi. Di beberapa kesempatan, aku bertemu dengan pria yang sempat menolongku saat itu. Ya, pria yang bernama Affandy. Entah di mall, restoran ataupun tempat lain yang secara kebetulan kami datangi.
Bahkan kami telah bertukar nomer ponsel untuk menjalin pertemanan. Bagiku tidak masalah, toh Affandy orang yang baik menurutku. Tidak ada salahnya menyambung hubungan teman. Herannya, aku tidak menolaknya. Padahal selama ini, aku tidak sembarangan memberikan nomer ponselku pada orang lain.
Mungkin ada rasa tidak enak hati tersendiri. Karena Affandy sempat menolongku kala itu.
Sedangkan Haris semakin menjadi-jadi dengan segala macam tingkah munafiknya. Terkadang bersikap manis. Terkadang juga berkata sarkasme pada keluarga kami. Uang yang membuatnya semakin angkuh.
Setiap hari, Haris datang menjemputku untuk mengantarkan diriku berangkat bekerja. Positifnya, ia tidak berbuat aneh-aneh lagi setelah terjadi kecelakaan kecil tersebut. Sehingga, aku bisa sampai di kantor dengan selamat. Seperti hari ini.
"Navya sayang, kerja hati-hati ya. Dan inget jangan centil sama cowok lain," ujar Haris padaku sebelum aku beranjak turun dari mobilnya.
Aku menatapnya sekilas saja. Kemudian memalingkan wajahku dengan segera. "Terimakasih atas perhatiannya," ujarku padanya.
"Sama-sama wanita cantik milikku haha."
Aku menyesalkan hal ini. Mengapa harus si Haris yang mengatakan itu? Jika saja, yang berkata adalah pria yang kucintai. Indah sekali pasti. Tidak ada perih hati seperti ini lagi.
Sudahlah, semua sudah terjadi. Dan gilanya aku masih bertahan dalam situasi seperti ini. Aku tidak cukup uang untuk kabur dari rumah. Lalu, jika aku melarikan diri. Bagaimana nasib Mama nantinya? Apalagi Papa sudah benar-benar tidak waras. Seolah beliau telah dicuci otak oleh salah satu sekte sesat.
Kulangkahkan kakiku memasuki gerbang kantor ini. Suasana masih sepi sekali. Saat kutengok waktu pada jam tanganku, memang masih pagi. Mungkin satu jam lagi pekerjaan baru akan dimulai.
Tidak buruk juga aku bisa merenung tenang terlebih dahulu, didalam ruangan kerjaku nanti.
Tiba-tiba getaran ponsel yang berada didalam tas kerjaku terdengar olehku. Mau tidak mau aku berhenti. Dan kutengok pesan masuk tersebut. Sebuah kontak bernama Affandy, ia mengirimiku sebuah kata selamat pagi disertai kalimat penyemangat. Akhirnya aku memutuskan untuk membalasnya dengan kalimat yang berarti sama.
Apakah lelaki itu juga mulai tertarik padaku? Aahhh... jangan terlalu percaya diri. Lagipula kami baru mengenal. Sedangkan aku sama sekali tidak tertarik padanya. Kalaupun tertarik aku tidak akan bisa terlepas dari jerat Haris.
Terlebih bayangan Andrew masih tetap ada. Ia masih sering berkirim pesan denganku. Menanyakan kabar dan keadaanku setiap harinya. Sejujurnya, aku senang. Namun, masih bersikap sewajarnya. Kami bukan lagi pasangan. Dan memang tidak pernah menjalin hubungan yang pasti. Sebisa mungkin aku membalas biasa saja sebagai formalitas semata.
Tidak hanya Andrew, kadang Rezky juga begitu. Karena, aku tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya, aku juga bersikap biasa saja. Ketiga pria itulah yang menemaniku melalui ponsel kami. Termasuk Sita yang sangat sabar mendengar curahan hatiku.
Beruntungnya, Haris tidak pernah merebut ponsel milikku. Seandainya itu terjadi, aku sudah berjaga-jaga. Aku telah membeli ponsel bekas dengan merk yang sama dan terlihat telah lama aku pakai.
Memang rumit jika berurusan dengan psikopat wanita sepertinya.
"Selamat Pagi, hai Vya," ujar seseorang dari arah belakang.
Sontak saja aku menengok suara pria tersebut. "Oh... selamat pagi juga Rezky," jawabku.
Rezky menyamakan langkahnya denganku. Kami berjalan berdampingan menuju ruang kerja yang sama. Meski ada rasa canggung yang bergelayut dihatiku padanya. Namun, apa boleh buat. Rezky sang ketua tim divisiku, jadi bersikap se-profesional saja.
Aku sendiri tidak tau, apakah hubungannya dengan Andrew sudah membaik atau belum. Tidak ada keberanian untuk menanyakan hal itu. Terlebih semua gara-gara diriku. Padahal tidak ada satupun yang aku bela dari mereka. Lagi-lagi, aku hanya bersikap biasa saja. Agar tidak menimbulkan masalah baru nantinya.
"By the way, tadi cowok baru kamu Vya?" tanya Rezky padaku.
Kutelan ludahku dengan ngilu mendengar pertanyaan itu. Sangat berat sekali, untuk sekedar mengakui Haris sebagai kekasihku. Karena, rasa cintaku padanya tidak ada sama sekali.
"Vya?" ujar Rezky lagi.
"Ehh... sorry tadi nanya apa?" tanyaku kembali. Berpura-pura tidak mendengar pertanyaan sebelumnya.
"Emm... tadi diantar cowok baru kamu ya?"
"Bisa dibilang begitu."
"Kok gitu?"
"Hehe."
"Sorry Vya, nggak ada maksud kepo."
"Nggak apa-apa Rez."
"Yaudah lupain, lanjut jalan cepat yuk. Gue mau urus materi brif hari ini."
"Silahkan duluan aja, Rez."
"Nggak mau bareng?"
"Gue mau ke toilet dulu."
"Yaelah masih pagi juga. Yaudah gue duluan ya Vya."
"Hehe... iya Rez."
Aku bersyukur Rezky tidak mendesakku untuk menjawab lebih lanjut. Sepertinya ia mengerti, hal ini bukan porsinya untuk ikut campur. Aku hanya berharap Rezky tidak sampai menjatuhkan hatinya padaku. Itu saja.
__ADS_1
Aku menoleh ke segala penjuru gedung kantor. Batang hidung Sita belum juga terlihat. Sepertinya gadis itu akan datang siang lagi. Wanita yang pemalas itu memang sangat sering terlambat akhir-akhir ini. Membuatku merasa bersalah karena sering curhat sampai malam hari.
Yang ada aku malah menemukan sosok Andrew. Tengah duduk dikursi panjang yang sebentar lagi akan kulalui. Ia menatapku tajam sembari melipat kedua tangannya didepan. Seolah, memang sudah berencana menungguku disana.
Aku berdiam diri sebentar. Sama sepertiku, Andrew sudah mulai berbenah diri. Dirinya tak lagi kusut seperti yang aku minta kala itu. Rapih dan mungkin juga wangi. Sama halnya aku, riasan make up natural sudah bisa kupakai kembali.
Meskipun, hati masih hancur. Setidaknya kami bisa saling melihat perubahan yang lebih baik.
Seperti yang aku lakukan sebelum-sebelumnya. Sebisa mungkin bersikap sewajarnya. Mungkin sapa salam pagi, setelah itu berlalu pergi.
Baiklah! Aku lanjutkan langkahku melewati keberadaan Andrew.
Tampak Andrew yang sama sekali tidak bergeming. Bola matanya tidak melepaskan pandangan padaku. Sampai membuatku gusar dan risau sendiri. Apa lagi yang ia pikirkan tentangku?
"Selamat pagi," sapa salamku sesopan mungkin padanya, saat sudah sampai dihadapannya.
Andrew berdiri dari duduknya lalu menghampiriku. "Pagi juga Navya, apa kabar?"
"Baik kok hehe."
"Jadi..."
"Jadi apa?"
"Nggak, lupain aja hehe."
"Ya sudah kalau begitu."
"Ehh... nggak."
"Terus?"
"Jadi co-cowok itu yang bernama Haris?"
"Iya, baru tau?"
"Baru lihat mukanya. Kamu udah nyaman ya sama dia?"
Aku tersenyum simpul pada Andrew. Dengan harapan Andrew tidak menanyakan hal apapun lagi padaku. Terlebih soal Haris. Jika berlanjut, bisa berakibat fatal tentunya.
Mengingat Andrew pernah memaksaku berbicara padanya. Aku hanya tidak ingin, jarak yang kami bangun selama ini runtuh lagi. Biarlah, belokan jalan kami mengarah ke tujuan hidup yang berbeda.
Toh, dari awal tidak ada hubungan apa-apa.
"Ndrew, maaf ya. Aku harus duluan, ada sisan kerjaan kemarin yang belum selesai," pamitku pada Andrew guna menghindarinya.
"Ada apa lagi Ndrew?" tanyaku kemudian.
"Apa kamu udah bahagia, Navya?" tanya Andrew kembali.
"Lepas ya, nggak enak dilihat orang. Semua orang berhak bahagia Ndrew. Lagipula, sudah satu bulan, pelan-pelan aku bisa menerima Haris dengan baik. Thanks ya masih khawatir sama aku."
"Oh... sorry. Aku bersyukur kalau kamu sudah bahagia Vya."
"Semoga kamu juga bahagia, dan... pernikahan kalian berjalan lancar nantinya."
"Pernikahan?"
"Aku dengar sekelebat gosip itu hehe. Yaudah ya, aku duluan."
Andrew kembali meraih tanganku yang sempat ia lepas. Lalu menatapku dalam sekali. "Aku belum mau nikah Navya."
"Ehh... iya iya haha. Mungkin aku yang salah dengar."
"Sampai saat ini, aku masih berusaha kembali sama kamu."
Deg!
Jantungku seolah dihujam belati mendengar itu. Nyatanya, rasa cinta Andrew padaku masih ada. Bahkan harapannya untuk bersamaku masih ada juga. Namun, semua tidak akan bisa diubah lagi seperti sedia kala. Saat aku belum mengetahui apapun tentang hubungan Andrew.
"Sorry aku ada pekerjaan Ndrew," ujarku sembari melempar tangan Andrew dariku. "Satu lagi, kita nggak pernah punya hubungan apapun. Jadi, tidak ada rumus untuk kembali," lanjutku dengan tegas.
Aku membiarkan Andrew sendirian. Lalu bergegas masuk lebih dulu kedalam ruangan kami.
Setelah sampai, aku menunggu Rezky memimpin briefing pagi ini. Mengenai hal apa yang perlu dikerjakan untuk perusahaan dan lain sebagainya nanti.
"Pagi Baby," ujar Sita yang tiba-tiba datang menghampiriku.
Aku menoleh seketika padanya. "Hai, pagi juga Sita cantik."
"Gimana? Masih sama si Haris?"
"Masihlah sayang, bisa mati kalau nggak sama dia."
"Hmm... jalan Tuhan nggak ada yang tau ya Beb, padahal gue dulu udah nge-ship loe sama Andrew. Nggak taunya begitu juga."
__ADS_1
"Yah, namanya nggak jodoh Sit. Loe sendiri gimana?"
"Nggak gimana-gimana lah Beb, jomblo itu enak tau hehe. Mau deket sama siapaun, bebas!"
"Jatuhnya jadi ngasih harapan palsu lho Sit, hati-hati loe. Jaman sekarang, banyak orang jahat. Apalagi kalau sakit hati, bisa kena guna-guna loe."
"Iiiiiiiiihhhh... ngeri amat pikirannya Navya. Ya, janganlah. Jangan sampe ada kayak gituan."
"Mangkanya gue bilangin mulai sekarang. Ntar lebih parahnya lagi, loe dijodohin sama bokap loe kayak gue."
"No... No... No... jangan sampai deh Beb. Ehh... tapi kalau cowoknya kayak Jungkook, nggak apa-apa hehehe."
"Jungkook siapa?"
"Laaaahhh gimana sih? Masa' nggak tau member BTS paling cute imut itu sih, Beb."
"BTS? Sejak kapan loe demam K-Pop?"
"Sejak ketemu Jungkook dalam mimpikuh."
"Dihh... geli ah, halu banget sih. Astaga! Ini anak."
"Bukan halu, it's real. Gue bener-bener ketemu die orang di mimpi semalem. Aaaaaa... cuteee abis pokoknya."
"Terserah deh terserah."
Suara Sita serasa memekikkan gendang telingaku. Ia masih saja cempreng seperti biasa. Namun, segala tingkah konyolnya selalu membuatku tertawa.
Sampai akhirnya Rezky datang. Hendak memulai briefingnya pagi ini. Pesona kepemimpinannya begitu berkharisma. Masuk dalam kategori idaman, aku rasa. Namun, bukan untukku. Untuk wanita yang baik seperti dirinya tentunya.
Sebelum Rezky selesai berkata, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan kami. Rezky pun segera mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
Bagaikan tersambar petir dipagi hari, bola mataku terbelalak hebat. Orang tersebut adalah Affandy. Ia berpakaian rapi dengan setelan blazer dan celana kerja. Tatanan rambutnya sangat modis.
Tapi untuk apa ia datang kemari? Mana mungkin jika karyawan baru dengan setelan baju sebagus itu seperti seorang direktur.
"Selamat pagi," ujar Affandy.
"Selamat pagi, Pak," jawab serempak kami semua.
"Maaf ya saya mengganggu sebentar. Perkenalkan nama saya Affandy Arlando, salah seorang Dewan Direksi perusahaan ini yang bertempat diluar negeri. Yaitu Singapura. Kedatangan saya kemari, ingin menyampaikan sedikit saja. Maaf, agak aneh ya. Rasanya kurang puas saja, kalau tidak menyampaikan secara langsung. Jadi, kami membuka kesempatan peningkatan karir di Singapura. Oleh karena itu, saya berharap ada apresiasi tentang hal ini. Ada yang berminat pula bekerja dan meningkatkan karir di kantor cabang luar negeri. Mungkin, yang bersedia bisa langsung menghubungi ketua team atau langsung pada saya. Kemudian kami akan melakukan tes terlebih dahulu nantinya. Sepertinya cukup sekian ya, terima kasih atas perhatian kalian semua. Selamat pagi," jelas Affandy.
Semua rekan kerjaku mulai berdiskusi satu sama lain. Ada yang ingin ikut, namun kebanyakan tidak ingin. Yang aku tangkap, mereka beralasan terlalu jauh. Rasa nyaman disini pun menjadi salah satunya.
Sedangkan aku masih diam bingung. Masih tidak menyangka bahwa Affandy adalah salah satu petinggi perusahaan. Dan itu di Singapura sana. Hebat sekali, aku bisa mengenalnya.
Setelah berbincang sebentar dengan Rezky, Affandy baru beranjak keluar. Sebelum itu, ia menatapku sembari memberikan senyum simpul untukku. Aku terkesiap dengan hal itu. Beberapa orang yang memperhatikan kami, langsung melayangkan pandangan heran padaku.
Aku malu.
Tak disangka Andrew memperhatikannya juga. Ketika kutatap dirinya, Andrew segera menunduk. Sepertinya masih ada rasa cemburu disudut relung hatinya. Biarlah, sudah bukan urusanku juga.
"Ciee... kalau cakep mah enak ya Beb," celetuk Sita menggodaku.
"Apaan sih?" balasku.
"Itu tadi Pak Affandy langsung ngasih senyuman buat loe Beb."
"Sit, gue kenal siapa dia."
"Ehh... maksud loe?"
"Hmm... pelan aja. Dialah yang nolongin gue dari kejaran Haris satu bulan yang lalu."
"Haaaah??? Sesempit itukah dunia, jangan-jangan kalian emang jodoh?"
"Sembarangan! Mana mungkin, baru juga kenal."
"Pantes ngasih senyuman gitu, tapi kalian ada kontak?"
"Ada sering chatting juga."
"Yaaaa aaammpuuun... emang udah jodoh berarti."
"Ssstttt... kenceng amat!"
"Sorry... sorry... hehehe."
Affandy Arlando, nama yang bagus. Dewan direksi, posisi yang bagus juga. Lalu, wajahnya juga cukup manis. Siapapun pasti terpana melihat dirinya. Tidak sepertiku yang masih menjadi budak cintanya Andrew dan terjerat tali perjodohan dengan Haris.
Andrew ya? Sepertinya ia baru saja mencuri dengar perbincanganku dengan Sita. Ia amsih saja ingin tau tentang aku. Terbukti, saat beberapa kali kutangkap muka masamnya padaku. Tenggorokannya terlihat menelan ludah dengan ngilu.
Aku tau Andrew sedang cemburu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like+komen