Who Is My Love

Who Is My Love
Bantuan


__ADS_3

Aku mencacah hidangan mewah yang telah dipesankan oleh Affandy untukku. Tidak asa selera, bahkan untuk sekedar mencicipnya. Terlalu banyak yang memenuhi pikiranku sampai membuat hatiku enggan untuk tenang. Aku menyesal, perasaan itu yang datang pada saat mengingat lagi perbuatanku terhadap Linseyld. Kini malah bercampur dengan rasa khawatir. Bagaimana jika aku dituntut atas dasar penganiayaan? Dikeluarkan dari perusahaan dan menjadi gelandangan di negara orang. Apalagi hutang papa belum berhasil aku lunasi.


Disisi lain, kekhawatiranku adalah menyangkut Andrew. Lebih dari lima puluh panggilang tidak terjawab darinya yang masuk ke dalam ponselku. Sepertinya ia telah kembali pulang dan sedang mencariku. Hal itu bercampur menjadi satu dengan ketakutanku. Niat untuk menyantap lahap hidangan gratis dari Affandy menjadi hilang seketika itu juga.


Affandy mau bantuin gue nggak ya?


Aku menggigit bibir bawahku sembari melirik atasanku tersebut secara diam-diam. Ia tampak sangat menikmati makananya sembari asyik bermain ponsel. Sepertinya ia sudah memiliki seorang kekasih. Terbukti saat beberapa kali ia menyunggingkan senyum yang menurutku sangat menggelikan, sebagai tanda seorang pria yang sedang kasmaran. Lantas, apa maksudnya ia membawaku datang ke tempat ini. Bahkan, sejak tadi ia belum kunjung menanyakan perihal pertengkaranku dengan Linseyld.


Tiba-tiba Affandy berdeham. Ia hentikan gerak tangannya yang sedang menyuap makanan. Sepertinya ia tengah tersedak. Diambilnya gelas yang berisi air putih dan mulai menyesapnya. Dahinya berkerut pada saat menatap piring makananku yang masih penuh. "Kenapa? Belum dimakan sama sekali? Nggak enak ya?" tanyanya kemudian.


Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak, nggak ada selera aja," jawabku.


"Kenapa? Maaf, aku terlalu cuekin kamu kayaknya. Nggak nyaman ya?"


"Aku paham orang yang lagi jatuh cinta."


"Aih ... enggak gitu kok. Aku pikir, kamu bisa makan dulu dengan nyaman. Setelah itu, baru kasih penjelasan padaku."


"Bungkus aja deh, Fandy. Sayang banget ini, entar aku makan di rumah."


"Kamu pikir ini warteg?"


"Nggak ada bedanya. Harganya doang yang beda."


"Jangan mikirin harga, aku yang traktir. Makan dulu, hargai aku."


Mendengar penuturan dari Affandy, rasanya membuatku tidak nyaman. Ia sudah susah payah membawaku ke tempat ini dan mungkin ingin membantuku menenangkan diri. Akhirnya aku memutuskan untuk mulai menyantap hidangan yang telah ia pesankan untukku. Affandy hanya tersenyum, aktivitasnya dalam bermain ponsel sudah ia hentikan.


Sembari bersantap, aku memandangi suasana di luar sana. Hari sudah mulai petang. Sang surya sudah tenggelam secara sempurna. Hatiku semakin gelisah dibuatnya. Sampai saat ini, aku belum mengatakan apapun perihal pertengkaranku kepada Affandy. Pasti Andrew sedang kebingungan sekarang. Aku belum berani membalas pesan-pesan darinya. Oh, aku ingin semua cepat berakhir dan bisa kudapatkan jalan keluar.


"Hei, Vya." Affandy memanggilku tanpa memandang wajahku. Ia masih asyik mengiris daging steak yang lumayan besar di piring kedua. Orang ini selera makannya besar juga.


"Ya, ada apa?" tanyaku kembali demi memastikan perihal apa yang ia maksudkan.


"Kamu hebat ya? Mantanmu seorang petinggi. Anak konglomerat, investor baru yang luar biasa hartanya."


"Emangnya kenapa? Waktu itu dia hanya seorang cowok kecil yang manja, karna kaya, dia enggan cari kerja."


"Maklum, tanpa kerja hartanya juga banyak."


"Buat apa banyak harta kalau nggak setia?"


Seketika Affandy langsung memandangku penuh tanda tanya. Aku hanya membalasnya dengan raut wajah yang datar. Aku sudah muak jika berbicara tentang harta. Mengapa uang dan harta menjadi tolok ukur utama untuk menilai seseorang? Bukan hanya itu, bahkan untuk dikagumi. Apalagi orang pintar sekelas Affandy.


Meski kaya raya, Nevan telah memutuskan hubungannya denganku secara sepihak tanpa kejelasan. Jika dipikirkan lagi, rasanya sangat sakit bak disengat ribuan lebah. Lalu, beberapa hari setelah itu, aku malah mendapatinya sedang bermesraan dengan wanita lain. Memuakkan!


"Kayaknya kamu benci banget sama Tuan Nevan?"


"Biasa aja."


"Tapi Navya, bukannya Andrew juga pernah mengkhianatimu?"


Dahiku berkerut seketika. "Kamu tahu dari mana?"

__ADS_1


"Emm ... sebenarnya, dulu waktu aku masih menyukaimu, aku banyak mencari tahu tentang kamu. Terlebih tentang Andrew yang kata kamu bisa dibilang mantan walaupun bukan."


"Dari siapa? Rezky?"


Affandy tidak menjawab. Hal itu membuatku yakin, bahwa info yang ia dapatkan adalah dari Rezky. Jika aku ingat lagi, aku tidak pernah membahas masalah Andrew bersama dirinya. Hanya masalah Haris pada saat itu. Tampaknya, ia dulu pernah benar-benar menyukaiku. Namun kembali ragu pada saat bertemu Kak Kate lagi. Pria kurang ajar, bukan? Meski begitu, ia masih saja mengatai sebagai wanita yang labil.


Kuhela napasku dalam, diiringi hembusannya kembali. Tampaknya aku perlu meluruskan sesuatu untuk membersihkan nama Andrew di benak Affandy. Meski aku tahu, Andrew juga bersalah, namun aku juga memiliki banyak kesalahan kepadanya.


"Asal kamu tahu, Fandy. Cowok itu berjuangnya kayak gimana, sampe buntutin aku ke negara ini. Satu hal yang nggak pernah bisa aku rasain gimana rasanya jadi dia," jelasku.


"Berjuang?" Dahi Affandy sedang mengernyit. Mungkin karena heran, meski ia sudah tahu akan perasaan Andrew terhadap diriku.


Aku kembali mengangguk pelan. Kuhentikan aktivitas bersantapku. Disisi untuk menjawab pertanyaan darinya, aku juga sudah merasa kenyang. "Kamu pasti tahu gimana perasaan Andrew padaku. Bahkan dia selalu nggak suka kalau aku deket kamu. Kesabaran dan ketulusan yang masih dia berikan padaku sampai saat ini. Aku terus-terusan menolak kembali, dia kayak orang gila."


"Separah itukah? Bukannya itu karna kesalahan Andrew sendiri? Sebenarnya apa yang dia lakuin sampe kamu nggak mau terima lagi?"


"Itu masalah pribadi kami. Yang pasti, Andrew maupun aku, kami benar-benar hancur dan sulit melupakan. Sampai beberapa minggu lamanya, dia kayak orang nggak terurus. Pakaian berantakan nggak jelas, rambut nggak pernah disisir. Dia hampir gila dan melampiaskan pada minuman."


"Oh, bucin parah."


"Sampe akhirnya, aku terima dia lagi. Sekaligus meras cemburu pas dia ditaksir cewek. Ceweknya yang tadi itu, disitu aku mulai sadar diri. Aku nggak bisa kehilangan dia lagi."


"Cewek tadi? Gegara Andrew doang? Astaga, Navya. Kamu hampir berbuat hal gila cuma gara-gara cowok lho."


"Bukan!" Aku menegaskan jika bukan karena Andrew, aku bisa mengamuk seperti tadi. Meski ada hubungannya dengannya, namun wanita itu sudah membawa-bawa nama orang tua. Siapa yang tidak akan geram jika orang tua kita turut dihina hanya karena obsesinya terhadap kekasih orang? Meski perbuatanku tetap salah, namun aku memiliki satu pembelaan untuk masalah itu.


Affandy yang masih tertegun, aku biarkan begitu saja. Kubiarkan dirinya berpikir sendiri. Tampaknya ia masih belum bisa menyukai Andrew, seperti halnya Andrew. Sebenarnya ada apa dengan kedua pria tersebut? Toh, tidak ada lagi persaingan tentang wanita. Aku telah memilih Andrew. Sedangkan Affandy, aku rasa ia telah menemukan tambatan hati. Entah Kak Kate, atau orang lain. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu.


Tak lama kemudian, Affandy telah menyelesaikan bersantapnya. Ia menyesap air putih. Ia menggeser piring yang telah kosong. Lalu, meletakkan kedua sikunya di atas meja sembari mengepalkan kedua telapak tangannya.


"Cukup sepele, tapi sangat menyakitkan. Dia menghina ibuku dengan sebutan ibu munafik, menghina kedua orang tuaku karna nggak berhasil mendidik diriku dengan baik. Apa aku nggak pantes buat marah?"


Affandy tertunduk. "Kalau aku diposisi kamu, pasti akan lebih marah lagi."


"Alasan dibaliknya, aku rasa dia mau agar aku merasa hina pada diri sendiri. Merasa nggak pantes buat bersanding dengan Andrew."


"Kekanakan sekali. Aku ngerti kok, kamu yang sabar ya? Aku rasa, yang dialami Andrew pada saat dulu hampir sama kayak kamu."


"Emm ... lalu, lalu soal hukuman? Kamu mau hukum aku pake cara apa? Jangan-jangan mau dipecat?"


Affandy tersenyum saja. Ia tidak langsung menjawab. Hal itu membuatku kembali gelisah. Aku takut jika ia benar-benar memecat diriku. Mau bagaimanapun, aku masih membutuhkan pekerjaan ini. Mau makan apa, aku nanti jika tidak memiliki pekerjaan. Terlebih, aku harus mencari pekerjaan dimana lagi kalau sampai hal itu terjadi. Hidupku masih bergantung pada perusahaan itu. Bahkan bukan hanya diriku, melainkan kedua orang tuaku dan juga Bi Emi beserta Cika.


Bagaimana caranya menjilat seseorang? Tidak mungkin aku menjual diriku kepada Affandy. Tidak mungkin aku merayu dirinya hanya untuk semacam pembelaan semata. Seburuk apapun diriku, aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Lantas, apa yang bisa aku barter untuk mendapatkannya?


"SP satu, Navya."


"Apa?!" Aku terkejut bukan kepalang sekaligus bersyukur setelahnya. Hanya surat peringatan satu, teramat ringan sebagai hukuman kriminalku. Senyum lega bisa aku sunggingkan di bibirku. "Kamu serius hanya itu?"


Affandy mengangguk. "Ya, hukuman ini berlaku selama tiga bulan. Jika selama itu, kamu nggak bikin masalah maka kamu terbebas. Kalau ada lagi, otomatis bisa menjadi pertimbangan kami."


"Baik! Saya tidak akan mengulanginya lagi, Pak!" Aku sampai berdiri dari dudukku lantaran terlalu senang.


"Udah duduk aja. Jangan terlalu formal kalau lagi berdua di luar kantor. Emm ... sebenarnya bisa aja sih, aku nggak kasih kamu hukuman. Tapi, rasanya agak nggak wajar. Nanti malah timbul fitnah nggak baik."

__ADS_1


"I-iya. Aku pikir kamu bakal pecat aku."


"Koneksi orang dalam itu luar biasa 'kan, Vya? Beruntung kamu kenal baik sama aku, hidupmu banyak drama yang nggak terduga."


"Ya, ya, sekali lagi makasih ya, Fandy."


"Emangnya kamu tadi udah bilang makasih? Kok sekali lagi?"


"Eh, ah, hehe. Iya, maaf, aku lupa."


"Dasar, ya udah. Ayo aku antar pulang, nanti dicariin kesayangan kamu."


Aku mengangguk pelan. Affandy memanggil salah satu pelayan guna membayar biaya makanan yang telah dipesan dan dimakan. Akhirnya semua selesai, aku masih bisa bekerja di tempat itu. Tugasku hanya menghindari Linseyld dan meningkatkan kesabaranku lagi. Kini tinggal menjelaskan semuanya kepada Andrew, pasti ia akan marah-marah lagi. Apalagi saat mengetahui aku bersama Affandy. Duh, ceramah panjang bisa aku dapatkan.


Selepas melakukan pembayaran, aku dan Affandy beranjak berdiri. Kami mengambil langkah untuk pergi dari sini untuk menuju ke area parkir dimana mobil milik Affandy berada. Tidak terasa, malam telah tiba. Kutilik waktu pada jam tangan yang aku pakai, ternyata sudah hampir jam tujuh. Astaga! Setelah ini, Andrew pasti marah besar. Aku berharap ia bisa menerima alasan dibalik menghilangnya diriku.


"Tunggu!" pekikku. Kuhentikan langkahku seketika itu juga. Tiba-tiba, terlintas satu masalah lagi dari dalam benakku.


Affandy mengernyitkan dahinya lantaran heran. "Apalagi, Navya?" tanyanya.


"Emm ... ka-kalau aku dituntut Linseyld, gimana dong? Aku tadi ngamuknya parah, Fandy."


"Nggak bakalan. Urusan hukum itu ribet, apalagi kalian bertengkar di ruang yang jarang digunakan. Nggak ada rekaman apapun, dia nggak mungkin berani berurusan sama polisi. Yang ada malah dikeluarkan dari perusahaan karna telah membuat nama buruk pihak perusahaan."


"Hah? Kok gitu? Perusahaan nggak melindungi dong jadinya?"


"Bukan gitu, kan ada bimbingan konseling buat karyawan. Ditanya dulu, habis itu kalau parah baru melapor. Tenang aja soal ini, aku bisa atasi. Nggak akan ada hal semacam ini."


"Yakin?"


"Iya, Vya. Yakin banget. Udah yuk."


Baiklah, jika Affandy yang berkata, aku rasa ada benarnya. Meski masih gelisah pada hal ini, aku tetap bersikap lebih tenang dan membuang semua pemikiran negatif. Langkah yang sempat terhenti, kini kembali dilanjutkan.


Tidak membutuhkan waktu lama, kami telah sampai dihadapan mobil mewah milik atasanku ini. Aku menolak saat ia hendak membukakan pintu untukku, rasanya sangat tidak pantas jika dilakukan kepadaku. Mungkin Kak Kate akan lebih cocok mendapatkan perhatian dari Affandy, meski aku tidak tahu mengenai tambatan baru Affandy saat ini. Aku berharap orang itu adalah Kak Kate. Dengan begitu kakak cantik itu bisa mengurungkan niatnya untuk pulang ke Indonesia. Terlebih, dirinya yang banyak berjuang dalam menemani seorang Affandy.


Mobil yang sudah dilaju oleh sang pemiliknya, kini berada di tengah-tengah jalan aspal yang sangat panjang. Gemerlap lampu-lampu mulai tampak, dikarenakan hari juga sudah gelap. Pelan, bunyi lantunan lagu melankolis milik penyanyi barat menemani kami didalam mobil ini. Tidak ada lagi pembahasan tentang sesuatu. Aku sangat bersyukur Affandy bersedia membantuku. Bahkan, banyak hal yang ia bantu dari masalah-masalah yang menerpaku, meskipun diriku terbilang bukan siapa-siapa baginya.


"Emm ...." Aku berusaha mencari topik pembicaraan. Namun entah apa, aku tidak pandai merangkai kata.


"Apa?" balasnya.


"Makasih ya, buat semuanya. Sejak awal kita bertemu, bahkan kamu jadi penolongku saat kebur dari Haris pada saat itu. A-aku masih nggak nyangka pertemuan kita berlanjut sampe sekarang. Bahkan, kamu yang ngasih aku pekerjaan bagus."


Affandy terdiam sejenak. Kemudian kembali berkata, "jujur, aku dulu berniat macarin kamu. Serius. Terlepas dari semua masalahku dan Kate, aku beneran suka sama kamu, Vya."


"Haha ... jangan dibahas lagi."


"Emm ... mungkin karna kamu cantik. Aku nggak munafik, setiap cowok pasti kagum kalau lihat cewek cantik. Aku pikir kamu adalah seseorang yang dikirim Tuhan padaku, dengan begitu aku bisa move on dari Kate."


"BTW, hubungan kamu sama Kak Kate itu gimana?"


"Rumit." Hanya sebatas itu jawaban Affandy mengenai pertanyaanku. Disini, aku menyadari, sepertinya aku malah terlihat seperti ikut campur.

__ADS_1


Sampai akhirnya, aku memilih diam. Lagipula aku juga enggan untuk membahas perasaannya kepadaku. Terlebih, hanya sebatas perasaan pelarian. Aku tidak ingin memperkeruh hubungan kami yang telah membaik hanya karena hal tersebut.


Bersambung ...


__ADS_2