
****
"Katanya kamu mau istirahat?" tanya Affandy kemudian.
"Yeah, yang nyuruh bohong si Andrew sih hehe. Sorry, Fan," jawabku santai.
"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Andrew.
Affandy salah tingkah seketika. "Ti-tidak kok."
Lalu, tanpa persetujuanku Andrew merangkul pundakku dari belakang. Sontak, aku menatap ke arahnya. Ia menyengir saja. Sepertinya ia ingin menunjukkan kedekatan kami. Namun, entah mengapa aku malah menerima karena merasa asyik saja. Aku melipat kedua tanganku ke depan. Sedangkan wanita yang bersama Affandy tampak memberikan tatapan begitu tajam, ia melihatku dari atas ke bawah, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang menggelikan.
Berbicara tentang wanita itu, tampaknya ia juga orang Indonesia. Teman or pacar milik Affandy mungkin. Karena lama-lama tidak enak hati karena terus dijadikan sebagai objek penglihatan, akhirnya aku memutuskan untuk menjulurkan tangan. "Hai, gue Navya. Loe orang Indo juga kan?" ujarku sembari memperkenalkan diri.
"Emm... dia Kate, orang Indo juga Navya," jawab Affandy.
Why? Mengapa harus Affandy yang menjawab? Se-begitukah pentingnya wanita itu? Ah... aku pun tidak peduli, karena memang bukan urusanku. Yang terpenting aku sudah bersikap baik dengan cara memperkenalkan diri. Seketika itu, aku menarik tanganku kembali. Mungkin wanita itu melihatku dan Andrew karena merasa jijik, lantaran kami seperti gembel di kota besar ini. Yah, memang tidak ada salahnya juga. Kalau ditilik kembali ke sekeliling kami, semua orang perpakaian dengan rapi. Aku rasa, para pegawai kantor.
Aku menatap Andrew yang sedang berperang mata dengan Affandy. Kemudian, aku mencubit lengannya agar ia menghentikan tingkahnya. Ia pun mengaduh sakit karena ulahku. Namun, aku hanya menyengir tanpa rasa bersalah.
"Ehemm...," deham wanita itu. "I'm Kate, sekretaris pribadinya Pak Affandy dan juga sa-"
"Yah, dia sekretarisku, Navya," potong Affandy tiba-tiba.
Aku manggut-manggut saja. Fokusku malah kembali menatap wanita itu, maksudku Kate yang sedang bermuka masam. Sepertinya ada sesuatu yang menarik diantara mereka. Affandy yang gugup, Kate yang kesal. Aku cukup dibuat penasaran, namun tetap bertindak sesuai posisiku disini. Jika dipikirkan lagi, wajar saja jika ada sesuatu diantara mereka. Affandy cukup manis, masa depan terjamin, pasti ia pun memiliki beberapa kriteria dalam mencari wanita.
Sedangkan Kate cukup cantik, mungkin jika aku sedang berdandan kami bisa setara. Ia jauh lebih berisi badannya dan fashionable tentunya. Intinya Kate sangat cantik, jauh lebih cantik dariku untuk saat ini. Jadi wajar saja, jika ia merasa jijik dengan diriku dan juga Andrew.
"Oke, baik! Kami permisi dulu ya, Pak," pamit Andrew sembari merekatkan lengan tangannya dipundakku.
"Emm... ya, keburu nggak ada taksi, Fandy. Emm... duluan ya Kate, selama berkencan," pamitku sembari menggoda.
"Uh... bu-bukan kencan kok," jawab Affandy.
Kate semakin menatap aku dan Andrew dengan nanar. "Sudah malam, kalian pulang saja. Hari ini masih hari pertama, besok masih ada kerjaan lebih banyak lagi," katanya.
"Oke!" jawabku dan Andrew secara bersamaan.
Selepas itu kami berdua melanjutkan langkah lagi untuk meninggalkan restoran ini. Sedangkan Affandy ditarik oleh Kate untuk duduk tatkala aku melirik sekilas saja. Aku sampai menyunggingkan senyuman karena merasa lucu. Selama dibohongi macam-macam orang, kini aku lebih peka terhadap kebohongan para pria. Meski aku masih tidak tahu apa yang disembunyika. oleh Affandy, namun aku tahu ia sedang menyembunyikan sesuatu dariku ataupun Andrew. Yah, tidak masalah asal tidak membuatku rugi.
Aku membeli beberapa cemilan kecil terlebih dahulu untuk diriku ataupun Raya dan Sinta. Anggap saja sebagai tanda perkenalan kami yang belum sempat dirayakan. Kali ini, aku juga diam-diam membelikan beberapa bungkus teruntuk lelaki yang kini sedang berjalan-jalan bersamaku. Ah... rasanya sedikit aneh. Setelah menolak ajakan keliling Singapura dari Affandy, kini aku malah bersama Andrew. Dan itupun aku yang mengajaknya. Apakah sosok Andrew masih yang nomor satu di hatiku?
Halah... lupain soal perasaan semacam itu. Yang penting bahagia dulu deh kita.
Setelah berhasil mendapatkan bungkusan cemilan, aku dan Andrew kembali mengambil langkah. Kami menuju ke satu titik yang tepat untuk mencari taksi. Sedangkan bintang-bintang diatas langit masih berkarlap-kerlip. Sesuai dengan perasaanku hari ini. Meski aku masih mengemban tugas tentang hutang, entah mengapa saat ini aku benar-benar merasa bebas. Ya! Aku memang susah bebas.
Tak lama kemudian datang salah satu taksi. Andrew menyetop kendaraan tersebut. Dan akhirnya sang driver menghentikan laju mobilnya tepat dihadapan kami. Setelah itu, kami melangkah ke dalam. Tentunya aku yang lebih dulu, dan disusul Andrew kemudian. Selanjutnya driver menanyakan alamat yang dituju. Aku melupakan tentang itu, beruntungnya Andrew cukup pintar dan lebih teliti. Perlahan namun pasti, kendaraan mulai dilaju meninggalkan tempat ini.
Di sepanjang perjalanan, yang sebelumnya biasa saja, kini malah terbayang. Ada rasa penasaran tersendiri mengenai Affandy dan wanitanya itu. Apa hubungan mereka berdua? Mengapa Affandy seolah tidak ingin aku tahu? Apakah semua pria seperti itu? Setelah Nevan, Andrew dan sekarang Affandy. Apa mereka memperlakukan wanita seenaknya saja? Oh... kalau begini caranya, lama-lama aku tidak menyukai pria.
Aku memang tidak menaruh sedikitpun perasaan kepada Affandy, hanya saja ia menorehkan satu lagi kebusukan tentang seorang lelaki. Aku jadi riskan untuk menjalin hubungan disuatu saat nanti. Bagaimana tidak? Aku sudah terluka berkali-kali. Namun, ada satu sosok pria yang menyesalkan atas semua yang ia lakukan. Siapa lagi kalau bukan Andrew. Lantas, aku menatapnya yang tengah asyik memandang suasana luar. Apakah Andrew benar-benar berubah? Apa aku bisa memberinya kesempatan lagi? Daripada membuat dirinya terombang-ambing seperti ini.
Ia juga manusia yang memiliki hati dan pastinya semua penyesalan bukan main-main semata. Tidak mungkin ia mengorbankan segala hal hanya demi diriku. Namun, jika kami kembali, apa aku pantas memilikinya? Aku wanita yang sudah rusak mentalnya karena terlalu banyak mengemban masalah dan trauma. Entahlah, aku belum bisa memutuskan apapun. Lagipula tekadku hanya untuk papa.
"Kenapa, Vya?" tanya Andrew tiba-tiba, sepertinya ia tahu aku sedang memperhatikan dirinya.
"Enggak," jawabku sekenanya.
__ADS_1
Lantas, ia menolehku sembari menatap wajahku. "Loe kenapa? Bilang sama gue, gue bakal lakuin apapun asal loe nyaman."
"Emm... kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Nggak, lupain."
"Kenapa, Navya? Ngomong sama gue."
"Kenapa loe banyak berkorban demi gue? Apa yang loe lihat dari gue, Ndrew? Kenapa nggak cari cewek lain yang lebih segalanya? Kenapa harus gue dan gue lagi?"
Andrew menghela dan menghembuskan napas begitu panjang. Ia menggenggam tanganku lagi. "Gue juga manusia yang memiliki rasa penyesalan. Kalau loe tanya kenapa gue suka sama loe, gue pun nggak tahu. Gue bukan tipikal lelaki yang mudah jatuh cinta. Kenapa waktu itu gue berbohong? Karna gue nggak mau loe pergi dari sisi gue, tapi bukan berarti gue mau loe sama Lusi."
"Jadi?"
"Hubungan gue udah empat tahun, Navya. Hubungan kami terbilang baik-baik aja hanya kurang dari tiga tahun. Tapi, kenapa gue nggak mutusin dia? Karna gue menghargai dia. Dan saat loe dateng, dia menghilang yang gue pikir nggak akan kembali lagi. Ah... kita udah ngomongin ini berkali-kali, Navya. Mungkin buat loe, gue ini buruk banget dan nggak termaafkan. Tapi, gue bener-bener menyesal. Gue udah jatuh cinta sama kamuu, Navya."
Aku terdiam. Teringat akan kata seseorang, Tuhan saja maha memaafkan, lalu mengapa seorang hamba bodoh sepertiku tidak bisa melakukan itu? Sebenarnya apa yang ada di hatiku tentang Andrew? Mengapa sampai sekarang aku masih bisa bersamanya? Padahal sebenarnya aku tidak perlu memperlakukan Andrew seperti ini. Aku ini tokoh utama dalam ceritaku sendiri yang bodoh, tidak seperti tokoh utama dicerita orang lain yang selalu pintar dan baik hati.
Ah... semua perasaan semacam ini akhirnya datang lagi. Tampaknya perubahan dalam diriku memang memerlukan waktu yang lama untuk memupuknya menjadi orang lain. Aku tidak tahu, mengapa Tuhan memberikan sifat plin-plan seperti ini kepadaku. Apakah wanita diluaran sana, pernah mengalami perasaan galau semacam ini? Atau hanya diriku saja?
"Andrew?" Kusebut namanya kemudian.
"Ya, kenapa?" tanyanya kembali.
"Kalau kita bisa bersama lagi, apakah loe yakin nggak bohong lagi?Apa gue juga bisa berubah?"
"Gue nggak akan bohong lagi. Sedang Navya akan berubah lebih baik lagi. Kenapa tanya gitu? Mau nerima gue lagi?"
Aku menggeleng. "Gue belum siap menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi gue yang terlalu jahat sama loe. Gue nggak nyaman dalam keadaan seperti ini terus menerus. Terlebih kita masih sering menghabiskan waktu bersama. Gue merasa bersalah."
Hingga pada akhirnya, taksi sampai di kediamanku dan Andrew. Aku segera mencegah gerak tangan Andrew untuk membayarkan ongkos, lantaran ia sudah terlalu banyak pengeluaran malam ini. Setelah ia menyerah akan permintaanku, akhirnya aku memutuskan untuk membayarkan ongkos itu. Kami melangkah bersama memasuki gerbang rumah dari perusahaan tempat kami bekerja ini dalam keadaan yang masih saling diam.
Sampai akhirnya, Andrew meraih tanganku saat aku hendak menaiki tangga. Tepatnya saat aku hendak berbalik badan demi memberikan cemilan yang kubelikan untuknya. "Nih," ujarku kami bersamaan sembari saling memberikan sebuah kantong.
"Apa ini?" Bahkan ketika kami hendak menanyakan maksud akan barang itu, kami bertanya secara bersamaan.
"Emm... buat ngemil sama temen-temen lain, Navya," ujar Andrew.
"Haah? Gue aja beliin buat loe kok."
"Yaudah bawa aja, semuanya. Jangan kasih gue."
"Emang kita-kita anak kerbau, ngemilnya banyak?"
"Kan buat besok-besok lagi bisa, Navyaaaa."
"Nggak, pokoknya loe aja yang terima ini. Tadi makan dan ongkos taksi pake duit loe semua. Terus gue juga udah beli banyak buat Raya dan Sinta. So, buat loe aja. Pokoknya diterima."
"Hmm... enggak."
"Andrew?!"
"Apa?"
Andrew masih bersikeras tidak mau menerima semua pemberianku. Rasanya kesal sekali, seolah usahaku tidak dihargai. Meskipun, tanpa aku ketahui, ia pun membelikannya untukku. Namun, aku tetap ingin ia menerima ini.
__ADS_1
Kami saling memandang berperang mata. Aku cemberut diam, sedangkan ia masih mendesak diriku untuk menerimanya. Lelaki ini memang selalu mengutamakan diriku. Budak cintaku yang luar biasa tergila-gila padaku. Bahkan ia tidak memperdulikan penampilanku yang di mata orang lain begitu buruk. Yah, sejak aku mengenalnya, sejak aku mencintainya pun, ia selalu mengalah dan mengalah.
Aku menghela napas dalam-dalam. "Oke, gue terima. Tapi, loe juga harus terima ini," usulku kemudian."
"Yaudah, kalau itu yang bikin seorang Navya nyaman," jawabnya sembari menyerahkan kantong plastik itu, begitupun diriku.
"Navya?"
"Ya?"
"Apa gue bener-bener bikin loe nggak nyaman?"
"Hmm... yeah."
Andrew menghela dan menghembuskan napasnya terlebih dahulu. Kemudian ia mulai bersuara lagi, "sampai detik inipun, loe satu-satunya yang gue cintai, Navya. Gue sayang banget sama loe. Entah ini gila atau berlebihan, tapi ini bukan obsesi. Seandainya loe suruh gue buat nunggu pun gue siap sedia."
"Lalu?"
"Tapi, selama ini loe selalu mendesak supaya gue cari orang lain. Navya, itu hal yang sulit buat gue. Gue tahu loe masih menyimpan cinta sama gue."
Andrew meraih satu telapak tanganku. Sepertinya ada hal yang akan ia sampaikan dengan serius. Apa ia akan menyerah? Entahlah, aku cukup menunggu ucapan selanjutnya dari dirinya. Aku terus menatap dirinya dengan maksud agar ia segera berterus terang.
Sedangkan, rasa risau semakin melambung tinggi. Ada sesuatu yang aku khawatirkan, namun aku tidak tahu mengenai apa. Andrew semakin mendekatkan dirinya padaku. Lantas, ia melepas genggamannya dan malah menangkup wajahku. Tengkukku kaku karena merasa terkejut. Pada akhirnya ia kembali berbuat curang pada bibirku. Aku bahkan tidak bisa menutup mataku dan membiarkan terbuka lebar dengan kantong-kantong cemilan yang berjatuhan dari tanganku. Ya! Andrew mendapatkan bibirku tanpa persetujuanku.
Aku terengah-engah dan terdiam seribu bahasa. Ia menarik dirinya, sedangkan aku masih diam terpaku. Apa ini? Apa yang ia lakukan? Pada akhirnya Andrew tidak bisa menahan dirinya saat bersamaku. Dan sialnya, aku malah mematung seperti ini tanpa bisa menolak. What the hell???
"Navya?" panggilnya lagi.
"Ya, ya, yaaaa!" jawabku tersentak kaget.
"Maaf, gue hanyut lagi. Bisa jadi ini yang terakhir."
"Maksud loe?"
"Kita mulai rencana loe."
"Apa?"
"Gue akan cari cewek lain mulai besok. Silahkan cari cowok lain besok. Kita akan saling menyakiti ataupun menyadarkan dengan cara ini sesuai apa yang loe mau."
"Haah?"
"Tapi, pada suatu saat nanti, kalau pada akhirnya kita masih nggak bisa saling melupakan jangan pernah menghindar lagi, Navya. Dan... kalau pada akhirnya gue bisa cari orang lain, loe harus terima itu meskipun loe masih cinta sama gue. Begitupun akuu pada dirimu."
Aku menatap Andrew dalam-dalam. Kucoba mencerna semua perkataannya. Yang aku tangkap disini adalah ia ingin mencoba melakukan sesuatu yang terus aku sarankan. Dan aku pun begitu. Namun, jika pada akhirnya kami masih saling mencintai, aku tidak boleh menghindar lagi. Dan saat aku masih mencintainya, sedangkan dirinya telah bersama orang lain, aku harus menerimannya sebagai karma. Begitupun sebaliknya dengan Andrew.
"O-oke," jawabku.
"Hmm... baik. Mulai hari ini gue nggak akan desak loe lagi. Esok hari kita akan menjadi teman biasa. Kita akan saling mencari yang terbaik buat diri kita.
"Ya!"
"Ini berat, karna gue masih sayang sama loe. Tapi, ini selalu loe mau, Navya."
"...."
Di bawah langit gelap yang berbintang, kami membuat sebuah perjanjian. Lalu, siapa yang bisa menaklukan hati kami nantinya? Ataukah kami masih akan dipersatukan disuatu hari nanti? Tapi, aku ingin membebaskan papa terlebih dahulu. Mungkin ini bisa menjadi cara yang tepat supaya aku berhenti memberikan harapan palsu kepada Andrew, sekalipun aku juga tidak mencari siapa-siapa. Asal Andrew memiliki proses hidupnya sendiri, tanpa terbebani rasa cintanya kepadaku.
__ADS_1
Bersambung...