
Aku bersender pada bahu Andrew, begitupun dirinya yang meletakkan kepalanya diatas kepalaku. Bukan karena aku mau, namun aku sudah cukup lelah akan sikapnya yang keras. Sampai rengkuhannya, tak bisa kutolak sama sekali. Waktu pun terus berjalan, aku rasa sudah mencapai pukul setengah tujuh malam. Sedangkan Andrew masih menahanku disini, tanpa bersedia memberikan password pintunya yang telah ia ganti.
Andrew benar-benar tak mau mengerti. Lantas, aku harus bagaimana? Mungkin Mama, Papa, Bi Emi dan juga Haris sangat bingung tentang keberadaanku sekarang. Mungkin mereka semua sudah berpikiran tidak benar tentangku. Atau mungkin, telah siap menghadangku dengan caci maki tidak menentu, kecuali Mama dan Bi Emi. Katanya menjadi orang cantik itu banyak memiliki keberuntungan, namun mengapa tidak denganku, yang kata orang memang cantik? Sebenarnya, dosa besar apa yang pernah kuperbuat?
"Navya, kamu lapar?" tanya Andrew.
"Aku ingin pulang," jawabku. "Aku bisa mati kalau nggak pulang, Andrew."
"Tapi, aku masih pengen sama kamu."
"Ndrew, ngertiin aku dong."
"Kenapa kamu nggak bisa sedikit egois, Navya? Aku bahkan rela dipukuli jika itu demi melindungi kamu."
"Kamu nggak tau siapa papaku dan Haris, Andrew."
"Makanya, kenalin aku ke mereka. Dan aku bakal rebut kamu dari mereka."
"Kenapa kamu begitu gila?"
"Aku memang sudah gila, Navya!"
"Bedain antara ambisi dan perasaan, Ndrew."
"Aku yakin, semua ini karena rasa cintaku padamu. Aku emang nggak akan mati jika tanpamu, tapi aku akan gila jika tanpamu."
"Omong kosong!"
Andrew kembali merengkuh diriku lebih erat. Lelaki ini sepertinya telah banyak menyimpan rindu kepadaku, sampai tak mau melepasku. Sebenarnya, aku pun sama halnya, namun aku terlalu lelah untuk menjalani hubungan yang sesuai permintaannya. Jika saja Haris tak ada, mungkin aku bisa mempertimbangkannya, meskipun tetap terlihat tidak baik.
Yah, semua karena aku masih mencintai Andrew. Hati kecilku ingin melindungi dirinya dari amukan Haris. Mungkin jika otot bisa saja seimbang, namun jika sudah memakai politik uang pasti sudah bukan main-main lagi. Aku takut Haris berbuat nekat dan mencelakakan Andrew dengan kekuasaan yang ia miliki.
Andrew kembali menangkup wajahmu dengan kedua tangannya. Namun, aku segera membuang muka ke bawah dalam posisi menunduk. Tidak akan aku biarkan ia mengambil kesempatan untuk kedua kalinya. Tidak ingin, jika diri ini kembali hanyut dalam keromantisan yang tidak baik.
"Jangan berbuat seperti itu lagi, Ndrew," ujarku memperingatkannya.
Andrew melepas telapak tangannya dari wajahku. Lalu berkata, "Maaf, Navya."
"Aku pengen pulang. Aku takut."
"Beri aku waktu buat sama kamu, sampe jam delapan aja."
"Itu terlalu malam. Lagipula kita mau apa?"
"Aku cuma ingin berdua seperti ini. Aku akan menanggung kemarahan papamu dan lelaki itu."
"Aku lapar, aku ingin makan."
"Aku masakin ya, sayang."
Aku diam seribu bahasa. Padahal aku ingin Andrew mengajakku makan diluar, dengan begitu aku bisa kabur pulang. Namun, dirinya terlalu pintar. Lelaki ini memang pandai memasak sendiri, meski bukan menu yang spesial. Ia sudah mencegah segala sesuatu yang mungkin terjadi. Disini, posisiku seperti seseorang yang sedang ditawan.
Andrew, kenapa kamu senekat ini?
Andrew mengambil langkah meninggalkanku. Aku rasa ia menuju ke dapur dan hendak membuatkan masakan untukku. Karena tak enak hati, akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Dengan niat ingin membantunya. Namun, sebelum itu aku meminjam kamar mandinya untuk sekedar membasuh wajahku.
"Navya?" panggil Andrew kepadaku.
"Ya," jawabku singkat.
"Kenapa ikut ke belakang?"
"Mau bantu, kenapa? Nggak boleh?"
"Bo-boleh kok."
"Oke, mau masak apa?"
"Ada sayuran. Mungkin sop yang simple, di freezer ada ikan segar, baru tadi pagi."
Tanpa persetujuannya, aku membuka pintu kulkas dan melihat sejenak apa isi didalamnya. Setelah itu, aku segera mengambil beberapa bahan dan membawanya ke meja khusus untuk meracik. Sedangkan Andrew masih diam terpaku, mungkin ia terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba berubah. Aku pun hanya membiarkan dirinya.
Aktivitas memasak ini, mengingatkanku pada masa lalu kami. Tanpa hadirnya Andrew, mungkin aku tidak bisa memasak sampai sekarang. Saat itu, aku belajar mati-matian melalui bimbingan Bi Emi demi memberikan kejutan untuk Andrew. Tentu saja, senyuman tipis mengembang dari bibirku. Sebesar itu, aku mencintai Andrew sampai membiarkan hubungan kami berjalan tanpa status yang pasti. Mungkin, aku memang bodoh namun hatiku yang lemah tak bisa berlari menjauh dari rasa cinta itu.
Kuhentikan gerakan tanganku sejenak dalam mengupas bawang. Aku menatap Andrew. "Kenapa liatin? Katanya kamu mau masak? Nggak bantu?" tanyaku kepadanya.
Andrew terkejut dan salah tingkah. Kemudian menjawabku, "I-iya, sorry. Aku nggak nyangka kamu mau seperti ini lagi. Aku kangen masa-masa dulu, Navya."
"Jangan GR, aku hanya lapar. Lagipula kalau berdua akan cepat selesai. Kamu bikin nasi ya? Aku numpang makan."
Andrew tersenyum begitu tampannya, sampai membuat wajahku memerah. "Iya sayang," jawabnya.
__ADS_1
Aku bisa gila, jika terus mendengar nama panggilan romantis itu. Namun, akan sia-sia jika aku melarangnya. Karena Andrew benar-benar tidak mau mengerti. Ia sangat yakin kalau aku masih mencintainya. Meskipun itu memang benar. Entahlah, aku tidak bisa menekan agar perasaan itu menjauh pergi. Terlebih, Andrew sudah melakukan hal yang mengejutkan.
Sudahlah, lupakan sejenak karena aku harus segera menyelesaikan aktivitas ini baru pulang. Andrew pun sudah mencuci beras dan menanaknya dalam penanak nasi listrik. Aku rasa butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk menunggu sampai matang. Sepertinya aku harus tertahan disini sampai tengah malam.
Mampusnya, gue harus ngadepin Papa dan Haris. Kuatkan hatiku ya Tuhanku.
Racikan bumbu kini telah siap, tinggal memasaknya bersama sayur yang telah diiris oleh sang pemilik tempat tinggal. Untuk beberapa saat, kami tidak bertengkar dan mencoba melupakan semuanya karena memang sudah kelaparan.
"Aku pengen kayak gini sama kamu setiap hari," ujar Andrew tiba-tiba.
"Haha." Hanya tawa yang bisa kuberikan untuk menbalas ucapannya.
"Kamu pasti juga ingin begitu kan?"
"Stop bahas itu, aku lapar."
"Oke, sayang."
"Ndrew! Namaku Navya."
"Terus?"
"Kenapa pake sayang? Tau diri sedikit dong."
"Emangnya aku peduli? Toh, kamu masih mencintaiku juga."
"Keras kepala!"
"Iya, semua karna kamu. Sepertinya aku juga udah gila."
Kuhela napas dengan berat lalu menghembuskannya kembali. Seperti yang aku duga, Andrew tak mau peduli tentang peringatanku kepadanya. Sejujurnya, aku ingin tertawa pada saat melihat dirinya yang bertingkah konyol seperti ini. Ia adalah budak cintaku yang paling berbeda. Kalau aku jahat, aku pasti akan memanfaatkannya demi kepentinganku. Nyatanya, aku pun sudah menjadi budak cinta untuknya juga.
Lalu, Haris, sepertinya pria itu tidak bisa mencairkan hatiku. Orang yang terlalu kasar sampai tak bisa menarik hatiku barang sekali saja. Oh... apakah aku terlalu percaya diri? Inginku tidak begitu, namun kedua pria ini sangat berambisi mendapatkan diriku. Kalau Andrew aku bisa memahami, karena ia merupakan orang biasa sama sepertiku. Namun, jika Haris, ia adalah anak orang kaya yang bisa mendapatkan wanita manapun bukan diriku.
"Kenapa melamun? Ikannya entar gosong, sayang," kata Andrew memperingatiku.
Sontak saja, aku terkejut dan menoleh pada penggorengan dihadapanku. "Untunglah, enggak. Tapi, hampir hehe," ujarku kemudian.
"Kamu mikirin siapa? Aku? Aku disini kok."
"Jangan GR!"
"Nggak, tapi aku yakin kamu mikirin aku."
Andrew tersenyum. Lalu berjalan menghampiriku. Ia memandangiku seperti pria nakal. Aku tertegun lalu menjauh ke belakang. "Apa? Jangan macem-macem!" ujarku, untuk mencegah perilaku bodohnya.
Ia tidak peduli, dan malah menarik diriku ke dalam pelukannya. Tenaga pria memang besar, sehingga aku tidak bisa melepaskan diri darinya.
"Jangan pergi lagi," ujar Andrew lagi.
"Itu bukan urusanmu. Lepasin, nanti ikannya gosong!" tegasku kepadanya.
"Diam ya."
"Ehh?"
Dalam posisi seperti ini, Andrew melepas satu tangan kanannya untuk mengangkat ikan dari penggorengan. Sedangkan tangan kirinya masih menjerat diriku didalam pelukannya. Seandainya saja kami masih dalam hubungan yang baik, ini merupakan suatu romansa yang indah. Namun, jika dalam hubungan yang serumit ini, apa kata yang pantas untuk menggambarkannya? Atau mungkin, pria gila dan wanita murahann?
Ah! sedihnya diriku.
Beberapa saat berlalu, masakan telah matang semua. Andrew juga telah melepaskan jeratannya dariku, kami mempersiapkan hidangan malam ini bersama. Menatanya didalam masing-masing wadah dan meletakkan diatas meja makan. Setelah, itu kami saling menuangkan di piring masing-masing.
Mungkin karena pernah bersama Andrew, aku sampai tak segan lagi mengambil santapan yang disajikan. Selain itu, aku memang sangat lapar dan letih. Lagipula aku memang harus mendapatkan energiku lagi, bahkan lebih banyak, demi menghadapi masalah yang akan menghadang. Yaitu, Papa dan Haris.
"Kamu laper banget ya, sayang?" tanya Andrew.
"Iya! Gara-gara kamu," jawabku.
"Haha... lahap bener, aku jadi seneng kalau kamu seperti ini. Biar gemuk, kamu semakin kurus."
"Mau gemuk, gimana? Kalau masalah tak jelas terus-terusan datang. Tambah lagi hari ini, mungkin pulang nanti aku bakalan mati. Jadi, kamu harus siap kehilangan aku selamanya, Ndrew."
Andrew menghentikan aktivitas menyantapnya seketika. Ia menatapku dan berkata, "Nggak akan aku biarkan kamu mati, Navya. Aku bakal menjadi tameng pelindung buat kamu."
"Sejak kapan kamu se-lebay ini?"
"Sejak tergila-gila sama kamu. Tolong, jangan ngomong sembarangan kayak gitu lagi, ya sayang? Aku siap berhadapan dengan papamu dan cowok itu."
"Jangan! Please, jangan ikut campur dulu. Aku udah pusing, aku bisa gila kalau kamu nambahin lagi. Please Andrew, kamu diam dulu."
"Tapi..."
__ADS_1
"Aku bisa cari alasan yang tepat, mungkin mampir ke tempat Sita atau lain sebagainya. Ehh? Sita? Lho? Iya ya, Sita kenapa ya? Aku lupa."
Kubangunkan diriku dari duduk, dengan tujuan ingin mengambil ponselku yang berada didalam tas sejak tadi, demi mendapatkan kabar dari Sita. Namun, Andrew mencegah gerakanku. Ia menggelengkan kepalanya dan memintaku duduk kembali. Ia ingin agar aku menghabiskan santapan malamku terlebih dahulu.
Mau tak mau aku menyanggupinya. Meski begitu, hatiku tak tenang. Bodohnya, aku benar-benar melupakan kondisi Sita. Ah... Sita kemana? Sedang apa? Begitulah pertanyaan yang sering muncul mengisi benakku. Dan yang lebih aku takutnya jika Papa, Mama dan Haris mencoba menghubunginya. Setelah itu, tak menemukan keberadaanku disana, aku pasti tidak ada alasan lagi untuk menjawabnya esok hari.
Sial! Ini semua gara-gara Andrew!
Usai menyantap, aku membiarkan peralatan makan yang sudah kotor. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menuju ruang tengah apartemen ini. Sesampainya disana, segera kuambil tasku dan mencari keberadaan ponselku.
Sialnya, ponselku dalam keadaan mati. Aku mencari kabel dan charger yang ada di ruangan ini. Setelah mendapatkannya, aku segera memasangkan ponselku dengan alat pengisi daya tersebut. Mungkin dalam durasi satu menit, ponselku baru bisa dinyalakan kembali.
"Navya?" panggil Andrew.
"Apa?!" jawabku tegas.
"Jangan khawatir sih, aku bakalan tanggung jawab kok."
"Tanggung jawab gimana? Yang ada masalah akan semakin runyam kalau kamu menunjukkan diri sekarang, Andrew!"
"Maaf, terus baiknya gimana? Kalau kamu pun melarang aku buat menghadapi beliau dan dia?"
"Diam dulu, jangan menampakkan diri dulu, bantu aku cari alasan yang tepat."
Setelah satu menit, ponselku bisa dihidupkan kembali. Saat sudah aktif, banyak sekali pesan dan panggilan yang tidak terjawab. Tentu saja, Haris dan Papa seperti dugaanku. Lebih sialnya, Haris marah-marah dan menulis kata-kata kasar kepadaku didalam pesannya. Wanita mana yang tidak bergidik ngeri saat membacanya? Aku rasa manusia memang tidak bisa berubah dalam waktu yang singkat.
Kuacuhkan pesan Haris dan Papa terlebih dahulu, lalu aku menghubungi Sita dengan memanggil whatsapp kepadanya.
"Hai Beb," jawab Sita dari kejauhan sesaat setelah ia mengangkatnya.
"Ha-hai, Sit. Loe kenapa dan kemana?" tanyaku.
"Gue demam beb. Loe yang dimana? Bokap loe nelpon gue, sama cowok loe itu."
"Haaah? Te-terus loe jawab apa?"
"Ya gue jawab aja, loe ada disini ngurusin gue yang lagi sakit. Gue paham kok, kalau loe ngilang gini pasti dalam keadaan darurat hehe."
"Duh... Sit, sorry ya gue harua ngrepotin loe yang lagi sakit. Ta-tapi ponsel gue kan mati, Sit. Mereka nggak tanya macem-macem kan?"
"Nggak, gue bilang loe lagi mandi terus hape loe jatuh sampe mati. Jadi nggak bisa angkat, abis itu Haris tadinya mau kesini tapi gue tolak soalnya ada Bokap gue yang galak. Untungnya dia nurut."
"Astaga! Tapi, dia marah-marah sama gue, Sit."
"Yang sabar ya, Beb. Tapi, loe dimana sih sekarang?"
Aku menelan ludah seketika saat Sita menanyakan hal ini. Aku ragu dan maly untuk mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Namun, aku pun tidak enak kepadanya, lantaran aku sudah merepotkannya dalam kondisi yang sedang sakit. "Gu-gue diculik sama Andrew...," jawabku lirih.
"Haaaaaah?"
"U-udah ya, gue matiin dulu. Setelah ini gue nginep tempat loe aja, gue ngeri mau pulang malem."
"O-oke, Beb. Aku tak menyangka."
Kami saling mematika panggilan. Setelah itu, aku membalas pesan untuk Haris. Aku mengatakan maaf dan keberadaanku di rumah Sita. Aku juga beralasan memakai ponsel Sita untuk mengaktifkan nomorku. Setelah itu, aku mematikan ponselku kembali.
Jatuh? Rusak? Mati? Bagaimana kalau Haris memastikannya nanti?
Aku segera mencabut ponselku dari kabel charger. Dengan penuh rasa tak rela, aku membanting ponselku dengan keras sembari menitikkan air mata. Ponselku hancur, layarnya retak dan baterainya lepas.
"Navya? Apa-apaan?" tanya Andrew karena terkejut dengan efek suara yang timbul.
"Nggak, nggak apa-apa," jawabku sembari menangis.
"Nggak harus kayak gitu, aku kan udah bilang buat hadepin mereka. Kamu jangan terlalu keras dalam berjuang sendiri."
"Aku nggak mau kamu ketemu dia, dan dihajar habis olehnya."
"Navya..."
Andrew menatapku penuh iba. Lantas, ia menghampiriku kembali. Aku yang sudah tidak tahan dengan semua ini langsung memeluk erat dirinya. "Iya, Ndrew. Aku masih sangat mencintaimu, namun jalan kita sudah terhambat sesuatu yang besar."
"Maaf kalau aku juga terlalu membebani kamu, sayang. Tapi, aku janji akan membawa kamu keluar dari derita ini, jadi jangan pernah mencegah aku untuk menghadapi bahaya itu."
"Nggak, jangan! Aku belum siap dengan segala kemungkinan, biarlah aku yang menjalani. Aku pun tidak mau mengikatmu lagi, aku ingin memberimu waktu untuk mencari wanita yang lain, yang lebih baik."
"Nggak, nggak ada yang lebih baik dari kamu."
Situasi seperti ini, berlangsung cukup lama. Andrew tak ada habisnya untuk menenangkan hatiku. Kami pun telah membuat kesepakatan, aku tidak ingin ia ikut campur terlebih dahulu. Aku ingin kami berjalan seperti biasa, karena aku tidak ingin mengikat ataupun diikat. Aku ingin menyelesaikan semuanya dengan baik.
Setelah semakin malam, Andrew mengantarkan diriku untuk menuju kediaman Sita. Yah, aku belum cukup memiliki nyali untuk pulang.
__ADS_1
Bersambung...