
Kondisi Haris yang semakin lemas, akhirnya membuatku terpaksa membawanya pulang ke rumahnya. Terlebih, semua adalah ulahku. Untuk kali ini, aku tidak bisa menaruh curiga pada Haris. Karena, keringat dingin yang terus mengucur dari wajahnya. Belum lagi ia begitu lemah, walau terkadang menahan sakit perutnya sampai urat hijau terlihat dari wajahnya.
Meski dalam kondisi seperti itu, Haris bersikukuh tidak ingin aku antarkan ke rumah sakit. Entah, apa yang membuatnya menolak. Ia hanya ingin tinggal. Sedangkan, aku tidak akan setega itu. Hanya demi menyelesaikan kencan ini, ia tetap tak mau pulang. Memangnya aku segila itu? Setidaknya rasa kemanusiaanku masih ada. Tak mungkin kubiarkan lelaki ini mati hanya karena rasa benciku.
Aku memapah tubuhnya yang berat. Berjalan menuju area parkir. Sembari mendengar napasnya yang tidak beraturan. Rasa iba pun bergelayut dihatiku. Rasa takutpun turut muncul. Bagaimana kalau Haris mati? Hanya karena semangkuk mie ayam yang tidak pernah ia makan?
"Mbak? Lho Mas-nya kenapa?" tanya salah seorang pria dari dua orang pria yang tidak sengaja aku lewati.
"Sakit Mas, tiba-tiba," jawabku.
"Sini saya bantu, Bro bantuin nih. Kasian." Pria tersebut mengajak temannya untuk memapah tubuh Haris.
Akhirnya, aku mendapat bantuan. Ya, tubuh Haris yang kekar sangatlah memberatkan pundakku. Meski tinggi, aku tetaplah seorang wanita yang bertubuh kecil. Tidak akan sanggup jika aku memapahnya sendiri. Meski dalam jarak yang dekat.
Setelah itu, aku mengikuti mereka dari belakang. Dalam situasi seperti ini, Haris bisa membuang ego dan gengsinya. Ia tidak menampik bantuan dari orang lain. Aku rasa semua karena ia sudah sangat kesakitan dan juga demi keselamatan dirinya sendiri.
"Makasih ya Mas," ujarku sesaat setelah kedua pria tersebut berhasil memasukkan tubuh Haris kedalam mobilnya.
"Sama-sama Mbak, hati-hati dijalan," jawab salah satunya.
Aku mengangguk lalu tersenyum sebagai tanda terima kasih.
"Duh cantik banget..." ujar lirih teman pria pertama. Namun masih terdengar oleh pendengaranku. Aku memilih cuek dan acuh jika mengenai ucapan itu.
Kemudian aku masuk kedalam mobil Haris dibagian kemudi. Kunyalakan mobil Haris dengan kunci yang telah ia berikan padaku.
"Alamat loe dimana, Ris?" tanyaku. Karena sampai saat ini pun aku enggan untuk mampir ke rumahnya. Sehingga tidak aku tau keberadaan kediamannya.
"Ujung kompleks elit Graha Emas blok E nomor lima, Nav. Ssshhh..." jawab Haris disertai napas kesakitan.
"Oke."
Haris kubiarkan tidur dijok belakang. Sedangkan aku segera menancap gas menuju rumahnya. Dengan harapan, semoga tidak ada sesuatu yang parah dan membahayakan diri Haris. Jika ia sampai kenapa-napa, aku bisa terlibat masalah besar. Karena aku adalah dalang dari semua itu.
Beruntungnya siang ini, suasana jalan raya sangat sepi. Sehingga aku bisa melenggang bebas. Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, aku arahkan mobil ini ke alamat rumah Haris. Mencoba tenang dan bersabar demi seorang yang masih bernyawa.
Tidak lama kemudian, sampailah aku pada sebuah rumah mewah berlantai tiga. Semua yang dimiliki oleh Haris memang luar biasa. Tak hanya uang yang ia dapatkan melainkan rumah, villa, kendaraan dan juga masih banyak lagi. Mungkin jika bukan karena parasku, aku tidak bisa bertemu dengan Haris. Yah, kuakui ada rasa bangga sedikit.
Kubunyikan klakson mobil. Dengan harapan seseorang membukakan pintu gerbang.
Dan benar, seorang pria paruh baya membukakannya. Aku rasa adalah seorang tukang kebun yang Haris pekerjakan. Lalu, aku segera melenggang masuk kedalam Memarkir mobil Haris dihalaman yang kosong. Setelah itu beranjak turun.
"Pak... Pak?" Aku memanggil sang tukang kebun tadi.
"Iya Non, ada apa?" tanya beliau.
"Bantuin saya."
"Ada apa, Non?"
"Haris sakit didalam mobil."
"Ya Allah! Iya iya Non, saya bantu."
Dengan bantuan Bapak ini, aku menarik tubuh Haris agar terbangun. Namun, ia membuka matanya. Aku pikir tadi ia telah pingsan, ternyata masih sadar. Haris berjalan membungkuk. Kami memapahnya untuk masuk kedalam rumahnya.
Lagi-lagi, aku terkagum-kagum dibuatnya. Rumah ini bagai sebuah istana megah. Arsitekturnya memang luar biasa. Banyak guci-guci antik yang berdiri di beberapa sudur ruangan. Meja dan kursi tamu bak singgasana untuk Raja dan Ratu. Rasanya Nevan dulu tidak se-kaya ini. Apalagi Andrew yang hanya numpang di apartemen kerabatnya.
Ah... jika membandingkan mereka, memang selalu ada perbedaannya. Dan herannya, aku tidak tertarik sedikitpun untuk kembali pada Nevan ataupun mencintai Haris yang konglomerat. Namun, hatiku masih saja terpaut cinta dan sayang untuk seorang Andrew. Karena bagiku Andrew adalah pria yang lembut bukan Nevan yang manja ataupun Haris yang keras kepala. Satu kecacatan sikap yang Andrew miliki adalah kebohongannya padaku.
"Maaf Non," ujar seorang asisten rumah tangga di rumah ini.
"I-iya," jawabku.
"Non siapa ya?"
"Ehh? Haris mana?"
"Sudah dibawa masuk sama Pak Rafik, Non."
"Lho??? Tadikan sama saya?"
"Yang saya lihat tadi, Non-nya tiba-tiba berhenti."
Oh sial! Karena terpana, gue sampai berhenti. Memalukan sekali!
"Hehe... maaf Mbak, saya temannya Haris," jawabku sambil malu-malu.
Wanita pekerja itu tersenyum, "Jarang sekali Mas Haris bawa perempuan, Non."
"Oh ya? Bukannya dia play boy?"
__ADS_1
"Kata siapa, Non? Yang saya tau terakhir kalau nggak salah namanya Va-Vi..."
"Vines?"
"Nah, betul."
"Emang dia siapa, Mbak?"
"Saya juga kurang paham, Non. Tapi setau saya Mas Haris nggak suka. Soalnya suka marah-marah sama dia. Tapi, Non ini cantik banget kayak boneka barbie."
"Ah... si Mbak bisa aja. Oh iya kamar Haris yang mana ya, Mbak?"
"Diatas Non, lantai tiga. Kamar yang menghadap barat."
"Oke. Makasih, Mbak."
"Naik lift aja Non, sebelah sana."
"Oh iya."
Wow! sudah seperti sebuah mall saja rumah ini. Pantas jika Papa sangat menekan diriku untuk bersama Haris. Namun, yang namanya hati, pasti sangat sulit bersatu. Apalagi salah satu dari kami tidak memiliki perasaan cinta.
Aku berjalan melalui sebuah lift yang ada di rumah ini. Sembari mempertanyakan maksud dari asisten rumah tangga tadi. Jika Haris tidak mencintai Vines, lalu mengapa ia bersedia dikecup oleh wanita tersebut? Dan aku benar-benar tidak memahami semua itu.
Sudahlah, bukan urusan gue juga.
Kuarahkan kakiku menuju sebuah kamar setelah keluar dari lift. Sesuai intruksi asisten rumah tangga yang tadi. Setelah sampai ditempat tujuan, aku memberanikan diri untuk membuka pintu kamar tersebut. Aku memasukinya dan membiarkan pintu terbuka lebar.
Haris tengah memejamkan matanya. Diatas mejanya telah tersaji bubur yang masih mengepulkan asap hangat. Aku rasa pembantu yang dipekerjakan Haris tidak hanya satu, melainkan sejumlah orang. Tidak heran sih, karena rumah ini luas dan besar. Dan pelayanan untuk sang tuan muda juga sangat cepat.
Sebenarnya aku bisa saja langsung pulang. Namun, entah mengapa ada rasa tidak tega. Aku merasa harus bertanggung jawab masalah ini karena akulah sang penyebab. Saat kudekati tubuh Haris, ia tampak membuka matanya sedikit. Ia menatapku, lebih tepatnya melirikku.
"Maaf ya," ujarku.
"Duduklah," pintanya.
Aku mengikuti permintaannya itu. Sebagai formalitas saja. "Nggak pengen dipanggilin Dokter?"
"Nggak Navya."
"Kenapa sih bandel banget? Gimana mau sembuh Bapak Haris?"
"Gue cuman butuh loe disini, Nav."
"Please... jam tujuh malam pulanglah. Anggap saja sebagai tanda permintaan maaf."
"Haaah??? Ng-nggak bisa, Ris."
Haris meraih tanganku yang berada tepat dihadapannya. Ia menggenggamnya dengan ekspresi yang datar. Namun, sorot matanya melemah. Mungkin karena sedang sakit. Tapi, kuakui hari ini Haris berjuang keras untuk tidak meledakkan emosinya lagi.
Haris membawa tanganku kearah pipinya. Lalu diletakkanlah disana sembari memejamkan mata. Aku terheran-heran, apa yang ia lakukan? Lalu untuk apa?
"Emm... loe makan buburnya dulu deh, Ris. Biar perutnya enakan," ujarku.
"Gue nggak selera, Navya," jawabnya lemah.
"Sejak kapan loe jadi selemah ini? Biasanya sangar kayak macan."
"Entahlah."
"Gu-gue suapin aja gimana?"
"Loe serius?"
"Iyalah, lagian ini kan kesalahan gue, Ris. Gue masih punya rasa iba dan rasa bersalah."
"Boleh."
Aku melepas tanganku dari genggaman Haris. Kemudian berdiri dari dudukku. Aku mengambil semangkuk bubur yang telah tersaji. Sebelum memulai suapan, kubantu Haris untuk bangun terlebih dulu. Kutatap wajahnya yang sayu. Aneh sekali rasanya, ternyata Haris memiliki ekspresi sendu seperti ini. Sangat berbeda jauh dari kelakuannya setiap hari.
Kusuapkan sendok demi sendok bubur tersebut padanya. Beruntungnya, ia menurut. Jadi, aku tidak perlu membuang tenaga untuk membujuk rayu padanya. Beberapa kali, Haris masih saja menekan bagian perut. Sampai aku tidak tega melihatnya seperti ini.
"Mau dipijit?" tanyaku.
"Loe serius?" tanyanya kembali.
"Iya! Tapi nggak usah gede rasa, ini sebagai bentuk permintaan maaf semata."
"Silahkan."
Kupijit tubuh Haris yang merasa sakit. Dengan sabar dan telaten aku merawatnya untuk sementara waktu. Kami sama-sama diam tanpa kata. Namun, aku menyadari tatapan Haris yang tidak pernah lepas sedikitpun padaku. Jika itu Andrew, aku pasti sudah tersipu malu. Sialnya, malah Haris, manusia yang aku benci. Bukannya tersipu malu, aku malah abai dan pura-pura tidak tau.
__ADS_1
Bubur yang ada dimangkuk menyisakan setengah bagian saja. Saat kusodorkan satu sendok lagi, Haris sudah menolak. Ia menggelengkan kepala tanda sudah kenyang dan tidak sanggup menghabiskan.
Aku berdiri lagi untuk menaruh mangkuk bubur diatas meja. Namun, sebelum aku berjalan. Haris kembali menarik tanganku. Tentu saja aku oleh dan sialnya terjatuh dipelukannya. Beruntungnya, aku masih bisa menahan mangkuk agar tidak terjatuh ketempat tidur. Wajah kami hanya berjarak sekitar 5 centimeter saja. Aku terpaku kaku dalam posisi tersebut.
Sedangkan Haris masih merengkuh diriku. Ia semakin mendekatkan wajahnya. Sampai aku hanya bisa memejamkan mata. Entah mengapa tubuhku sangat kaku bagai sebuahbpatung yang tidak bisa bergerak. Aku gugup sekali.
Jangan! Jangan sampai ia mengecup! Aku tidak rela! Aku harus bergerak!!!
"Aaaaa!!!" Aku berteriak. Setelah sadar, aku segera bangkit. Wajahku memerah padam karena sekujur wajahku terasa panas. Kukipaskan kedua telapak tanganku dengan harapan kepalaku segera mendingin.
"Cihh..." umpat Haris lirih.
"Loe apa-apaan sih? Gue masih denger kali!"
"Nggak, nggak apa-apa. Sorry, gue nggak ada maksud ambil kesempatan. Gue juga nggak sadar."
"Oh ya? Emang ini bukan akal-akalan loe aja?"
Haris mengambil napasnya dengan berat. Lalu dihembuskannya kembali. Ada urat hijau yang terlihat diwajahnya. Aku rasa ia kesal dengan pertanyaanku. Ia menenangkan diri kembali supaya tidak emosi.
Namun, bukannya malah puas. Aku malah merasa tidak enak hati. Sepertinya, aku sudah keterlaluan.
"Sorry, gue yang mikir enggak-enggak," ujarku.
Haris menatapku kembali. Wajahnya masih saja masam, tak ada senyum terhias disana. "Loe emang selalu mikir kayak gitu, Navya," jawabnya.
"Karna gue nggak suka perjodohan ini, Ris. Seandainya loe nge-deketin gue pake cara alami, mungkin gue bisa pertimbangin dengan catatan jangan kasar-kasar."
"Gue kasar karna loe nggak pernah dengerin ucapan gue, Navya. Loe selalu berprasangka buruk tentang gue. Sifat gue udah begini, karna sedari kecil emang nggak ada yang ngajarin gue tentang sopan santun."
Ohh...
Aku sama sekali tidak mengerti tentang ucapan Haris. Mana mungkin orang tua dan kerabatnya tidak mengajarinya tentang hal itu. Lalu, hidupnya selama ini berjalan seperti apa? Bukankah, ayahnya begitu memanjakannya? Bahkan untuk mendapatkan diriku saja, ia meminta bantuan kepada beliau.
Ingin rasanya aku tidak memikirkan itu. Namun, segala macam pertanyaan terus muncul satu persatu. Ada semacam perasaan enggan, saat ingin kutanyakan lebih dalam. Aku terlalu gengsi untuk itu, mengingat rasa benciku pada Haris yang masih bersemayam dihatiku.
"Navya?" panggil Haris.
"Emm..." jawabku sekenanya.
"Tadi loe bilang, PDKT secara alami kan?"
Aku masih diam, menatap dirinya dengan kerutan didahiku.
"Lalu?" tanyaku kemudian.
"Bolehkah gue mulai dari awal lagi?"
"Maksud loe?"
"Gue pengen cara alami, bukan bantuan siapapun demi membuat loe jatuh cinta."
"Eehh??? En-enggak! Semua sudah terlambat buat sekarang. Gue... gue udah ada rasa benci sama loe, Ris. Gue pengen sudahi hubungan kacau ini."
"Navya???"
Haris membelalakkan matanya. Ia menatap diriku dengan tajam. Tidak! Maksudku kami saling bertatapan. Saling menolak maksud yang disampaikan.
Untuk beberapa saat, kami masih seperti itu. Namun, Haris menegang. Urat hijaunya kembali muncul. Bola matanya memerah sampai mengeluarkan bulir air mata. Ia menurunkan tubuhnya dari ranjang. Aku mundur seketika. Namun, kembali ditarik tanganku olehnya.
"Kenapa Navya? Kenapa???" tanyanya tegas.
Sekujur tubuhku gemetar. Aku takut. Terlebih lagi, aku berada didalam rumahnya. Berbagai pemikiran buruk kembali berkecamuk dalam benakku. Aku takut Haris berbuat macam-macam padaku karena aku telah membuatnya marah.
"Jawab Navya!!!" tegasnya lagi.
"Gu-gue udah jawab dari awal Haris! Gue... gue benci sama loe!!!"
"Uhh..."
"...."
Haris melepaskan cengkeraman tangannya. Ia malah duduk bersimpuh dihadapanku. Tentu saja, aku keheranan lagi. Ia menunduk. Sehingga, aku tidak mengetahui ekspresi apa yang ia pasang diwajahnya. Mungkin hanya umpatan-umpatan kecil yang masih terdengar oleh gendang telingaku.
"Hahahahahahaha." Haris tertawa tiba-tiba.
Aku bergidik ngeri. Tapi belum sanggup meninggalkannya.
"Gue yang bodoh ya, Nav? Terlalu ambisius pada sesuatu yang notabenenya bukan milik gue," katanya lagi. "Tapi perlu loe ketahui, Nav. Gue udah jatuh cinta sama loe. Gue nggak bisa nyerah dan lepasin loe gitu aja. Gue bakalan buktiin sama loe, kalau gue bisa berubah dan loe bisa jatuh dipelukan gue."
Ya Tuhan!
__ADS_1
Bersambung...