
Kantuk yang luar biasa menyerang mataku. Sampai beberapa kali terantuk-antuk, dan mengetik sesuatu yang tidak jelas di layar komputerku. Padahal, aku merasa tidurku semalam sudah cukup. Atau mungkin, karena bangun terlalu pagi? Lantas, bagaimana dengan Sita? Pekerjaanku masih menumpuk banyak, kalau aku seperti ini, siapa yang akan mengerjakannya? Ah... rasanya aku tidak ingin mengecewakan siapapun. Termasuk Affandy yang telah menunjukku.
Aku memutuskan untuk beranjak berdiri. Kurenggangkan bahuku sebentar. Para rekanku masih sama-sama sibuk, bahkan nyaris tidak berkedip saat menatap layar komputer. Aku menjadi malu sendiri, orang lain tampak fokus, sedangkan diriku tidak sama sekali. Aku harus menghilangkan rasa kantuk ini. Sepertinya segelas kopi akan sedikit menghambatnya.
Baiklah! Mari ke fasum.
Kuambil langkah untuk meninggalkan ruangan kerjaku dalam waktu sementara. Hening. Tidak ada yang memperhatikan laju jalanku, karena kesibukan mereka. Yah, dengan begitu, aku tidak perlu merasa was-was. Tentunya bisa menghindari Andrew yang sejak tadi pagi terus mengikutiku seperti anak kucing.
Siang ini terasa lebih sejuk daripada biasanya. Dingin AC lebih terasa menusuk kulitku, meski suhunya sama seperti biasanya. Aku rasa, itulah salah satu penyebab kantukku. Namun, saat kutilik ke arah luar, cuaca memang sedang mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Tak apa, yang penting jangan terjadi banjir. Karena, jika itu terjadi, aku akan kesulitan untuk pulang. Lagipula tidak ada yang menjemputku, karena kesepatanku dengan Haris tadi pagi.
Sesampainya di fasilitas umum, aku menghampiri sebuah dispenser yang sudah menyala lampu merahnya, guna menghangatkan air didalamnya. Kuambil sebuah cangkir kecil dan satu sachet kopi susu. Kemudian, aku mulai meraciknya didalam cangkir tersebut. Harum kopi menyeruak ke dalam hidungku. Ini ekstrak yang mampu menggugah kesegaran. Lebih baik dihabiskan perlahan-lahan di tempat ini, daripada membawanya ke dalam ruangan.
"Pada akhirnya, loe balikan lagi ya sama Andrew?" tanya seseorang, sampai aku terkejut dibuatnya. Beruntung, aku tidak sedang melakukan tegukan.
Aku membalikkan badan dan menatap tajam kepada sang pelaku. Lantas aku berkata, "Rezky! Gue kaget!"
"Sorry hehe."
"Heran deh. Hari ini, banyak banget yang bikin kaget."
"Wajarlah, orang cantik, Vy."
"Apa hubungannya? Lagian siapa yang cantik?"
"Loe lah, Neng."
"Biasa aja."
"Iya menurut loe sendiri. Buat kami para lelaki, loe the best!"
"Terserah deh."
Aku kembali membalikkan badanku membelakangi Rezky. Namun, ia malah melangkah tepat dihadapanku. Sama halnya denganku, Rezky meracik kopi instan tersebut. Sembari menyeruput kopiku, aku menatapnya dan tertegun sebentar. Benakku melayangkan ingatan tentang hubungannya dengan Andrew.
Cukup penasaran memang. Namun, aku masih enggan untuk bertanya. Lagipula, jika aku mulai menanyakan perihal Andrew, ia pasti akan menanyakan sesuatu lebih jauh. Malas sekali, aku tidak ingin banyak bicara, itu saja. Namun sepertinya, Rezky sudah mempersiapkan segala pertanyaannya untukku. "Loe ngikutin gue ya, Rez?" tanyaku kemudian.
Rezky terkekeh. Lantas menjawabku, "Dih... GR loe, Vy. Tenang aja, gue udah mundur demen sama loe."
"Siapa yang nanya loe demen nggaknya sama gue?"
"Kesimpulan gue doang sih haha. Selamat ya udah balikan."
"Balikan? Siapa? Gue? Andrew? Haha."
Rezky mengernyitkan dahinya. "Kenapa loe, malah ketawa lagi?"
"Kata siapa gue balikan sama dia? Emang gue se-gampangan itu?"
"Ya bukan gitu juga sih. Tapi, muka loe keliatan banget, masih demen sama Andrew."
"Yah, emang ada benernya sih."
"Gue saranin aja, Vya. Pertimbangin matang-matang. Nggak ada salahnya ngasih kesempatan kedua."
Ternyata Rezky memang sudah berbaikan dengan Andrew. Aku bersyukur karenanya, jadi aku tidak perlu merasa bersalah lagi. Herannya, ia yang memberitahukanku, ia juga yang menyarankan diriku untuk memberi kesempatan kedua kepada Andrew. Walaupun, aku memang masih mempertimbangkan hal itu. Semua hanya berbalik pada masalah yang menjeratku, untuk ke depannya aku tidak bisa menerka akan seperti apa dan bagaimana.
Lama kelamaan, aku tidak bisa membendumg rasa penasaranku lagi. Aku perlu mengetahui apa yang penyebab pertengkaran Rezky dan Andrew saat itu. Kalau benar karena aku, tentu saja aku harus meminta maaf dengan baik.
Kuseruput kopiku untuk tegukan yang terakhir. Aku menatap Rezky dalam-dalam. "Emm... maaf, Rez. Loe udah baikan sama Andrew?" tanyaku kemudian.
Ia menolehku dan mengernyitkan dahinya. Lantas menjawab, "Udah. Oh iya ya? Loe sempet jadi perebutan kita waktu itu haha."
"Apaan sih? Nggak lucu! Jadi, kenapa kalian waktu itu?"
"Yah, sebenarnya bukan karena gue bilang yang sebenarnya sih. Tapi, pas gue bilang, gue naksir sama loe, Vya."
"Lah? Kok bisa?"
__ADS_1
"Sebenarnya, pas gue bilang kalau gue yang beberin hubungannya, Andrew nggak marah. Tapi, dua hari kemudian gue jujur kalau gue juga naksir sama loe. Curigalah si Andrew, do'i pikir gue sengaja ambil kesempatan."
Aku manggut-manggut sembari mencerna setiap penjelasan dari Rezky. Menurutku masuk akal juga. Apalagi saat itu, Andrew dan aku benar-benar hancur. Sampai-sampai, penampilannya acak adul tidak karuan. Kuhela napasku dengan berat. Terlalu banyak kepedihan yang kami rasakan. Mungkin, jika tidak ada kebohongan itu, aku pasti masih bersamanya. Secara, aku sangat mencintainya.
Bahkan, Nevan yang notabene adalah mantan pacar yang sah, malah kutolak mentah-mentah. Nevan, Andrew, Rezky dan Haris? Lalu siapa lagi yang akan menyukaiku? Padahal aku hanya butuh satu pria yang bisa memberikan timbal balik perasaannya. Untuk Nevan dan Rezky, mungkin sudah kelar. Lalu kedua pria itu, belum. Aku khawatir ada lagi yang datang. Bukan karena gede rasa, tapi sepertinya akan ada kemungkinannya.
"Masuk yuk, Rez," ajakku kepadanya. "Udah lama nih disini."
"Nggak usahlah. Bentar lagi ngaso," jawabnya menolak.
"Loe ketua tim, kok bandel sih?"
"Nanggung Vya, tiga menit lagi noh. Lagian banyak yang sering begini, emangnya anggota doang yang boleh bandel?"
"Yaudah, gue malah enak jadinya. By the way, gimana loe bisa baikan lagi?"
Rezky terdiam. Ia bersender pada tembok dibelakangnya. Sepertinya ia sedang menerawang jauh menuju ingatan yang telah lalu. Sedangkan aku, aku mendudukkan diriku diatas kursi panjang tanpa senderan ditempat ini.
"Mau bagaimanapun, Andrew sempat jadi sahabat gue, Vya," ujar Rezky. "Gue nggak tega aja, liat dia frustasi kayak gitu. Hanya karna seorang cewek."
"Yah, mungkin saat itu, seharusnya gue nggak hadir dihidupnya Rez."
"Eh... sorry. Bukan maksud gue nyalahin loe, meskipun bukan loe, gue tetep berlaku sama. Siapa sih Vya, yang nggak tertarik sama loe? Gue akui, gue juga sempet naksir sama loe. Tapi, nggak segila Andrew. Lagian kan pas Andrew deket sama loe, hubungannya nggak jelas. Si cewek nggak ada kabar berbulan-bulan. Eh... pas kalian makin deket, cewek itu dateng lagi."
Kuhela napasku dalam-dalam. Sepertinya pengaruhku kepada Andrew memang bukan main-main. Sampai ia harus mengalami rasa frustasi yang berkepanjangan. Namun, semua itu bukan salahku saja, bukan? Aku yang menjadi korban kebohongannya. Dan ia sendiri yang hancur atas kebohongan itu
Tentu saja, aku perlu mempertimbangkannya baik-baik, jika ingin kembali. Meski, aku masih mencintainya, tak lantas membuatku langsung menjatuhkan hatiku. Sekalipun tidak ada Haris disisiku. Lagipula, gelasnya yang sudah retak, tidak bisa disempurnakan kembali. Meskipun masih bisa digunakan.
"Katanya, loe sempet naksir gue? Kok kesannya sekarang loe malah desak gue balik sama Andrew?" tanyaku lagi.
"Emang bener. Tapi, gue mah orangnya tau diri, Vya. Realistis aja, seorang loe nggak mungkin suka sama cowok jelek kayak gue," jawab Rezky.
"Iya sih haha."
"Dih... blak-blakan banget? Oh iya, Vya. Hari kemarin, sebenarnya gue yang nemenin Andrew ketemu mantan calon mertuanya."
Rezky mengangguk pelan. Ini gila!
"Lagian, gue nggak tega liat bucin loe kayak orang gemblong. Tiap pagi yang ditungguin di kantor, seorang Navya. Pas maen game ditempat gue, pikirannya ke Navya. Makan aja, udah kayak orang kosong."
"Ma-masa' sih?"
"Iya. Akhirnya gue kasih saran, biar nekat nyelesein semuanya. Daripada kayak gitu. Yah, paling tamparan dan pukulan dari bokap mantannya yang dia dapet."
"What? Tapi nggak ada bekas dipipinya?"
"Tamparan dari nyokapnya mantan. Pukulan tepat di perut dari bokap. Gila sih, mungkin karna hubungan udah lama kali ya? Jadi keluarga itu bergantung banget sama Andrew."
Rezky meneguk sisa kopinya. Sedangkan, aku meneguk sisa penjelasannya. Benakku mencerna pelan-pelan. Aku masih tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jika, Andrew telah berkorban seperti itu, aku pun tidak menyangkal karena terharu. Namun, aku masih belum tahu respon hatiku yang sebenar-benarnya.
Beberapa saat berlalu. Tanpa kusadari, Rezky juga telah pergi. Kini hanya aku sendiri yang berada di fasum ini. Saat kutilik waktu di jam dinding yang terpasang, ternyata sepuluh-an menit telah berlalu dan jam istirahat telah tiba. Rasa lapar tak karuan pun entah hilang kemana. Ada saja yang membuatku harus berpikir keras. Ini usiaku hampir 25 tahun, tetapi masih labil akan pendirianku. Benar-benar konyol.
"Navya?"
Aku menoleh pada sumber suara. "Andrew?" balasku. "Kenapa?"
"Aku cari kamu dari tadi lho. Ternyata disini."
"Iya."
"Kamu kenapa? Ada masalah?"
Aku mengangguk pelan. "Ada. Masalahku itu kamu."
"Maaf."
Hening. Kami hanya berdua saja disini. Aku rasa karyawan lain telah berhamburan mencari makan siang. Andrew bergerak lalu duduk disampingku. Kusadari dari ekor mataku, ia sedang menatapku sendu. Pria ini selalu menampilkan raut seperti itu, selalu saja membuatku gemas ingin mencubit pipinya.
__ADS_1
"Rezky ngomong apa aja sama kamu?" tanyanya kemudian.
Aku tertegun. "Kamu tau?" tanyaku kembali.
Andrew mengangguk. "Dia bilang. Dia juga yang ngasih tau, kalau kamu ada disini."
"Yah, aku bersyukur kalian kembali akur."
"Itulah sahabat, Navya. Sama halnya kamu dan Sita."
"Maaf ya?"
"Soal?"
"Gara-gara aku, kamu harus mengalami banyak hal. Seandainya saja kita nggak pernah kenal."
"Jadi, kamu nyesel kenal sama aku?"
Aku tersenyum sembari menggelengkan kepalaku. Aku tidak menyesalkan hal itu. Hanya saja, aku sedikit bersalah kepada Andrew dan semua orang yang terlibat. Karena kecelakaan itu, karena sakit hatiku pada Nevan, aku bisa bicara dengan Andrew. Seolah semua sudah digariskan untuk kujalani. Sampai akhirnya, banyak sekali kekecauan yang terjadi.
Wanita mana yang tidak bersalah, dalam posisi yang seperti ini? Hanya karena diriku yang tidak berguna ini, Andrew harus banyak menanggung luka dan derita. Ia memang bersalah, namun bukan sepenuhnya kesalahannya. Aku menyesal, karena dulu begitu mudahnya diri ini masuk dan menerima hubungan tanpa status. Nasi sudah menjadi bubur, kini semuanya sudah kacau balau.
"Ke cafe yuk," ajakku kepadanya.
Andrew mengerutkan dahinya. "O-oke sayang," jawabnya ragu.
Kami berjalan bersama dan meninggalkan tempat ini. Hening dan tiada kata disepanjang perjalanan kami menuju parkiran.
Sampai akhirnya sampailah ditempat yang dituju. Andrew membukakan pintu mobil miliknya. Lantas, aku tersenyum dan masuk ke dalam. Begitupun dirinya. Bersama mobil ini, kami melenggang keluar dari area gedung kantor. Menyusuri jalanan aspal yang memanjang. Hanya terdengar deru mobil yang beradu dengan hembusan napas.
Tak lama kemudian, sampailah kami di sebuah cafe yang tidak jauh dari kantorku. Aku dan Andrew turun dari mobil yang sudah terparkir tenang. Ia mengajakku masuk ke dalam cafe dengan menggandeng tanganku layaknya orang pacaran. Hanya ludah yang bisa aku telan. Bukan senanh, tetapi malah gelisah. Kekhawatiran tentang kepergok Haris juga turut muncul.
"Kamu mau pesen apa, Navya?" tanya Andrew sesaat setelah kami duduk disalah satu tempat.
"Mocca dingin aja," jawabku.
Kemudian Andrew menyerahkan buku menu kepada sang pelayan yang datang. Pelayan berlalu kembali. Sedangkan Andrew memandangiku begitu tajam, namun tetap tersenyum. "A-apa?" tanyaku.
"Nggak hehe," jawabnya.
"Jadi, kamu bisa jelasin apa yang terjadi? Kamu terluka kan?"
"Sekarang itu nggak penting, Navya. Aku sudah bisa memperjuangkanmu lagi. Dengan bebas. Meski aku tau, kesalahanku bukan kesalahan kecil dan tak termaafkan. Tapi bisakah ka-"
"Nggak, Ndrew. Hentikan!"
"Na-navya...?
Andrew menganga tak menyangka. Urat hijau dan wajah memerah muncul dan turut menghiasi parasnya yang tampan. Entah karena marah atau malu. Namun, ia tidak bisa berkata-kata karena sang pelayan datang kembali membawa pesanan kami.
Lantas, aku memilih meneguk minumanku terlebih dahulu. Andrew menghela napasnya dalam-dalam dan terdengar menghembuskannya kembali. Aku tahu ini cukup mengejutkan setelah semua yang ia lakukan. Namun, aku ingin dirinya melangkah lebih jauh dan tidak terjerat kepadaku saja.
"Kenapa Navya?" tanyanya.
"Kita udah bahas hal ini berkali-kali, bukan? Emangnya kamu nggak capek?" tanyaku kembali.
"Aku nggak peduli dengan diriku lagi. Asal bisa bersamamu kembali, sayang."
"Tapi aku lelah, Andrew. Kamu dan Haris, kenapa semua orang berkata seperti itu? Untuk aku? Ah... jujur bukannya bangga, aku malah kewalahan."
"Aku mencintaimu, Navya. Sangat, aku nggak mau ngomong gombal yang nggak perlu. Tapi, aku benar-benar mencintaimu. Bukannya kamu masih ada akan perasaan itu?"
Aku terdiam. Yah, memang masih ada. Namun entah mengapa, aku tidak ingin bersamanya atau bahkan Haris. Mungkin aku terlalu lelah. "Itu bener, Ndrew. Aku juga masih mempunyai perasaan itu. Tapi, aku butuh waktu sendiri setelah semua ini. Dan... aku minta sama kamu. Kamu jangan memaksakan diri untuk berangkat ke Singapore," ujarku. "Pergunakan waktumu sebaik mungkin. Jangan kembali pada Lusi, carilah yang lebih baik lagi."
"Berapa lama kamu butuh waktu? Satu bulan? Setahun? Lima tahun? Berapapun itu aku akan tetap menunggu. Aku hanya ingin kembali sama kamu," jawabnya.
"Maaf..."
__ADS_1
Bersambung...