Who Is My Love

Who Is My Love
Fans


__ADS_3

Suara ketikan di keyboard saling beradu satu sama laimmn. Sedangkan suara manusianya cukup hening, tanpa kata keluar dari bibir setiap insan. Dan tentu saja, kejenuhan mulai merayap menghampiri diriku. Begitupun rasa kantuk menerma kedua mataku. Ingin rasanya menyesap kopi, namun masih tak ada nyali untuk berdiri. Namanya juga karyawan baru di tempat. Memanggil seorang office boy pun aku belum berani.


Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya lagi. Kemudian, demi membuang rasa kantukku, akhirnya aku memutuskan untuk berdiri. Aku mengambil langkah untuk keluar dari ruangan ini. Dengan langkah gontai aku berencana untuk ke toilet demi membasuh wajahku yang kusut sekali. Baru dua hari kerja, rasanya sudah mau mati saja. Astaga! Dunia kerja begitu keras, namun kalau tidak memiliki pekerjaan jauh lebih susah. Inilah kehidupan manusia.


Sesampainya di tempat tujuan, aku mulai memutar kran air. Perlahan kubasuh mata dan wajahku. Begitu bengap mataku tatkala aku menatap cermin dihadapanku dan wajahku terpantul disana. Aku rasa, derai air mata karena mengantuk yang menjadi penyebabnya. Ingin istirahat sejenak, namun aku takut pekerjaanku semakin menumpuk banyak. Apalagi jika diriku diperlukan oleh orang lain di tempat ini. Sehingga aku bergegas kembali.


Aku menyusuri lantai dan arah yang sama demi mencapai ruang kerjaku. Mataku tak jemu menatap dan juga menghapal setiap keadaan gedung kantor yang besar ini. Bahkan dua kali lipat lebih besar daripada kantor tempat kerjaku yang lama. Aku rasa, pusat bisnisnya memang ada di negara ini. Suatu kebanggaan tersendiri untukku karena bisa ditunjuk bekerja disini, meskipun lelahnya dua kali lipat lebih besar juga.


Kuhadapkan pandanganku ke depan lagi. Ada dua orang yang sedang berjalan secara bersamaan dari lawan arahku. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Affandy beserta sekretarisnya, Kate. Mereka terlihat berbincang sesuatu yang aku rasa adalah suatu pekerjaan. Namun fokusku bukan disitu, melainkan sosok keduanya. Mereka tampak serasi, seandainya benar adalah sepasang kekasih, aku rasa cocok juga. Affandy yang gagah dan mapan, sedangkan Kate yang cantik dan pintar. Jauh, jika aku dibandingkan dengan Kate, aku terlalu kurus dan bodoh.


"Ha-hai, Navya," sapa Affandy saat kami saling bertemu.


"Selamat siang juga, Pak Fandy," jawabku seresmi mungkin karena masih dalam lingkup kantor.


"Kamu habis darimana?"


"Dari kamar kecil, Pak."


Affandy tampak menilik jam pada tangannya. "Sudah mau jam makan siang, gabung aja yuk. Aku mau keluar."


Kate menatapku begitu nanar. Seolah tidak menyukai akan keberadaanku disini. Gilanya, Affandy malah mengajakku bergabung makan siang dengan mereka. Lelaki ini terlalu tidak peka sama sekali. Membuat diriku tidak enak hati saja.


"Eheem... maaf, Affandy. Tapi, kita harus bertemu klien juga. Bukan makan siang biasa," ujar Kate kemudian.


"Ya, itu kan sehabis makan siang, Kate," jawab Affandy keras kepala.


"Tolong profesional. Dan hargai keberadaan saya disini!"


"Hmm... baiklah. Maaf ya, Navya. Mungkin lain kali saja."


Aku mengangguk mantap sembari menyunggingkan semburat senyuman di wajahku. Sedangkan kedua orang itu, pergi melanjutkan langkah kakinya dan meninggalkan aku seorang diri. Aku memandangi langkah mereka dengan perasaan aneh. Lebih tepatnya rasa penasaran tentang hubungan keduanya.


Apa itu tadi? Mengapa sekretaris malah serasa lebih berkuasa? Aneh. Namun, terjadi didepan mataku. Bukan urusanku. Namun, Kate selalu menampilkan raut wajah tidak nyaman pada saat Affandy sekedar berbincang denganku. Mungkinkah ia cemburu? Untuk apa? Lagipula aku dan Affandy tidak memiliki hubungan apapun. Dan seorang luar biasa seperti dirinya tidak mungkin menyukaiku. Maksudku bisa menyukaiku sebagai seorang wanita, namun bukan sebagai kandidat calon istrinya.


Aku menghela napas begitu dalam setelahnya. Aku mengambil ponsel yang berada didalam kantong blazerku yang ternyata memang sudah waktu makan siang. Tampaknya, kebandelanku tentang keluar lebih awal sebelum waktu yang pas masih terjadi disini. Tanpa berpikir panjang lebar lagi, aku berbalik badan lagi. Aku melanjutkan langkahku menuju ruang kerjaku demi mengambil tas ransel kecilku, karena dompet dan lembar uangku berada didalamnya.


Sampai beberapa saat kemudian, aku telah sampai di hadapan pintu ruang kerjaku. Lantas, aku membuka perlahan dan bergantian dengan orang lain yang sedang bergegas keluar. Saat sampai didalamnya, aku menatap meja Andrew yang ada dirinya dan juga empat orang lainnya. Yang diantaranya, satu pria dan ketiganya wanita. Sepertinya Andrew cukup populer juga disini.


Tanpa memperdulikan mereka semua, aku masuk ke dalam bilik kerjaku yang berada di samping Andrew. Rasa ingin mengabaikan, namun perbincangan mereka terdengar jelas di telingaku. Salah seorang wanita mengutarakan kekaguman hatinya pada sosok Andrew sedangkan yang lain mendesak dan memberikan dukungan supaya mereka saling mengenal lebih jauh. Dan aku? Aku seperti sebuah barang yang keberadaannya tidak dianggap. Rasanya kesal dan malu sekali. Namun, aku tidak bisa berbuat apapun kecuali diam membisu seribu bahasa. Yah, tidak mungkin aku masuk dan tiba-tiba sok akrab begitu saja.


Semakin lama, kelakar semakin terdengar berisik. Yang sebelumnya aku ingin bergegas keluar, kini malah terdiam di tempat karena rasa penasaran. Diam-diam aku melirik ke arah mereka. Saat kuteliti lagi, tampaknya mereka semua karyawan mutasi dari Indonesia. Pantas saja, bisa seasyik itu dalam berbincang. Bahasa yang digunakan pun sudah melunak menjadi bahasa bangsa kami.


Oke, baiklah. Gue warga negara Indonesia yang tidak dianggap disini.


Aku mengecek ponselku dan ingin mengetahui kedua teman tinggalku. Kukirimkan sebuah pesan untuk Raya tentang keberadaan mereka sekarang. Tidak perlu waktu lama lagi, Raya membalas pesan dariku. Ia mengatakan jika saat ini mereka berdua sedang lembur. Hal ini membuatku menelan ludah, aku benar-benar kesepian. Raya dan Sinta tengah lembur dibagian divisinya sendiri. Andrew dikerumuni para pengagum. Affandy bersama Kate. Kondisi ruangan ini hanya ada mereka dan aku saja.


Aku ingin keluar namun tidak memiliki mobil. Ingin ke kantin perusahaan namun terlalu malas. Mungkin memejamkan mata sebentar adalah pilihan yang bagus. Heran saja, karena mereka tidak kunjung keluar juga. Membuat hatiku semakin panas sekaligus kesepian. Andrew telah menjalankan rencananya dan aku masih begini-begini saja. Rencana ingin berbaur dengan orang lain pun ternyata sangat sulit dilakukan. Ingin ku berteriak. Oh... itu tidak mungkin aku lakukan secara sembarangan. Bisa-bisa, predikat gila semakin kental melekat pada diriku sendiri.


"Hei guys, makan siang yuk. Udah mau habis nih jamnya," ajak salah satu wanita yang tidak aku ketahui siapa, yang pasti dari arah meja Andrew.


"Maaf ya? Saya masih banyak pekerjaan jadi nggal ikut deh," jawab suara Andrew.


Sedangkan diriku terus saja berpura-pura tidur dengan merebahkan kepalaku diatas meja. Meski sebenarnya aku merasa sangat kelaparan. Tapi, aku cukup penasaran.


"Ehh... itu samping kamu siapa? Orang Indo juga kan ya? Aku mau nyapa masih nggak enak hehe. Anaknya kayak jutek gitu?" tanya salah seorang wanita lainnya.


"Temen saya, Lin. Mungkin lagi capek, jadi rada jutek. Tapi baik kok, nanti kalau udah bangun bisa disapa hehe," jawab Andrew lagi.


"Tapi bukan pacar kamu kan, Ndrew. Anaknya rada tomboy yah? Kayaknya bukan tipikal kekasihnya Andrew hehe. Masih ada kesempatan noh, Rin."


Oke! Mereka sedang membicarakan diriku. Aku jutek, aku tomboy, aku bukan tipikal kekasih Andrew. Oh... mereka tidak tahu saja, se-bucin apa Andrew kepadaku. Aku harus bertahan pura-pura memejamkan mata seperti ini. Sepertinya seru juga dalam mencuri dengar perbincangan orang. Silahkan saja, aku tidak peduli. Bahkan jika Andrew akan turut andil dalam membicarakan diriku, aku pun tidak peduli.


Namun, mengapa lelaki itu malah terdengar mengalihkan pembicaraan? Apa ia tahu jika aku sedang berpura-pura tidur? Untuk apa? Ah... sudahlah, tidak ada yang bisa aku ambil sebagai keuntungan. Lagipula, Andrew juga bukan kekasihku. Ia melangkah sesuai permintaanku. Mungkin diriku saja yang belum terbiasa dengan sikapnya yang berubah dingin seperti ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka menderukan derap kakinya. Aku rasa, mereka sedang mengambil keluar dari ruangan ini. Aku tidak tahu, apakah Andrew ikut atau tidak, karena aku sudah tidak menyimak perbincangan terakhir mereka. Lantas, aku membuka mataku serta mengangkat kepalaku. Kuhela napas dalam dan menghembuskannya kembali.


"Sita, gue kangen loe...," gumamku pelan.


Aku merebahkan kepalaku pada badan kursi putar yang sedang aku duduki. Sedangkan bola mataku berkeliaran memandang atap ruangan. Aku kesepian didalam keramaian. Pada kenyataannya, berbaur dengan orang lain untuk diriku yang angkuh ini sangatlah sulit dilakukan. Terlebih, orang lain menganggapku sebagai seseorang yang jutek sekali. Apa aku akan tetap seperti ini?


Perlahan kuputar-putar kursiku lantaran jenuh. Ingin mengerjakan sesuatu namun masih enggan, lantaran terlalu lelah. Lantas, aku menoleh ke sisi kanan.


"Ampuuun!!!" pekikku sembari beringsut ke belakang.


Aku terkejut bukan kepalang. Bagaimana tidak? Sorot mata Andrew begitu tajam dan tepat dihadapanku. Bagaimana bisa aku tidak menyadari keberadaannya sejak tadi? Oh... aku benar-benar malu.


"Emang gue setan?" tanyanya kemudian.


"Haha... ma-maaf, kirain udah nggak ada orang. Jadi, kaget," jawabku malu-malu.


"Hmm... nggak makan siang?"


"Nggak laper. Loe sendiri kenapa nggak ikut."


"Sama nggak laper juga. Eh? Nguping ya?"


"En-enggak. Ya kedengeran aja, nggak sengaja kok. Lagian parah banget kalau gue nggak denger."


"Oh... kirain. Maaf ya, Navya. Kalau ada kata-kata dari mereka kurang nyaman didengar."


"Hmm... yeah. Santai aja, nggak ada yang salah kok dari omongan mereka."


Hening. Kami saling terdiam karena canggung setelah semua ini. Sampai akhirnya, aku meraih berkas pekerjaanku dan mulai mengerjakannya. Mungkin, Andrew juga berlaku seperti itu. Situasi macam apa ini? Kami bagaikan dua orang yang baru mengenal saja. Secanggung ini, seaneh ini pula.


Rasanya baru kemarin, Andrew mengemis cinta akan hatiku. Tadi malam, kami masih banyak bercanda seperti gembel di jalanan. Entah mengapa, situasi berubah begitu cepatnya. Lagi-lagi, aku tidak mengerti.


"Emm... ternyata loe cepet populer ya disini?" tanyaku kemudian.


"Kata Navya. Udah dapet fans aja."


"Haha... mereka becanda kok. Mereka kan senior kita yang mutasi lebih dulu. Jadi, karna sama-sama orang Indo, kami saling memperkenalkan diri."


"Yah, apapun itu semoga semakin baik lagi ke depannya, Ndrew."


"Emm... ya, Navya. Semoga kita juga tahu, apa yang terbaik buat hati kita sendiri. Walaupun semuanya akan terasa sulit. Gue harap loe nggak menjalin hubungan dengan orang yang salah lagi."


"Amin."


Hening kembali. Apa maksud Andrew dengan harapannya itu? Apakah ia sudah menyerah terhadapku? Baiklah, kalau memang ini sudah berakhir. Harapanku pun sama seperti dirinya. Mungkin, kami hanya perlu menjalani akan takdir dari Tuhan selanjutnya. Apakah akan berpisah atau memang dipersatukan kembali.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan ini. Aku menatapnya dan ternyata adalah Affandy. Ia tersenyum kepadaku. Aku membalasnya sekilas saja dan berbalik lagi. Namun, sepertinya ia hendak kemari.


"Hai, Ndrew dan Navya," sapanya.


"Hai juga, Pak," jawabku dan Andrew secara bersamaan.


Entah apa yang sedang ia lakukan. Padahal beberapa saat yang lalu, ia bersama Kate dan hendak menghadiri sebuah pertemuan. "Bukannya mau meeting?" tanyaku kemudian.


"Meeting ditunda. Jadi kabur kesini, tadinya iseng aja. Ternyata kalian berdua ada disini," jawab Affandy. "Oh iya, Vya. Masih banyak waktu tersisa. Makan siang yuk, kayaknya kamu belum makan siang."


"Hmm.. ya, boleh."


Aku menyetujui permintaan Affandy karena memang semakin lapar. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Andrew sekarang. Ia hanya diam membisu, bahkan tidak menoleh lagi. Dan Affandy pun tidak menawarinya untuk makan bersama.


Lalu, dengan rasa tidak enak hati yang tersisa, aku mengikuti langkah Affandy. Kami keluar dari ruang kerjaku dan meninggalkan Andrew seorang diri. Aku merasa tidak nyaman, namun Andrewlah yang membuatku mengikuti permintaan Affandy. Yah, jika ini yang terbaik untuk kami, maka aku akan mencobanya sama seperti dirinya.


Aku dan Affandy masuk ke dalam sebuah elevator demi mencapai lantai dasar. Sejujurnya aku merasa khawatir jika Kate melihat kebersamaan kami. Meski aku tidak tahu akan hubungan mereka, tetap saja aku tidak bisa senyaman itu. Lagipula, kami sama-sama wanita. Bagaimana kalau Kate menyukai Affandy? Secara otomatis aku telah menyakiti hatinya. Namun, untuk menolak pun sudah tidak cukup pantas.

__ADS_1


Tak lama kemudian kami sampai di area parkir mobil. Affandy membukakan pintu mobilnya untukku. Aku tersenyum dan berterima kasih, lalu masuk ke dalamnya. Ia menyusulku, lalu ia melaju perlahan mobilnya meninggalkan gedung kantor ini untuk sementara waktu.


"Deket-deket sini aja, Vya?" tanyanya kepadaku.


Aku mengangguk. "Ya, terserah. Gue ikut aja," jawabku.


"Hehe... soalnya waktunya rada mepet."


"Iya, tau kok. Kemana aja hayu kok."


Mobil miliknya yang kami tumpangi ini berbelok ke sebuah restoran yang cukup dekat dengan keberadaan kantor. Affandy memarkirnya dengan tenang. Tanpa pikir panjang lagi, kami segera turun. Ia mengajakku masuk ke dalam. Mencarikan meja kosong yang cukup nyaman.


Setelah itu, kami duduk saling berhadapan. Seorang pelayan datang membawa lembaran menu yang tercantum didalamnya. Aku memesan pasta biasa saja dan juga air mineral. Toh, aku tidak memiliki banyak uang. Lagipula, tidak mungkin kubiarkan Affandy membayarkannya lagi. Karena pada saat yang lalu, ia sudah melakukan itu. Meskipun, ia cukup kaya, aku tidak mau mengambil kesempatan untuk keuntunganku.


"Navya, maaf soal Kate tadi ya?" ujar Affandy tiba-tiba.


Aku mengernyitkan dahiku. "Kate? Kenapa emangnya?" tanyaku kepadanya.


"Kayaknya agak pedes omongannya hehe."


"Santai. Emm... kalian udah sejauh mana nih?"


"Apanya?"


"Pendekatannya dong."


Affandy terdiam sembari menelan ludahnya. Namun, tiba-tiba sang pelayang kembali datang bersama hidangan yang telah kami pesan. Ia menyajikannya dihadapan kami. Lantas, aku meraih piring makananku dan mulai menyantapnya. Begitupun juga Affandy. Terlebih waktu semakin mendekati batas akhir.


"Sebenarnya, kami hanya berteman sejak lama. Ke tempat inipun bersama. Jadi, aku mengangkatnya sebagai sekretarisku. Lagipula, dia juga banyak membantu segala prestasiku," jelas Affandy.


"Oh ya? Jadi kalian ini sedekat itu ya? Nggak aneh sih," jawabku.


"Hmm... ya. Bisa dibilang Kate itu saksi dari semua perjalanan karirku. Selalu mendukung dan yah, kami sering menghabiskan waktu bersama."


"Kenapa nggak pacaran aja? Kalian cocok kok. Gue rasa, Kate juga suka sama loe."


"Entahlah, aku merasa agak aneh aja kalau pacaran sama teman sendiri. Maksudku teman yang udah sekental itu."


"Aneh? Loe yang anehlah. Kate cantik, pintar, banyak membantu, saksi dari perjalanan karir. Apa yang aneh? Dia juga suka sama loe kok."


Affandy terdiam. Ia tampak menimang-nimang ucapanku. Disini aku tahu, pasti ia pun merasakan sesuatu yang sama dengan wanita cantik itu. Hanya saja ia ragu, karena hubungan persahabatannya yang terjalin sejak lama. Atau mungkin Affandy sedang menjalani proses sama sepertiku, yaitu mencari jati diri hati. Sampai mana ia akan membutuhkan Kate lagi.


Aku cukup mengerti, mungkin karena aku juga tengah menjalannya.


"Kamu sendiri sama Andrew, gimana?" tanyanya kemudian.


Aku menggeleng pelan sembari menghancurkan makanan di mulutku. "Entahlah," jawabku.


"Kamu masih ada rasa sama dia?"


"Gue nggak tahu. Kami masih saling berusaha melupakan. Sejujurnya selama ini, gue juga cukup kesulitan melupakan perasaan itu."


"Emm... Navya?"


"Ya?"


"Bagaimana kalau kita menjalin hubungan?"


Aku terperanjat. "Maksud loe?"


"Yah, anggap saja kita saling bekerja sama untuk mencari tahu, sebesar apa cinta kita pada kedua orang itu. Lagipula, aku juga tertarik sama kamu, Navya. Seandainya kita tidak saling mencintai. Kita bisa saling mencobanya."


"?????"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2