Who Is My Love

Who Is My Love
Usahanya


__ADS_3

****


"Hari ini, aku mau bawa kamu jalan-jalan, Sayang," ujar Andrew kepadaku saat kami sudah didalam mobil taksi yang melaju.


"Kemana? Emang punya uang?" tanyaku kemudian sembari memandang ragu terhadapnya.


"Wah! Pacarku meragukan diriku. Ya, ada dong. Pokoknya kamu bebas belanja."


"Katanya jalan-jalan? Kok belanja?"


"Di-mix, Beb."


"Nggak usah ah, aku pikir kamu mau bawa aku ke tempat serem. Terus mau hukum aku gegara bohong."


"Nggak mungkin aku kayak gitu sama Navya. Aku kenal siapa pacarku. Awalnya emang kecewa sih, tapi nggak mau nuduh. Aku tunggu penjelasan dari kamu setelah siap. Dan lagi, nggak mungkin kamu selingkuh tapi masih melawan cewek-cewek itu dami aku."


"Hmm ... makasih, Ndrew. Tapi lebih baik uang kamu ditabung, untung-untung buat modal nikah."


"Nikahnya sama kamu, semuanya buat kamu. Jangan khawatir, aku tetep ngutamain orang tua. Dan kamu orang yang penting juga. Aku pengen sesekali ngajak kamu jalan dan shopping. Biar kamu tahu, kalau aku juga bisa kayak cowok lain. Yah, walaupun aku nggak kaya."


Aku bahagia mendengarnya. Namun bukan berarti aku ingin memanfaatkan dirinya. Apa Andrew melakukan ini setelah pertemuanku dengan Affandy tadi malam? Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa sama seperti Affandy, begitu? Tapi, aku tidak sekejam itu. Lagipula hobi belanja sudah kubuang entah dimana.


Lalu, aku merengkuh dirinya. Bersandar pada bahunya didalam mobil ini. Lagi-lagi, aku merasa sangat bersalah. Seandainya tadi malam aku membiarkan Andrew menghadapi Affandy, pasti ia tidak berlaku seperti ini. Aku tahu ia tengah menahan rasa perih didalam hatinya. Bahkan jika itu adalah diriku, aku pasti sudah tidak sanggup dan lantas marah-marah. Bagaimana bisa, Andrew sebaik ini terhadap diriku?


"Sayang, apa nggak sebaiknya kita pulang aja? Makan bareng, berdua aja di rumah. Pesen makanan yang banyak," usulku.


Andrew menggeleng mantap dan menolak, "enggak. Ini udah jadi rencanaku dijauh hari. Kita udah lama nggak nonton, nggak nge-mall. Yah, emang sih kalau disini cuma berangkat naik taksi."


"Oh iya, mobil kamu dimana dong?"


"Aku titipin saudara, Sayang."


"Hmm ... gitu ya. Tapi, aku udah nggak hobi belanja."


"Bohong. Nanti kalau nongol disana, pasti hobinya muncul."


"Enggak akan!"


"Kita lihat aja. Berani taruhan?"


"Taruhan?"


"Ya, kamu harus nginep tempatku kalau hobi kamu beneran muncul."


"Dih ... ngawur. Enggaklah, mau dikata apa aku nanti sama Raya dan Sinta?"


Andrew hanya terkekeh. Dan taksi ini masih melaju, entah akan ke tujuan dimana. Aku sudah tidak bisa menampik niatan kekasihku itu. Berharap hobi belanjaku memang tidak muncul pada saat kami telah sampai. Walau sebenarnya aku bisa memakai uangku sendiri, tapi aku harus lebih berhemat demi papa dan segera pulang ke rumahku di Indonesia.


****


Hari yang semakin sore, membuat sang angkasa memancarkan warna jingga. Sungguh indah sekali kuasa Tuhan untuk dunia ini. Sedang aku adalah hamba yang banyak sekali mengeluhkan akan hidupku. Bahkan seringkali merasa hidup yang Tuhan berikan itu tidak adil. Manusia macam apa aku ini?


Dan kami telah sampai pada sebuah tempat perbelanjaan atau disebut dengan mall. Aku tertegun sebentar. Sudah lama sekali, aku tidak mengunjungi tempat semacam ini. Terakhir kali, waktu aku masih di tanah air untuk membeli beberapa macam pakaian untuk penampilan baruku. Padahal jauh sebelum ini, aku adalah wanita yang hobi berbelanja. Terlebih pada saat merasa bosan dan kesal. Rasanya menyenangkan saja, menghamburkan uang yang aku pikir akan ada lagi gantinya. Dan sekarang, aku malah kebingungan dalam mencari uang dengan nominal yang banyak.


Pantasnya, manusia harus pandai bersyukur. Cukup saat itu saja, aku menjadi seseorang yang tamak dan angkuh. Saat ini, aku baru menyadari arti sebuah penghargaan untuk setiap hasil jerih payahku.


"Hari ini Navya bebas belanja apa aja," celetuk Andrew dengan nada suara dan ekspresi yang mantap. Seolah ia yakin bahwa uang yang ia miliki cukup untuk membahagiakanku. Aku hanya menghela napas saja. Beruntung diriku masih memiliki rasa tidak tega. Kalau aku sangat materialistis, pasti akan kuhabiskan isi kantong Andrew. Lantas, aku mengangguk dan mengikuti langkahnya untuk masuk.


Betapa megah gedung mall yang menjulang tinggi dihadapanku. Aku sampai bertanya-tanya dalam hati, pantaskah kami memasukinya? Tampaknya didalam sana banyak barang yang tidak mampu kami beli. Aku terhanyak sedikit, ingin kupulang dan membeli banyak makanan saja. Namun tekat kekasihku sudah cukup besar.


Akhirnya aku menghela napas kembali. Baiklah, aku akan menuruti apa yang Andrew mau. Namun masih dalam batas kewajaran. Ya, aku harus menghargai usahanya.


"Sayang, kita kemana dulu?" tanyanya sembari memandangku dan meraih tanganku untuk ia gandeng.


"Terserah kamu aja. Aku ngikut," jawabku.


"Jangan gitu, kamu yang mungkin butuh sesuatu lho."


"Hmm ... kita lihat-lihat baju aja yuk. Nggak usah nonton, aku capek."


"Beneran? Sayang lho udah disini, udah setengah tahun nggak main-main ke tempat kayak gini."


"Iya, Ndrew. Beli baju atau apa gitu ya? Satu aja, terus balik. Mending kita nonton streaming di rumah."


"Hmm ... kamu masih ragu ya? Aku udah siapin kok khusus buat kamu."


"Enggak, Sayang. Aku cuma capek, pengen pulang. Oke?! Jadi beliin aku baju aja. Terus kita balik."


Andrew tampak menelan ludah meragukan akan ucapanku. "Maaf, Sayang. Aku terlalu miskin, nggak seperti mantan-mantan kamu atau Pak Fandy."

__ADS_1


"Ih! Apa sih?! Males gue kalau udah ngebahas hal kayak gitu. Loe pikir gue matre? Dikit doang kok, itupun kalau soal makan. Barang enggak. Ya ampun, Ndrew. Loe mikirin soal semalem, nyampe kayak gini? Tadi malem tuh dia ngebahas Kate bukan hubungan kami! Sebel deh ih!"


Aku kesal sekali, sampai tidak memperhatikan orang-orang yang ramai berkunjunh disini. Mungkin beberapa dari mereka tengah memperhatikan diriku yang sedang melampiaskan emosiku. Bagaimana tidak, aku berusaha memahami Andrew. Walaupun merasa tidak enak, aku tetap berusaha menyetujui dan menghargai usahanya. Namun, ia malah berpikiran semacam itu. Memangnya aku adalag wanita mata duitan?


Jika ia melakukan semua ini hanya karena takut bahwa diriku memilih Affandy, itu salah besar. Mau bagaimanapun, Affandy tetap mencintai Kak Kate. Dan tidak mungkin baginya untuk langsung menyukaiku dengan sepenuh hati. Lagipula, aku tidak pernah menaruh perasaan apapun kepada Affandy. Aku hanya mengagumi pencapaiannya diusia yang cukup muda. Ah ... sudahlah, intinya aku sangat sebal dengan sikapnya dalam merendahkan dirinya sendiri itu.


"Oke, aku mau belanja sampai puas. Dan bayarin semuanya!" tegasku terhadapnya. Kemudian, aku mengambil langkah ke depan. Berjalan lebih dulu, seperti seorang majikan. Kulihat setiap toko-toko yang memamerkan berbagai barang branded. Tas, sepatu, baju, parfum, kosmetik bahkan barang-barang lainnya ada didalam tempat ini. Tentunya dengan masing-masing penjual. Tidak menemui barang yang aku inginkan. Aku menuju eskalator demi mencapai lantai selanjutnya.


Sesampainya di lantai kedua, aku kembali berkeliling dengan Andrew yang masih dibelakangku. Berputar, masuk ke dalam toko lalu keluar lagi tanpa membeli. Ya, begitulah yang dilakukan oleh wanita saat sedang berbelanja. Dan hal seperti ini masih berlanjut sampai lantai-lantai berikutnya. Sampai kami kelelahan.


"Mana? Katanya mau puasin shoppin**g? Muter-muter doang?" tanya Andrew kepadaku pada saat kami baru keluar dari salah satu toko dan tanpa membeli satu barang pun.


"Nggak ada yang menggugah selera," jawabku. Walau pada kenyataannya, aku miris melihat harganya yang fantastis. Terlebih dolar Singapura jauh lebih tinggi daripada rupiah.


"Bohong banget. Bilang aja mahal-mahal."


"Itu tahu."


"Hmm ... mau beli gaun?"


"Eh?"


"Ya, siapa tahu mau balik jadi princess lagi."


"Princess ya? Emm ... boleh haha. Kayaknya seru deh, kalau aku tiba-tiba jadi cantik didepan uler-uler itu."


Mataku berbinar-binar. Ya, mungkin inilah saatnya menunjukkan pesonaku. Tinggal menunggu rambutku memanjang dalam beberapa bulan, atau mungkin hanya hitungan minggu. Dan pada saat itu, aku bisa mengumpulkan satu persatu baju-baju yang cantik seperti dulu. Memikirkan itu semua, membuat bibirku menyeringai diam-diam sembari menatap kekasihku yang tertegun heran.


Kini ada manfaatnya juga, aku tampil secantik mungkin. Yaitu untuk melibas mulut-mulut tengil dari ketiga wanita itu. Memangnya mereka siapa sampai berani mengataiku tidak pantas bersanding dengan Andrew?


"Hei, Sayang? Kenapa? Mukanya jahat banget lho?" tanya Andrew sampai membuyarkan semua pemikiranku.


"Enggak hehe. Jalan lagi yuk," ajakku kepadanya sembari merengkuh satu lengannya dengan manja.


"Kenapa sih, Vya?"


"Enggak apa-apa, Sayang. Menurut kamu sekarang ini aku kayak gimana? Malu-maluin ya?"


Andrew menggeleng mantap. "Kamu ya kamu. Selalu cantik bagaimanapun penampilannya."


"Ah, masa'? Bukannya malah kumel dan kusem mukanya?"


"Emm ... makasih, Sayang. Tapi kalau aku balik kayak dulu boleh?"


"Apapun yang kamu mau, selagi positif dan nyaman."


"Oke. Bulan ini dan selanjutnya aku nggak bakal potong rambut lagi."


Andrew hanya tersenyum. Ya, ia memang selalu mendukung semua yang aku lakukan. Mungkin sebagai pembuktian bahwa dirinya sudah benar-benar berubah dan tulus mencintaiku. Jadi, tidak ada buruknya juga jika aku kembali seperti pertama kali kami saling jatuh cinta. Lagipula hidupku sudah banyak berubah. Tidak ada lagi paksaan dalam pernikahan. Tidak ada lagi seorang Haris yang luar biasa keras. Aku pikir, aku sudah bisa melangkah lebih ke depan bersama Andrew. Tentunya sembari bekerja keras untuk membebaskan papa.


Tidak peduli bahwa waktu sudah semakin gelap, aku terus berkeliling didalam mall ini. Kini, tanpa keraguan lagi, aku berencana membeli beberapa barang. Bahkan mencicil kosmetik yang sudah lama tidak menyentuh wajahku, kecuali skincare. Bukan berarti aku akan menghabiskan isi dompet kekasihku, aku juga membelinya dengan uangku sendiri tanpa sepengetahuan dirinya.


Sampai disebuah toko jam, menatap isinya yang penuh gemerla dari luar toko. Aku tertegun sebentar. Ingin rasanya membeli satu buah untuk Andrew. Sejak tadi, ia bahkan tidak menyentuh barang apapun. Selamai ini aku tidak pernah memberinya apapun. Saat pertama kali kami menjalin hubungan secara resmi bahkan ia sudah memberiku hadiah ulang tahun berupa kalung yang sampai sekarang aku pakai.


Namun, bagaimana caranya aku membeli barang itu untuknya? Sedangkan dirinya terus saja bersamaku. Kalau ia tahu, ia pasti akan melarangku.


"Emm ... kamu nggak pengen ke toilet gitu?" tanyaku dengan harapan ia mengiyakan dan berlalu.


"Enggak, kamu kebelet?" tanyanya kembali.


"I-iya. Toilet yuk."


"Yaudah ayo."


Aku dan Andrew berjalan bersama. Menuju keberadaan toilet sesuai petunjuk arah yang tergantung diatas. Yah, semoga toilet pria tidak terlalu jauh dengan milik wanita. Sehingga saat ia masuk, aku akan kabur dan kembali ke toko jam yang tadi.


"Sayang, nanti kalau udah selesai, kamu tungguin disini ya?" pintanya sesaat setelah kami sampai di tempat tersebut.


"Iya, kamu nggak perlu buru-buru kok. Biasanya tempat cewek antri."


"Iya, Sayang."


Aku berpura-pura mengambil langkah untuk masuk ke dalam toilet wanita. Sedangkan Andrew sudah berjalan menuju toilet pria. Pada saat itu juga, aku terus mengawasinya sampai ia tidak terlihat oleh mataku. Kemudian berbalik badan dan berjalan cepat untuk mencari toko jam lagi.


Dan yeah, aku berhasil masuk ke dalam salah satu toko di lantai ini. Melihat berbagai macam model jam tangan yang sangat bagus. Merknya pun lumayan terkenal dan mahal. Bahkan aku sampai menelan ludah saat memastikan harganya kepada seorang pekerjanya. Meski begitu, niat hatiku masih saja besar.


Sampai akhirnya, aku memilih salah satu jam tangan dengan merk fossil berwarna hitam bercampur silver. Kisaran harganya masih dibawah tiga juta dalam bentuk rupiah. Dan setelah melakukan transaksi, aku keluar dari toko ini. Dengan cepat aku kembali ke tempat dimana aku berjanji akan menunggunya. Bersama harapan, semoga ia belum keluar dari toilet.


Namun, kenyataannya ia sudah berdiri dengan menyenderkan punggung pada tembok.

__ADS_1


"Hai. U-udah ya?" tanyaku sembari mengusap-usap tengkukku. Aku tengah bingung dengan alasan yang akan aku gunakan.


"Lho? Darimana?" Benar saja, ia menanyakan itu kepadaku.


"Emm ... a-aku tadi nungguin kamu disana. Sambil lihat-lihat lantai bawah."


"Hmm ... kirain masih didalam, Sayang."


"Ma-maaf, aku hanyut dalam lamunan hehe. Pulang yuk."


"Udah cukup? Baru sedikit lho shoppingnya."


"Udah, cukup!"


"Iya, iya. Ayo, gandeng lagi sini."


Tanpa mau menimang, aku segera merengkuh salah satu lengan Andrew. Sedangkan satu tangannya membantuku membawa beberapa paper bag berisi barang belanjaan. Khusus jam tangan tadi, tentu saja aku telah memasukkannya ke dalam ranselku.


Aku dan Andrew menuruni lantai menggunakan eskalator. Selanjutnya keluar dari tempat ini dan memesan taksi secara online demi sampai ke kediaman.


****


Beberapa saat kemudian, sampailah kami di rumah tinggal. Andrew membayarkan ongkos taksi online tersebut. Gerbang rumah terlihat terbuka. Kebiasaan kedua temanku itu memang sangat unik. Seharusnya mereka tidak pantas membiarkan gerbang terbuka seperti itu. Meski disini adalah kota besar nan elite, tetap saja kejahatan bisa terjadi. Terlebih Andrew hanya tinggal sendiri di lantai bawah. Mungkin aku akan memarahi mereka nantinya.


Aku dan Andrew masuk ke dalam pekarangan rumah. Hari yang semakin gelap memaksa kami untuk berpisah. Walau sebenarnya belum ingin, namun kami masih membutuhkan istirahat sebagai proses pengumpulan energi untuk bekerja di esok hari.


"Nanti malam tidur yang nyenyak ya, Sayang. Tapi jangan lupa mandi."


"Emm ... iya. So-soal tadi malem itu aku ngga--"


"Yaudah duduk dulu bareng aku yuk, kalau mau jelasin."


"Tapi diluar aja, aku nggak mau masuk. Nanti malah males naik."


"Kenapa gitu?"


"Ya... ya, a-aku takut nggak mau pisah sama kamu."


Andrew terkekeh. "Sweet banget kamu, Vya."


Tak lama kemudian, kami mengambil posisi dan duduk bersebelahan pada kursi yang berada di teras rumahnya. Ia menatapku penuh makna dan tentunya cinta.


"Tadi malem, Affandy dateng. Dia ngancem mau nunjukin diri ke kamu, nggak tahu mau ngapain. Ya, aku kan khawatir. Mana udah malem, nggak enak ganggu Raya sama Sinta. Jadi aku ikuti kemauannya buat keluar bareng."


"Lalu?"


"Ternyata cuma mau memastikan hubungan aku sama Kak Kate. Mereka kan sebenarnya masih saling suka, tapi kehalang restu."


"Tapi, dia pernah nantangin aku buat dapetin kamu, Vya."


"Aku tahu, mungkin perasaan sukanya ke aku cuma pelarian aja. Lagian aku nggak pernah suka sama dia. Maaf ya? Harusnya aku nggak bohong. Sampai bikin kamu kayak gini. Kamu mau nunjukin kalau kamu bisa kayak dia, kan?"


Andrew terdiam. Aku tahu betul, bahwa ucapanku memang ada benarnya. Kujatuhkan kepalaku pada bahunya sembari mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Aku takut kehilangan kamu lagi, Navya. Aku tahu, aku hanya karyawan rendah. Jadi aku khawatir kamu berpaling sama orang yang lebih sukses dariku. Walaupun minder, aku tetap nggak bisa lepasin kamu gitu aja. Dan aku pikir, membahagiakanmu dengan materi adalah yang tepat.


"Ih! Kalau makan nggak apa-apa. Toh, nggak seberapa. Tapi kalau barang-barang mahal, aku nggak bisa terima, Ndrew. Lebih baik kamu tabung uangnya."


"Tetep aja. Mantan kamu yang waktu itu, Nevan ya? Dia kaya, pasti kamu dibeliin macam-macam barang."


"Iya, aku nggak munafik, kalau aku senang dibeliin ini itu. Tapi itu dulu, saat ini aku benar-benar paham apa arti uang dan tabungan. Aku pikir, memikirkan masa depan adalah yang terbaik. Aku hanya ingin papa bebas dan emm ... mungkin kita bisa cepat menikah. Makanya, aku mau kamu nabung buat kita nanti."


Andrew terdiam lagi. Entah apa yang ia pikirkan. Aku berharap ia memahami maksud dari perkataanku. Ya, untuk segala macam barang, aku masih bisa mencicil satu persatu sembari menyisihkan uang untuk menebus papa. Jika ia benar-benar tulus kepadaku, aku ingin ia menabung untuk melamarku suatu saat nanti. Meskipun aku belum tahu apakah kami berjodoh atau tidak, yang pasti aku ingin berusaha menjaga hubungan ini. Bahkan sampai jenjang pernikahan.


"Kamu mau nikah sama aku, Navya?"


"Mau!"


"Oke, aku setuju sama saran kamu. Aku akan menabung sebanyak-banyaknya buat lamar kamu. Tapi, kamu juga nggak perlu canggung kalau butuh sesuatu."


"Siap, Sayang. Emm ... aku punya sesuatu buat kamu." Aku melepas ransel yang sejak tadi aku gendong. Lalu mengeluarkan paper bag kecil berisi jam tangan dan menyerahkannya kepada Andrew.


Ia tertegun. "Apa ini?"


"Kamu harus pake, tanpa protes. Titik! Love you, bye."


Terakhir kukecup pipinya dan aku melarikan diri ke lantai atas. Untuk apa? Untuk menghindari omelan dari Andrew lantaran telah membuang uang demi hadiah untuknya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2