
Menghirup aroma tubuh yang baru saja selesai mandi memang enak sekali. Seakan bisa jatuh cinta dengan diri sendiri. Begitulah aku, sama seperti mama, aku sangat gemar merawat setiap jengkal anggota tubuhku. Tentunya jika sedang dalam keadaan damai seperti ini, berbeda jika banyak masalah seperti dulu, menatap wajah sendiri di pantulan cermin saja sudah muak.
Pagi ini, aku sengaja menggunakan dress bermotif bunga matahari. Suasana hati yang memang sedang berbunga-bunga ini, membuatku ingin berpenampilan penuh bunga juga. Ah, jika membayangkan diriku dengan rambut pendek seperti dulu, rasanya sangat malu. Bahkan, semua yang berbau girly aku tinggalkan. Setelah melakukan permainan itu cukup lama, pada akhirnya aku kembali pada diriku sendiri--Navya yang pandai berias dan merawat diri. Rambut panjang yang halus dan menawan, juga dress-dress cantik yang sering aku kenakan.
Aku sudah berangsur bahagia. Terlebih lagi, calon suamiku bukanlah orang sembarangan. Wow! Ia adalah orang kaya, maksudku orang pintar yang sukses dalam usahanya. Baiklah, memang sulit untuk dipercaya, bahkan oleh diriku sendiri, tetapi hal itu adalah kenyataannya.
Aku mengambil ponselku yang berada di atas meja kecil. Kupanggil nomor bernama ‘pacar’.
“Emm ....” Jawaban itu yang muncul dari ponselku.
“Andrew kamu belum bangun?” tanyaku.
“Udah kok. Selamat pagi, Sayang.”
“Kamu masih rebahan, ya?”
“Iya, jarang lembur. Ada ibuk yang masakin.”
“Bangun dong. Katanya mau ke sini? Bantuin papa aku buat bikin lamaran baru.”
“Iya, ini bangun kok.”
“Jangan bohong! Ganti video ya, harus diangkat!”
Aku mengganti mode panggilan itu menjadi panggilan video. Tak lama kemudian, Andrew memberikan persetujuan. Wajahnya yang tampan masih melukiskan mata yang terpejam. Ia tengkurap sembari memeluk bantal dan memegang ponselnya sekenanya psaja, itu hanya dugaanku.
Imut juga kalau sedang tidur seperti itu. Meski aku sudah melihatnya beberapa kali, rasanya masih saja kagum. Ingin mencubit pipinya karena gemas, tetapi jarak kita yang jauh sekali. Aku masih tidak menyangka jika pria itu berusia tiga puluh satu tahun. Aku pikir masih dua puluh enam tepat di atas usiaku. Aku masih ingin menyangkalnya, tetapi bukti KTP menepis penyangkalanku.
“Bangun, calon suaminya Navya,” ujarku kepadanya.
Matanya yang sudah sipit, kini semakin menyipit karena baru bangun tidur. “Iya, ini bangun kok.”
“Bangun ya berdiri dong.”
“Nanti, kalu mau mandi.”
“Jangan lama-lama ditunggu sama papa aku.”
“Kamu udah mandi, Sayang?”
“Udah dong.”
“Pantes, cantik banget.”
“Ya dong.”
“Pengen pipi kamu, Vya.”
“Makanya cepet mandi terus ke sini.”
“Percuma ada orang tua kamu, enggak bisa dapet pipi kamu.”
“Bisa kok, kalau main aman.”
“Sejak kapan Navya jadi nakal kayak gitu?”
“Sejak ada kamu. Udah cepetan mandi dan ke sini!”
Andrew tergelak. Karena merasa sangat malu, aku segera mematikan panggilan video itu secara sepihak. Aku menjatuhkan tubuhku lagi pada ranjang kesayangan. Kuukir senyuman di bibirku, karena tidak menyangka bahwa aku sudah sampai di titik ini. Tiga hari lagi aku akan menjadi mempelai wanita. Rasanya masih sukar dipercaya.
Hanya saja, tidak ada teman satu pun yang datang. Sita? Entahlah, sepertinya ia benar-benar sibuk sampai tidak membalas pesan-pesanku. Aku merasa sangat rindu, tetapi tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali diam. Tidak mungkin aku datang ke rumahnya yang sudah satu atap dengan suaminya. Yang menemaniku di malah hari, terkadang Raya dan Sinta atau Kak Kate dan Affandi. Meski sudah merasa cukup dan amat berterima kasih, aku tidak menampik jika aku merasa sepi tanpa seorang teman. Ya, aku adalah Navya yang tidak angkuh lagi. Dulu, aku suka suasana tenang daripada berbaur dengan banyak orang, tetapi kini keadaannya justru berkebalikan.
Suara bel pintu rumah ini tiba-tiba terdengar, bahkan sampai tiga kali. Dahiku mengernyit, mana mungkin Andrew datang secepat ini. Orang-orang di dalam rumah pun sepertinya tengah sibuk. Aku memutuskan untuk bangun dan segera keluar turun demimembukakan pintu bagi sang tamu.
“Sebentar!” ujarku agak kencang , agar orang itu menghentikan bunyi bel pintu.
__ADS_1
Kubuka pintu perlahan, dan ... Haris? Aku mundur seketika. Tubuhku yang sebelumnya tenang kini menjadi gemetar.
“Siapa, Sayang?” Suara mama terdengar samar, karena aku justru berfokus pada sosok iblis satu itu. “Nn-ak H-haris? Bukankah kami baru mencicil satu minggu yang lalu, ya. Sesuai ketentuan tenggat waktunya?”
“Selamat pagi, Tante.” Ia menjabat tangan mama dan mengecup punggung telapak tangan mama. “Hai, Cantik,” sapanya kepadaku.
"Kenapa kamu datang ke mari? Saya tahu hutang saya belum lunas, tapi tolong jangan ganggu anak saya lagi," sela papa sembari berjalan menghampiri kami bertiga.
Haris tampak mengepalkan kedua telapak tangan, sembari menekan rahang. "Ada yang perlu saya bicarakan dengan Navya secara empat mata, Om."
"Bicara apa lagi?"
"Saya bilang saya ingin bicara empat mata."
Aku berupaya untuk memulihkan diriku dari goncangan jiwa yang datang menerpa. Kemudian, aku menghampiri papa sembari berkata, "biar Navya bicara sama dia dulu, Pa."
"Tapi? Kamu?"
"Aku enggak apa-apa, Pa. Aku udah baik-baik aja kok."
Baru setelah itu, papa menyerah atas penolakan terhadap datangnya seorang Haris. Beliau dan mama pergi ke belakang meninggalkan diriku bersama Haris di sini. Entah apa yang akan ia bicarakan denganku. Aku mempersilahkan ia untuk duduk di ruang tamu dan meminta dibuatkan minum kepada Bi Emi.
****
Aku tidak percaya jika yang ada di hadapanku saat ini adalah seseorang yang sangat ingin aku hindari. Wajahnya yang dulu memiliki jambang, kini telah bersih. Penampilannya rapi dan lebih terawat lagi, entah apa yang terjadi kepadanya sampai berubah sedrastis ini. Ya, Haris, siapa lagi. Pagi hari tadi, ia sudah mengetuk pintu rumahku. Meminta mama dan seisi rumah untuk meninggalkan kami berdua. Namun, aku sangat yakin bahwa kedua orang tuaku saat ini masih mengawasi dari sudut tertentu.
Tubuhku bergetar hebat. Aku tidak bisa menggerakkan leherku karena kehadirannya. Karena tidak ingin ada kekacauan, aku terpaksa menurutinya. Akan kuanggap hari ini adalah hari rabu yang tidak kurang baik.
“Navya,loe udah makin dewasa, ya? Tapi tetep cantik sama seperti dulu,” ujarnya.
Aku masih memilih diam.
“Hmm ... gue denger udah mau nikah, ya? Sayang sekali, pada akhirnya enggak sama gue.”
“Apa? Apa maksud loe dateng lagi di hadapan gue?”
Senyuman Haris yang mungkin ramah bagi orang lain, kini justru menakutkan di mataku. Aku tidak berani lagi menatap wajah itu terlalu lama. Aku belum sembuh dari traumatik terhadap dirinya. Bayangan masa lalu—di mana kehormatanku hampir terenggut, tiba-tiba muncuk di dalam benakku sana. Ada gerangan apa ia datang ke sini?Tidak terimakah dengan kebahagiaan yang hampir aku dapatkan?
Aku berharap Andrew bisa segera dtang. Setidaknya ada yang bisa melindungi keluargaku. Sabtu sudah akan ada gelaran pesta resepsi pernikahanku, jangan sampai ia menghancurkan segalanya. Aku benar-benar sangat takut. Tubuhku seolah tidak bisa dikendalikan sama sekali. Bagaimana ini?
“Hei!” ujar Haris dan berhasil membuatku tersentak kaget. “Loe masih takut sama gue, Nav?” Pertanyaan ini adalag pertanyaan bodoh yang pernah aku dengar.
Aku mencoba memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku. “Iya, gue masih takut sama loe. Gue harap loe bisa segera cabut sekarang.”
Haris terdiam, menatapku lebih dalam kemudian menunduk. Seperti ada yang ia pikirkan, membuatku semakin merasa takut. Aku rasa, ia tengah merencanakan sesuatu. Papa, mama dan Bi Emi mengintip dari arah pintu dapur sana dan hanya aku yang bisal melihat mereka. Pasti ada rasa khawatir yang diberikan oleh mereka untuk diriku.
“Navya, kenapa loe masih benci sama gue? Bukankah dulu, loe tahu kalau gue jatuh cinta sama loe?"
“Karna loe jahat, Haris. Loe maksain apa yang enggak bisa loe dapetin. Kenapa loe harus perlakuin gue kayak dulu? Bukannya gue udah sedikit mencairkan sikap keras gue?”
“Karna hati loe enggak bisa gue miliki sama sekali. Kenapa loe harus jatuh cinta sama cowok itu? Dan tiap kali gue jemput atau anter, loe selalu sama dia.”
“Dia siapa?”
“Calon suamimu.”
Aku terkesiap. Haris tahu tentang Andrew? Sejak kapan? Hari-hari menjelang pernikahanku, terlalu banyak kejutan yang tidak terduga. Pekerjaan Andrew yang m sebenarnya, usianya yang sebenarnya tidak terlalu aku pikirkan, perdebatan mama dan Ibu Siti, kehadiran Nevan dan ini? Haris ada di rumah ini, duduk sembari minum teh hangat bersamaku. Seakan Tuhan membuka satu persatu hal yang tidak aku tahu.
Suasana terasa semakin tidak nyaman. Berharap agar Haris cepat pulang, tetapi sayang, sepertinya ia betah untuk berlama-lama. Rindu kepada diriku, begitu? Tidak, aku tidak boleh terlalu percaya diri untuk sesuatu yang tidak pantas seperti ini.
Aku menyesap teh hangat yang ada di hadapanku demi mengusir perasaan tidak nyaman ini. Aku memperhatikan sosok Haris diam-diam. Ia jauh lebih kurus daripada sebelumnya. Dulu, ia memiliki otot-otot yang besar karena mungkin rajin dalam berolahraga. Mengingat tentang ceritanya pada waktu kami bertemu di penjara, sebenarnya aku tidak ingat dia ini siapa.
Anak laki-laki culun yang terus memperhatikanku sewaktu SMA? Tetapi, mengapa penampilannya sangat berubah banyak?
"Jadi, kapan loe nikahnya, Navya?" tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa urusan loe?" tanyaku sekenanya.
"Gue mau dateng."
"Gue enggak mau loe dateng."
"Kenapa? Gue cuma mau lihat kalau cewek yang gue suka udah bahagia."
"Suka?" Dahiku mengernit karena ucapannya.
Haris mengangguk. "Iya, gue masih suka sama loe nyampe sekarang."
Nevan dan Haris memiliki kemiripan di sini. Hanya karena aku cantik, sehingga membuat mereka sulit untuk melupakanku? Entahlah. Aku merasa bingung harus memberikan pujian terhadap diri ini sampai seperti apa lagi. Diriku bahkan membuat dua pria benar-benar kehilangan akal dan sulit melupakan cinta yang mereka torehkan untukku. Sayangnya, yang memenangkan hatiku justru seorang Andrew.
"Loe ke sini mau bilang itu doang?" Aku masih berusaha membuat Haris merasa tidak nyaman. Ketika ucapanku mengandung makna pengusiran, aku berharap ia mengerti dan segera angkat kaki dari sini. "Gue sibuk, Ris."
"Gue cuma rindu sama loe, Navya. Pas loe pulang, gue cari waktu yang tepat buat ke sini." Lagaknya masih sama saja, meski penampilannya berbeda. Tengil dan seenaknya. Tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.
"Asal loe tahu, gue bener-bener benci sama loe, Ris! Kenapa loe harus ke sini sih?!"
"Gue tahu dan gue sangat paham, Navya. Tapi, gue cuma mau lihat loe buat terakhir kalinya."
"Omong kosong macam apa itu?"
"Navya, ini serius. Gue ... gue minta maaf atas sikap gue waktu itu sama loe. Mungkin enggak bisa termaafkan sampai kapan pun. Tapi, asli gue nyesel dan gue enggak mau ada beban hati lagi. Gue dateng ke sini, paling utama tujuannya adalah ini. Gue sayang sama loe, tulus. Cuman enggak tahu cara nyampeinnya. Gue udah muak liat loe sama orang lain dan ketika sama gue loe sekenanya."
Mendengar permintaan maaf dari Haris, sebenarnya ada setitik rasa haru. Bagaimana tidak, sosoknya yang kejam itu bisa mengucapkan kata itu saja sungguh luar biasa. Aku sudah lupa mengenai pertemuan kami di ruang besuk penjara pada saat dulu, sepertinya ia juga sempat meminta maaf, tetapi aku tidak menggubrisnya sama sekali.
Jika dipikir-pikir, sebenarnya sikapku kepadanya juga sangat fatal kerasnya. Aku tidak pernah berbicara dengan sopan pada saat itu dan terkesan menyebalkan. Bukan tanpa sebab, karena aku benci sekali dengan perjodohan itu. Mungkin sikap kerasku itu juga yang menjadi sebab Haris melakukan sesuatu yang nyaris merenggut kehormatanku. Sikapku yang egois menjadi bumerang untuk diri sendiri.
"Makasih, buat rasa sayang loe buat gue selama ini," ujarku setelah sebelumnya aku menghela napas dalam untuk menenangkan diri.
Haris mengulas senyum di bibirnya. "Udah lama gue merhatiian loe, Navya. Dari SMA, mungkin loe enggak sadar. Bukan cuma foto loe doang yang bikin gue jatuh cinta. Tapi, gue suka loe emang dari dulu," jawabnya mengulang kalimat itu sama seperti saat dulu.
"Ya, karna gue orang yang angkuh. Dan gue enggak bisa care sama orang lain sama sekali. Gue bahkan enggak inget loe itu yang mana."
"Gue udah paham sama sikap loe. Gue cuma ngerasa sayang aja sama loe. Jadi, loe maafin gue?"
Aku bimbang. Namun, tetap memberikan anggukan. "Gue juga enggak mau ada beban lagi. Jadi, buat hutang bokap gue, gue minta loe lebih bersabar lagi nyampe gue bisa lunasin semuanya."
Haris menggeleng. "Mulai hari ini, hutang bokap loe udah gue anggap lunas."
"Enggak perlu, Ris. Gue cuma minta waktu bukan mengemis buat anggap lunas semuanya."
"Hei, Nav. Kalau gue mau duit, kemarin gue udah ambil duit dari cowok loe."
Dahiku mengernyit karena merasa heran. "Maksud loe gimana?"
"Loe enggak tahu?"
Aku menggeleng. "Enggak."
"Hmm ... cowok itu emang sempurna ya dibanding gue. Jadi, ... kemarin dia tiba-tiba muncul di hadapan gue. Bawa segepok uang, buat lunasin hutang bokap loe. Gue pikir dia cowok miskin, ternyata ada duit juga ya." Haris berdiri dari duduknya. "Oke! Gue mau cabut, makasih buat maaf loe buat gue, Nav. Gue lega banget. Urusan hutang, gue anggep lunas."
"Tapi ...?"
Haris berjalan menghampiriku yang baru saja berdiri dari dudukku. Entah mengapa, kali ini aku bisa sedikit lega. Gemetar di badan pun berangsur menghilang. Ia menatapku dalam sembari memegang kedua pundakku.
"Bahagia loe ya? Kalau cowok itu kagak bisa bahagiain loe, gue siap ambil loe lagi." Ia mengacak rambutku.
"M-makasih," jawabku.
"Gue cabut dulu, salam buat bokap, nyokap loe."
Terakhir ia memberikan kecupan manis di keningku. Gilanya, aku menerimanya begitu saja. Ia berlalu pergi dari sini, dengan meninggalkan kabar mengejutkan. Hutang papa sudah lunas? Bagaikan mimpi, meski sempat memberikan penolakan, aku tetap merasa senang.
__ADS_1
Bersambung ....