Who Is My Love

Who Is My Love
Pasangan Baru


__ADS_3

Apa yang terjadi hari ini? Seperti tidak bisa dipercaya sama sekali. Nevan yang tadinya aku pikir akan membuat keributan, kini justru mengajak diriku dan Andrew berbincang dan bersantap bersama. Namun, aku justru bersyukur, lantaran ada wanita baru di sisi Nevan yang ia kenalkan sebagai pasangan barunya.


Meski Andrew sama sekali tidak nyaman, ia tetap mengikuti permintaan Nevan dan karena mantan kekasihku tersebut tidak bersedia beranjak pergi. Sebenarnya, bukan hanya Andrew, bahkan diriku. Meski sudah ada wanita di sisi Nevan, tetap saja aku merasa kurang tenang. Entah apa yang sedang ia rencanakan.


"Hmm ... saya dengar, kalian sudah mau menikah, ya?" tanya Nevan, sepertinya aku pernah mengatakan hal itu kepadanya di pertemuan terakhir kami. "Oh iya, kenalkan ini Siska--tunangan saya."


Wanita yang bernama Siska itu tersenyum dengan ramah, sepertinya ia tidak mengetahui bahwa aku adalah sang mantan dari tunangannya. "Halo, saya Siska," ujarnya memperkenalkan diri sembari sedikit menundukkan kepala.


"Halo, saya Navya," jawabku. "Ini calon suamiku--Andrew." Kutunjuk Andrew.


"Andrew," jawab kekasihku sekenanya saja.


"Jadi, Vya, kapan pergelaran pernikahan kalian. Apa kami bakal diundang?" Tanpa basa dan basi, Nevan melanjutkan pembahasan itu.


Aku yang bingung, hanya tersenyum meski terpaksa. Mana bisa aku memberikan undangan kepadanya, pasti Andrew tidak memberikan izin sama sekali, terlebih Tante Diana sudah pasti sangat membenci diriku setelah penolakanku saat itu. "Kami masih belum tahu," jawabku.


"Ah, ayolah santai aja, kita teman lama jangan terlalu formal bicaranya. Tunanganku juga orang Indonesia, anak jawa."


Andrew mengembuskan napas. "Mohon maaf, Tuan. Sepertinya kami harus pergi."


"Tunggu dulu, Saudara Andrew. Berbincang dulu di sini."


"Iya, saya juga enggak kenal siapa-siapa kecuali Nevan. Navya, kan, bisa temani aku," timpal Siska.


Bagaimana ini? Aku bingung sekali, bukannya mencurigai niatan Nevan untuk berbincang lebih lama. Namun, yang namanya mantan pasti sukar jika dipertemukan dengan pacar. Pasti, jauh di lubuk hati kekasihku, ia menyimpan segala macam rasa kesal. Kalau bukan karena di tempat ini, sudah pasti ia memberikan penegasan.


Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. "Gimana kabar Tante Diana, Nevan?" tanyaku, hanya perlu basa-basi saja agar ketegangan ini menjadi mencair. Meski aku tahu, Andrew tidak akan menyukai ucapanku.


"Baik, beliau masih sering merindukan dirimu, Vya," jawab Nevan tanpa rasa takut sedikit pun kepada Siska. Ia tidak pernah berubah ternyata.


"Ah, syukurlah, aku kirim salam, ya."


Dahi Siska mengernyit. "Apa hubungan kalian berdua, sampai Navya tahu mama kamu, Sayang?" tanyanya kepada kekasihnya yang juga mantan kekasihku.


"Oh, Navya ini adalah man--"


"Kami dulu adalah sahabat dekat." Aku memotong ucapan Nevan. Entah bagaimana jadinya jika Siska tahu mengenai hubungan kami di masa lalu.


"Navya?" Raut wajah Nevan penuh tanda tanya. "Sahabat?"


Andrew memeluk pinggangku. "Nona Siska, bagaimana dengan kami? Apakah kami terlihat serasi?" tanyanya kepada wanita itu, sepertinya hendak mengalihkan topik pembicaraan.


Siska tersenyum. Wanita ini lebih naif daripada yang aku kira, tetapi entah nanti ketika kami saling memisahkan diri. "Ya, kalian cocok sekali. Cantik dan tampan, sama-sama putih dan sepertinya sudah bucin sekali, ya?"


Andrew mengangguk pelan. "Dia tidak bisa kehilangan saya, Nona. Pun saya juga begitu."


"Wah!" Mata Siska tampak berbinar. "Kalian manis sekali." Lalu, ia datang mendekatiku dan menggenggam tanganku. "Semoga kalian lancar di hari H, ya? Saya memang baru mengenal kalian, tapi saya sangat senang dengan kabar pernikahan. Ya, semoga saja saya dan Nevan bisa segera menyusul."


"Amin, Nona Siska. Semoga saja," timpalku sembari merekatkan rangkulan tanganku ke lengan Andrew.


Jangan pernah merusak apa yang menjadi kebahagianku, Nevan! Gue enggak bakalan ngebiarin.


Aku tahu, Nevan masih menyimpan dendam terhadap diriku. Entah dendam atau memang perasaan, sikapnya sama sekali tidak mencerminkan sebuah keikhlasan. Inilah yang terjadi jika harus bertemu dengan seorang mantan. Tidak semua mantan bisa dijadikan teman, bahkan bisa saja ia menusuk diam-diam, mencoba menghancurkan kehidupan yang telah pasangannya di masa lalu. Bukan ingin gede rasa, hanya saja waspada itu sangat perlu.


Aku menyesap air putih di gelas ramping yang sudah aku genggam sejak tadi. Masih aku usahakan tersenyum seramah mungkin kepada Siska, juga tetap setia berpegang pada lengan Andrew. Di hadapanku, Nevan menatapku dengan wajah yang bersemu merah jambu. Entah menahan malu atau marah, aku juga tidak tahu.


Aku tidak jahat, aku dan Andrew hanya berupaya membalikkan keadaan. Sikapnya yang seolah ingin menjatuhkan kami, kini kubuat ia merasa tidak nyaman dengan perbincangan ini. Ini salahnya sendiri karena bersikeras ingin berbincang dengan kami.


Kemudian, ia berdeham tiba-tiba. "Nanti, rencana di gedung mana, pernikahan kalian akan digelar?" Pertanyaan yang terlihat disengajakan. Memangnya apa jawaban untuk pertanyaan itu cukup penting baginya? Atau ia hanya ingin membuat Andrew merasa miskin?


"Apa kami perlu menjawabnya?" balas Andrew. Meski tangannya sudah dikepalkan, ia tetap berupaya bersikap tenang.


"Emm ... iya juga ya, enggak perlu sih. Tapi aku tahu gedung yang bagus, banyak selebriti yang menyewa. Siapa tahu kalian juga ingin di sana."


Aku menghela napas lagi, kalau kuhabiskan seluruh oksigen tempat ini. "Bagi kami gedung, pesta atau kemewahan itu enggak perlu lagi, Nevan. Kita, kan, udah bersahabat lama, kamu pasti tahu aku gimana." Aku tersenyum, tetapi palsu. "Aku enggak suka menghabiskan uang pasangan. Asal sama Andrew dan kami resmi menikah, itu aja udah cukup."


"Navya, kamu luar biasa," sahut Siska. Matanya semakin berbinar ketika menatap wajahku. Wanita ini, sepertinya benar-benar polos. Pantas saja, jika Nevan bersikap kurang wajar, seolah tidak ada takut-takutnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Nona Siska. Bagi kami cinta itu sudah menjadi harta paling berharga. Ya, kan, Sayang?"


Andrew mengangguk. "Iya, Sayang." Ia menggenggam tanganku lebih erat.


"Tapi kalian juga tahu, kan, kalau kehidupan setelah menikah itu berat. Kalau enggak ada uang, ya enggak makan."


"Lho? Emangnya kami bilang enggak punya uang?" Aku masih berusaha menepis serangan dari Nevan.


Ia menunduk. "Enggak sih."


Kemudian, Andrew maju, sedikit mendekati Nevan. Ia memegang pundak Nevan. "Bro, hampir segalanya emang butuh uang, tapi uang juga bukan segalanya. Selama ada pekerjaan, kami bisa makan. Dan aku, aku juga merupakan seorang investor. Enggak sulit bagiku untuk membahagiakan Navya, kalau bahagia itu hanya dengan uang."


Lho?! Apa maksud Andrew? Apakah ia sedang membicarakan, maksudku menggunakan bisnis orang tuanya sebagai tameng untuk melakukan perlawanan? Tidak! Ini tidak benar, aku tidak ingin ia seperti itu. Namun, ia tidak mengatakan tentang bisnis restoran keluarganya. Investor? Apa maksudnya? Dan di mana?


Sama seperti diriku yang kebingungan, Nevan pun sama. Dahinya mengernyit, wajahnya penuh tanda tanya. "Investor? Aku enggak pernah dengar namamu, Bro."


Andrew tersenyum. "Haha ... aku hanya becanda, sayangnya aku hanya orang biasa. Jangan kaku-kaku amat."


Becanda?! Haruskah ia bercanda dengan hal itu? Menyebalkan sekali. Berbeda dengan diriku yang merasa kesal, Siska justru tertawa. Sedangkan, Nevan terdiam dengan wajah yang semakin memerah. Sepertinya, ia merasa dipermainkan oleh Andrew. Mungkin, Andrew juga hanya memberikan sebuah sindiran. Mana ada investor, ayah dan ibunya saja pengusaha resto. Bisa saja sih, jika ia memiliki uang banyak dan menanam saham di suatu peruahaan, tetapi sepertinya mustahil.


"Ternyata asyik juga ya, kalian. Navya juga, Andrew juga, Sayang teman-teman kamu pinter kelakarnya," ujar Siska kepada kami, setelah itu kepada Nevan.


"Ya, baiklah, aku kalah. Semoga kalian bahagia dan lancar di hari pernikahannya." Dengan sikap salah tingkah, Nevan mengatakan itu kepada kami. Namun, hal itu membuat Siska linglung seketika, mungkin karena tidak mengerti akan arti dari ucapan kekasihnya itu.


Ada-ada aja.


"Baiklah, kami harus menyapa pasangan terlebih dahulu," pamit Andrew setelah itu. Ia menarik tanganku dan hendak membawaku pergi dari sini.


Namun sayang, tiba-tiba saja tanganku digenggam. Saat aku menoleh ke belakang, juga Andrew, Nevanlah pelakunya. Secara cepat, aku menepisnya. Jantungku berdegup kencang tidak karuan, aku takut jika Siska merasa sakit hati atas sikap mantan kekasihku itu.


Nevan yang sudah melepaskan tanganku, kini berjalan mendekati Andrew. Aku semakin tidak mengerti. Ia menatap kekasihku dengan ekspresi datar.


"Kuakui, aku cukup sulit melepaskan Navya untuk orang lain, meski udah selama ini," ujarnya. Ini gila! Hal itu membuat Siska membelalakkan mata.


Aku sudah dipuncak emosiku, ingin sekali menampar wajahnya itu. Mengapa ia begitu bodoh? Mengapa ia tidak pernah menghargai siapa pun kekasihnya? Itu obsesi atau cinta, apa makna diriku bagi Nevan yang sebenarnya.


Nevan menatap Siska. "Maaf, Siska, tapi aku harus jujur."


Oh Tuhan! Jangan sampai acara ini rusak gara-gara kami, kumohon ....


"Ah, aku hanya bercanda," ujar Nevan tiba-tiba. "Jangan kaku-kaku amat."


Plak! Aku sudah tidak habis pikir dengan sikapnya dan akhirnya sampai menampar pipinya. Ia memegangi bekas pukulan tanganku. Napasku memburu, meski sudah ditahan oleh Andrew, aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa kesalku. Tamu-tamu didekat kami semakin memperhatikan pun, aku tidak peduli. Beruntungnya, posisi kami berada di sudut yang cukup jauh dari Affandy dan Kak Kate.


"Kamu gila, ya?!" tanyaku tegas kepada Nevan Satya.


"Navya?" Ia menelan saliva, mungkin terkejut dengan ucapanku.


Andrew merangkul pinggangku. "Udah, Sayang, dilihat orang."


Aku masih mengabaikan teguran Andrew. "Kamu lihat Siska, Nevan! Dia tunangan kamu! Sampai kapan kamu sakiti pasangan kamu?!"


"Aku hanya becanda untuk membalas candaan pacar kamu, Vya. Apa yang salah?"


"Becanda ada tempatnya, dan pacarku becanda enggak nyebabin sakit hati orang lain. Dan kamu? Kamu bikin air mata tunangan kamu!"


"Sayang, ayo." Andrew berusaha membawaku pergi dari sini.


Nevan menunduk. "Maafkan aku, Navya."


"Kenapa kamu malah minta maaf sama aku?!"


"Aku ... aku masih mencintaimu."


"Kamu udah enggak waras, Nevan!"


"Tapi, aku udah rela kamu sama cowok itu. Aku hanya belum bisa menghilangkan rasa kesal ketika melihat kamu bahagia bersama orang lain, aku juga enggak tahu harus gimana. Kalian benar, uang bukan segalanya, bahagiaku cuma kamu, Navya."

__ADS_1


Siska menangis, tetapi masih berusaha tidak sampai menimbulkan suara. Aku tidak mengerti lagi tentang ini. Aku sudah menolak Nevan sebanyak dua kali, apakah itu kurang cukup? Bahkan, kami sudah tidak memiliki komunikasi sama sekali selama ini. Nevan tidak mencintaiku, ia hanya tidak rela melihatku bahagia, ia hanya belum menemukan cinta.


"Maafkan aku, Siska," ujarnya sembari terduduk bersandar pada dinding di belakangnya.


Siska mendatanginya, memeluknya erat. "Aku memaafkanmu, perasaan emang enggak bisa dipaksa, Sayang. Sampai nanti, saat kamu bisa melihatku, aku akan menunggumu. Tapi, berusahalah untuk melupakan Navya. Aku enggak tahu masa lalu kalian seperti apa, tapi aku yakin kamu bisa."


Aku terkesiap dengan penuturan Siska. Wanita itu baik sekali hatinya. Menerima semua perlakuan Nevan yang sejak tadi tidak menganggapnya. Mungkinkah, sejak tadi ia sudah bersandiwara untuk tetap baik-baik saja?


"Bro, aku harap ini yang terakhir kamu mengutarakan sisa rasa cintamu kepada calon istriku. Jangan lagi mengingat atau berupaya bertemu. Kamu yang dulu membuangnya dan aku yang menemukannya. Aku yang akan membuat Navya bahagia. Sebanyak apa pun uang milikmu, Navya enggak akan tergoda dengan itu. Dan camkan, bahwa aku enggak akan ngebiarin kamu mengganggunya lagi!" jelas Andrew.


Setelah itu, Andrew membawaku pergi dari tempat ini. Aku berharap agar ini terakhir kalinya aku bertemu dengan Nevan. Aku tidak ingin mengulangi peristiwa yang sudah terjadi. Mantan memang tidak boleh bertemu, aku telah membuktikan bahwa satu ruang dengan mantan akan membuat keadaan menjadi tidak nyaman, bahkan runyam.


"Selamat, Kak Kate, Pak Affandy," ujarku kepada sepasang kekasih yang menjadi artis hari ini. Dengan semburat senyuman yang berusaha aku ukir di bibirku.


"Navya, makasih kamu udah mau dateng," jawab Kak Kate sembari memeluk tubuhku.


"Kakak cantik sekali."


"Kamu juga, mungkin melebihi kecantikanku. Emm ... tadi ada masalah?"


Apakah Kak Kate tahu?


"Tidak ada, Nona Kate. Kami hanya bercanda dengan kawan lama sampai membuat kegaduhan sendiri, maaf untuk hal ini," sahut Andrew.


Kak Kate tersenyum. "Aku pikir di sudut tadi ada apaan, syukurlah kalau enggak ada masalah."


"Cepat urus izin kalian, saya tunggu di kantor. Katanya mau menikah, kan?" sela Affandy.


Aku tersenyum. "Secepatnya, Pak. Selamat ya, Pak."


"Terima kasih, Vya." Ia membalas senyumanku.


"Tapi kami harus pamit pulang lebih awal, ada sedikit urusan." Andrew mengungkapkan maksud hatinya, yang bahkan tidak aku ketahui. Sepertinya, ia tidak ingin terlalu lama di sini, terlebih setelah insiden tadi.


"Sayang sekali, ya udah enggak apa-apa. Makasih ya udah mau dateng ke acara kecil ini." Affandy memegang kedua pundak Andrew. Tampaknya, dua pria itu juga semakin membaik hubungannya.


Setelah itu, mereka berpelukan khas sesama pria. Aku pun melakukan hal sama dengan Kak Kate. Affandy mengacak rambutku, memperlakukan diriku seperti adik kecilnya. Setelah itu, aku dan Andrew berlalu. Mencari Raya dan Sinta, apakah mereka akan pulang nanti atau sekarang.


"Ray, Sin, pulang enggak?" tanya Andrew setelah menemukan mereka.


"Eh, kalian mau pulang?" tanya Raya.


"Mau pulang?" timpal Steve. "Nanti saja, Ndrew. Masih ada banyak makanan."


Andrew menggeleng. "Kami ada kencan."


"Emm ... kalau ada kencan, gue sama Raya belakangan aja, Ndrew. Nanti nebeng Steve."


Dahiku mengernyit. "Sejak kapan kalian deket sama cowok itu?"


"Sejak saat ini, Nav," sahut Raya.


"Baiklah.


Karena masih asyik bercengkerama dengan dua temannya, satu orang lagi tidak aku ketahui siapa, Raya dan Sinta memilih tinggal lebih lama. Sehingga aku hanya bersama Andrew. Kami berdua keluar dari gedung ini, untuk mencari mobil lalu pulang ke rumah yang paling nyaman.


Setelah mobil ditemukan, kami berdua masuk ke dalam. Dilajunya, mobil itu oleh kekasihku. Entah mengapa, udara lebih terasa segar daripada sebelumnya.


"Sayang, kamu enggak apa-apa?" tanya Andrew kepadaku. Aku pikir ia akan marah karena sikap Nevan beberapa saat yang lalu.


Aku menggeleng. "Aku baik-baik aja kok. Emm ... sebenarnya, dia dulu juga pernah begitu, pas di pernikahan Sita. Aku udah kasih penolakan, Ndrew. Tapi ternyata masih kayak gitu. Maaf, ya, udah bikin kamu enggak nyaman."


"Calon istri aku ini cantik sekali. Aku udah paham tentang situasi, yang bukan siapa-siapa aja diam-diam terobsesi, apalagi mantan pacar kamu, Sayang. Kalau kita udah menikah, kamu bakalan lebih aman, tenang aja ya."


"Iya, aku sayang sama kamu, Ndrew."


"Aku lebih sayang sama kamu, Navya."

__ADS_1


Mobil tetap berjalan hingga nanti sampai di tujuan. Menjadi saksi atas ungkapan perasaan kami yang berungkali saling diungkapkan. Oh, jangan ada lagi halangan ataupun masalah yang bisa mengurangi keromantisan. Tiga minggu lagi, ya, tiga minggu lagi kami cukup bertahan. Setelah itu, aku akan sah menjadi istri dari Andrew Birowo.


Bersambung ....


__ADS_2