
****
"Tolong, kamu cari beberapa berkas di ruang samping direktur, Navya," pinta Elena kepadaku.
"Oke," jawabku.
Setelah itu, aku segera bangkit dari dudukku. Kuambil berkas yang diperlukan. Setelah itu, aku berangkat ke ruangan yang Elena maksud. Kakiku melangkah dengan mantap. Penuh kharisma dan juga elegan. Balutan baju kemeja garis berwarna hitam dan putih dengan bawahan rok span, mungkin mampu menunjang penampilanku menjadi lebih baik daripada biasanya. Ya, kali ini aku lebih percaya diri menjadi diriku sendiri sebelum kasus Haris terjadi.
Namun, ketika aku hendak masuk ke dalam ruangan itu, tiba-tiba seseorang menarik tanganku. Aku yang terkesiap, tidak ada kesempatan untuk melawan. Maka dari itu, aku mengikutinya. Ia adalah Affandy, ia membawaku ke dalam ruang kerjanya dan entah apa yang akan dibicarakan dengan diriku. Hatiku merasa getir, takut jika Kak Kate atau Andrew melihat dan mereka bisa salah paham.
Aku duduk di kursi seberangan posisi Affandy dan dibatasi oleh meja kerjanya. Ia sedang duduk dan memangku dagunya menggunakan kedua tangannya yang saling ditautkan satu sama lain dan ia tersenyum. Aku memilih menunduk dan diam bersama rasa gusar yang kian mendera.
"Hei, Vy?" celetuk Affandy tiba-tiba. Membuatku hatiku semakin kalang kabut saja.
"Ya, Pak," jawabku tanpa mengangkat kepala sama sekali.
"Kenapa kamu begitu?"
"S-saya kenapa emangnya emm ... memangnya, Pak?"
"Kok formal lagi, sih?"
Aku menghela napas dalam, kemudian menatapnya. "Ck! Apaan sih?!"
"Nah gitu dong. Itu baru Navya hehe."
"Ada apaan?"
"Enggak apa-apa sih. Mau diskusi sama kamu."
Dahiku mengernyit seketika. "Diskusi?"
Affandy menganggukkan kepala. "Ya."
"Soal?"
Affandy berdiri. Ia berjalan ke sana ke mari dalam beberapa saat. Bahkan, tidak memperdulikan getirnya perasaanku sama sekali. Ia tersenyum-senyum, bahkan bersenandung seolah baru saja mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira harganya.
Aku mendengkus kesal diam-diam. Ingin segera kabur, tetapi itu tidak mungkin karena ia adalah atasanku. Dan lebih parahnya lagi, jika kami terlibat pertengkaran. Jika Kak Kate tahu, pasti ia akan semakin salah paham denganku. Aku juga harus memikirkan apa kata Elena nanti, pasti ia mengira bahwa aku tidak becus bekerja, karena mencari data terlalu lama.
Ah, menyebalkan!
Aku berdeham sedikit kencang. "Cepatan, Pak!" tegasku kepadanya.
Affandy menatapku. "Santai aja sih," jawabnya seenaknya saja.
"Sebenarnya, apa yang mau kamu omongin sama aku?"
"Soal Kate."
"Kate? Kenapa pula harus sama aku?"
"Karna kalian dekat dan kamu cewek. Pasti bakalan paham apa yang dia mau dan ... aku mau lamar dia."
"Banyak yang dekat dengannya, Fandy. Bagus deh kalau mau dilamar, biar enggak macam ABG terus"
"Enggak ada. Hanya kamu, selebihnya aku. Kamu dan Kate itu sama, anti sosial. Tapi, kamu udah sembuh. Haha ... kayak kamu enggak aja."
"Jadi, ... itu yang bikin kamu sempet suka sama aku? Karena kami mirip."
"Ya, aku suka sama kamu kar--" Ucapan Affandy berhenti begitu saja. Ia menoleh ke arah pintu dan ternyata telah berdiri Kak Kate di sana. Ia baru saja masuk tanpa kami sadari sama sekali.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Pasti salah paham. Kak Kate menatapku begitu tajam bak siap menerkam. Aku segera berdiri dari dudukku dan benar-benar bingung harus bagaimana. Salah tingkah, sudah pasti. Mau menjelaskan pun pasti percuma di saat kondisi seperti ini.
"Maaf, menganggu. Ada jadwal meeting yang harus dihadiri. Mohon Bapak Fandy segera bersiap," ujar Kak Kate.
"Kate ...?" Affandy sepertinya juga sadar atas salah paham yang mendera hati wanita pujaannya itu. Ia segera berjalan menghampiri Kak Kate. Namun, wanita cantik itu segera menghindar dan menutup pintu dengan keras. "Mati aku!" keluh Affandy.
Aku menghela napas dalam lalu aku hembuskan kembali setelahnya. Aku menatap Affandy dengan jengkel sekali. "Kamu sih!" tegasku kepadanya.
"Kenapa pula pas banget aku bilang suka sama kamu?"
__ADS_1
Aku mengangkat kedua pundakku, menandakan bahwa aku sama sekali tidak tahu. "Asal kamu tahu, Fandy. Kate deketin aku cuma mau ngorek hubungan kita."
Affandy menatapku. Dahinya mengernyit, mungkin heran. "Dari mana kamu tahu, Vya?"
"Hanya menerka. Buktinya, dia cemburu lihat kita."
"Kate enggak begitu. Tapi momen barusan emang pasti bikin salah paham."
"Enggak, Fandy. Kate beneran ngelakuin itu karna kamu sempat suka sama aku."
Ia berpikir sejenak, kemudian menatapku lagi. "Masa' iya sih?"
Aku menganggukkan kepala. "Iya! Bodohnya, kamu malah tarik aku ke sini."
"Aku enggak tahu."
"Aku bener-bener kecewa sama kalian. Kamu enggak tegas dalam bersikap, sok-sokan jual mahal. Terus, Kak Kate pake acara ngedeketin aku gegara parno kita masih hubungan. Padahal, udah jelas-jelas aku dan Andrew mau menikah."
"Maaf."
"Ck!"
Aku mengambil langkah untuk keluar dari ruang kerja dari atasanku itu. Tentunya dengan membawa sejumlah rasa kesal yang tiada terkira. Sebelum kembali ke ruang kerjaku, aku mengerjakan permintaan Elena. Masuk ke dalam ruang arsip itu. Di dalamnya, aku mencari data-data yang diperlukan untuk kebutuhan pekerjaan.
Bruk! Sebuah file tidak sengaja terjatuh, pada saat aku berusaha meraih map yang berada di atas. Aku mengembuskan napas yang sudah aku hela. Kemudian, aku menunduk untuk mengambil barang tersebut. Dan lagi, tiba-tiba sepasang kaki yang terhias sepatu hak tinggi hadir di hadapanku. Aku menengadah ke atas dan ternyata Kak Kate di sana. Ia menatapku tajam.
"Hai," sapanya singkat kepadaku dengan kedua tangan yang terlipat di depan.
"Hai juga, Kak," jawabku untuknya.
Kak Kate menghela napas dalam. "Enggak perlu dijelasin."
"Ya, aku enggak akan menjelaskannya."
"Apa?!" Kak Kate menatapku dengan perasaan tidak menyangka.
"Ya, karna aku enggak berbuat kesalahan. Lantas, apa yang harus aku jelaskan?"
Kak Kate menunduk. "Ya, kamu benar, Navya."
"Kebenaran? Maksud kamu kebenaran apa?"
"Udah aku bilang, aku enggak akan menjelaskan."
"Lalu, kalau sekarang aku minta gimana?"
"Aku berhak menolak. Akan sia-sia ucapanku, jika Kakak enggak percaya sama aku, dan aku tahu Kakak emang enggak pernah percaya sama aku. Aku tahu juga, soal kecurigaan Kakak mengenai hubunganku dengan Fandy, meski udah jelas-jelas sebentar lagi aku akan menikah."
Kak Kate spontan salah tingkah, sepertinya semua ucapanku memang benar. Aku menelan ludah dengan susah payah, merasa kecewa bak mendapat suatu pengkhianatan. Seharusnya, dari awal aku tahu bahwa wanita cantik itu tidak tulus ingin berteman denganku. Apa lagi, ia tipikal orang yang sulit bergaul. Misal begitu mudahnya dekat denganku, pasti ada apa-apa di baliknya. Aku benci sekali orang munafik. Di dunia ini, Sita masih menjadi satu orang sahabat yang paling tulus.
Aku meletakkan barang yang jatuh itu kembali pada tempatnya. Setelah, cukup mendapatkan berkas data, aku segera mengambil langkah untuk pergi. Bahkan, melewati Kak Kate begitu saja.
Namun, langkahku kembali terhenti. Tepatnya, saat ia berkata, "Seharusnya kamu tahu gimana aku dan Fandy, Navya."
Aku berbalik badan dan menatapnya yang membelakangiku. "Aku tahu, sehingga aku enggak pernah ikut campur tentang itu. Emangnya aku pernah ikut campur?" balasku.
"Tapi, kamu justru memberinya sebuah harapan." Kak Kate berbalik badan, ia menatapku dengan tajam. "Ya, apa yang kamu katakan emang bener. Aku mau berteman sama kamu untuk mengorek sejauh mana hubunganmu dengan Fandy, dulu maupun sekarang."
Deg! Jantungku seperti ditusuk sebuah belati ketika mendengar pengakuannya itu. Rasanya ingin menangis detik itu juga. Semua canda tawa kami, kebersamaan kami, semua uang yang ia gunakan untuk membayar makan siangku? Dan di balik itu ada sebuah dusta. Aku benci sekali.
"Mendekati orang-orang seperti kamu itu mudah. Diberi makanan mahal juga udah tunduk," ujarnya dengan nada yang tidak sopan. Ia gila!
"Y-ya." Aku berusaha memberikan perlawanan, pun meski perasaanku benar-benar tidak karuan. "Kakak, ah! Nona Kate benar, orang seperti saya emang senang dengan barang-barang gratis. Terlebih, mahal dan mewah. Tapi, ... saya tidak pernah munafik di dalam persahabatan. Saya tahu, saya adalah orang yang sulit bersosialisasi. Tapi, sejauh ini saya banyak belajar dan mendapatkan beberapa teman yang baik. Juga kekasih."
Kak Kate, maksudku Nona Kate tersenyum sinis. "Aku bahkan tidak peduli tentang itu."
"Oh ya? Ah, tentu iya. Karna keangkuhan Nona ini sungguh tidak terkira. Bahkan, sampai cemburu buat atas sesuatu yang tidak sesuai dengan perkiraannya."
"Apa maksud kamu?"
"Asal Nona tahu, saya dan Pak Fandy baru saja ingin membahas kejutan untuk melamar Nona."
__ADS_1
"Bohong sekali. Jelas-jelas dia bilang suka padamu."
"Ya, dia memang berkata seperti itu. Namun, itu di masa lalu dan dia suka kepada saya karena saya memiliki sedikit kemiripan sifat dengan Anda. Duh ...." Aku menepuk keningku. "Maaf, saya justru menjelaskan padahal sudah berniat tidak akan."
"A-apa?"
Aku mengabaikan nona cantik itu dan memilih kembali berbalik badan. Sebelum kembali melanjutkan langkahku, aku menghela napas terlebih dahulu. Baru setelah itu, aku benar-benar berjalan keluar.
Langkahku sangat gontai, pikiranku tidak keruan. Hatiku merasa sakit. Aku dikhianati oleh seseorang yang bahkan aku anggap seperti kakak sendiri. Bukan salah Kate, melainkan salahku sendiri karena terlalu gede rasa. Aku menyesal karena sikapku yang begitu sukarela menemaninya, bahkan bersedia menerima makanan yang ia bayarkan. Kalau bisa, aku ingin memuntahkannya kembali. Namun itu tidak mungkin, karena sudah menjadi kotoran yang telah dibuang.
Tidak mungkin juga aku mengembalikannya dengan bentuk uang. Pasti, ia tidak akan menerimanya. Ia jauh lebih kaya daripada diriku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana saat ini. Sampai akhirnya air mataku jatuh membasahi pipi.
"Apakah kamu baik-baik saja, Navya?" tanya Elena kepadaku, setelah aku menyerahkan data itu kepadanya.
Aku tersenyum. "Ya, aku baik-baik saja. Dan maaf, aku terlalu lama dalam bekerja," jawabku.
"Kamu jatuh atau tertimpa sesuatu?"
"Tidak, Elena. Aku oke."
"Oke, selamat bekerja lagi."
"Terima kasih."
Aku kembali menuju meja kerjaku. Karena dekat dengan Andrew, sebisa mungkin aku menata diriku agar terlihat baik-baik saja. Ya, karena Kate memang bukan siapa-siapa. Seharusnya, ia tidak membebani pikiranku terlalu lama. Namun ... baru tiga hari yang lalu aku menginap di apartemennya. Aku bersamanya sepanjang malam, bak adik dan kakak. Aku masih tidak percaya jika keadaan di balik secepat ini. Aku syok!
Kutatap monitor komputerku dengan air mata yang masih keluar. Hari ini, pekerjaanku pasti akan berantakan dan tidak akan selesai dengan baik. Aku ingin cepat pulang, mendekam di dalam kamar dan merenungkan semuanya sendirian. Hal ini juga tidak mungkin aku katakan kepada Andrew. Mengingat beberapa waktu yang lalu, ia justru membela Kate karena merasa berada di posisi yang sama.
"Hei, are you oke?" tanya Lady, salah satu rekanku. Ia membawa secangkir kopi yang mungkin baru saja diseduh.
Aku menatapnya. "Emm ... i'am oke," jawabku.
"Kalau sakit, ke klinik saja."
Aku menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja, Lad."
"Oke, ini kopi untukmu."
"Ah?!"
Ia tersenyum manis. "Tidak masalah."
"Thanks."
Setelah itu, ia kembali ke meja kerjanya sendiri meninggalkan kopi ini untukku. Terima kasih, batinku. Akan ada banyak orang baik di dunia ini, mengapa pula aku harus memikirkan orang seperti Kate? Cemburu butanya begitu menakutkan. Herannya, ia terus menolak keberadaan Affandy, jika masih sayang. Entahlah! Aku tidak ingin memikirkan lagi.
Kembali, kumainkan jari-jariku di atas para tombol yang tersusun rapi di atas papan keyboard. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku supaya bisa bersantai di rumah nanti.
****
Sore kembali tiba. Aku bergegas pulang dengan cepat, bahkan mengabaikan Raya dan Sinta, juga Andrew. Aku memesan taksi sendiri tanpa menunggu mereka sama sekali. Jalanan yang terbentang panjang, terhampar di hadapanku bersama seorang driver yang sibuk mengemudikan mobil taksi tumpanganku. Aku mengeratkan jari-jariku untuk membuang semua rasa sedihku. Aku harus lupa!
Yah, pada akhirnya semua itu sulit untuk dijalankan. Aku pikir, sakit hati itu muncul karena cinta, ternyata dari hubungan pertemanan juga ada. Selama ini hubunganku dengan Sita selalu baik-baik saja, jika ada kesalahan kami akan terbuka satu sama lain. Semua masalah yang muncul di antara kami bisa terselesaikan dengan baik. Mungkin, kami juga memiliki perbedaan tipe dalam menyukai pria, sehingga jauh dari kata persaingan. Ah, aku menjadi merindukannya. Mungkin, malam nanti aku akan menelepon dirinya.
Berbicara soal telepon, tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku mengeluarkannya dari dalam tasku. Tertera nama Andrew di sana. Tampaknya ia sedang mencariku. Ah, juga beberapa pesan dari Raya dan Sinta.
"Halo, Sayang?" sapaku kepada kekasihku itu.
"Kamu di mana?" Sama Ka--" Ucapan Andrew aku hentikan begitu saja.
"Aku pulang duluan. Kebelet! Kalian nyusul, ya? Nanti aku samparin kamu."
"Raya dan Sinta mau mampir. Aku sendirian."
"Ya udah. Aku jadi males turun, kamu ke atas aja."
"Ya udah. Tunggu aku, udah naik taksi ini."
"Iya, Sayang."
Panggilan suara itu dimatikan oleh Andrew. Kemudian, aku membuka pesan-pesan yang masuk dari Raya maupun Sinta. Dan ternyat mereka tidak mencari diriku, melainkan pamit karena ada acara. Untuk saat ini, aku berpikir itu bagus. Keadaan akan tenang dalam beberapa saat. Jika ada mereka akan terdengar berisik sekali, tetapi memberikan kesan yang hangat dan bukan menyebalkan.
__ADS_1
Padahal, aku juga memiliki kedua temanku itu. Seharusnya, aku tetap akan baik-baik saja.
Bersambung ...