
Mataku begitu nanar pada saat menatap tempat tinggalku. Ada rasa getir tersendiri, ketika aku hendak menyambangi rumah itu. Bayangan wajah papa dan Haris masih terlihat jelas didalam benakku. Rasanya tidak ingin kembali, barang sekali saja. Namun, lama kelamaan aku tidak bisa membiarkan Andrew tidur ditempat lain yang tentunya kurang nyaman. Terlebih, kami akan segera berangkat ke Singapura. Aku ingin memberinya kesempatan untuk tidur nyenyak diatas ranjang pribadinya. Sudah cukup, aku dalam mempermainkan hatinya.
Tampak mobil putihku teronggok diam, tanpa berpindah tempat semenjak acara kaburku waktu itu. Sampai jendela kamarku, sepertinya tidak pernah terbuka, terbukti saat kutilik ke atas, gorden jendela masih menutupi. Sebenarnya aku merasa rindu dengan ruangan manisku. Namun, entah mengapa aku sangat enggan meski hanya melangkah sampai depan pintu saja. Sedangkan, kedua pria yang mengantarkanku saat ini masih menunggu keputusanku.
"Aku tahu, kamu masih trauma, Navya. Tapi, nggak baik kepergianmu nanti ke Singapura, jika nggak berpamitan atau berkumpul terlebih dulu dengan keluarga," ujar Affandy sembari memegang pundakku. Trauma tentang sentuhan memang sudah berangsur hilang. Aku tidak sampai menjadi gila.
Namun, seketika saja tangan Andrew mengibaskan telapak tangan Affandy dari pundakku. Aku rasa, ia tengah cemburu. "Tolong, nggak perlu pegang-pegang, Pak," ujarnya.
"Lho? Kamu sendiri juga megang Navya lho? Lagipula, saya masih dalam batas wajar kok."
"Saya calon suaminya."
"Jangan ngaku-ngaku, anda cuma mantan pacarnya."
"Tapi, saya yang memiliki hatinya."
"Navya tidak pernah mengatakan itu."
"Tapi hatinya mengatakan itu."
Apa-apaan sih mereka?! Astaga! Macam bocah aja.
Mereka terus saling beradu mulut tentang diriku. Dan aku sama sekali tidak mengerti. Mungkin, Andrew memang cemburu. Tapi, Affandy? Ah... malas sekali aku memikirkan laku gerak mereka. Lebih baik, kuambil langkah masuk dan memberanikan diri untuk pulang. Sampai akhirnya, aku benar-benar meninggalkan Affandy dan Andrew dengan menarik koperku lagi. Aku tidak peduli, bahkan jika mereka sampai berkelahi. Aku memiliki masalah cukup pelik dan baru terselesaikan. Sehingga tidak mau lagi dipusingkan dengan beberapa hal. Aku lelah sekali.
Deg! Jantungku kembali berdegup. Menatap daun pintu yang sudah berada dihadapanku. Tanganku gemetar ketika hendak mengetuknya. Aku masih takut dengan wajah papa. Nyatanya, aku masih belum cukup tegar dalam menghadapi sisa-sisa kemelut itu. Lantas, aku harus berbuat apa? Apakah aku akan kembali menumpang di kediaman Andrew, bahkan sampai keberangkatan kami ke luar negeri?
"Hmm... kamu nggak perlu memaksakan diri, Navya," ujar Andrew tiba-tiba. Tampaknya mereka sudah membuntuti diriku kembali.
"Tapi, kamu harus tetap pulang dulu, Navya. Mereka tetap orangtua kamu," sambung Affandy dengan maksud yang berbeda dengan Andrew. Seketika itu, aku berbalik badan dan menatap keduanya. Mereka saling beradu tatapan tajam, seolah menimbulkan aliran listrik diantaranya.
"Kalian ini kenapa sih, daritadi?" tanyaku kemudian.
Lantas, mereka menghentikan tatapan mata itu. Keduanya menatapku dengan segala bujuk rayu dan kalimat manis. Aku heran namun enggan untuk bertanya. Apalagi mereka sangat berbeda pemikiran. Saling berdebat sampai membuatku jengah saat mendengar.
Jegrek! Tiba-tiba daun pintu dibuka dari dalam oleh seseorang. Tengkukku terasa kaku, aku menelan ludah kaku. Bahkan badanku sangat sulit untuk dibalikkan.
"Kalian?" Suara itu, suara tanya yang dilontarkan papa. "Navya? Kamu pulang, Nak?" lanjut beliau lagi.
Suara papa terdengar begitu parau dan melemah. Tampaknya sesuatu sempat terjadi di hati beliau. Aku masih saja terdiam. Dan kedua pria ini malah asyik berbincang dengan papa. Tak lama kemudian papa merengkuh lenganku. Sontak saja, aku terkejut dan langsung mengibaskan tangan beliau. "Aku capek, mau istirahat," ujarku.
"Ya sudah, kamu masuk dulu. Istirahat di kamar."
"Thanks, Ndrew, Fandy udah mau antar. Aku mau masuk silahkan pulang."
Andrew dan Affandy hanya mengangguk. Sedangkan papa memberi ruang untukku diriku untuk masuk ke dalam rumah membawa koperku yang berisi pakaian. Tidak kulihat siapapun di rumah ini, termasuk Bi Emi dan Cika. Lantas, kemana mereka? Mama pun tak ada. Aku rasa, mereka tengah berbelanja, apalagi waktu memang masih sangat pagi.
Segera kuambil langkah untuk naik ke lantai dua. Perlahan-lahan namun pasti. Sesampainya dia atas, aku segera masuk ke dalam kamarku sendiri. Kulihat pemandangan kamarku sudah rapi, meski kurang terpapar matahari lantaran gorden jendela yang tidak pernah dibuka. Aku rasa, Bi Emi masih sangat rajin membersihkan kamar ini.
Lantas, aku membaringkan diriku. Kutatap langit-langit kamar, pikirku kembali melayang. Bayangan akan kejadian yang belum lama terjadi, masih membekas begitu jelas. Terkadang membuatku bergidik. Bahkan pada diriku sendiri yang hampir kehilangan kehormatan karena ulah pria itu. Sebenarnya, apa yang menjadi alasan Haris berbuat seperti itu? Kami terbilang belum lama mengenal. Tidak mungkin Haris mencintaiku sebesar cinta milik Andrew.
Terlebih selama ini, aku hampir tidak menunjukkan sikap yang manis terhadapnya. Kalau Haris pria yang sehat seharusnya sudah mundur begitu saja. Herannya, ia tidak melakukan itu. Ia terus mencariku selama aku kabur dari rumah, bak seorang yang terobsesi besar atas diriku. Haris adalah orang kaya, rasanya aku tidak percaya jika ia tidak bisa mendapatkan wanita yang lebih dari segalanya dariku.
Tiba-tiba, seseorang tengah mengetuk daun pintu kamarku. Entahlah, aku tidak tahu siapa pelakunya. Kemudian dengan langkah gontai, aku menghampiri benda itu. Kubuka perlahan, dan kulihat wajah papa dan mama. Aku terdiam, ingin rasanya kututup kembali namun merasa tak pantas untuk itu.
__ADS_1
"Boleh kami masuk?" tanya papa kemudian.
"Yea," jawabku sekenanya.
Akhirnya kedua orangtuaku masuk ke dalam kamarku. Padahal, belum lama ini papa menyarankan agar aku istirahat dan sekarang malah mengangguku begitu cepat. Beliau masih tidak sabaran seperti biasanya. Namun, aku bersyukur wajah tegas itu kini tiada dan berganti wajah lembut penuh dengan rasa penyesalan.
Lantas, mama memberikan pelukan disertai kecupan di pipiku. Beliau menatapku bersama senyum teduh yang mengembang di bibir. Aku membalas dengan senyuman yang masih terasa getir. Sedangkan papa masih duduk di satu kursi riasku, setelah beliau menariknya. Beliau menatapku dengan gusar penuh rasa bersalah. Yah, itulah yang harus papa rasakan karena semua yang terjadi adalah ulah yang beliau ciptakan.
"Sekali lagi, maafin Papa, Navya," ujar papa.
"Kami minta maaf, Sayang," sambung mama.
"Yeah, sudah," jawabku sekenanya.
"Katanya kamu mau ke luar negeri? Kalau boleh Papa tahu, kamu mau berangkat ke negara mana?"
"Nggak boleh."
Papa menghela napas begitu berat. Aku rasa, beliau paham akan penolakanku untuk memberitahu. Karena rasa takutku terhadap beliau belum sepenuhnya hilang, aku ingin meminimalisir campur tangan beliau lagi setelah ini. Aku ingin hidup tenang di Singapura nanti.
"Mungkin sebentar lagi Papa akan masuk bui." Papa berucap itu dengan kepala yang tertunduk. Bahkan aku sampai tak tega menatap beliau. Mau bagaimanapun, papa tetap seorang ayah untukku. Lalu, anak mana yang tega menyaksikan orangtuanya masuk ke dalam penjara? Setidaknya aku masih memiliki hati nurani.
"Mama akan sendiri, Sayang. Apa kamu nggak mau menemani Mama?" tanya Mama.
Aku terdiam seketika. Kutatap wajah mama yang begitu memelas. Satu sosok wanita yang setia dalam keadaan apapun. Bahkan kemanapun papa pergi, beliau senantiasa mendampingi. Beliau begitu tegar dalam menghadapi kerasnya hati papa. Padahal, dimasa lalu beliau tidak mencintai papa dengan semestinya. Namun, lama kelamaan rasa itu tumbuh dengan sendirinya.
Gara-gara ini aku menjadi gusar. Apakah harus membatalkan keberangkatanku? Tapi, aku sudah menandatangani surat perjanjian. "Maaf, Ma. Sepertinya aku harus pergi," jawabku kemudian.
"Sebenarnya kisaran hutang yang papa emban ada berapa banyak?"
Karena pertanyaan ini, papa tidak kuasa lagi untuk menatapku. Kepergian papa untuk dinas di kota lain sama sekali tidak aku ketahui, tentang cara hidup mereka disana. Bahkan, sampai sekarang aku tidak tahu uang itu dipergunakan untuk apa. Modal usaha? Tapi, usaha apa? Dimana dan berapa lama sebelum gulung tikar? Rasanya sungguh sulit dipercaya.
Kemudian, papa tampak menghela napas berat dan menghembuskannya kembali. Perlahan-lahan beliau menganggkat kepala dan kembali memandang diriku. "700 juta, Nak," ujar beliau.
"What?! Itu hampir satu milyar lho. Buat apa sih?" tanyaku.
"Buat beli restoran di kota ini. Tapi, belum ada satu tahun, restoran tutup."
"Kenapa nggak bilang? Cara usaha yang bener tu nggak kayak gitu!"
"Papa terlalu terambisi dan masuk ke dalam jebakan Haris."
"Haris?"
"Ya, anak itu yang menawarkan pinjaman. Dengan jaminan menikah dengan kamu, Papa rasa Haris sudah lama menyukaimu."
"A-apa?"
"Haris nggak asing dengan foto kamu yang ada di meja kerja Papa. Entahlah, sejak kapan anak itu kenal sama kamu."
Kenal denganku? Haris? Memangnya kapan kami bertemu?
Semua terasa tidak terduga. Memang wajar jika Haris begitu ambisius terhadapku. Tapi, tidak ada ingatan tentang dirinya didalam memori otakku sebelum aku diperkenalkan dengannya. Lantas, kapan kami sebenarnya saling mengenal? Bahkan papa dan mama sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
Namun, jika ditilik pada pekerjaan papa yang sudah bertahun-tahun menjadi orang kepercayaan ayahnya Haris, sepertinya ada kemungkinan aku dan Haris sempat bertemu sebelum ini. Meski aku tidak dapat memastikan kapan waktunya.
"Sudahlah, lupakan soal Haris. Aku akan berangkat ke luar negeri dan membayar hutang papa secara bertahap. Tapi, sebelum itu papa harus bersedia masuk ke dalam bui jika itu harus terjadi," ujarku.
"Kamu nggak perlu membayar, Nak. Ini kesalahan Papa dan mungkin Papa bisa membayar semua yang terjadi dengan cara ini," jawab papa.
"Sebenarnya aku enggan untuk membayar uang yang bahkan tidak pernah aku nikmati. Aku hanya memikirkan Mamaku saja, kalau papa nggak ada, Mama akan bersama siapa? Dan sampai sekarang aku belum bisa maafin Papa secara sempurna."
"Papa mengerti."
Aku memejamkan mataku tatkala papa berlalu dengan sejumlah kerisauan di hati beliau. Sebenarnya aku tidak enak hati membiarkan hati ayahku sendiri seperti itu. Namun, hukum tetaplah berjalan. Papa harus mempertanggungjawabkan semuanya. 700 juta bukan uang yang sedikit. Gajiku setahun pun belum cukup membayarkan hutang itu. Mungkin waktu 5 tahun baru bisa aku lunasi.
Dan selama itu, aku harus bekerja mati-matian di negara orang yang gajinya cukup menggiurkan. Disisi lain, aku harus meninggalkan mama seorang diri disini. Hanya bersama Bi Emi. Tidak mungkin kuberhentikan Bi Emi begitu saja, aku tidak bisa membiarkan mama sendiri. Sepertinya yang namanya karma tetaplah berlaku, papa akan masuk penjara, mama akan sendiri seperti saat meninggalkanku di rumah ini bersama sepi. Dan giliranku yang bertugas jauh, bukan di luar kota melainkan luar negeri.
Tuhan memberikan balasan yang setimpal pada setiap perbuatan manusia. Yeah, kami patut menjalani konsekuensi ini.
"Jadi, kamu pilih yang mana?" tanya mama tiba-tiba.
"Maksud Mama? Pilih apa?" tanyaku kembali.
"Tadi Mama abis dari pasar sama Bi Emi. Ya, nggak sengaja ketemu mereka berdua yang lagi ngobrol sama Papa kamu."
"Andrew dan Fandy?"
"Mungkin. Jadi yang mana?"
"Apaan sih, Ma? Orang lagi sedih gini kok, malah nanya gitu."
"Yah, biar kamu Mama dan kamu nggak terlalu stress, Sayang. Yang Mama denger katanya kalian akan berangkat kesana?"
"Iya, Ma. Tapi, nggak kami doang kok. Masih ada cewek yang dari divisi lain.".
"Syukurlah. Mama jadi tenang, tapi kayaknya mereka berdua sama-sama baik. Yang satu jabatannya kayak kamu, yang satu petinggi. Tinggal kamu mau pilih yang mana nanti, Mama akan dukung."
"Apaan sih? Mereka berdua temen saat ini. Ya sih, emang salah satunya pernah deket sama aku. Tapi, Stop! Aku belum mikirin mau cinta-cintaan lagi. Aku pusing."
Akhirnya mama dan aku kembali tertawa. Namun, semua yang kuucapkan benar adanya. Entah itu Andrew, aku masih tidak ingin menjalin hubungan. Atau Affandy, aku bahkan tidak tahu mengenai hatinya. Lagipula, ia adalah atasanku yang terbilang masih baru mengenal. Aku belum ada rasa tertarik sama sekali.
Usiaku memang hampir mencapai 25 tahun, sudah cukup untuk memasuki rencana pernikahan. Namun, permasalahan yang baru saja terjadi membuatku sedikit enggan untuk menjalin hubungan. Belum lagi, aku masih memiliki tanggungan untuk membayar hutang papa. Kalau aku menikah dalan waktu dekat, sudah pasti hutang akan terbengkalai dan papa akan menginap di kamar sempit itu dalam waktu yang lama.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu, Sayang. Biar esok hari kamu nggak kaget menghadapi sidang dan penjemputan Papa kamu," ujar mama.
"Mama yang harus siap hati, Ma. Kalau sidang aku yakin aku yang menang, dan Haris mendapatkan ganjaran. Soalnya bukti-bukti cukup kuat dan yang menangani kasus ini adalah teman dari ayahnya Sita," jawabku.
"Syukurlah kalau gitu, Sayang. Akhirnya semuanya akan selesai."
Kuraih tubuh mama dan aku memeluk beliau. "Mama yang kuat ya? Mama pasti bisa menunggu Papa."
"I-iya, Sayang."
Tetesan air mata membasahi pipi mama. Aku tidak sanggup melihat pemandangan ini. Aku mengusap perlahan air mata mamaku dan memeluk beliau beberapa kali. Yah, istri mana yang tahan jika sang suami akan masuk bui dan menjadi narapidana? Hati mama pasti hancur sekali. Namun, apa mau dikata, semua memang harus dijalani sebagai konsekuensi.
Bersambung...
__ADS_1