Who Is My Love

Who Is My Love
Rahasia


__ADS_3

Aku mendengus kesal pada Rezky dan menjewer daun telinganya. Aku sudah cukup geram mendengar perkataannya yang bertele-tele. Jujur saja, aku ingin cepat pulang, karena hari sudah semakin malam dan mataku mulai memerah dan berair menunjukkan rasa kantukku.


"Aduuuhhh sakit Navya." Ujar Rezky mengaduh kesakitan sembari mengelus-elus daun telinganya yang aku jewer.


"Aku udah ngantuk Rez!!!"


"Hehehe penasaran juga ya tapi kalo denger ini dijamin gak ngantuk."


"Ya apa buruan!"


"Janji ya jangan marah apalagi nangis."


"Iyaaaaa."


"Vya sayang banget ya sama Andrew?"


Dahiku mengeryit mendengar pertanyaan Rezky. Haruskah aku mengatakan perasaanku tentang Andrew padanya? Aku cukup ragu untuk menjawabnya. Terlebih Rezky baru saja mengungkapkan perasaannya padaku.


"Jawab aja gak papa." Lanjutnya.


"Ehmm." Jawabku singkat.


Rezky tampaknya semakin risau. Saat ini ia menengadahkan kepalanya keatas menatap langit yang gelap tanpa bintang satupun. Sedang aku hanya mampu menggigit bibir bawahku.


Aku takut menyakiti hatinya. Dengan perasaanku yang memang sama sekali tidak melihat Rezky sebagai orang yang aku sayang. Bahkan aku tidak pernah memikirkan ia akan menjadi calon kekasihku. Selama ini aku menganggapnya tidak lebih dari seorang rekan kerja atau ketua tim saja.


"Vya kalo sesuatu yang lo inginkan di Andrew tapi gak sesuai keinginan gimana?" Tanyanya.


"Kok sekarang bawa-bawa Andrew Rez?" Jawabku dengan perasaan heran karena nama Andrew sekarang ia sebut.


"Vya apa selama ini hubungan lo sama dia lancar?"


Degghhh!!!


Jantungku seolah terhunus panah menyasar secara tiba-tiba. Aku bingung akan menjawab apa pertanyaan Rezky saat ini. Dan mengapa ia bisa memberiku pertanyaan seperti itu? Apakah ia tau tentang hubungan tanpa status yang kini aku sandang bersama Andrew?


Padahal tidak ada yang tau mengenai itu. Bahkan Sita sahabat yang terbilang sangat dekat denganku pun tak mengetahuinya sama sekali. Lalu bagaimana Rezky bisa tau? Mungkinkah Andrew yang menceritakannya?


"Ko..kok lo nanya gitu sih?" Tanyaku balik padanya dengan suara yang tergagap.


" Vya gue kan tadi udah ngomong gue paling tau dari siapapun." Jawabnya.


"Emang Andrew cerita apa sama lo?"


"Vya bisa gak lo mutusin hubungan sama dia?"


Wah, apa lagi ini. Rezky bahkan sekarang berani memberikan intruksi tentang hubunganku dengan Andrew. Mungkinkah ia berniat akan merusak hubungan kami karena perasaannya yang sangat lama ia pendam padaku? Sebegitukah jahatnya dia padaku?


"Maksud lo apa sih Rez bisa gak, gak usah ikut campur??!!"


"Vya jangan salah paham dulu gue gak ada niatan ikut campur sebenarnya."


"Udahlah gue balik aja!! Percuma gue nunggu lo ngomong daritadi dan akhirnya mau ikut campur doang!!"

__ADS_1


Dengan kesal aku beranjak dari dudukku. Dan bermaksud ingin pulang serta menghampiri keberadaan mobilku terlebih dahulu.


Namun niatku terhenti, saat Rezky menarik tanganku dengan kuat. Ia ingin aku mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Aku sudah muak dengan apa yang ia utarakan. Perkataan yang berbelit-belit dan sampai membicarakan masalahku bersama Andrew. Memangnya punya hak apa dia?


"Vya... vya... tunggu dulu dengerin aku dulu." Sergahnya.


"Gak Rez, gue daritadi udah sabar sama omongan lo yang ngalor ngidul gak jelas dan sekarang lo ikut campur urusan gue!"


"Vya karna gue suka lo, gue gak mau lo terperangkap di hubungan gak jelas kayak gitu."


"Punya hak apa lo ngelarang gue???"


"Makanya dengerin gue dulu gue belom beres ngomongnya."


"Mau sampe kapan Rez ini udah dua jam loh gue sabar demi nungguin lo ngomong!"


"Iyaa... iyaa gue tau. Makanya duduk dulu gue minta maaf kalo ngulur waktu terlalu lama. Karna ini penting."


Rezky memapahku kearah kursi panjang itu kembali. Dan bodohnya aku tidak bisa menolaknya lagi. Aku hanya ingin memberinya kesempatan sekali lagi karena kalimat penting yang ia lontarkan.


Suasana taman perlahan mulai sepi, hanya ada beberapa pemuda yang sedang memainkan gitarnya. Mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Kalau akhir pekan akan sangat ramai bahkan sampai jam-jam diatas pukul dua belas.


Aku menghela nafas dalam dan menghembuskan kembali secara kasar. Jujur saja aku sudah sangat kesal dan mengantuk. Terlebih hembusan angin malam yang seolah menghipnotisku untuk terkantuk-kantuk.


Aku kembali memasang telinga dan bersiap mendengar perkataan Rezky untuk kesempatan terakhir yang kuberikan malam ini. Entah apalagi yang akan ia sampaikan. Seandainya berniat ikut campur lagi aku sudah membulatkan tekat untuk pulang tanpa mau mendengar celotehnya sekali lagi.


"CEPEEEETT!!!" Bentakku dengan kesal, bahkan aku sudah lupa bahwa Rezky adalah seorang ketua.


"Vya ini soal lo dan Andrew." Katanya.


"Iya, gue udah tau ini dari sebulan yang lalu."


"Soal?"


"Ehmm... hubungan lo sama dia."


"Terus lo niat mau ngurusin gue lagi gituu???!!!"


"Gak , gue jauh lebih tau apa yang gak lo tau."


Rezky menatap tajam dan tegas kearahku. Hal ini membuatku sedikit was-was.


"Si Andrew udah punya cewek yang bahkan hubungannya sudah lama banget." Ujarnya.


Degghh!!!!


Jantungku seolah ditusuk parang yang begitu tajam. Bola mataku membulat lebar. Seketika seluruh tubuh gemetaran dengan debaran detak jantung yang kencang dan tidak beraturan.


"Lo jangan ngada-ngada Rez!!!!"


"Buat apa gue ngada-ngada Vya, gak ada untungnya."


"Ada untungnya! Lo tadi abis ngomong suka ama gue dan sekarang lo fitnah Andrew kayak gitu. Bisa jadi kan lo bikin hubungan gue hancur."

__ADS_1


"Astaga Vya, sebegitu buruknya ya gue dimata lo???"


"Terus apa lagi??? buktinya dari tadi lo berbelit-belit banget ngomongnya."


"Vya asal lo tau ya gue sebenernya gak mau ikut campur soal ini dan maksudnya ngancurin hubungan lo sama Andrew hanya karna ego gue gitu? Gue gak sejahat itu Vya."


"Terus sekarang apa maksud lo kayak gini Rez?"


"Inget Vya hampir delapan bulan hubungan lo gak jelas sama Andrew kan. Pernah gak sih lo pikir apa yang ada di balik semua ini??"


Aku terkesiap mendengar perkataan yang dilontarkan Rezky. Memang benar aku tidak pernah membayangkan hal negatif tentang hubunganku bersama Andrew. Selama ini aku selalu memerintahkan otakku agar tidak berfikir buruk pada diriku sendiri. Hati kecil berkata memang sangat berlogika jika berkaitan dengan alasan yang dilontarkan Rezky. Namun sampai sejahat itukah Andrew?


Kini dayaku seolah melemah, aku menyenderkan tubuhku pada badan kursi. Aku menatap langit gelap yang kini segelap hatiku dengan tatapan kosong.


"Maaf." Ujar Rezky, tampaknya ia merasa bersalah.


"Oke gak papa tolong bilang yang lo tau Rez." Jawabku, kini aku tidak menolak perkataan yang akan disampaikan Rezky.


"Gue gak mau lo sakit hati lebih dari ini nantinya Vya, apalagi kalo lo udah terlalu jauh sama dia."


"Gue tau."


"Kira-kira sebulanan yang lalu gue maen ketempat Andrew pulang kerja. Kita maen game bareng ngobrol biasa dan gue kepikiran gue belom pamit sama abah gue, dan kebetulan gue gak ada pulsa. Akhirnya gue minjem hp Andrew. Entah dia lupa apa gimana dia mempersilahkan tanpa larangan apapun. Nah disitu gue liat ada pesan masuk."


"Siapa?"


"Cewek, emang lo gak pernah pegang hp dia?"


"Pernah tapi jarang karna gue gak seposesif itu Rez. Tapi emang gue gak pernah nemuin yang aneh-aneh."


Rezky mencoba menenangkan dirinya sejenak. Aku tau mungkin ia tidak mau sampai aku menangis saat ini. Dengan perasaan yang mulai tidak karuan aku mencoba dengan sangat keras agar tidak menjatuhkan air mataku setetespun. Aku harus siap dengan fakta yang terjadi.


"Vya lo masih mau denger?" Tanya Rezky sebelum memulainya kembali.


"Yeah." Jawabku singkat sembari menggigit bibir bawahku agar tetap kuat.


"Gue diem-diem ngambil nomer cewek itu dan menyimpannya. Gue ngechat dia beberapa hari kemudian gue jujur gue siapa tanpa bawa nama lo Vya dan coba buat akrab sama dia. Dan akhirnya sampai sebulan ini gue udah mulai akrab sampe dia curhat sama gue."


Aku menelan ludah dengan hati yang terasa menyedihkan. Rezky memberikan ponselnya padaku. Ia memberitauku tentang kontak milik wanita tersebut.


Dengan berat aku mulai membuka isi percakapan Rezky dengan Lusi si pemilik kontak tersebut. Benar saja, Lusi mencurahkan semua isi hatinya kepada Rezky.


Tentang hubungannya bersama Andrew yang terbilang cukup lama yaitu selama empat tahunan. Tentang empat bulan lamanya ia memutuskan break dengan Andrew tanpa kata putus karena banyaknya perbedaan pendapat. Lalu kembali lagi karena perasaannya yang belum bisa melepas Andrew. Dan lebih sialnya aku membaca hubungannya kini sudah mulai membaik, mungkin berkesempatan bersama lagi. Terlebih kini foto profil Lusi. Wanita berkulit putih dan berparas lumayan manis sedang berdua bersama Andrew dengan balutan busana batik. Meskipun tidak sepasang, namun otakku menangkap bahwa kejadian ini baru saja terjadi di pernikahan saudara Andrew yang dilaksanakan tadi siang.


Bagaikan tersambar petir di malam hari. Air mataku sudah tidak dapat terbendung lagi mendengar kabar tersebut. Rezky hanya mengucapkan sabar dan meraih kepalaku ke pelukannya.


"Gue salah apa Rez kenapa dia kayak giniin gue." Kataku disela isak tangis.


"Maafin gue Vya guelah yang bikin lo kayak gini. Gue gak mau ini berlangsung lama, maaf."


Bersambung....


ini visualnya Andrew sama Vya . Sebenarnya cock gak sih mereka? 😁

__ADS_1



__ADS_2