
Tepat di hari Minggu Andrew akan berangkat ke kampung halamannya. Karena hari pernikahan kakaknya akan dilaksanakan dua hari lagi. Dan kini aku berada di apartemen miliknya. Aku membantunya mempersiapkan apa saja yang akan dibawa untuk perjalanannya. Terutama makanan.
Sebelum menuju apartemen Andrew beberapa waktu yang lalu. Aku memang sudah mampir ke swalayan guna membeli bahan-bahan makanan dan beberapa botol air minum kemasan tak lupa cemilan-cemilan. Untuj mengisi kejenuhannya di perjalanan nanti.
Andrew memilih untuk membawa mobilnya sendiri, selain untuk berhemat ia juga merasa bebas ketika ingin berhenti di rest area. Tidak seperti ketika menggunakan bus, butuh waktu lama untuk sekedar mampir di tempat makan.
Setelah selesai mengemas makanan-makanan kecil untuk Andrew. Aku beranjak menuju dapur dan bermaksud memasakkannya sarapan serta bekal di perjalanan. Lumayan bukan untuk mengisi perut ketika lapar menyerang.
"Aku masakin ayam goreng krispy aja yang bisa tahan lama?" Tanyaku.
"Boleh, apa aja juga mau asal kamu yang masakin hehe." Jawab Andrew menggoda.
"Dihh... geli."
"Yee... bilang aja seneng digenitin."
"Biasa aja tu."
Dengan tangan yang sudah mulai lihai memainkan pisau. Aku begitu cekatan mengolah bahan masakan. Aku sibuk dengan bumbu-bumbu dapur saat ini. Sedangkan Andrew masih fokus dengan aktivitas mengemas pakaiannya.
Satu persatu bahan aku olah dengan baik mulai dari daging ayam, sambal dan beberapa lalapan segar. Dan aku melakukannya dengan sebaik mungkin. Agar nantinya bisa diterima di lidah Andrew.
Tak lama kemudian selesai sudah aku menjadi koki dadakan. Ku hidangkan makanan tersebut ke dalam baskom-baskom kecil yang diperuntukkan untuk lauk pauk. dan mengambil nasi yang sudah dinanak sejak tadi. Tak lupa juga ku kemas juga makanan ke dalam tempat bekal. Dan pastinya aku hias seindah mungkin. Supaya menambah selera makan Andrew. Tentunya agar selalu mengingatku juga di perjalanan.
"Makan dulu hayuk keburu kesiangan ntar." Kataku bermaksud mengajak Andrew ke meja makan.
"Iya sayang bentar ya dikit lagi."
"Ehmm."
Sambil menunggu Andrew sebentar aku merapikan kembali keadaan dapur. Tak lupa kucuci beberapa peralatan masak yang telah kupakai. Aku membersihkannya dengan teliti karena nantinya akan ditinggal sang pemilik selama seminggu lamanya.
"Aduhh rajin banget buk." Ucap Andrew dari arah belakang tubuhku.
"Harus dong sambil belajar." Jawabku.
"Cup."
Andrew mendaratkan kecupannya pada pipi kananku yang membuatku tersentak. Terlebih dibarengi dengan tangannya yang bergerak memelukku.
"Ihh apaan sih. Biar cepet beresnya jangan kayak gitu." Pintaku sembari berusaha melepas pelukannya.
__ADS_1
"Bentar sih mau di tinggal lho." Jawabnya dengan manja.
"Yaelah kan seminggu doang kan?"
"Tetep aja lama sehari gak ketemu aja udah kangen banget Vya."
"Hmm.. gombal lagi."
Andrew terkekeh girang. Aku hanya memanyunkan bibir tipisku seraya mencubit-cubit tangannya. Setelah Andrew melepas pelukannya. Aku beranjak ke wastafel untuk mencuci tangan dan kami menuju meja makan.
Dengan lahapnya Andrew menyantap hidangan yang telah aku masak dengan sebaik mungkin. Ia hanya menggunakan tangan yang menjadi budaya orang Indonesia, ia memilih tidak memakai sendok. Kesederhanaan inilah yang menjadi salah satu kekagumanku padanya.
"Laper ya Pak?" Kataku.
"Iya, apalagi kamu yang masakin gampang laper pengen ngunyah terus." Jawab Andrew.
"Berarti masakanku gak bikin kenyang dong?"
"Bukan gitu Vya sayang kan enak gitu lho."
"Oooo... gitu toh."
Disela-sela aktivitas sarapan kami selingi dengan obrolan-obrolan tak penting. Namun sangat hangat. Rasanya aku tidak ingin kebersamaan indah ini cepat berlalu. Apalagi setelah kepulangan Andrew selama seminggu akan seperti apa aku merindukannya.
Andrew mengajakku ke sofa yang berada di ruang tv. Setelah merapikan meja makan kembali.
"Kamu berangkat jam berapa emang?" Tanyaku padanya yang kini telah duduk bersebelahan di atas sofa empuk.
"Entar deh jam sebelasan aja."
"Emang gak kesiangan? Ini aja baru jam sembilan lho."
"Enggak lah biar nyampenya gak malem-malem juga."
"Ehmm.. yaudah yang penting entar hati-hati ya."
"Iya Vya sayang."
Ada perasaan sesak yang merambat ke hatiku. Entah apa namanya. Mungkin semacam rasa tak rela ditinggalkan. Yah, meskipun hanya satu minggu lamanya.
"Jangan manyun lagi." Celetuk Andrew membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Enggak kok." Jawabku sekenanya.
Andrew mulai usil dengan tingkahnya. Beberapa kali ia mendaratkan kecupan pada pipiku. Sampai-sampai membuat hatiku kesal.
Meski begitu Andrew sama sekali tidak peduli. Ia malah tertawa lepas melihat wajah emosi. Semua yang ia lakukan seakan bisa memberi sugesti tersendiri untukku. Aku tidak bisa marah lebih lama. Mungkin itulah yang dinamakan cinta.
Kami terperangkap dan hanyut dalam keromantisan yang hangat. Ingatan tentang hubungan kami tidak lagi terpikir olehku. Aku nyaman dan menikmati setiap waktuku bersamanya.
Sungguh membingungkan memang. Namun, apa daya. Aku sudah menjadi budak dan terperangkap didalam cinta tidak jelas ini.
"Kamu apaan sih?" Tanyaku.
"Charger dulu hehe." Jawab Andrew.
"Orang mah berdo'a ini malah bikin dosa."
"Hmm jangan ngomong dosa, aku banyak banget kalo ngomongin itu."
"Terus kenapa masih dilakuin?"
"Yaaaa gak tau hehe. Terus kenapa kamu juga mau hayooooo?"
"Gak tau juga haha."
Sampai akhirnya kami berhenti saling mengusili satu sama lain. Aku menata rambutku yang telah diacak-acak olehnya.
Akhirnya jam keberangkatan Andrew sudah dekat. Ia mulai bersiap setelah mandi. Ia hanya memakai kaos santai dan celana jeans. Mungkin tidak mau ribet di perjalanan.
Kami berdua beranjak keluar dari apartemen dengan menenteng beberapa barang. Aku sedikit membantunya membawa kardus oleh-oleh dan makanan kecilnya.
"Kamu hati-hati ya." Ucapku.
"Iya kamu juga hati-hati inget pesenku kemarin ya Vya." Balas Andrew.
"Ehmm."
"Cup."
Andrew memasuki mobilnya setelah memberi kecupan manis di keningku. Yang terakhir ia tersenyum begitu tampannya. Kemudian berlalu dan hilang ditelan panjangnya jalan. Aku kembali ke mobilku sendiri dan bergegas untuk pulang.
Bersambung...
__ADS_1