Who Is My Love

Who Is My Love
Kejutan Dari Teman-teman


__ADS_3

Kukerjibkan mataku perlahan, untuk memperbaiki pandangan mataku. Langit-langit kamar tampak asing bagiku. Ah, benar juga, aku sudah berada di negara Singapura. Dan kali ini aku berada di lantai bawah bersama suamiku. Aku menoleh ke kanan, tampak wajah tampan yang matanya masih terpejam.


Kubaringkan tubuhku menghadap pria itu. Memandanginya dengan senyum yang terukir di bibirku. Damai, semua terasa lebih nyaman dan menenangkan. Mungkin inilah salah satu keuntungan adanya pernikahan. Aku tidak lagi khawatir tentang sesuatu yang mungkin terjadi di antara kami, juga pandangan sinis dari orang lain.


Lalu, tiba-tiba tubuh pria itu bergerak. Ia mengubah posisinya untuk menghadap diriku. Ada semburat senyum tipis, meski belum membuka matanya. Apakah ia juga sudah terjaga? Ataukah sedang bermimpi saja? Apa pun itu, ia tetap menawan. Andrew-ku tersayang.


"Pagi ...," ujarku lirih. Kubelai wajahnya yang mulus bagai porselin. Sepertinya ia juga rajin dalam merawat wajahnya. "Kamu udah bangun belum, Sayang?"


Andrew menggeliat. Lalu, perlahan membuka matanya, menatapku dengan senyumannya. "Pagi juga, Istri," sapanya.


"Ayo, bangun. Udah pagi ini."


"Masih ada satu hari ini, kan, liburnya?"


"Iya sih. Tapi, bukan berarti males-malesan."


Andrew menghela napas, dan setelah itu abai dengan perkataanku. Bukannya segera bangkit dari rebahannya, ia justru kembali memejamkan mata. Aku hanya bisa mendengkus kesal. Tidak peduli lagi terhadap suamiku itu, aku segera bangun.


Waktu memang masih pukul lima pagi, hawa-hawanya masih nyaman untuk tidur. Namun, ada beberapa kewajiban yang harus aku laksanakan. Terlebih lagi, aku sudah menjadi seorang istri. Tidak baik, jika berlama-lama di atas kasur.


Dengan langkah yang masih gontai, aku mengayunkan kaki menuju dapur. Namun sebelum memulai memasak, ada rutinitas lain yang perlu aku kerjakan, termasuk mencuci wajah.


Pagi ini cukup damai, mungkin karena hatiku pula yang damai. Haris telah membebaskan hutang papa, rasanya satu beban besar telah terangkat. Semua menjadi baik-baik saja, hatiku tenang.


"Sayang?" Suara Andrew terdengar dari belakang, ketika aku hendak membuka pintu kamar mandi.


Aku menoleh ke arahnya. "Ya? Kok bangun? Aku pikir kamu masih mau tidur," jawabku.


Ia menggeleng. Berjalan menuju ke arahku. Lalu memeluk manja setelahnya. "Enggak bisa jauh dari kamu," bisiknya.


"Hmm ... ada-ada aja. Orang aku enggak ke mana-mana kok."


"Aku tahu, tapi tetep nggak bisa."


"Jangan lebay deh. Aku mau mandi sekalian, terus masak."


"Masak dulu baru mandi."


"Enggaklah, nanti masakannya bau asem."


"Nanti panas lagi."


"Ya, enggak apa-apa. Ada AC."


"Hmm ... ya udah, aku ikut mandi."


"Eh?"


Tanpa mendengar persetujuanku, Andrew menarikku ke dalam kamar mandi. Di dalam, ia memandangiku dengan usil. Aku sama sekali belum terbiasa dengan hal ini. Belum lagi harus menghadapi ulah tangannya. Sentuhannya, lalu kecupannya. Seolah membuat napasku tersendat-sendat.


Sampai akhirnya, aku hanya bisa pasrah atas keusilannya. Di bawah guyuran air, kami menikmati rasa manis dari sebuah cinta.


****

__ADS_1


Aku membuka mataku perlahan. Tadi, Andrew membawaku ke kamar lagi. Pada akhirnya, kami kembali tertidur. Sialnya, aku belum memasak. Oh masak? Terperanjat mengingat hal itu, aku spontan bangun dengan menarik selimut yang hanya ada pada tubuhku. Aku menilik waktu pada jam dinding. Kutelan saliva karena sudah pukul delapan.


"Ais! Kacau ini, jam segini belum masak," keluhku.


Ketika aku ingin bergerak untuk turun, tangan besar melingkar di pinggangku. Aku menghela napas dalam dan kuembuskan secara kasar. "Udah siang banget. Masa' masih mau lagi? Kita belum sarapan lho," ujarku.


Andrew semakin menarik diriku, dan aku terjatuh kembali. Kucubit pinggangnya dengan keras, sampai ia mengaduh kesakitan. Aku heran karena melihat suamiku ini yang seolah tidak ada puasnya. Tenagaku sudah hampir habis karena dirinya. Ini gila! Sebegitukah ia menginginkan diriku selama ini?


"Aku mau masak," ujarku lagi.


Andrew mengeratkan pelukannya terhadap diriku. "Kita pesan online aja dulu. Kamu pasti masih capek, kan?" tanyanya.


"Iya sih. Tapi, pesen apa? Masih jam segini?"


"Apa pun yang kamu mau."


"Terus nanti siang dan sore?"


"Pesen lagi."


"Jangan boros ah."


"Ya udah kita masak bareng."


"Iya udah. Kan, aku jadi enak. Tapi udahan, ya? Aku mau mandi lagi."


"Aku ikut."


"Enggak ada selesainya nanti!"


Mentari sudah bersinar begitu cerah. Membuat suasana dalam rumah menjadi lebih hangat. Ada beberapa kegiatan yang harus aku lakukan setelah ini, yaitu bebersih dan ada beberapa barangku yang belum diturunkan. Masih sangat melelahkan, apalagi saat stamina terkuras seperti ini.


Guyuran air yang dingin membasahi tubuhku. Semua penat perlahan menghilang, menjadi kesegaran, meski rasa pegal masih terasa di beberapa persendian. Aku memastikan tubuhku selalu bersih, di setiap jengkalnya. Baik untuk diriku, juga tampak indah di hadapan suamiku. Aku menyelesaikan bebersih diri ini selama setengah jam, luar biasa!


Saat aku berjalan ingin menuju kamar sembari mengeringkan rambut yang basah dengan handuk, tiba-tiba saja pintu utama rumah ini terdengar diketuk beberapa kali. Aku mengernyitkan dahi, bertanya-tanya dalam hati.


"Siapa, Sayang?" tanya Andrew dengan balutan handuk di bagian bawah tubuhnya.


Aku menggeleng. "Enggak tahu, emang anak atas bilang mau ke sini? Aku masih berantakan mau buka," jawabku.


"Enggak ada yang bilang sih. Rapihin dulu kamu, aku malah belum ngapa-ngapain. Terus jangan pake celana pendek, takut ada cowoknya."


"Hmm ... udah mulai ngatur, ya?"


"Cuma aku yang boleh lihat. Pake pakaian yang sopan, meskipun cuma Raya dan Sinta yang dateng."


"Iya, iya."


Aku berjalan meninggalkannya, dengan cepat menuju kamar. Kuganti pakaianku dengan gaya yang lebih sopan. Rambut hanya tersisir rapi, karena tidak ada waktu berlama-lama lagi. Ada tamu yang datang.


Dengan langkah yang cepat aku menuju pintu utama. Ini salahku karena baru terbangun jam segini.


"Navyaaa!" Secara tiba-tiba, Kak Kate mendekap tubuhku setelah menyerukan namaku, ketika pintu sudah aku buka. Aku yang terkesiap hanya bisa membelalak dan terpaku saja.

__ADS_1


"Navya, basah-basah nih, jam berapi ini?" tambah Raya sembari menggelengkan kepalanya.


Kak Kate melepaskan pelukannya dariku. Aku menghela napas dalam untuk membuat diriku tenang. Kuamati lagi perihal siapa yang datang. Ada Kak Kate, Raya, Sinta, Affandy dan ... Steve? Apa-apaan ini?


"Ah, m-masuk," ujarku kepada mereka semua.


Satu persatu dari mereka menjabat tanganku, sembari mengucapkan selamat. Aku benar-benar heran dan bingung harus berbuat apa. Kondisi rumah ini masih sangat berantakan. Ah! Andrew tidak membawa pakaian ganti, hanya handuk saja. Segera kutancap gas meninggalkan mereka.


Di dalam kamar, aku mencari pakaian ganti untuk Andrew. Setelah itu, aku menuju kamar mandi. Kuketuk pintunya.


"Kenapa, Sayang?" tanyanya sembari melongokkan kepala.


"Ada temen-temen, kamu enggak bawa salin. Pake ini," jawabku sembari memberikan pakaian itu. "Yang cepet ya?"


"Iya, Sayang."


Demi apa, ini benar-benar mendadak sekali. Tidak ada yang memberitahukan diriku, juga Andrew perihal kedatangan mereka ke sini. Memang sih, ini sudah hari minggu. Hanya ada hidangan oleh-oleh dari tanah air dan teh hangat yang bisa aku berikan. Sebenarnya cukup malu, apalagi ada Kak Kate dan Affandy yang merupakan petinggi.


"Kenapa sih, kalian enggak bilang-bilang kalau mau dateng?" tanyaku sembari meletakkan hidangan yang telah aku bawa.


"Kalau bilang, namanya bukan kejutan, Vya," jawab Affandy.


"Pak Fandy juga? Steve juga, aduh. Aku belum beres-beres, berantakan banget. Dan maaf aku hanya punya ini."


"Habis ngapain loe? Udah jam segini juga? Masih basah-basahan lagi?" goda Raya diiringi cibiran.


"Kamu mau tahu, Beb. Apa aku harus segera menunjukkannya?" sela Steve dengan perkataan yang tidak aku duga-duga.


Wajah Raya seketika memerah, entah sejauh mana hubungan mereka berdua. Teman yang lain hanya tertawa. Perbincangan kami berlanjut, dengan ucapan selamat yang masih sering terdengar. Apalagi Kak Kate yang selalu memberikan pujian kepadaku. Kejutan pagi yang indah dan beberapa kado yang mereka berikan.


Beberapa saat aku terdiam, meski senyum mengembang sembari memandang semua teman-temanku yang saling melempar candaan. Betapa beruntungnya hidupku saat ini, karena ada teman-teman yang luar biasa. Kali ini, aku sangat berterima kasih kepada Tuhan. Nikmat terindah yang aku rasakan adalah rezeki seperti ini.


"Hai!" sapa Andrew setelah menyelesaikan mandinya. Ia sudah rapih dan menghampiri kami. Namun tidak mendekati diriku, melainkan bergabung dengan para pria.


"Waduh pengantin baru nih. Segeeer." Raya menggoda.


"Sue'! Gue doang yang ngejomblo nih," celetuk Sinta tiba-tiba.


"Makanya punya cowok jangan jauh-jauh," sahut Affandy.


"Ya, gimana, Pak. Nasib." Wajah Sinta melemah, dan aku bergegas mengusap punggungnya.


"Sabar, Sin," ujarku.


"Pengen mewek, Nav. Huhu."


Steve menyela, "mau aku kenalkan kamu pada temanku? Biar enggak jomblo lagi."


"No, no, no. Kekasihku segalanya meski jarak jauh, aku bukan Raya yang tergiur bule sepertimu."


Raya mendengkus kesal. Lalu kami tertawa. Saling membaur dalam canda dan tawa. Terima kasih atas semuanya.


Bersambung ....

__ADS_1


Satu bab lagi, end


__ADS_2