Who Is My Love

Who Is My Love
Pilu


__ADS_3

Di sudut ranjangku, aku sandarkan kepalaku pada tembok. Masih tersisa kepedihan saat itu. Bulir air mata mengalir lagi dari pelupuk mata yang menatap langit-langit kamar dengan kosong. Bunyi ponsel berdering sampai beberapa kalipun aku biarkan, mungkin dari Andrew.


Aku masih menyesalkan, betapa hancurnya impian dalam anganku. Mengapa harus seperti ini yang terjadi. Dengan ini kejadian ini semua, teori tentang cinta tidak harus memiliki akhirnya terbukti.


Bibirku diam tak bergeming. Mungkin terlihat begitu pucat dan dingin. Mengingat seharian aku belum menyantap sesendok makanan dari pagi hingga malam ini. Rasa pilu menghancurkan selera santapku. Padahal dari tadi aku mencoba kuat dan tegar namun nyatanya semua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku masih sangat merindukannya, aku rindu Andrew.


"Non Vya ayo makan dulu, tadi belum makan kan." Ujar Bi Emi di balik pintu kamarku.


"Non buka atuh, non kenapa? Ngomong sama bibi." Lanjutnya.


Bagai tiada kuasa lagi dalam diriku. Aku lemah tak berdaya bahkan untuk menjawabku rasanya malas dan berat sekali. Sampai beberapa saat kemudian suara Bi Emi menghilang, mungkin sudah turun dan membiarkanku.


Aku terus seperti ini sampai tiga jam lamanya. Luar biasa bukan? Tanpa berger


ming sedikitpun. Seandainya rumahku penuh hantu, pasti aku akan kesurupan.


Aku mulai menggerakkan tubuhku dan menghampiri jendela kamarku. Tampak langit begitu gelap tanpa bintang. Disana kulihat bulan yang sedang sendirian. Seperti aku, sosok yang orang bilang begitu menawan, namun dalam hati aku kesepian.


Tak lama kemudian, lamunanku dibuyarkan oleh suara tangis dari pintu utamaku. Sepintas aku membayangkan sesosok hantu di malam sepi ini. Tapi masa iya ada hantu menangis sambil mengetuk pintu sejelas itu.


Sampai akhirnya aku memutuskan beranjak menghampirinya. Memang sih ada rasa takut sekaligus penasaran. Aku menuruni tangga rumah kearah bawah.


Di ruang tengah bola mataku menangkap keberadaan Bi Emi yang sedang bingung dan menggigit jari. Tampaknya ada rasa takut juga.


"Siapa Bi?" Ujarku.


"Eh non ngagetin, enggak tau non bibi takut mau buka." Jawab Bi Emi tersontak kaget.


"Buka aja."


"Tapi non, aduhh."


"Ada aku bi entar kalo ada yang salah kita teriak kenceng."


Mau tak mau Bi Emi menuruti permintaanku. Meskipun masih ragu dan takut. Sebelum membuka pintu Bi Emi mengambil sapu ijuk untuk berjaga-jaga.


"Kkreeettt." Dengan pelan Bi Emi membuka daun pintu dan aku tepat dibelakangnya.


"Whhhaaaaaaaaaa!!!!" Teriak kami ketika melihat seorang wanita dengan rambut terurai berantakan.

__ADS_1


"Ihhhh bebeb iniii guueeeee." Ujar wanita tersebut.


"Sitaaaaa!!! ngagetin aja." Jawabku kesal.


"Ya ampun non Sita kirain yang gak nampak hehehe." Sambung Bi Emi terkekeh.


Aku menatap wajah Sita yang berantakan penuh air mata. Entahlah apa yang terjadi padanya sampai seperti ini. Dan jarang sekali mengalaminya.


"Bebeb huuuuuaaaaaaaaaaaaaaaa." Tangis Sita memecah kesunyian malam.


Sita memelukku sambil tersedu-sedu. Saat ini aku masih belum berani bertanya apapun sampai ia tenang.


Setelah Bi Emi menutup pintu kembali. Aku mengajak Sita ke kamarku dan Bi Emi kembali ke kamarnya menghampiri si kecil Cika yang sudah tertidur.


Aku memapah Sita dengan pelan. Dan mengatakan kata sabar. Miris memang, padahal aku sendiri belum bisa sabar mengatasi masalahku sendiri. Dan tentunya masih sangat sedih dan marah.


Ketika sampai di kamarku, aku membuka pintu perlahan. Dan masuk bersama Sita. Kami terduduk bersebelahan di atas ranjangku. Aku masih menunggu ia mulai berbicara.


Air mata Sita tak kalah deras dengan air mataku tadi. Aku sangat mengerti suasana hatinya meskipun belum mengetahui permasalahnnya.


Aku mengambil segelas air mineral kemasan disudut meja riasku. Dan memberikannya pada Sita. Ia meneguknya perlahan, kini ia sudah dalam kondisi mulai tenang.


"Lo kena Sit?" Tanyaku memulai pembicaraan.


"Haaaaah?"


"Iyaaa tadi gue pengen ngajak jalan tapi ditolak, eh tadi gue malmingan sama adek gue terus ketemu dia bareng cewek."


"Kok lo tau itu selingkuhannya?"


"Tau lah orang ditaroh dipundak cewek itu, cantik lagi hampir sama kaya lo tipenya gue pasti kalah. Terus gue samperin kan gue marah-marah nah abis itu dia ngaku."


"Sabar yaa."


"Sakit tau... hu hu hu."


Tangis Sita meluap lagi ketika mengenang kejadian yang baru menimpanya. Ia terus menceritakan apa yang ia alami. Mulai dari perselingkuhan dan pengakuan tidak lagi cinta padanya dari kekasihnya. Terlebih ketika sedang bertengkar kekasihnya tersebut lebih memilih dan membela wanita barunya.


Oh shit! Mengapa nasibnya hampir sama denganku. Melihat Sita yang sesenggukkan tidak jelas. Aku menjadi tersugesti, aku pun menangis tak kalah pilunya. Sepasang sahabat sedang pilu oleh cinta dan pria bodoh. Kami saling berpelukan melampiaskan kesedihan.

__ADS_1


"Kok lo ikut nangis sih beb kan gue yang sedih mana kenceng lagi." Ujar Sita.


"Gue juga sedih hiks." Jawabku.


"Gue tau kok lo sayang gue tapi jangan ikut-ikutan nangis dong."


"Jangan ge-er."


"Yeee terus kenapa coba?"


"Sit Andrew Sit, dia selams ini bohongin gue."


"Haaah? Andrew si kalem itu?"


"Ehmm... dia ternyata udah punya cewe selama ini."


Aku menceritakan semuanya pada Sita. Mulai dari pertemuanku dengan Rezky, isi chatting, pengakuan Andrew, cinta Andrew dan perjanjian mereka berdua.


Semua aku luapkan dan Sita mendengarku dengan seksama. Kami saling menguatkan satu sama lain. Inilah keuntungan memiliki seorang sahabat akan ada dan selalu ada.


Waktu lambat laun berjalan sebagaimana mestinya, dan mulai gelap.


"Beb gue nginep ya?" Pinta Sita padaku.


"He'eh tidur sini aja." Jawabku.


"Pokoknya kita malem ini tidur dulu sedihnya udahin, terus besok jalan-jalan berdua shopping dan lupain para cecunguk bodoh itu."


"Oke gue setuju, mulai besok kita mulai hal baru tanpa mereka dan kita harus bisa dong."


"Oke sipppp."


Sebelum tidur aku membasuh wajah yang bengap terlebih dahulu. Aku menghapus sisa-sisa air mata. Dan menatap cermin yang tersedia di kamar mandi. Aku rasa sudah puas dan cukup untuk meluapkan segala amarah dan kesedihanku. Jadi mulai besok semua harus baik-baik saja seperti kata Sita.


Aku harus bisa melupakan Andrew dan menghapus cintanya. Karena aku tidak ingin menjadi budak cinta darinya. Semoga kami bisa mencari bahagia masing-masing. Namun, jika Tuhan berkehandak lain. Pertemukan kami di waktu yang tepat tanpa halangan apapun.


Aku kembali ke kamar dan berganti Sita untuk ke kamar mandi. Beruntung rasa kantuk mulai menyerbu. Mungkin karena kelelahan. Tanpa aku sadari aku terlelap sebelum Sita kembali.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya upnya lama, karena ya seperti yang saya bilang di awal, saya orangnya gampang down. tapi setelah pikir-pikir saya memilih menlanjutkan novel ini. Meski sepi dan juga tidak sesering seperti dulu


yang pastikan saya akan menuntaskan sesuatu yang saya mulai. Terima kasih ☺️


__ADS_2