Who Is My Love

Who Is My Love
Mantan


__ADS_3

Tak lama setelah semua yang aku alami, Andrew muncul dari pintu masuk dan bersama Linseyld. Bergelendot dengan kegatalannya. Mungkin sedang berpura-pura sakit kakinya lantaran terpeleset beberapa saat yang lalu. Aku sampai meninggikan satu alisku, heran. Ah, aku malah tersenyum. Waraskah? Tentu saja, aku sudah gila. Maksudku rencana. Inilah yang aku tunggu, Linseyld masuk ke dalam perangkapku. Yah, meskipun kekasihku itu terlihat sangat tidak nyaman.


Kemudian, keduanya menuju tempat kerja milik sang ular. Tentu saja, dengan mau tidak mau Andrew mengantarkannya. Aku hanya tersenyum licik dari sini. Entahlah, kali ini aku sama sekali tidak merasa cemburu. Mungkin karena ada sesuatu dibalik sikapku. Akan menjadi kebanggaan untuk Linseyld kemudian akan kujatuhkan suatu saat nanti. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bersikap sigap.


"Gila kamu, Sayang. Masa' manfaatin pacarnya sih?" ujar Andrew sesaat setelah sampai di tempat kerjanya yang masih berada disampingku.


Aku meletakkan jari telunjukku di atas hidungku. "Sssttt ... diem aja. Pura-pura kayak nggak kenal dulu, kalau di kantor."


"Navya, ini permainan konyol tahu nggak sih ...?"


"Aku tahu ..., terus kenapa?"


"Batalin semua."


"Enggak ...!"


"Sayaaang ...."


"Emm ... Elena udah masuk. Kita harus brief dulu."


"Ck!"


Seandainya Linseyld nggak keterlaluan, aku pasti tetap diem, Ndrew. Sayangnya, dia kayak nggak punya malu. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, aku juga nggak mau jadi perempuan yang lemah lagi. Aku ingin mempertahankan bukan meninggalkan, Ndrew. Seharusnya, kamu bersabar untuk hal ini.


Aku memalingkan pandanganku darinya. Kuhela napas panjang dan mengembuskan setelahnya. Gerak kakiku yang kaku, kuambil untuk menghampiri kerumunan rekan kerjaku. Tentu saja sebagai rutinitas sebelum bekerja, briefing dan berdo'a. Sekilas, aku melirik ke arah tempat kerja Linseyld. Tampaknya, ia tidak ikut rutinitas pagi seperti ini. Maybe, kakinya benar-benar sakit. Yah, semoga cepat sembuh. Selebihnya aku tidak peduli, kecuali jika berkenaan dengan harga diriku.


Elena mulai membukanya dengan salam pagi berbahasa inggris. Kami hanya mendengarkan arahannya sembari terdiam dan memasang telinga. Satu persatu kalimat tentang pekerjaan ia lontarkan. Sudah seperti Rezky saat di Indonesia. Ya, Rezky, apa kabar dirinya? Orang yang memberitahukan tentang kebohongan Andrew sekaligus mengungkapkan perasaan sukanya kepadaku. Sudah lama, aku tidak berbagi kabar. Mungkin, Andrew masih. Aku hanya berfokus pada kehidupanku disini dan juga papa.


Sampai beberapa menit kemudian, briefing selesai. Kami berdo'a pagi sesuai keyakinan masing-masing. Hening dalam sesaat waktu, mungkin hanya hembusan napas dan juga jam dinding yang terdengar. Tampaknya, semua orang sedang khusyuk dalam do'anya. Sampai akhirnya, ada intruksi untuk selesai. Kami semua serentak mengatakan kalimat semangat yang menjadi simbol perusahaan ini. Selanjutnya, saling berbalik badan dan kembali pada meja kerjanya masing-masing.


Namun dipertengahan langkah, aku kembali dibuat penasaran. Aku menilik lagi ke arah tempat kerja Linseyld. Ia tampak sedang berdiri dan bertegur sapa dengan salah satu rekanku. Kemudian, yeah! Ia menatapku dengan tajam. Dengan bodohnya, aku menjulurkan lidahku untuk mengejeknya dan tersenyum sampai gigi-gigiku terlihat. Tentu saja, ia tampak terkejut dan pastinya sangar benci.


"Navya, udah siiih ...!" tegas Andrew tiba-tiba, namun menggunakan nada bicara yang pelan.


"Apa sih? Orang aku nggak ngapa-ngapain kok. Tenang aja, Sayang," jawabku sembari tersenyum menyepelekan permintaannya.


"Cuekin aja."


"Nggak mau."


"Jangan kayak anak kecil, Sayang."


"Aku nggak akan tinggal diam sama orang yang mau ambil kamu dari aku ...! So, ikutin aja permainan ini, Sayang."


"Astaga ...."


Kemudian, aku duduk di kursi putar yang berada di tempat kerjaku. Aku melirik Andrew lagi yang melakukan hal sama sepertiku. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya tersenyum dan membisikkan kata cinta kepadanya. Sampai ia bisa kembali menenangkan dirinya. Sungguh pria yang terlampau lembut.


Demi lembaran uang dolar Singapura, kali ini aku kembali berfokus pada pekerjaan. Beberapa tugas yang diberikan dan perlu aku selesaikan. Jari-jariku sudah sibuk dengan keyboard komputer. Otakku sudah melayang terbang untuk berpikir. Berkas-berkas bahkan berserakan di atas mejaku. Aku melupakan tentang Linseyld, bahkan Nevan yang baru saja aku temui.


Hidup sungguh serba kebetulan. Yah, semoga tidak akan menambah masalahku lagi.


****


Dugh! Seseorang menabrakku dari belakang ketika aku berjalan sendirian untuk menghampiri Raya dan Sinta, karena sudah jam makan siang Aku mengecap bibirku dan merasa kesal dibuatnya. Kubalikkan badanku sampai menghadapnya. "Nevan!" pekikku karena orang tersebut adalah mantan kekasihku.


Kok dia belum pergi sih?!

__ADS_1


Nevan tersenyum begitu ramah. "Hai, mau makan siang ya?" tanyanya kepadaku.


"Iya, Tuan."


"Ayo, bareng saya. Kamu pasti disini susah kemana-mana karna nggak ada kendaraan, kan?"


"Ck!" Aku segera membalikkan badanku, berupaya untuk mengabaikannya saja. Namun, ia malah menahan lengan tanganku sampai aku tidak bisa kemana-mana. "Ayolah, ini di kantor. Jangan berbuat yang aneh-aneh wahai, Tuan Muda. Saya ingin makan, lapar!"


"Makan denganku. Banyak yang ingin aku tanya, Navya."


"Nggak mau!"


"Sekali ini aja, mumpung aku ada disini. Aku pengen banyak ngobrol sama kamu, udah lama kita nggak ketemu. Selepas aku ke Amerika dulu, hanya sebagai teman kok. Jangan mikir yang aneh-aneh, Navya." Nevan masih berusaha mendesak diriku. Bahkan, ia sampai mencengkeram lenganku lebih kuat lagi. Aku menatapnya dengan nanar. Ia sudah se-wibawa ini, pintar dan aku rasa sudah menjadi petinggi di perusahaan keluarganya. Namun, mengapa sikapnya tidak berubah?


Aku mengibaskan tangannya, namun tidak berhasil. Ya, Nevan terlalu kuat. Ia tidak memperdulikan orang lain yang melewati tempat ini. Apa yang ia pikirkan sebenarnya? Astaga? Oh, dari ujung kanan, tepatnya di sebuah belokan, aku mendapati Andrew yang diikuti oleh Linseyld. Andrew masih bersikap biasa saja, mungkin sedikit risih. Aku langsung menarik Nevan seketika, aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara aku dan Andrew. Setidaknya, ia tidak melihat kami ketika sedang berdua seperti ini. Meskipun, aku tidak memiliki niat yang aneh, tetap saja aku takut kami bertengkar.


Aku menghentikan langkahku di suatu tempat yang mungkin tidak akan diketahui oleh Andrew. Kuhela napasku dalam-dalam dan mengembuskannya kembali. "Baik, saya ikut, Tuan Nevan," ujarku memberikan keputusan. Aku rasa, Nevan tidak akan berhenti jika belum mendapatkan yang ia inginkan.


Dan benar saja, ia tersenyum bangga. "Mari, Navya," jawabnya sembari mengajakku berjalan. Mungkin untuk menghampiri keberadaan mobilnya.


Tentu kami, masuk ke dalam lift. Aku memastikan Andrew dan Linseyld sudah berlalu. Didalam kotak elevator itu, aku hanya berdua saja bersama Nevan. Berbagi udara yang sama. Semua karyawan mungkin sudah berangkat untuk makan siang. Sialnya, aku harus mengalami ini semua. Hidupku tidak bisa tenang, barang sekali saja. Ya Tuhan!


Tidak ada Affandy maupun Kak Kate hari ini atau mungkin hanya diriku yang belum bertemu. Untuk kali ini, aku sangat berharap tidak bertemu. Bisa gila diriku, jika ditambah dengan kedatangan Affandy. Pasti cerca pertanyaan mengenai hubunganku dengan Nevan akan muncul dari bibirnya. Bahkan Kak Kate juga.


"Silahkan masuk, Nona," ujar Nevan sembari membukakan pintu mobil mewahnya untukku, tepatnya pada saat kami telah sampai di tempat yang dituju.


"Thanks," jawabku singkat sembari bergerak untuk masuk ke dalam. Setelah itu, Nevan menutup kembali pintu mobilnya dan berputar untuk ke bagian kemudi. Perlahan ia melaju mobilnya untuk keluar dari perusahaan ini.


"Kenapa nggak pake sopir, Tuan Nevan?"


"Kita udah diluar kantor kamu, Vya. Santai aja lagi. Aku lebih enak nyetir sendiri, bukannya dari dulu begitu?"


"Parah ya, masa' segitunya ngelupain aku? Kita pernah bersama meskipun belum ada satu tahun, Vya."


"Terus? Gue harus inget segalanya tentang loe, gitu? Termasuk pas loe ninggalin gue tanpa kesalahan apapun, maksud gue tanpa ada masalah apapun?" Aku bertanya kepada Nevan dengan mengulik masa lalu kami yang sangat menyebalkan. Bahkan, mengingatnya saja sudah membuatku sangat muak sampai-sampai nada dan juga bahasa yang aku gunakan tidak baku lagi.


Nevan menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali. Ia melirikku sekilas, kemudian kembali menatap jalan. "Maaf, itu kan udah lalu. Waktu itu kita belum dewasa, masih berupaya mencari jati diri."


"Ck! Tapi, nggak dengan cara seperti itu, Nevan. Ah, udahlah! Nggak penting juga mau dibahas. Loe dan gue udah nggak punya hubungan apa-apa. Loe tuan muda yang kaya raya, sedangkan gue hanya remahan rengginang. Orang miskin yang masih membutuhkan pekerjaan. Gue ikut loe karna ada hal lain yang perlu gue hindari."


Nevan hanya terdiam, entah merasa bersalah atau malah senang. Secara, ia mendapati diriku sebagai mantan kekasihnya yang tidak lagi seperti dulu, gagal untuk menyombongkan diri dihadapannya bahkan aku semakin miskin sampai harus merantau jauh seperti ini. Aku memang sudah tidak memiliki perasaan apapun kepadanya, namun tetap saja, ada rasa malu dan tidak nyaman. Terlebih aku pernah menolak ajakannya untuk kembali menjalin kasih kala itu. Nevan pantas untuk menertawaiku.


Lalu, tak lama kemudian, Nevan menepikan mobilnya disuatu tempat parkir sebuah restoran. Tentu saja, restoran yang sangat mewah dan pastinya mahal. Aku sampai menelan ludah dibuatnya, bagaimana aku akan membayar hidanganku nantinya? Sayang sekali uangku. Jika dibayarkan oleh Nevan, hancur sudah harga diriku.


"Ayo, keburu waktu makan siang kamu habis, Vya," ajak Nevan kepadaku. Aku yang masih cemas sampai tidak menyadai bahwa ia sudah turun dan membukakan pintu mobilnya untukku. Ini gila! Aku pasti terlihat sangat manja di matanya. Astaga!


Aku hanya bisa mengusap tengkukku dan berusaha menyembunyikan rasa maluku. Ia memberikan tangannya kepadaku, namun aku menepisnya. Nevan tidak banyak protes karena ulahku. Kami berjalan berdampingan untuk masuk ke dalam restoran.


Sesampainya didalam, Nevan memanggil salah satu pelayan. Pelayan tersebut datang dan menyerahkan buku menu kepadanya maupun diriku. Kubuka buku itu perlahan. Benar saja, harga satu menunya sangat luar biasa fantastis. Mahal! Setelah melakukan pengecekan, menu paling murah memiliki harga 45,02 dolar Singapura alias lima ratus ribu rupiah.


Mati gue! Lumayan, kan buat tabungan?


Baiklah, demi menjaga harga diriku, aku memesan makanan yang sedikit lebih mahal daripada harga itu. Meski batinku merintih, hatiku menangis dan benakku menggerutu. Sepertinya mengikuti Nevan adalah keputusan yang salah.


Pengen nangis, sumpah!


Sang pelayan berlalu pergi bersama pesanan kami. Aku berusaha membuat diriku lebih tenang dan tidak terlihat menyedihkan. Ya, dihadapan Nevan--mantan kekasihku yang kaya raya.

__ADS_1


"By the way, gimana kabar Tante?" tanyaku kepadanya tentang kabar sang ibunda.


Nevan mengernyitkan dahinya. "Tante?" tanyanya kembali.


"Iya."


"Oh, Mama? Baik, Vya. Masih sering nanyain kabar kamu."


"Masa'? Ya udah salam aja."


"Nanti disampaikan, emm ... tapi sejauh ini Mama emang masih ingat sama kamu, Vya."


"Oh ya? Bukannya udah tahu kalau kita udahan dari dulu?"


Nevan mengangguk pelan. "Iya. Tapi, aku juga nggak tahu. Beliau segitu sayangnya sama kamu. Bahkan sering bandingin cewek yang aku bawa sama kamu."


Aku berdeham pelan. Suatu kebanggaan bagiku, jika ibunda dari Nevan bisa begitu menyayangiku. "Thanks, tapi itu buat gue yang dulu. Bukan sekarang, Nevan. So, jangan dipikirinlah. Salam aja."


"Ya, tapi ... kenapa kamu bisa seperti ini? Berubah drastis, dari penampilan sampai nada bicara. Terakhir kita bertemu kamu nggak kayak gini, kan? Apa kamu nggak bahagia sama cowok itu?"


Pasti pertanyaan itu akan muncul dari bibir Nevan. Aku sudah sempat menduganya, namun tidak mau terlalu GR terlebih dahulu. Namun, nyatanya ia benar-benar menanyakannya. Lantas, haruskan aku menjelaskannya? Semua penderitaanku juga berawal dari dirinya. Saat ia meninggalkan diriku sewaktu masih sayang-sayangnya, tanpa sebab dan alasan. Lalu beberapa hari setelah itu, Nevan bersama seorang wanita. Aku menangis dibuatnya sampai menabrak sesuatu di jalan raya. Jika diingat lagi, rasanya masih teramat sakit.


Saat aku hendak memberikan jawaban, pelayan pun datang bersama hidangan yang kami pesan. Ia meletakkannya dengan hati-hati disertai sikap yang ramah tamah. Ia menggunakan bahasa inggris yang malas aku ulangi. Setelah selesai, ia berlalu kembali.


"Ya udah, makan dulu, Navya," ujar Nevan. Sepertinya ia masih memiliki akal sehat untuk tidak mendesak pengakuanku.


"Oke," jawabku singkat. Selanjutnya, aku mulai menyantap hidangan dengan harga selangit ini. Rasanya sangat enak sekaligus ngilu di hati.


"Enak?"


"Iya."


"Nanti, kalau kurang nambah aja. Aku yang bayarin, Vy. Biar gemukan juga kamunya."


"Nggak perlu, gue ikut bukan buat ngemis makanan sama Tuan Muda."


"Sudah kubilang jangan kayak gitu."


"Ya, ya. Nevan, jangan tanya lagi soal masalah gue. Please."


Nevan menghentikan santapannya sejenak waktu. Ia menatapku sembari menelan ludahnya, terbukti saat tenggorokannya bergerak naik turun. Ia menyesap minumannya. "Aku nggak nyangka kamu bisa kayak gini, Navya. Oke, oke, aku emang hanya mantan pacar kamu. Tapi, terakhir kamu bilang kamu bisa bahagia tanpa diriku."


"Hmm ... gue bahagia kok."


"Bohong. Sepertinya cowok itu nyakitin kamu lebih parah dariku."


Aku menggelengkan kepala dengan mantap. "Nggak, justru dia yang selalu buat gue bahagia. Bentar lagi kita mau menikah."


"A-apa?"


"Iya, dia udah lamar gue. Dan bisa nerima gue apa adanya."


"Ba-baguslah, selamat, semoga lancar sampai hari yang ditentukan."


Apa yang membuat Nevan terkejut dengan pernyataanku? Tidak mungkin ia masih memendam perasaan untuk diriku. Kalaupun masih, mungkin hanya perasaan rindu kepasa mantan pacar yang ia temui. Aku tidak ingin terlalu memikirkannya. Aku memang sudah bahagia bersama Andrew. Hanya saja, aku masih perlu menyingkirkan wanita ular itu.


Lalu, aku melanjutkan menyantap hidanganku.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2