Who Is My Love

Who Is My Love
Ribet!


__ADS_3

****


"Andrew mendengar kabar perjodohan itu. Meski aku udah putus lama darinya, dia tetap mencintaiku."


"Putus? Oh, jadi sempat putus?" Papa menatapku dengan tajam. Beginikah rasanya ketika sedang mendapat interogasi dari seorang ayah? Tegang! Namun senang.


"Bukan putus sih. Kami kan enggak pernah menjalin hubungan. Cuma Andrew enggak rela kalau aku sama orang lain. Jadi, dia malam itu datang ke depan rumah ini buat ngeyakinin aku biar aku enggak terima Haris. Dia bahkan kayak lagi ngemis-ngemis."


Papa menghela napas dalam. "Semua karna Papa. Mungkin jika Papa ini berpikiran sehat, kalian enggak akan merasa kesulitan."


"Iya, sebenernya dia enggak pernah bawa aku kabur kok. Jadi, pas Papa mergokin kami, aku spontan ambil stir mobil dia dan melaju ke apartemen. Habis itu, aku takut mau pulang."


Papa terdiam dalam beberapa saat. Lalu berkata setelahnya, "Maafin Papa, Nak."


Aku mengangguk pelan. "Iya, Pa."


Kendati demikian, jawabanku adalah suatu kebohongan. Apa ini bisa dimaklumi? Sejauh ini hanya aku dan Andrew yang tahu. Bahkan Sita tidak, ia hanya tahu aku kabur saja, tidak dengan kondisi Andrew pada saat itu.


****


Hatiku merasa sangat lega ketika setiap hidangan berhasil dimasak dan disajikan. Hari ini akan menjadi salah satu hari yang spesial. Lamaran! Tentu, aku sangat menantikan itu. Meski gugup, namun semangatku tiada terhempas pergi, yang ada semakin meninggi dan tumbuh subur. Untuk calon ibu mertuaku yang sering aku ajak berbincang dan tidak lama lagi aku bisa melihat paras beliau secara langsung. Semoga tidak ada hambatan apapun!


Tiba-tiba terdengar suara deham dari mama. Seketika aku menatap beliau. Mama tengah menuangkan daging yang telah dimasak menjadi rendang ke dalam sebuah mangkok berukuran besar. "Pagi-pagi, udah senyum-senyum sendiri nih," ujar beliau.


"Biasa, Buk. Non Vya lagi kasmaran nih," timpal Bi Emi.


Aku merasa salah tingkah. Kuusap tengkukku dengan wajah yang mungkin sedang memerah. "Enggak kok, Navya biasa aja," tukasku.


"Hmm, ... masih jam enam nih. Mereka datang jam berapa?"


"Mungkin jam sembilan baru nyampe, Ma." Tanganku begitu hati-hati dalam menyusun bolu kukus di dalam wadah yang disediakan oleh Bi Emi.


"Ya udah, kamu mandi dan siap-siap. Minum susu atau apa, dari jam tiga kamu udah bangun. Takutnya ngantuk, Sayang."


"Kopi boleh?"


"Boleh, tapi yang di-mix susu aja. Jangan kopi hitam."


Aku mengangguk pelan. Setelah itu, aku segera mempercepat gerak tanganku yang asyik menata makanan-makanan ringan yang tadi malam telah mama pesan dari salah satu tetangga kami. Beliau membatalkan niat membeli pagi, karena takut kehabisan. Beruntung, orang yang diberi pesanan menyanggupi permintaan mama. Aku rasa, orang itu bergadang sepanjang malam. Sepertinya aku harus berterima kasih.


Segera kuambil langkah menuju kamarku guna mengambil beberapa helai pakaianku. Sembari berjalan, aku bersenandung meski tidak terlalu merdu. Pagi hari yang cerah seakan turut memberikan dukungan positif untuk diriku.


Sesampainya di kamar, aku menuju almari tempat menyimpan pakaianku. Kuambil atasan berlengan pendek berwarna merah jambu dengan aksen brokat di bagian atasnya, dan juga bawahan androk sepanjang lutut yang nantinya akan kupadukan dengan cara yang fashionable. Juga rapih dan menawan.


Dering ponsel yang berbunyi, membuat langkahku terhenti. Aku berbalik dan menuju ponselku berada yaitu di ranjang kesayangan milikku. Aku meraihnya dan lantas memastikan tentang siapa yang memanggilku. Senyumku merekah pada saat nama Andrew terpampang nyata di dalam layarnya.


Setelah menekan tombol berwarna hijau, aku menyapanya, "Selamat pagi, Ndrew. Hai."


"Selamat pagi juga, Sayang. Hai juga, Sayang," jawabnya dari kejauhan sana.


"Kamu kok belum berangkat?"


"Ini aku udah di kantor lho, kan waktu kerja masih lama. Jadi, nyempetin telpon kamu dulu."


"Emm, ... sweet banget. Oh iya, tumben jam segini udah berangkat? Baru jam tujuh kan di sana?"


"Iya, Sayang. Lagi belajar jadi suami yang rajin, jadi begini hehe. Persiapan gimana?"

__ADS_1


"Beres dong. Aku sama Mama tadi bangun jam tigaan lho. Papa aku masih tidur sekarang."


"Ya ampun, ... rajinnya calon istri aku. Maaf ya, Sayang. Aku enggak bisa dateng ke rumah. Salam buat Mama dan Papa kamu."


Meski ia tidak bisa menatapku, aku tetap menganggukkan kepala. "Iya, Ndrew. Aku tahu kok, terus aku juga udah ngasih pengertian ke Mama dan Papa. Jadi mereka bisa paham soal kondisi kita."


"Sebenarnya aku gugup, takut enggak disetujui. Setelah hari itu, aku enggak pernah ketemu sama papa kamu lagi. Kalau mama kamu udah sering bincang sih."


"Kamu tenang aja, papa-ku udah setuju kok."


"Hmm, ... iya. Ya udah mandi sana, tampil yang cantik meski aku enggak ada."


"Siap! Hati-hati, see you."


Panggilan kami matikan. Aku berdecak setelahnya. Keteganganku perlahan sirna karena rasa nyaman yang disalurkan oleh suara Andrew. Semangatku bertambah besar, aku tidak ingin mengecewakan dirinya. Tampilanku harus maksimal untuk hari ini. Meski dalam balutan baju yang simple, namun aku ingin tetap menawan. Yah, semoga saja aku berhasil menaklukkan hati mertuaku.


Aku membersihkan diri, dengan masih bersenandung. Setiap jengkal bagian tubuhku tidak luput dari pembersihan. Wangi menyelimuti kini, ketika aku menyiram air justru kesegaran yang turut menghinggapi.


"Sayang, udah?" tanya mama ketika aku baru keluar dari kamar mandi.


Aku tersenyum, sembari menggosok rambutku menggunakan sebuah handuk kecil. "Udah, Ma. Kalau belum, aku enggak mungkin keluar dari kamar mandi," jawabku.


"Iya juga sih. Hmm, ... ya udah, sana dandan. Mau dibantuin enggak?"


"Enggak! Selera model lama sama anak zaman sekarang mah beda."


"Maksud kamu, Mama orang kuno gitu?"


Aku tertawa kecil. "He'eh hehe."


Setelah itu, aku melanjutkan laju kakiku untuk kembali menuju kamar. Detik ini juga, perasaanku yang sempat tenang kembali pada kegugupan. Bak diombang-ambingkan perasaan, semua berkecamuk menjadi satu. Untuk sebuah kebahagian, mungkinkah perlu langkah seperti ini dulu? Lantas, bagaimana respon orang tua dari Andrew nantinya? Aku takut, apabila ekspetasi beliau tidak sama seperti kenyataan pada diriku.


Sampai akhirnya, aku mengambil ponselku yang berada di atas ranjang. Aku kembali ke meja rias itu dan duduk lagi. Kumainkan ponselku, mencari sumber terpercaya dari internet perihal penampilan pada saat akan dilamar.


"Gimana ya?" tanyaku kepada diri sendiri. Aku mendapati banyak saran yang tertulis di dalamnya. Bingung sudah pasti. Antara look yang lebih pantas. Terlebih bukan acara lamaran yang resmi dan mewah. "Bingung!"


Saat aku pastikan berkali-kali, akhirnya aku memutuskan untuk memilik natural soft makeup look. Terlihat lebih natural namun tetap segar, apalagi bubuhan lipstik ombre dengan akhir yang lebih glossy.


"Kayaknya aku harus ganti gaya pakaian kali ya? Hmm, ... mau ganti yang gimana? Ini kan enggak resmi," gumamku sembari berpikir perihal apa yang aku gumamkan.


Aku merasa baju kasual terasa kurang pantas. Meski sudah terbalut di tubuhnya, rasanya aku belum puas. Atasan beraksen brokat berwarna merah jambu tadi, kini aku tanggalkan. Sehingga tingga kaos dalam. Aku menghela napas penuh kebimbangan. Bingung! Menjadi wanita sejati itu sangat sulit. Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan dress berwarna putih yang panjangnya sampai lutut. Ada piti besar di bagian depan, lengan pendek dan mengembang, layer berlipat nan elegan.


****


"Pa, bentar lagi mau nyampe lho. Masa' enggak mau bangun sih? Ini jam berapa lho, udah jam delapan ini." Mama terdengar mengomel untuk membangunkan papa yang memang luar biasa sulit dibangunkan.


"Jam berapa sih emang?!" Papa terdengar jengkel dari nada suaranya.


"Jam delapan! Cepetan! Bangun, kasihan anak kamu."


"Iya, Ma. Iya."


"Dasar!"


Mendengar itu, aku menjadi berkhayal--jika nanti sudah menikah; apakah aku dan Andrew akan seperti itu? Saling merasa kesal satu sama lain untuk hal sepele, namun cepat berbaikan di detik berikutnya. Aku menghela napas ketika membayangkannya. Senyumku pun tak jemu berada di bibirku. Sudah jam delapan, perkiraan jam sembilan keluarga Andrew akan sampai.


Papa yang sejak tadi sulit dibangunkan, kini sudah tampak keluar dari kamar yang berada di lantai bawah. Aku bersedekap sembari menatap beliau dari atas, tepatnya di ujung tangga bagian atas. Perlahan, sepertinya papa menyadari akan keberadaanku. Beliau menoleh dan menatapku. Alis kananku terangkat sembari memberikan tatajan tajam. Papa sepertinya sedang menelan ludah.

__ADS_1


"Iya, iya, Papa mandi," ujar beliau seolah tahu apa yang ada di dalam pikiranku.


"Jangan kecewain aku, Pa!" Kuperingatkan beliau demikian.


"Iya, tenang aja, Sayang."


"Sayang? Sejak kapan?"


"Hmm, ...." Tanpa menjawab pertanyaanku, papa memilih berlalu. Di belakang beliau, ada mama yang tengah mengikuti beliau sembari membawa handuk. Keributan pagi yang baru aku saksikan setelah sekian lama. Meski kesal, rasanya tetap bahagia. Dan memang bahagia tidak perlu mulu'-mulu', bukan? Hanya saja, beberapa orang berpikiran lebih rumit.


Aku sudah selesai berias. Tugasku hanya menenangkan hati kali ini. Sembari menunggu kabar perjalanan dari keluarga Andrew. Ingin rasanya aku menghubungi Andrew untuk meminta asupan ketenangan, namun tidak bisa karena ia harus bekerja. Karena gugup pun, aku berjalan ke sana ke mari tidak jelas sembari sesekali menghela napas dalam dan mengembuskannya kemudian.


Dering ponsel yang ada di tanganku tiba-tiba berbunyi. Sehingga membuatku seketika terkejut, bahkan nyari menjatuhkan benda pintar itu. Aku menghela napas dalam untuk kesekian kalinya. Kemudian aku menerima panggilan itu. "Iya, Ibu. Sudah sampai mana?" tanyaku tanpa basa-basi lagi karena terlalu panik.


"Ibu sudah masuk ke perumahan kamu, ada di gerbang. Rumah kamu nomor berapa yah?" tanya Ibu Siti, melainkan ibunda kandung dari Andrew.


"Oh iya, lurus saja, Bu. Enggak belak-belok kok. Rumah nomor tujuh terhitung dari gerbang masuk."


"Ya sudah. Ibu lanjut lagi ya."


Belum sempat aku berikan jawaban, beliau mematikan panggilan. Aku lantas berlari turun untuk memberitahu mama dan papa.


"Mama, Papa, udah nyampe gerbang. Cepetan!" ujarku tegas nan keras supaya papa mempercepat mandinya.


Mama seketika kalang kabut dan mengomel panjang, sampai tidak bisa aku ulangi ucapan yang beliau lontarkan. Bi Emi sigap dan membawa makanan-makanan hidangan ke ruang tamu dengan langkah yang cepat. Bukan Bi Emi saja, bahkan diriku. Bodohnya tidak sedari tadi. Kami saling bergilir ke sana ke mari. Ribet!


"Awas dulu!" tegas papa pada saat hampir menabrak diriku. Beliau baru keluar dari kamar mandi dan sangat tergesa-gesa.


"Duh, makanya tadi bangun pagi!" omelku. "Sekarang aja ribet!"


Papa tidak menggubrisku. Beliau tetap melaju cepat menuju kamar untuk bersiap-siap. Makanan penyambut sudah siap beberapa menit kemudian. Mama berlari menuju kamar lagi, mungkin hendak memperbaiki rambut yang kacau. Sedangkan Bi Emi malah tertawa terpingkal-pingkal karena kekacauan ini, bahkan diriku.


Tak lama kemudian, suara klason mobil beberapa kali terdengar. Aku menelan ludah seketika, jantungku mendadak berdebar begitu kencang. Langkahku yang hendak aku laju, kini begitu berat. Padahal mama sudah melambaikan tangan untuk mengajakku menyambut para tamu.


"Tarik napas, Non. Jangan gugup," ujar Bi Emi sembari menggenggam telapak tanganku yang berkeringat dingin.


"I-iya, Bi," jawabku. Kemudian, aku mengikuti nasehat darinya. Kutarik napasku dalam-dalam, perlahan kuembuskan kembali. Meski tubuhku masih bergetar, aku mencoba melangkah lebih cepat. Mungkin caraku berjalan sudah seperti robot, karena rasa gugup yang luar biasa tidak terkira.


Ketika sampai di teras rumah, aku dan mama menunggu satu persatu dari orang yang mengisi mobil berukuran agak besar itu turun. Dua orang, pria dan wanita yang berusia hampir sama dengan mama dan papa. Beberapa orang di belakang yang membawa sejumlah barang yang aku duga sebagai seserahan. Mereka tersenyum, kemudian orang yang aku duga ayahanda dari Andrew mempimpin jalan mendekati rumahku.


Mama tersenyum, tidak menunggu lama beliau langsung menyambut kedatangan calon besan. "Mari, mari masuk. Silahkan," ujar mama.


"Iya, Bu," jawab seseorang yang aku duga Ibu Sita alias calon ibu mertuaku, beliau tersenyum dan menjabat tangan mama.


Aku yang masih terpana, dicubit oleh mama. "Ah! Emm, ... a-anu, silahkan ma-masuk," ujarku gugup sekali.


Ibu Siti tersenyum kepadaku. "Gugup gitu? Padahal sudah sering teleponan." Beliau meraih kedua telapak tanganku. "Kamu cantik sekali, Navya."


"Ah, ... te-terima kasih, Ibu," jawabku sembari mendadak merasakan hangat di sekujur wajah. Mungkin sudah memerah seperti udang rebus. Aku meraih telapak tangan beliau dan mengecup punggung dari telapak tangan itu. Setelah itu aku menyapa ayahanda Andrew dan sanak saudaranya.


Kemudian, mama mempersilahkan mereka semua untuk masuk. Aku memilih masuk belakangan. Setelah semua sudah masuk, aku mencoba menghilangkan rasa gugup ini lagi. Kutarik napasku beberapa kali. Setelah rasa gugup berangsur pergi, aku menyusul mereka.


Semua orang sudah duduk di ruang tamu dengan hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Tak lama kemudian, Bi Emi muncul dengan nampan yang berisi beberapa cangkir minuman teh hangat. Tanpa pikir panjang, aku membantunya menurunkan cangkir itu karena memang tidak sedikit jumlahnya dan nampannya hanya kecil. Sehingga Bi Emi harus mengulanginya dua kali.


"Maaf saya agak terlam--" Papa berucap demikian ketika baru muncul di hadapan kami. Namun ucapan beliau mendadak terputus tanpa sebab yang aku ketahui. "Borowo?!"


"Surya?!" Ayahanda Andrew berdiri dan menatap papa seketika.

__ADS_1


Dahiku mengernyit karenanya. Mereka saling kenal? Tetapi ....


Bersambung ...


__ADS_2