Who Is My Love

Who Is My Love
Stress


__ADS_3

Aku menghirup begitu banyak udara segar di taman rumah ini, agar lebih tenang. Mata menatap kosong kearah bunga-bunga gugur dan kering. Seakan mereka menjadi simbol keputusasaanku. Jiwaku soalah-olah terguncang hebat. Masalah demi masalah kini terus menghampiriku.


Dosa sebesar apa yang telah aku lakukan selama ini? Mengapa Tuhan menghukumku sedemikian rupa?


"Hei sayang kamu hebat juga ya?" celetuk Haris sebegitu entengnya, tidak ada sedikitpun rasa bersalahnya padaku.


"Loe puas Ris?" tanyaku tegas padanya.


"Puas soal apa sih sayang?"


"Loe masih bisa nanya begitu?"


"Ayolah Navya, jangan berprasangka buruk sama gue."


"Kenapa loe minta perjodohan ini Ris? Loe masih pacaran kan sama Vines?".


"Apa sih sayang, Vines itu udah bukan siapa-siapa buat gue. Gue langsung jatuh cinta liat foto loe dari bokap loe, dan ternyata loe sebegitu kuatnya ya haha... loe emang pantes jadi bini gue Navya."


"Gila loe Ris! Nggak ada yang waras satu orang pun disini."


"Gila? Kejam amat loe ngomongnya si sayang. Tapi coba pikir deh, orang tua loe berarti lebih gila karna sudah ngejual loe ke gue demi uang."


Plaaakkkk!!!


Pria gila ini benar-benar kelewat batas. Tamparan keras aku layangkan pada pipinya. Mataku memerah seakan-akan menyala. Terbukti saat kurasakan panas.


Haris mengusap kasar pipinya yang telah aku tampar. Ia menunjukkan raut marah pada wajahnya yang terlihat mengerikan. Aku bergidik, merasakan ketakutan luar biasa. Bulu kudukku merinding seolah aku sedang berhadapan dengan setan.


"Loe bener-bener ya!" katanya tegas. "Loe jangan ngelunjak Navya, mau bagaimanapun loe udah jadi milik gue dan loe wajib bersikap baik sama gue!"


"Bunuh gue Ris, bunuh gue aja! Gue nggak tahan sama semua ini, gue udah muak!" balasku yang berkata-kata dengan bibir gemetar dan tetesan air mata terus membanjiri pipiku.


Haris tampak terkesiap. Amarahnya perlahan melunak. Tampaknya ia masih memiliki sedikit rasa iba padaku.


Terdengar helaan napas panjang yang dilakukan Haris. Ia bergerak kearahku. Sedangkan aku bergidik ngeri dan beringsut mundur satu langkah darinya.


"Tenanglah," ujarnya, Haris mengusap derai air mataku yang membasahi pipi


"Tolong bawa aku pulang... hiks," pintaku sesenggukan.


"Oke, aku akan antar kamu pulang."


"Cepat gue mohon."


"Selanjutnya bersikap manislah padaku, agar aku berbaik hati memperlakukanmu."


Haris menggandeng tanganku pergi meninggalkan taman. Kami berjalan menyusuri ruang-ruang rumah besar ini. Aku terus mengikuti gerakan Haris karena tidak ada jalan lain lagi, aku hanya ingin cepat pulang tanpa membuat masalah lagi.


Sesampainya diruang tengah, aku melihat teman-teman Haris yang sedang duduk bersama. Vines menatapku tajam penuh kebencian disampingnya adalah Dewi yang mungkin menjadi pendukungnya.


"Haris kamu mau kemana?" tanya Vines dengan sedikit berteriak.


"Pulangin Navya," jawab Haris.


"Biarin dia pulang sendiri Haris, kenapa kamu malah peduliin dia? Aku yang nggak bisa jalan gara-gara cabe itu?"


"Vines loe nggak inget omongan gue tadi? Masalah kita nggak ada sangkut pautnya ama Navya!"


Vines diam seketika. Semua orang selain Haris dan aku mencoba menenangkan hati Vines. Mereka mencegah Vines untuk tidak berbuat lebih.


Sedangkan Brani berjalan kearahku dan Haris berdiri. Tampaknya ia ingin sekedar salaman atau mengantar kami sampai keluar. Aku rasa, mereka semua sangat tunduk pada Haris. Tidak bisa dipungkiri, memang begitulah yang terjadi pada anak orang kaya. Ia menjadi bos dari teman-temannya sendiri.


Kami bertiga berjalan keluar dari dalam rumah.


"Sorry Ris keadaan kacau nggak sesuai rencana," ujar Brani pada Haris.


"Kenapa loe bisa undang dia kesini bego?" tanya Haris dengan tegas.


"Dia yang dateng sendiri, gue nggak tau bakal ada kejadian ini Ris."


"Gue udah urus Navya seharian, malah diberantakin."

__ADS_1


"Udah deh Ris, gue udah minta maaf sama loe lagian ini masalah loe, gue udah nyoba bantu."


"Sial! Jangan sampai ada kejadian ini lagi atau loe yang bakal gue abisin, urus Vines!"


"Oke."


Aku tidak tau pasti penyebab dari kekacauan ini. Yang aku tangkap dari obrolan Haris dan Brani, sepertinya Vines memang memiliki hubungan khusus dengan Haris. Lalu ia menjadi budak cinta yang tidak rela kekasihnya memilih wanita lain.


Memuakkan! Memangnya siapa juga yang mau berebut pria busuk macam Haris. Kalau tidak terpaksa, aku juga tidak mau seperti ini. Sebegitu bodohnya Vines sampai mau kehilangan akal demi badboy satu ini.


"Masuk," perintah Haris padaku setelah membukakan pintu mobilnya.


"Navya, sorry ya," kata Brani padaku.


Aku mengacuhkan keduanya dan memilih masuk kedalam mobil Haris. Kusenderkan kepalaku di jendela mobil yang sudah tertutup. Tenggorokan terasa kering dan gatal, membuatku terbatuk-batuk beberapa kali.


"Minum dulu, ambil tu ada air mineral dalem laci," kata Haris.


"Nggak, nggak perlu kok," jawabku.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa."


"Loe takut gue masukin racun tikus?"


"Enggak Ris!"


"Makanya cepet minum, nurut sama gue."


Akhirnya aku memilih mengambil air mineral tersebut. Aku sudah lelah untuk berdebat dengan Haris. Terlebih, tenggorokanku sudah sangat kering.


Mobil Haris melaju menyusuri jalan-jalan panjang. Mungkin perjalanan ini, akan memakan waktu setengah jam untuk sampai kerumahku.


"Coba deh loe bisa positif sedikit sama gue Nav, mungkin loe bakalan bahagia," ujar Haris lagi.


"Kenapa loe begitu bersikeras mau sama gue?" tanyaku.


"Nggak masuk akal."


"Haha kadang kita harus melakukan hal yang nggak masuk akal demi ngedapetin sesuatu Navya. Jangan terlalu naif, jangan terlalu munafik."


"Please diemin gue dulu, kepala gue pusing kena tarik ama tante loe itu."


"Hahaha tante? Cukup cocok juga ya, jadi makin kagum gue sama loe Navya oh bukan Vyaku sayang hahaha."


"Diem!"


"Oke sayang, kamu tidur aja ya."


Memang benar yang aku katakan, kepalaku terasa sakit di bagian rambut yang dijambak Vines tadi. Kepingan ingatan kejadian itu membuatku merasa ngilu. Sungguh pertemuan pertama yang buruk sekali.


Di pertengahan perjalanan, mataku tertuju pada sebuah sekolah dasar yang kami lewati. Anganku berandai-andai, mengingat serpihan kenangan masa kecilku.


Kala itu, mama dan papa masih sangat perhatian. Mereka berperilaku layaknya orang tua yang sangat menyayangi anak putri semata wayangnya. Masalah terberat yang kuhadapi hanya lembaran kertas dalam buku yang berisi pekerjaan rumah dari guru. Seandainya saja, aku bisa kembali ke saat-saat itu.


Akhirnya, setelah kurang lebih setengah jam melakukan perjalanan sampailah mobil Haris dirumahku. Papa mama sudah menyambut kami diambang pintu. Aku mendengus keaal diam-diam. Sungguh orang tua yang murahan.


"Makasih ya Nak Haris," ujar Mama pada Haris.


"Hehe... Ris masuk dulu yuk," sambung Papa.


"Enggak Om Tante saya langsung pulang aja, kasian Navya biar istirahat," jawab Haris bak seorang penjilat.


"Yasudah kamu hati-hati dijalan Ris."


"Baik Om, Tante, Navya saya permisi dulu."


Hati-hati dijalan kata papa, tidak menurutku harusnya Haris mati kecelakaan. Itu yang paling baik. Yah, aku sudah stress dengan semuanya. Aku tidak peduli jika aku memang menjadi psikopat sungguhan.


"Sayang masuk yuk, kamu pasti capek," ajak Mama padaku, tangan mama memeluk pundakku dari belakang.

__ADS_1


"Lepas!" ujarku tegas.


"Navya! Jangan kurang aja kamu sama orang tua!" Papa memperingatkanku dengan tegas pula.


"Hahaha, untuk apa aku hormat pada orang tua yang menjualku?"


"Anak kurang ajar!"


Aku menepis dengan sigap tangan Papa yang akan dilayangkan kearah wajahku. Hal ini membuat Papa semakin emosi, bola matanya melotot seakan-akan ingin keluar dari kelopaknya.


"Jangan ancam gue, atau Papa masuk penjara karena hutang! Inget gue nurutin perjodohan busuk ini demi siapa? Demi imbas dari keserakahan kalian!"


"Navyaaaaaa!!!"


Aku membuang dengan kasar tangan Papa. Tetesan air mata mengucur lagi. Mungkin sekarang aku benar-benar sudah gila. Tidak tanggung-tanggung aku melawan orang tuaku sendiri dengan kalimat kejam. Mungkin di mata Tuhan, aku adalah anak durhaka dan benar-benar hina.


Aku meninggalkan Papa dan Mama menuju kamar Bi Emi. Aku rasa Bi Emilah yang saat ini bisa mengerti aku.


"Non Vya, Ya Allah non," ujar Bi Emi sangat terkejut ketika mendapati diriku yang kacau didepan pintu kamarnya. "Cika sayang kamu main dulu ke rumah Angga ya," lanjutnya memerintahkan si kecil untuk pergi bermain.


"Tapi Tante Vya kenapa Buk?" balas si kecil Cika.


"Nggak apa-apa kok, Tante Vya lagi sedih. Jadi Cika pergi main dulu ya sayang."


"Iya Buk."


Bi Emi memapahku masuk kedalam kamarnya. Setelah itu, aku memeluknya erat sambil menangis. Entah berapa banyak air mataku yang keluar jika ditampung dengan ember. Parasku yang kata orang cantik, berubah menjadi paras cantik bak zombie.


"Udah Non, yang sabar," hibur Bi Emi sembari membelai halus rambutku.


Aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku belum bisa menceritakannya pada siapapun. Kejadian tadi sudah kelewat batas padahal baru dua hari yang lalu aku mengenal Haris. Namun, aku sudah sehancur ini.


****


Hingga satu jam lamanya aku terus menangis dipelukan Bi Emi. Tanpa sadar aku tertidur dikasurnya. Mungkin Bi Emi yang meletakkan tubuhku disana. Intinya aku terbangun dalam keadaan berbaring.


Drrrttt... drrttt... drrttt...


Ponselku terdengar bergetar dari dalam tas selempang yang talinya tertinggal di rumah itu. Aku meraihnya diatas bantal milik Bi Emi yang kutiduri.


Panggilan tersebut sudah terlanjur mati sebelum aku mengangkatnya. Lalu, aku mengecek keadaan ponselku. Banyak sekali pesan masuk. Mulai dari Sita, Rezky dan yang paling banyak adalah dari Andrew. Mereka semua menanyakan keadaanku. Namun, Andrew? Aku tidak tau bahwa ia masih sangat mengkhawatirkan diriku.


Drrttt... drrrttt... drrrttt...


Ponselku bergetar lagi. Andrewlah sang penelepon tersebut. Sejenak aku merasa bimbang untuk mengangkatnya. Namun, akhirnya aku tetap menekan tombol hijaunya.


"Vya halo vya, kamu nggak apa-apa kan? Kamu nggak sakit parah kan? Ada apa sama kamu Vya?-" ujar Andrew dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Ya Andrew halo, i'm fine . Nggak sakit, nggak kenapa-napa kok pelan-pelan aja," jawabku.


"Syukurlah, maaf aku masih bawel. Aku bener-bener khawatir sama kamu, aku tau aku lancang dan masih belum bisa menahan diri Vya."


"Makasih Ndrew, makasih bangat hiks... hiks..."


"Lho? Kamu nangis?"


"Enggak, aku nggak nangis udah dulu ya aku masih sibuk."


"Tapi Vya, tadi aku denger kamu nangis. Kamu kenapa?"


"Pleasa, jangan berlebihan jangan seenaknya, jangan mentang-mentang aku masih mau angkat telpon kamu."


"Ohh... maaf. Aku harap kamu baik-baik aja Vya."


Aku mematikan panggilan dari Andrew. Kugigit kencang ibu jariku dibagian belakang sampai berdarah. Aku sakit, aku gila!


"Hhhuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"


Bersambung...


Budayakan tradisi like dan komen.

__ADS_1


gratis say


__ADS_2