Who Is My Love

Who Is My Love
Pertemuan


__ADS_3

Dua mobil beriringin menuju kearah yang sama. Aku di depan dan Andrew mengikutiku. Ia berencana akan mampir ke rumahku sepulang kerja. Oleh karena itu, kami pulang bersama meskipun berbeda kendaraan.


Di sepanjang jalan earphone terpasang di telingaku. Aku sedang berbincang dengan Andrew melalui panggilan whatsapp.


"Udahlah matiin fokus nyetirnya." Kataku pada Andrew.


"Biarin sih, biar gak sepi kok yang penting matanya tetep fokus ke jalan lho." Jawabnya dari arah mobil yang berbeda.


"Entar ada polantas diomelin lho."


"Gak ada jam segini mah Vya."


"Tapi kan tetep aja namanya pelanggaran Andreeeeewww."


"Biarin sih. Seru tau."


"Hihh ngeyel."


Perbincangan kami terus berlanjut sampai ke tempat yang di tuju. Bi Emi membukakan gerbang setelah mendengar deru mobil. Aku mengarahkan mobilku masuk diiringi mobil milik Andrew.


Dan ternyata telah terparkir sebuah mobil milik Nevan disudut rumahku. Sehingga aku tidak menyadarinya ketika baru sampai beberapa menit yang lalu. Aku beranjak keluar dan menghampiri Andrew.


"Aku gak tau dia bakalan kesini lagi." Kataku padanya.


"Dah biarin." Jawab Andrew.


"Kamu mau pulang lagi?"


"Gaklah, biar ketemu kok. Sapa tau jadi sahabat hehe."


"Ihh. serius tauk."


"Aku juga serius sayang."


Jantungku berdegup kencang. Aku memikirkan respon apa yang akan ditunjukkan Nevan pada Andrew. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun berbeda denganku, Andrew tampak biasa saja dan mungkin tidak memikirkannya sama sekali.


Aku melangkah ragu-ragu memasuki rumahku sendiri. Semakin dekat dengan daun pintu semakin membuatku tidak tenang. Apa yang harus aku lakukan nantinya? Oh. bukankah bagus bisa jadi Nevan akan menyerah setelah melihatku bersama Andrew.


"Ah sudahlah." Gumamku pelan.


"Kenapa?" Tanya Andrew.


"Gak kok."


"Gak usah takut ada aku."


Tampaknya Andrew menangkap raut cemas di wajahku. Ia memberikan beberapa nasehat untuk membuatku tenang. Walaupun tidak berhasil sepenuhnya, setidaknya menguranginya.


"Kreeekkk." Aku membuka daun pintu secara perlahan. Dan lagi-lagi langkahku terhenti ragu. Setelah kulihat Nevan duduk santai sembari berkelakar bersama si kecil Cika.


"Ehh Navya udah pulang." Sapanya.

__ADS_1


"Ehm." Jawabku singkat.


"Hay." Sapa Andrew pada Nevan.


Mata Nevan tampak terbelalak, kakinya terhenti pada saat akan menghampiriku. Sedang Andrew masih saja bersikap biasa saja bahkan ia menunjukkan sikap seramah mungkin.


Nevan kembali melanjutkan langkahnya menghampiriku, ia tunjukkan tatapan sinis pada Andrew dengan raut wajah ketidaksukaan.


"Siapa?" Tanya Nevan padaku sembari menunjuk Andrew.


"Kenalin gue Andrew." Jawab Andrew sebelum aku berucap, ia menggerakkan tangannya bermaksud mengajak Nevan berkenalan.


Ternyata Nevan tidak menggubrisnya. Ia malah sibuk memberikan perhatiannya padaku. Perasaan tidak nyaman seketika merambat cepat di hatiku.


"Vya aku bawain cookies kesukaan kamu lagi." Kata Nevan, ia meraih tanganku dan akan mengajak ke tempat dimana makanan itu berada.


"Navya udah makan sama gue bro, dia masih kenyang." Celetuk Andrew mungkin ia tidak ingin kalah dalam memberikan perhatiannya padaku.


Dengan gerakan cepat tangan Andrew meraih tanganku yang berada di genggaman Nevan. Aku sekarang di situasi bak seorang idola yang sedang diperebutkan. Namun, bukannya merasa senang aku merasa sangat risih. Sejujurnya aku ingin sekali mengusir Nevan. Saat ini aku jauh lebih nyaman bersama Andrew.


"Gak usah sok ngatur lo! lo juga bukan pacar Navya kan?" Pertanyaan Nevan ini berhasil membuat Andrew terdiam.


"Apaan sih lo Van sok tau banget sih lo. Dan bukannya gue udah ngomong soal tadi pagi." Selaku.


"Aku juga udah ngomong gak bakal nyerah kan Vya?" Jawab Nevan.


"Tapi gue udah gak mau sama lo!"


"Aku yakin perasaan cinta kamu belum hilang Vya jujur aja sama aku. Dan kamu cuman jadiin orang ini pelampiasan doang kan?"


Suasana semakin tidak kondusif. Kini Nevan malah memaki-maki Andrew. Aku akui Andrew begitu sabarnya menghadapi Nevan. Mungkin ia tidak ingin menimbulkan masalah. Sedangkan Bi Emi tampak khawatir. Ia mengantar Cika untuk masuk kamarnya agar tidak melihat perdebatan ini. Dan kembali lagi untuk menemaniku.


"Navya sadar dong sayang. Dia itu cuman pegawai kantor rendahan dia gak bakalan bisa bahagiain kamu." Kata Nevan dengan nadanya yang mengarah ke penghinaan.


"Lo gak tau apa-apa Nevan!!!" Jawabku dengan tegas.


"Ayolah pliss aku yakin sekarang kamu masih cinta kan sama aku?"


"Enggak!"


"Kalo kamu sama dia kamu gak bakalan bahagia sayang. Orang tuanya kagak becus bikin anaknya sukses malah disekolahin jadi pegawai rendahan doang bapaknya pasti tipe orang penjilat yang gak bisa ngasih kesuksesan anaknya!!!"


"BUUUUGGHH!!!!"


Sepertinya Andrew tidak bisa lagi menahan amarahnya. Terlebih nama orang tuanya dibawa-bawa dan tangan Nevan yang meraih tubuhku dengan sengaja ia paksakan agar aku jatuh di pelukannya. Bogem yang cukup kencang mendarat di pipi Nevan. Aku dan Bi Emi sangat takut, tangan kami berpegangan satu sama lain.


"Udah den jangan berantem. Ya Allah den berhentiiii atuh." Teriak Bi Emi berusaha melerai perkelahian mereka.


"Sialan lo. Anjengggg!!!" Umpat Nevan dengan amarah membara.


"Gue dari tadi udah diem brooo. Lo bawa-bawa nama bokap gue lo paksa-paksa Navya biar meluk lo. Lo udah keterlaluan." Balas Andrew.

__ADS_1


Pukulan demi pukulan terus mereka arahkan satu sama lain. Aku dan Bi Emi sangat takut. Terlebih aliran darah keluar dari bibir mereka.


Perkelahian ini berlangsung agak lama. Yang akhirnya memaksaku untuk maju melerainya. Aku takut keadaan semakin parah hanya gara-gara diriku. Jika orang tau bagaimana mereka akan menilai nantinya.


"Udah Andreeww Nevan. Udah gue mohooooonnnn ini rumah gue." Pintaku meronta-ronta, tanganku terus berusaha melerai mereka.


"Bughh!!!"


Tubuhku jatuh tersungkur tepat di hadapan Bi Emi yang entah aku jatuh karena siapa. Bi Emi dengan segera menghampiriku dengan raut cemasnya. Tampak ketakutannya yang luar biasa. Bahkan sekarang ia telah berderai air mata.


"Vyaaaa!" Ucap Andrew terkejut.


Dengan bantuan Bi Emi aku bangunkan tubuhku untuk berdiri. Akhirnya perkelahian Andrew dan Nevan berhenti. Namun bukan berarti perdebatan ikut terhenti. Mereka masih saling menyalahkan karena insiden aku tersungkur.


Kulangkahkan kakiku mendekati Nevan. Dengan penuh rasa bersalah Nevan meminta maaf padaku. Ia mengusap perlahan siku tanganku yang tampak memar.


"PULANG!!!!" Pintaku dengan tegas pada Nevan.


"Vya?"


"Lo udah keterlaluan Nevan. Gue udah gak mau liat muka lo lagi gue gak mauuuu!!!"


"Vya tenang dulu aku minta maaf."


"Dan lo tadi ngomong karyawan kantor itu rendahan kan? lo gak inget gue kerja sebagai apa. Bokap dan nyokap gue juga bawahan orang! Otak lo isinya duit dan kekayaan doang Van. Cari aja sono yang sepadan sama lo dan berhenti ganggu gue. Pokoknya pergi dari sini sekarang!!!!"


Aku akhirnya mengusir Nevan. Terlihat raut wajahnya yang sayu dan putus asa. Ia memilih meninggalkan rumahku dengan tatapan sinis yang diarahkan pada Andrew. Ia berlalu dengan mobil mewahnya menyisakan sisa-sisa kecemasan kami.


Aku menghela nafas sedikit lega. Bi Emi bergegas mengambilkan minum untuk aku dan Andrew. Sedang Andrew memapahku menuju sofa empuk di ruang tv.


"Maaf ya tadi udah bikin keributan." Katanya.


"Ehm... jangan diulangi lagi." Jawabku.


"Iya Vya cantik."


Akhirnya keadaan sudah kondusif. Si kecil Cika pun kini telah bergabung bersama kami. Dan saling melemparkan canda tawa. Melupakan sejenak insiden yang baru saja terjadi.


Bersambung...


_____________________________________________


*Ternyata sudah mulai memasuki duapuluh episode lebih. Tapi novel saya masih saja sepi pembaca ya.


Sebenarnya saya ini orangnya gampang down. Udah rajin promo tapi gak berhasil menambah jumlah pembaca.


Gak papa sih cuman bikin novel itu gampang-gampang susah, kadang ada perasaan ingin berhenti nulis novel ini. Ya tapi masih dipertimbangkan.


Mengingat masih ada satu dua orang yang tetap setia membaca. Dan pasti saya sangat berterimakasih. Saya merasa tulisan saya berharga**.


**Apa Novel saya memang tidak bagus atau membosankan ya? kok sepi banget pembacanya hehe.

__ADS_1


Semoga saya masih bisa menulis ini sampai tamat ya.


Terima kasih sebelumnya untuk semuanya yang sudah bersedia mampir* ☺️*


__ADS_2