Who Is My Love

Who Is My Love
Pengaruh Diriku


__ADS_3

****


"Kenapa sih bisa kayak gini?" tanyaku kepada Andrew yang sudah tidak karuan penampilannya.


Ia terdiam. Sepertinya sudah tidak ada tenaga lagi, meski hanya berucap. Namun, tangannya tidak lekas terlepas dari jari-jariku.


Kamu bodoh, Andrew. Seharusnya kamu pergunakan waktu luang ini untuk mencari wanita lain.


Begitulah batinku. Aku hanya tidak habis pikir, ia sampai seperti ini hanya karena aku. Haruskah aku mengubah keputusanku lagi? Betapa bodohnya kami, jika itu terjadi. Apalagi diriku harus menyandang gelar wanita munafik karena hal itu. Kembali lagi, jika aku tidak memberinya kesempatan, pasti aku menyandang gelar wanita tidak punya hati. Lantas, aku harus berbuat seperti apa?


Dalam keadaan basah kuyup seperti ini, aku turun dari mobil Andrew. Dalam keadaan pintu mobil yang terbuka, aku berusaha menarik tubuhnya agar berpindah ke tempat duduk penumpang, tepat disamping stir. Tentunya dengan sekuat tenaga, lantaran tubuh pria yang sedang lemas memang luar biasa berat.


Dan yeah! Akhirnya aku berhasil menarik dirinya. Kuposisikan tubuh Andrew dengan benar. Napasnya memburu dengan mata lelah yang terpejam. Miris sekali jika dilihat lagi. Sampai aku tidak sadar akan diriku yang masih kehujanan.


"Navya!!!" teriak seseorang dari teras rumahku. "Mau kemana kamu?!"


Deg! Itu adalah suara milik papa. Kutilik beliau sekilas, beliau membawa sebuah senter ditangan. Wajah beliau tidak terlihat lantaran jauh dari pandanganku. Yang aku tangkap adalah sebuah kemarahan. Jantungku berdegup kencang tidak menentu. Bahkan lidahku kaku, tanpa bisa menelan salivaku. Oh... beliau membawa sebuah payung hitam yang tengah dibuka. Langkah mulai diambil oleh papa, semakin lama semakin dekat. Sampai-sampai tatapan tajam dan seringai menyeramkan terlihat oleh pandangan mataku.


Deg! Sekali lagi jantung bagai disentak alat pemacu. Sedang, hatiku bagai dihujam belati berkali-kali. Kakiku tak bisa bergerak dalam beberapa saat. Namun, aku berusaha keras agar tetap sadar. Aku harus kabur. Kalau tidak, aku dan Andrew bisa mati seketika.


Ayolah kaki, cepat!


"Navya! Pulang kamu! Kamu sama siapa?!" Papa semakin geram dibuatnya. "Anak tidak tau diuntung! Navya!"


Dengan susah payah, akhirnya kakiku kembali bergerak. Aku tidak menggubris umpatan kasar dari beliau. Segera kuambil langkah dan masuk ke dalam mobil Andrew dibagian kemudi. Lantas, aku segera memacu mobil ini dengan kecepatan tinggi. Ini gila! Rasanya aku sedang dikejar oleh seorang pembunuh, padahal ayahku sendiri.


Bibirku sama sekali tidak bisa berhenti bergetar. Dalam laju mobil ini, dalam terobosan hujan deras dimalam ini, dengan membawa lelaki yang sudah hampir tewas karena sebuah minuman. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku rasa, kebahagiaan sudah enggan bersinggah pada kehidupanku. Aku memang sudah berhasil menghindari papa, namun setelah ini aku akan mati ditangan beliau, dan bahkan Haris. Bukan mati raga, melainkan hati dan jiwa.


Maafkan Navya, Ma. Semoga Mama tidak menjadi bahan pelampiasan kemarahan Papa.


Pada akhirnya, aku harus melibatkan mama dalam masalah ini. Anak mana yang tidak akan khawatir. Aku tahu papa tidak akan begitu tega dalam melakukan kekerasan fisik. Namun tetap saja, kekerasan dalam bentuk kata lebih menyakitkan hati mama. Terlebih dari suaminya sendiri. Namun, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah terlanjur tertangkap basah dan tidak ada cara lain untuk kabur. Mau menyalahkan Andrew pun sudah tidak berguna, lantaran ia dalam kondisi mabuk.


Akhirnya deras hujan mulai reda. Kondisi jalannya yang sepi sudah terlihat jelas oleh pandangan mata. Aku pun memperlambat laju kendaraan ini, toh papa tidak mengejar. Aku rasa beliau kalang kabut saat hendak memburu, makanya tidak sampai mampu mengejarku. Lagipula, sudah semalam ini. Mungkin sekitar jam 21.00 WIB. Lantas, aku bisa dipanggil sebagai wanita macam apa sekarang?


Setidaknya aku sudah sedikit tenang untuk sekarang. Namun, rasa dingin mulai menyergap lantaran piyamaku sudah basah sebasah-basahnya. Beruntungnya, aku tidak menggunakan piyama bermodel dress, melainkan sepasang atasan dan bawahabmn atau bisa disebut dengan nama baby doll.


Baiklah! Tak mengapa. Matikan AC mobil saja. Aku harus menahan dingin terlebih dahulu. Mungkin, aku bisa meminjam pakaian milik Andrew. Lagipula, tengah malam begini tidak ada toko baju yang masih buka.


****


Selang waktu berlalu, telah sampailah kami di gedung apartemen milik Andrew. Aku bergegas turun dan meminta bantuan seorang security untuk membantuku memapah tubuh Andrew yang lemah lunglai. Beruntungnya, bukan security yang usil, beliau dengan bermurah hati memberikan bantuam kepadaku. Terlebih dalam kondisi penampilanku yang seperti ini, pastinya ada rasa iba didalam hati.


Dengan susah payah, akhirnya kami berhasil membawa Andrew ke dalam kediamannya. Kami merebahkan tubuhnya diatas ranjang didalam kamarnya. Lantas, aku mengantarkan sang security terlebih dahulu untuk keluar dari ruangan ini.


"Makasih ya, Pak? Emm... maaf sebelumnya, tapi saya ti-tidak membawa uang sepeser pun sebagai uang tip," ujarku sembari menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.


Sang security tersenyum ramah. Lalu menjawab ucapanku, "nggak apa-apa, Mbak. Urus diri sendiri dan temannya dulu. Tapi, inget ya Mbak, jangan berbuat aneh-aneh. Kalau saja, saya nggak kasian, pasti saya sudah melarang kalian untuk masuk."


"Ma-maaf, Pak. Lagipula saya mau ngapain sama orang yang nggak sadar."


"Iya, Mbak. Saya juga mikir gitu. Lagipula saya juga kenal sama Mas Andrew hehe. Nggak biasanya beliau mabuk kayak gitu, setau saya emang nggak pernah."

__ADS_1


"Hehe... ya sudah, Pak. Sudah malam, saya harus merawatnya terlebih dahulu."


"Baik, Mbak. Saya permisi dulu."


Beliau berlalu. Aku merasa bersyukur karena beliau sejatinya memang mengenal Andrew. Setidaknya, aku tidak perlu merasa khawatir jika terjadi sesuatu. Lantas, aku kembali masuk setelah menutup pintu. Aku menuju almari milik Andrew. Sesampainya disana, aku mencari baju yang cukup untuk aku pakai.


Kaos, kemeja dan juga jaket-jaket khas pria yang tentunya berukuran besar. Aku sampai kebingungan untuk memilihnya. Sampai akhirnya aku memilih sebuah kaos biasa, sweater dan celana dibawah lutut yang gombrong namun memiliki serutan di bagian pinggang. Aku pikir, aku harus memakai masing-masing dua balutan pakaian. Karena, pakaian khususku pasti juga basah.


Kuputuskan seperti itu. Lantas, aku berganti pakaian, sebisa mungkin bagian tertentu tidak sampai terekspos dari luar. Walau aku harus menggunakan baju berlipat ganda sekalipun. Toh, cuaca memang sangat dingin. Kemudian kucuci piyamaku yang basah, setelahnya kujemur dibalkon tempat ini. Setelah selesai, aku menghampiri keberadaan Andrew.


Karena lelah, aku ikut merebahkan diri disampingnya. Tentunya dengan dibatasi sebuah guling. Aku menatapi wajah Andrew yang tidak berdaya. Oh... untung saja, pakaiannya masih kering. Sepertinya ia tidak keluar dari bar atau mobilnya barang sekali saja. Aku tidak bisa membayangkan jika pakaiannya ikut basah, betapa malunya diriku saat itu jika harus mengganti pakaiannya.


Andrew bergeliat, ia mengubah posisinya tepat menghadap diriku. Kini, wajahnya terlihat jelas oleh mataku. Bulu matanya yang tidak panjang, namun tidak pendek juga, hidungnya yang mancung diiringi bibirnya yang manis. Parasnya menjadi satu membentuk kata tampan bak seorang idol Korea. Wanita mana yang tidak memujanya, bahkan aku sempat dimusuhi oleh Lia yang memang menjadi penggemarnya.


Aku tersenyum. Seolah rasa kecewaku pudar dan menghilang begitu saja. Disisi lain, aku merasa tersanjung lantaran ia berani hancur demu diriku. Namun disatu sisi, aku iba atas semua perubahan hidup yang ia alami akibat pengaruh diriku. Seandainya aku benar-benat bersamanya, apa kata orangtuanya nanti? Aku rasa restu pun tidak kami dapatkan karena aku adalah biang keladi dibalik batalnya rencana pernikahan Andrew dan Lusi, wanita yang belum pernah aku temui. Yah, hal ini juga menjadi alasan kuat, mengapa saat itu aku memintanya untuk berhenti. Meski, semua sia-sia lagi.


Andrew perlahan membuka matanya sampai membuat jantungku tidak menentu. "Ini... Navya? Apa aku mimpi...?" Suara Andrew terdengar sangat parau dan lirih.


"Iya, ini aku...," jawabku sama lirihnya.


Andrew tersenyum. Lantas berkata lagi, "aku sungguh mencintaimu."


"Aku tau tentang itu."


"Maukah kamu bersamaku sekali lagi?"


Aku diam seketika. Entah, harus bagaimana aku menjawab pertanyaannya. Karena semua perlu dipertimbangkan lebih matang lagi.


"Tidurlah, Andrew. Kamu sedang mabuk, aku minta tenanglah. Aku disini saat ini, jangan berbuat hal buruk lagi."


Andrew tersenyum. Namun, kemudian terpejam lagi. Aku rasa, ia berucap tanpa kesadaran penuh. Lama kelamaan, rasa kantuk juga menyerang mataku. Aku sudah tidak kuasa lagi menahannya. Sampai, akhirnya aku terlelap entah pada jam berapa.


****


Sebuah belaian lembut sedang menyapu kepalaku. Namun, aku masih enggan untuk membuka mataku. Aku pikir, tangan itu adalah tangan mama. Kutarik selimut lagi karena dingin masih menerpa. Aku rasa, jam dinding masih menunjukkan waktu fajar. Toh, masih lama kerja akan datang.


Ehh???


Aku tersentak seketika saat menyadari posisiku sedang dimana sekarang. Ya! Aku ditempat Andrew. Bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting ini? Aku membangunkan diriku segera. Kuperiksa lagi kondisi diriku, pakaian masih lengkap milik Andrew semua. Lantas, aku menghembuskan napas lega. Aku bersyukur, Andrew tidak mencuri kesempatan dalam kesempitan.


"Emangnya kamu pikir, aku ngapain?" tanya Andrew tiba-tiba. Sepertinya, ia menyadari akan rasa khawatirku.


"Ya, siapa yang tau. Apalagi kamu sedang mabukk semalam. Ya kan, a-aku khawatir," jawabku malu-malu.


Ia membangunkan dirinya dan bergerak mendekatiku. Tentu saja, aku menjauhkan diri darinya. Namun, ia segera menarik diriku untuk masuk ke dalam pelukannya. Yah, sekali lagi tenaga pria memang sangat besar.


"Makasih...," ujarnya lirih.


"Buat apa?" tanyaku.


"Kamu bersedia merawatku."

__ADS_1


"Jangan kayak gitu lagi. Sebelum ini, kamu aja nggak menyentuh batang r*kok. Masa' jadi minum gitu?"


"Iya maaf, Vya. Aku nggak bakalan ulangin lagi."


"Bukan urusanku juga sih. Tapi, semua kan gara-gara aku. Emm... jam berapa sekarang?"


"Setengah enam. Hari ini jangan masuk kerja dulu. Aku tau situasi kamu masih belum menentu, aku takut papa dan cowok itu nyari kamu. Bisa-bisa kamu dipermalukan oleh mereka didepan umum."


Glup! Aku menelan ludahku seketika. Memang benar, kemungkinan yang ucapkan oleh Andrew. Aku rasa papa juga tidak segan-segan lagi dalam memarahiku, bahkan didepan umum sekalipun. Sepertinya, keputusan Andrew bisa dibilang tepat. Aku harus menghubungi Affandy dan Rezky terlebih dahulu. Tapi, menggunakan apa? Ponselku tertinggal di rumah.


Berbicara tentang ponsel, bagaimana kalau papa memeriksanya? Bisa ketahuan aku. Semoga mama lebih peka dan membuangnya lebih dulu. Yah, padahal benda itu adalah benda cadangan yang kusimpan demi menghindari kecurigaan Haris. Setelah ponselku hancur, aku baru memakainya secara rutin dengan menggunakan nomor yang sama.


"Kamu juga nggak bisa masuk kerja sekarang dong?" tanyaku kemudian.


"Masih bisa kok. Aku masih bisa melawan kan, Sayang?" tanyanya kembali.


Aku menggelengkan kepalaku. "Nggak, nggak bisa untuk sekarang. Jangan masuk, aku takut papaku udah tau siapa kamu melalui HPku."


"Kamu khawatirin aku?"


"Enggak. Tapi, masalah ini akan semakin runyam. Aku akan pulang nanti, jadi ka-"


Andrew menutup mulutku seketika. Ia berkata, "nggak. Kenapa kamu selalu berjuang sendiri? Padahal aku adalah penyebab masalah ini."


"Kalau kamu tau kamu penyebabnya, kenapa kamu nggak bisa berhenti? Kenapa masih bersikeras seperti ini? Padahal kamu sadar akan hal itu."


Ia menghela napasnya, lantas memejamkan mata untuk beberapa saat. Aku tahu ia menyesalkan akan sikapnya selama ini. Ia bagaikan kecanduan akan diriku. Bodohnya, sebagai pria ia sangat lemah. Padahal, jika ditilik pada diriku, aku pun masih memiliki rasa yang sama. Hanya saja, aku lebih kuat darinya. Aku bisa menahan segala kerinduan ini dalam jangka waktu yang lama.


Mungkin, karena adanya papa dan Haris juga. Jadi, secara otomatis aku bisa berbuat seperti itu. Herannya, semua harus digagalkan oleh Andrew berkali-kali.


Kini, ia semakin merekatkan pelukannya pada diriku. Tiada kata, tiada wacana. Mungkin, benak kami masih mencari beberapa cara yang tepat. Namun, tak jarang ia membelai kepalaku dengan lembut. Jujur saja, ini sangat nyaman, nyaman sekali. Aku ingin lebih lama lagi.


"Kamu nggak pake B-,"


Aku menarik diriku darinya dan segera membungkam mulutnya. "Heh!!! Jangan disebutin!" tegasku.


Andrew melepaskan tanganku. Lantas terkekeh sembari menggodaku. "Imut banget kamu, Vya. Gemes jadinya."


"Ja-jangan deket-deket!"


"Nggak apa-apa, sini. Aku nggak bakalan ngapa-ngapain."


"Ya a-aku kan malu. Coba aja nggak basah. Lagian ngapain sih dibahas. Kenapa kamu nggak cukup nge-batin aja sih?!"


"Nggak tau. Tiba-tiba nyeplos aja, pas tau hehe."


"Dasar!"


Begitulah pagi tak terduga ini terjadi. Aku bersyukur Andrew tidak melakukan sesuatu yang tidak wajar. Sebenarnya, aku merasa risih. Walaupun aku pernah bersamanya dan beberapa kali dikecupnya. Tetap saja, situasi sekarang ini berbeda. Dan sebisa mungkin aku menghindari Andrew, meski beberapa kali ia hendak memelukku.


Akhirnya kami berdua tidak masuk kerja. Andrew sudah memberitahukannya kepada Rezky. Aku tidak punya pilihan lain, kecuali bersembunyi ditempat ini untuk sementara waktu. Menggunakan segala fasilitas yang ada secara bergantian. Untuk pakaian, aku masih meminjam miliknya setelah bebersih diri tadi, beruntungnya pakaian khususku yang kucuci sudah kering. Sehingga tidak perlu merasa resah lagi. Kemungkinan, aku akan meminta tolong kepada Sita untuk membawakan beberapa baju wanita dan pakaian khusus untukku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2