Who Is My Love

Who Is My Love
Beban


__ADS_3

****


"Hah! Capek ...." Tubuhku terasa lemas sekali. Seharian, aku benar-benar dikerjai habis-habisan oleh tugas-tugas yang kurang ajar. Pertunangan Pak Bos yang baru digelar dua hari yang lalu, sama sekali tidak memberikan bonus santai untuk kami--karyawan perusahaannya.


Kapan rutinitas melelahkan ini akan berakhir? Rasanya semakin jenuh dengan pekerjaan. Seringkali, kepalaku terserang vertigo, apalagi jika pekerjaanku memaksaku berpikir terlalu keras. Bisa-bisa rambutku rontok sebelum tua. Namun aku adalah seorang Navya, tidak akan menyerah dalam bekerja. Lihat saja, meski mengeluh, pekerjaanku selalu tuntas sampai ke akar-akarnya.


Kuregangkan otot-ototku, kemudian menjatuhkan diriku di atas ranjang. Kutatap langit-langit kamar, menerawang jauh membayangkan banyak hal. Juga tentang pernikahan yang sebentar lagi digelar. Ah, sebelum menikah saja, banyak sekali ujian yang datang, bagaimana nanti? Kata orang, kehidupan yang sebenarnya dimulai ketika seseorang sudah berumah tangga. Apakah Andrew akan berubah nantinya? Bagaimana dengan kebucinan-nya? Aku ingin ia tetap ia yang sekarang.


Suara ponsel mengejutkanku, memaksaku untuk menyudahi khayalanku. Setelah itu, aku berusaha mengambil ponselku yang berada di dalam tasku. Ah, malas sekali, kalau tidak bangun, aku tidak bisa mengambilnya. Menyebalkan! Akhirnya, dengan terpaksa aku mengambil posisi duduk. Baru setelah itu, aku bisa meraih benda itu.


Nomor milik mama terpampang nyata. Membuat hatiku cukup berdebar juga, pasti akan membahas tentang persiapan pernikahan.


"Halo, Ma?" sapaku untuk ibundaku itu.


"Halo, Sayang. Kamu lagi apa?" tanya mama kembali.


"Rebahan, Ma. Aku baru pulang kerja."


"Capek, ya? Udah mandi belum?"


"Belum, Ma. Masih antri sama temen-temen. Kenapa, Ma?"


"Ini lho, soal gaun pengantin kamu mau yang kayak gimana? Terus kalian kapan bisa pulang?"


"Adat sunda aja, Ma, buat akad. Belum tahu, pulangnya, bos aku juga baru ambil cuti tunangan."


"Hmm ... susah sih, kalau kamunya enggak ada, fittingnya gimana? Sama resepsinya juga, katanya tiga kali ganti baju. Kan, si Andrew orang jawa, kamu Jakarta, tapi kamu milihnya sunda. Gimana coba?"


"Dari dulu aku naksir sama siger sunda, pengen make kalau pas akad nikah, kebaya putih yang biasa aja sama bawahan batik. Ah, pokoknya yang simpel aja deh, yang penting MUA-nya bagus aja sih. Kalau enggak bagus, aku dandan sendiri."


"Ais! Mana bisa bikin pangling kalau sendiri? Kalau buat akad, Mama bisa bantu kamu. Style Mama juga bagus, tapi kalau soal resepsi agak bingungin ini. Coba deh dirundingin sama Andrew, apa mau ala modern aja, kayak princess-princess gitu?"


"Ah, enggak! Aku maunya yang lokal aja, Ma. Lagian Andrew orang jawa, pasti ya pake jawa nanti."


"Hmm ... susah kalau kamunya enggak ada. Pokoknya usahain pulang cepet, dan ambil cuti lama."


"Ye, emang perusahaan milik Navya apa?"


"Kamu, kan, kenal akrab sama bos kamu, siapa tahu dibantu."


"Navya enggak mau curang, Ma."


"Anak ini! Ya udah, pokoknya terserah kamu. Mama tunggu, ya udah deh gitu aja, paketan Mama habis."


Panggilan dimatikan sepihak oleh mama. Beginikah nasib seorang perantau? Ketika akan menikah, tidak bisa ikut mempersiapkan segalanya. Boro-boro ikut bantu, fitting baju untuk diri sendiri saja sulit sekali. Pasti mama sangat kewalahan di sana, hanya ada Bi Emi yang membantu. Papa tahu apa tentang persiapan? Papaku juga masih harus bekerja, meski serabutan.


Kabar yang aku dengar, papa menjadi penerjemah bahasa jepang di suatu perusahaan. Namun tidak tetap karena memang bukan kontrak, papa hanya dipanggil ketika dibutuhkan. Ya, memangnya siapa yang akan menerima mantan nara pidana? Bahkan memiliki usia yang tidak lagi muda. Oh, nasib papaku.


Beruntungnya, keluarga Andrew bisa menerima kondisi kami, entah apa alasannya. Mungkin, karena Andrew sudah benar-benar jatuh hati kepadaku. Ah, hebatnya diriku sampai membuat pria itu benar-benar bertekuk lutut.


"Pusing mikirin nikah, pusing mikirin kerjaan, pusing mikirin gaji art-ku, pusing mikirin hidup mama dan papa. Navya, Navya, kamu luar biasa!" Komplit sudah paket nasib yang diberikan oleh Tuhan kepadaku. Seandainya saja, papa tidak mengambil uang itu, sudah pasti bebanku lebih ringan. Aku tidak ingin mengeluh, tetapi aku juga manusia biasa yang kadang kala perlu sesuatu untuk melepaskan gejolak jiwa yang meronta karena rasa lelah.


Bukan ingin sok mewah atau sejenisnya, alasanku tidak memecat Bi Emi karena merasa kasihan. Janda beranak satu, bahkan telah menemaniku selepas kepergian orang tuaku keluar kota bertahun-tahun lamanya. Mana mungkin, aku setega itu membuang Bi Emi dan Cika setelah apa yang mereka berikan. Ya sih, aku memang memberikan bayaran, tetapi rasanya semua jasa Bi Emi tidak bisa dibayar oleh apa pun.


"Uuuh! Dosa enggak sih kalau ngeluh? Gue capek ...." Ketika dilanda lelah dan jenuh, semua bebanku tiba-tiba muncul di benakku. Membuat kepalaku seakan ingin meledak-ledak. Namun, aku selalu tetap berusaha bangkit dari segala perasaan ini. Jika bukan diriku, lalu siapa lagi? Papa kian menua, mama juga tidak lagi muda. Hanya aku yang masih memiliki pekerjaan normal.


Sebenarnya, Andrew selalu memberikan penawaran. Aku rasa, ia juga diam-diam mengirimkan sejumlah uang kepada mama. Namun, aku tidak bisa terus-terusan membiarkan. Sekali pun kami telah menikah, ia akan menjadi kepala rumah tangga. Benar juga, ketika kami sudah menikah, kehidupan kami akan bagaimana? Terlebih, jika aku sudah hamil, otomatis tanggung jawab akan bertambah. Lalu, jika kondisiku tidak lagi kuat untuk bekerja, yang akan mengurus papa dan mama siapa?


Air mataku berderai ketika memikirkan hal itu. Sulitnya hidup menjadi anak tunggal, tidak ada saudara yang bisa menggantikan, maksudku membantu ketika aku sudah kesulitan. Aku juga harus memikirkan mertuaku nanti, apa mereka akan ikhlas jika diam-diam Andrew membantu keluargaku? Miris sekali nasibku ini.


"Navya? Loe kenapa?" Tampaknya, Sinta mendengar isak tangisku. Ia bertanya sembari mengetuk pintu kamarku. Namun, aku enggan untuk memberikan jawaban. Suaraku terlalu serak untuk dikeluarkan. Ketika sudah seperti ini, biasanya ia memberikan waktu untukku terlebih dahulu. "Kalau nangisnya udahan, cepet mandi. Habis itu makan malem, Nav."


Aku masih mengabaikan ucapan Sinta. Setelah itu, tidak ada tanda-tanda adanya dirinya di balik pintu kamarku. Sebenarnya, pintu itu tidak terkunci, hanya saja Sinta selalu enggan untuk masuk, berbeda dengan Raya yang cukup blak-blakan.


Setelah tangisanku selesai, rasa kantuk yang kini datang menyerang. Membuatku tidak bisa menahan mata terbuka terlalu lama. Tidak peduli, balutan baju kerja masih membalut tubuh ini, aku mencoba memejamkan mataku.


****


"Duh, bener, kan, badannya panas. Gimana dong, Ndrew? Mau bawa ke rumah sakit?"


"Navya paling anti sama rumah sakit. Nanti kalau ditanya pasti enggak bakalan mau, Sin."


"Kacapekan dia, Sin. Coba loe cari obat demam loe, biasanya loe nyetok banyak."


"Ada sih, Ray. Coba gue cari dulu."


"Sayang ...."


Apaan sih? Gue mimpi mereka, ya?


Mimpi? Namun, rasanya nyata sekali. Meski terdengar samar, aku masih menangkap perbincangan mereka. Perlahan, kubuka mata. Menatap bingung pada Andrew dan Raya yang saat ini ada di hadapanku. Apa yang terjadi kepadaku? Sepertinya mereka cemas sekali.


"Udah bangun? Masih pusing?" tanya Andrew kepadaku.

__ADS_1


"Masih dikit. Kamu kok tahu?" Aku masih bingung dengan keadaanku sendiri. Bahkan, rasanya masih seperti di dalam mimpi.


"Kamu sakit, Sayang. Kecapekan ya? Bentar, ya. Sinta masih ambil obatnya."


"Obat? Buat apa?"


"Loe demam, Navya," timpal Raya.


"Masa' sih?" Aku meraba keningku. Namun, tidak tahu pastinya demam itu bagaimana. Mungkin karena menggunakan tangan sendiri, sehingga sama saja. Memang, hawa panas terasa di tubuhku, aku pikir karena aku belum mandi sejak pulang dari kantor beberapa saat yang lalu.


Astaga! Sepertinya aku telah membuat repot mereka semua. Seharusnya, aku menahan isak tangisku, sehingga mereka tidak akan mengetahui kondisi diriku yang sebenarnya. Aku malu sekali, pasti mereka sudah kesulitan hidup sendiri, aku malah menambah beban saja. Tidak ada kata yang bisa kuucapkan, aku terlalu canggung untuk berucap.


"Maaf, Ray, boleh minta air anget? Gue enggak enak mau ke belakang. Takut ada sesuatu punya cewek," ujar Andrew.


"Banyak, Ndrew, kacamata pada dicantelin di kamar mandi haha," jawab Raya diiringi kelakar seperti biasa.


"Gue maunya lihat punya Navya aja."


"Waduh! Isinya apa kacamatanya."


"Dua-duanya."


Kuberikan cubitan pada lengan Andrew. "Jangan ngaco deh!" tegasku.


"Haha ... udah lihat kali."


"Belum!" Suaraku dan Andrew terucap dalam waktu bersamaan dan hanya disambut cibiran serta gelak tawa dari Raya.


Asem!


Kemudian, Raya bangkit, sepertinya hendak mengambilkan sesuatu yang Andrew minta. Kucoba bangunkan diriku dari posisi rebahanku. Ah, pasti wajahku jelek sekali, sialnya mengapa harus di hadapan kekasihku?


"Kamu mikirin apa, Sayang? Kata Sinta nyampe nangis?"


Aku menggeleng. "Aku enggak mikirin apa-apa kok. Cuma capek doang."


"Serius?"


"Iya, serius."


"Hmm ... ya udah, aku pijit. Aku bantu usap tangan kamu, kamu pasti enggak mau kalau dibantu mereka."


"Sama kamu juga enggak mau. Kamu, kan, cowok!"


"Tetep aja enggak boleh."


"Iya, iya, tenang aja. Yang boleh-boleh aja."


"Aku mau mandi aja."


"Enggak boleh! Biar demamnya turun dulu."


Aku menggerutu, mendengar penegasan itu. Padahal rasa badanku benar-benar tidak nyaman. Aku menyesal karena tidak bergegas mandi sehabis pulang kerja. Mana aku tahu kalau akan demam seperti ini. Ditambah rasa pusing yang luar biasa di kepala. Tubuh manusia ada lelahnya juga ternyata.


Beberapa saat kemudian, Raya dan Sinta datang secara bersamaan. Raya membawa baskom yang mungkin berisi air hangat sesuai permintaan Andrew. Lalu, Sinta membawa obat. Aku tidak tahu harus menyembunyikan wajah di mana saat ini, bagaikan bayi yang tidak bisa mandiri sama sekali.


"Sorry, gue lupa naruhnya, jadi agak lama," ujar Sinta.


Andrew menatapnya. "Terus ketemu enggak?"


"Maaf, Ndrew. Enggak ada, kayaknya habis deh."


"Hmm ... lupa naruh apa habis, jadinya?"


"Enggak tahu, intinya enggak ketemu."


"Ya udah deh. Mana, Ray, makasih ya kalian. Sana pada istirahat, sementara biar gue yang jaga. Biar enggak terlalu rame juga, jadinya Navya-nya nggak pusing."


"Nav, kalau ada apa-apa ngomong aja ya? Orang satu rumah ini kok. Jangan sungkan, karna ada Andrew gue tinggal dulu, ada lemburan sama Raya," pamit Sinta kepadaku.


Aku mengangguk pelan. "Makasih udah rawat gue, Ray, Sin."


"Santai aja lagi. Noh, pacar loe yang lebih rajin."


"Iya, Ray, semangat kalian lemburnya."


Mereka berdua berbalik badan lalu kembali, mungkin ke dalam kamar. Mana bisa aku menceritakan alasan di balik tangisanku tadi. Selama ini, aku selalu menyimpan rapat masalah keluargaku, bagaikan aib yang tidak boleh diumbar ke mana-mana. Aku hanya bercerita perihal cinta dan persahabatan saja. Entah, separah apa pun keluargaku, aku tetap ingin menjaga nama baiknya. Bahkan, Raya dan Sinta tidak pernah tahu alasan di balik ke berangkatanku ke Singapura.


Begitu setianya, Andrew merawatku. Ia tidak merasa jijik sama sekali. Dibasuhnya kaki dan tanganku, bahkan di sela-sela jariku menggunakan handuk yang telah dicelup air hangat. Tidak ada kata yang terucap, tetapi tangannya begitu siap. Mengusap tengkuk leherku sampai dengan wajahku. Tidak ada sama sekali maksud jahatnya terhadapku.


"Kamu mau ganti baju? Aku ambilin, terus aku keluar dulu, gimana?" tanyanya.


Aku tersenyum. "Aku enggak lemah-lemah banget kok. Masih bisa ambil baju sendiri," jawabku sembari memberikan belaian halus di tangannya.

__ADS_1


"Sayang?"


"Ya?"


"Maaf banget!"


"Soal?"


"Boleh aku bersihin punggung kamu?"


"A-aku bisa. Enggak perlu."


"Nggak bakalan nyampe. Raya dan Sinta pasti, udah kerja. Apa aku panggilin mereka dulu?"


Aku menggeleng. "Aku nggak PD, takut ada kotoran. Kasihan, nanti mereka jijik."


"Kalau enggak dibersihin gatel lho."


"Makanya aku mandi aja."


"Jangan nambahin penyakit. Udah sini, madep sono."


"Ih, enggak mau!"


"Sssttt ... jangan berisik! Nanti dikira ngapa-ngapain."


"Ah, Andrew ...."


Mau tidak mau, aku menuruti permintaan Andrew. Bergerak sedikit menjadi membelakanginya. Tangan Andrew terasa bergetar ketika tersentuh lenganku. Ia menyingkap perlahan pakaianku di bagian belakang. Sungguh gila! Aku sampai tidak berani membuka mata dan tanganku begitu erat dalam memeluk selimut. Tangannya begitu lembut membersihkan punggungku, serasa membuat napasku berhenti dalam sekejap waktu.


Jangan nyampe ada daki, please!


Andrew terdengar mengembuskan napas. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Aku curiga, kalau-kalau punggungku kotor sekali. Atau, jangan-jangan badanku bau? Astaga! Memalukan!


"Udah belum?" tanyaku sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi atas situasi ini.


"Bentar, dikit lagi," jawab Andrew.


"Emm ... kotor banget ya?"


"Bersih, Sayang. Putih banget."


"Kok kamu ambil napas?"


"Enggak kuat."


"Aku bau, ya?"


"Enggak juga, Sayang. Minyak wangimu masih terasa."


"Terus kenapa dong? Kok nyampe enggak kuat."


"Rahasia. Udah nih udah." Andrew mengembuskan napas yang ia ambil. Setelah itu, ia kembali menutup pakaianku.


Aku berbalik lagi. Astaga! Wajah Andrew merah sekali, ada apa dengannya? Aku menelan saliva dibuatnya. Jangan-jangan aku benar-benar bau. Menyebalkan, malu sekali diriku.


"Ini." Ia menyerahkan handuk kecil itu kepadaku. "Bersihkan yang perlu dibersihkan. Aku keluar dulu, mau beli obat buat kamu sama bubur, mau?"


"Muka kamu kenapa merah begitu? Aku bau ya?" Kuabaikan pertanyaan dari Andrew dan memastikan ada apa dengan dirinya.


"E-enggak apa-apa kok. Panas ini panas."


"Iya sih, emang panas. Kalau kamu ngerasa panas juga, berarti aku enggak demam, emang hawanya panas, kan? Enggak mandi enggak enak di badan."


"Haduh ...." Andrew menepuk keningnya. "Jangan, jangan mandi. Bukan panas itu maksud aku, Sayang. Udah pokoknya kelarin dulu, ganti baju. Aku cari obat buat kamu."


"O-oke."


Entahlah, aku tidak mengerti ada apa dengannya. Mungkin memang hawanya memang panas saja, sehingga wajahnya sampai memerah seperti itu.


Andrew berlalu meninggalkan diriku. Pintu kamarku tidak lupa ia tutup. Baru setelah itu, aku membersihkan diriku sendiri di bagian yang tidak mungkin Andrew lakukan. Meski rasanya tidak sesegar mandi, menurutku bisa mengurangi rasa gerah yang melanda.


"Eh?! Bentar! Jangan-jangan Andrew tadi, astaga! Bodohnya, Navya! Aaaaaaaaaaaaaa!"


"Navya?! Ada apaan?!" Mendengar teriakan mautku Raya dan Sinta spontan berlari ke dalam kamarku.


"Ray, Sin, gue bodoh."


"What?! Loe diapain sama dia?" Ucapan mereka terdengar sama, bahkan bersamaan.


"Aaaaaaaaaaaaa!"


"Navya? Serius?!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2