
Diam-diam, Andrew melakukan segalanya untukku. Mulai dari ia bertengkar dengan Haris tanpa sepengetahuanku. Ia adalah pembohong yang pintar. Hebatnya, aku sama sekali tidak mengetahui segalanya. Sebenarnya, ada rasa curiga--apakah ada hal lain lagi yang ia sembunyikan? Namun, ketika mengingat satu persatu kebaikannya untukku, rasanya tidak tega untuk memberikan rasa curiga kepadanya.
"Kenapa sih? Kok ngeliatin mulu'?" tanya Andrew membuyarkan tatapan mataku yang kuarahkan kepadanya.
"Aku masih bingung," jawabku.
"Bingung kenapa lagi, Sayang?"
"Kamu ada hal lain lagi yang diumpetin enggak?"
Andrew menggeleng. "Enggak ada, sumpah!"
"Kamu ini pembohong."
"Ya, bukan gitu maksud aku. Gimana ya, kalau buat sesuatu yang enggak perlu diumbar, ya udah gitu. Kamu juga nggak pernah nanya-nanya."
"Iya sih. Tapi ya jangan diumpetin juga!"
"Seru tauk hehe."
"Mana ada!"
Kedatangan mama membuat Andrew sedikit menjauhkan posisi duduknya dariku. Meski sudah menyandang status calon mantu di rumah ini, ternyata masih ada rasa canggung yang ada di dalam hatinya. Sedangkan, mama hanya tersenyum-senyum dan tetap melangkah pergi menuju kamar pribadi.
Setelah mama sudah tidak nampak, Andrew kembali mendekati diriku. Bahkan, ia mencuri pipiku diam-diam untuk diberikan kecupan. Aku hanya tertawa kecil dengan sikapnya yang serba canggung, meski memiliki keinginan.
"Gimana kalau kita jalan-jalan? Misal lihat dekorasi di gedung itu?" tawarku kepadanya.
"Boleh, mumpung belum tengah hari juga," jawabnya.
"Aku ambil tas dulu ya?"
"Iya, Sayang."
Ketika mendapatkan tanda setuju, aku segera berdiri dari dudukku. Kuayun kakiku untuk pergi ke kamar. Sebenarnya, aku hanya mencari-cari alasan supaya bisa berduaan. Jika ada orang tua, rasanya canggung sekali dan sangat tidak nyaman.
Tas selempang berwarna putih sudah aku kenakan sebagai penunjang penampilan. Ada sepatu flat yang menghiasi kaki jenjangku. Tak lupa sentuhan make up aku berikan pada wajahku. Persiapan singkat ini selesai, aku kembali bergegas turun.
"Ayo, aku udah siap," ujarku kepada Andrew yang masih setia menunggu.
"Lho? Mau ke mana?" Tiba-tiba mama datang, mungkin karena mendengar suara ajakan yang aku katakan.
"Lihat dekorasi gedung, Ma. Andrew belum lihat malahan."
"Ya udah, yang penting hati-hati. Kalian calon pengantin lho. Kalau jaman dulu mah dipingit, ini mah jalan-jalan melulu'."
Andrew mengulas senyum di bibirnya. "Calon pengantin zaman now, Ma," ujarnya.
"Dasar! Enggak ada takut-takutnya kalian itu. Ya udah hati-hati di jalan. Tapi, mobil Navya lagi dibawa sama papa. Jadi, pake mobil kamu dulu ya, Ndrew?"
"Iya, Ma."
Setelah mengecup punggung telapak tangan mama, kami bergegas keluar. Dengan mobil lamanya, Andrew dan aku akan datang melihat-lihat pemandangan di pernikahan kami nanti. Mobil ini dilaju perlahan oleh Andrew, melaju cepat meninggalkan rumahku untuk sementara waktu.
Jalanan cukup sepi, maklum masih jam sembilan pagi. Orang-orang sibuk dengan pekerjaan di kantor maupun di tempat lain. Hal itu membuat laju mobil ini menjadi cepat derunya. Namun, aku justru tidak suka.
"Sayang, bawa mobilnya pelan aja, kenapa?" pintaku kepada kekasihku.
Ia menatapku sekilas. "Emang kenapa? Orang sepi kok," jawabnya sama sekali tidak peka.
Aku memberikan cubitan di bahunya. "Aku mau deket sama kamu lebih lama."
Ia cengingisan. "Ngomong dong, Sayang."
"Ya udah, turunin speed-nya."
"Gimana kalau ke apart aku aja?"
"Adik kamu? Terus orang tua kamu?"
"Adik ada kelas pagi, ayah malah masih sibuk di office. Ibuk, kan, di rumah Tante Desi."
"Ya udah, terserah kamu. Asal sama kamu."
"Kangen ya?"
"Enggak sih, biasa aja."
"Bohong!"
"Hmm ... agak enggak nyaman aja kalau ada orang lain hehe. Kalau di Singapura, kan, kita berduaan mulu'."
Membalas ucapanku dengan cubitan di pipiku. Setelah itu, ia membelokkan arah yang menuju apartemennya sendiri. Akhir-akhir ini, rasanya diriku terkesan lebih berani. Meski tidak ada maksud apa pun kecuali bersamanya, tetapi memiliki makna yang mungkin berbeda. Wajahku merasa panas ketika memikirkannya. Atas sikapku ini, apa yang ada di pikiran Andrew sekarang?
Sebenarnya keinginanku bersamanya karena ingin membahas beberapa hal. Mengenai ucapan Haris, juga tentang rencana kami setelah menikah. Terlebih, ia sudah memiliki usaha sendiri, apakah masih harus bertahan di dalam pekerjaan itu? Aku ingat--sebelum kami pulang, ia menawarkan agar aku keluar setelah resmi menikah. Ternyata, ada alasan di balik keberaniaannya itu.
Lalu, beberapa saat kemudian, kami telah sampai di tempat tujuan. Mobil pun sudah terparkir dengan tenang di area yang telah ditetapkan. Aku turun bersamaan dengan sopir tampanku itu. Melangkah bersama masuk ke dalam gedung apartemen yang sudah lama tidak aku singgahi. Gedung ini merupakan saksi dari perkenalan, cinta, pertengkaran dan juga kebersamaan kami kembali. Aku anggap sebagai gedung bersejarah.
"Sayang, kamu enggak takut?" tanya Andrew tiba-tiba.
__ADS_1
Dahiku mengernyit, heran. "Takut apaan?" tanyaku kembali.
Ia menggeleng. "Enggak jadi hehe."
"Kok gitu sih? Apaan?"
"Hmm ... anak ini! Takut kalau aku macam-macam sama kamu."
"Emang kamu ada niat kayak gitu?"
"Emm ... enggak tahu. Tergantung."
"Kok gitu?"
"Ya, kan, cewek sama cowok di dalem ruangan berdua. Gimana coba?"
Langkahku terhenti seketika. "Enggak jadilah. Aku pulang aja."
Saat aku hendak berbalik badan, Andrew menarik lenganku. Setelah itu, ia melingkarkan tangan di pinggangku dan kami melanjutkan langkah bersama. Memasuki elevator untuk melalui lantai demi lantai gedung ini.
Sampai akhirnya sampai di lantai yang dituju. Aku sedikit merasa asing dengan tempat ini, mungkin karena sudah lama tidak datang ke sini. Memang, tidak ada yang berubah, masih sama saja seperti terakhir kali aku melihatnya. Aku sempat kabur ke tempat ini karena Andrew yang tiba-tiba mendatangi rumahku dalam kondisi mabuk.
"Ayo, masuk. Tapi adikku agak berantakan, enggak apa-apa ya, Sayang," ujar Andrew.
Aku mengangguk pelan. "Iya, enggak apa-apa kok," jawabku sembari melangkahkan kaki ke dalam.
Isi apartemen ini sudah sedikit berbeda, meski furniturenya masih sama. Mungkin karena berbeda penghuninya. Ah, fotoku masih terpampang dengan bingkai besar yang sengaja dipasang oleh Andrew, membuatku senyum-senyum sendiri. Memangnya, adiknya tidak merasa terganggu dengan potrek diriku itu? Aku rasa--Andrew memberikan larangan keras untuk tidak melepasnya secara sembarangan.
Tiba-tiba, sepasang tangan melingkar di pinggangku. Tentu saja, Andrewlah sang pelaku. Ia menopang dagunya dengan pundakku, mungkin merasa sangat rindu. Aku mengusap tangannya perlahan saja.
"Kangen berat, sumpah!" ujarnya kemudian.
Aku tertawa kecil. "Kan, kita udah ketemu!"
"Ada mama, papa."
"Emang kalau enggak ada mau apa kamu?"
"Enggak ngapa-ngapain sih. Cuman, beda aja hawanya."
"Canggung, ya?"
"Banget, Sayang! Hari Sabtunya lama banget. Sumpah geregetan tauk. Berasa masih setahun lagi gitu. Aku udah enggak sabar milikin kamu sepenuhnya, Navya."
Aku melepaskan pelukannya. Setelah itu, berbalik dan menatapnya. Kutangkupkan kedua tanganku di wajahnya. "Yang sabar, tiga hari lagi kok."
"Lama, Sayang."
"Iya diusahain. Ya udah kamu duduk dulu, aku bikinin minuman. Mau apa?"
"Cokelat kalau ada."
"Siap, Nona!"
Andrew berlalu menuju dapur apartemen ini. Sedangkan, diriku duduk di sofa yang letaknya masih sama seperti dulu kala. Dulu, aku begitu bodoh sampai tidak tahu bahwa orang yang mendekatiku sudah menjalin hubungan orang lain, aku menganggap bahwa Andrew akan memberikan momen pernyataan cinta yang lebih bermakna. Sayangnya, aku keburu mengetahui yang sebenarnya.
Lalu, apa yang terjadi sekarang? Aku justru akan menikah dengan dirinya. Seseorang yang sempat menghancurkan hatiku itu. Apa benar bahwa aku memang bodoh sekali? Atau terlanjur jatuh cinta?
Andrew datang dengan membawa nampan berisi minuman pesananku, memaksaku menghentikan semua pemikiranku tentang masa lalu itu. Ia meletakkan sajian itu tepat di hadapanku pada meja yang ada di sini. Kemudian, ia duduk tepat di sampingku, tanpa mau mengembalikan nampan ke dapur.
"Udah tuh, diminum," ujarnya.
Aku mengangguk pelan sembari mengambil cokelat hangat yang telah ia sajikan. Lalu, menyesapnya perlahan.
Rangkulan tangannya melingkar di pinggangku dan ia bersikap lebih manja daripada biasanya. Ia mengecup habis pipiku dan memberikan sentuhan halus di tengkuk leherku. Terakhir, ia sedikit menarik wajahku dan membuat ulah romantis dengan bibirku.
Aku tersentak dan spontan membuka mata, pada saat tangan Andrew mulai merayap-rayap. Aku melepaskan diri dan menepisnya seketika.
"Heh! Kamu mau ngapain?" tanyaku sembari menyingkirkan tangannya. Aku merasa ulahnya sedikit lebih aneh daripada biasanya.
Andrew menggeragap dan segera menarik dirinya sedikit menjauh. "Maaf," jawabnya.
"Jangan merusak apa yang udah kamu genggam. Tinggal selangkah lagi dan kamu bisa dapetin aku sepenuhnya. Kamu bisa lebih sabar, kan?" Aku tahu apa yang ia mau. Hasrat seorang pria yang sudah tertahan lagi. Sepertinya, keputusan kami datang ke sini adalah salah. Aku pikir, ia akan bersikap seperti biasanya sama seperti waktu kami berdua di Singapura.
Ia menggaruk kepalanya dengan asal, lalu berdiri. "Maaf, Sayang hehe."
"Kamu mau ke mana?"
"Mau ngademin diri dulu." Ia berlalu dan aku membiarkannya.
Sepeninggalan Andrew ke belakang, tiba-tiba ponselku berdering--menandakan bahwa ada seorang penelepon. Aku mengeluarkannya dari dalam selempangku. Nama Sita terpampang nyata di layar benda itu. Akhirnya, setelah empat hari kepulanganku, ia memberikan kabar.
"Halo, Sita," sapaku setelah menerima telepon tersebut.
"Navyaaa!" pekiknya menyebut namaku dan itu cukup kencang, sehingga aku terpaksa me jauhkan telinga dari benda pintar itu.
"Iya, Sita. Biasa aja."
"Sorry, gue baru hubungin loe sekarang."
__ADS_1
Aku kecewa untuk itu, tetapi tetap kuulas senyuman, meskipun ia tidak bisa melihatnya. "Enggak apa-apa, Sit. Loe sehat-sehat, kan?"
"Iya, gue sehat. Loe gimana? Sorry banget, gue di rumah mertua. Banyak kesibukan dan gue enggak enak main HP. Dan sekarang baru pulang, jadi bisa hubungin loe."
"Iya, deh. Enggak apa-apa kok. Gue juga sehat."
"Gue ke tempat loe sekarang, ya?"
"Jangan! Gue ada di luar."
"Yah, terus gimana dong? Gue pengen ketemu banget."
"Nanti malem loe enggak bisa ya? Sore gitu?"
"Wah, kalau malem gue enggak dikasih izin, Vya. Sore masih bisa, tapi nanggung banget waktunya."
"Gue nanti yang ke tempat loe, Sit."
"Eh, loe enggak sibuk?"
"Enggak, nanti malem gue ke tempat loe, jam tujuh."
"Gue tunggu ya, Nav. Maaf banget, banget, udahan dulu ya?"
Panggilan itu dimatikan secara sepihak oleh Sita. Tampaknya, kesibukannya memang tidak bisa ditinggal sama sekali. Ya, karena Sita telah menjadi seorang istri, ia tidak memiliki kebebasan bersikap seperti dulu. Meski sempat merasa kecewa, aku mencoba membuang segala rasa itu dengan berpikiran lebih positif lagi.
Tak lama kemudian, Andrew kembali datang. Ia duduk di kursi lain. Salah tingkahnya masih terlihat sangat jelas. Entah mengapa, ia bisa sampai seperti itu. Sepertinya, aku harus cepat-cepat memintanya untuk mengantarkan pulang.
"Sayang ... maaf soal barusan, aku enggak ada niatan begitu. Habis kamu cantik banget!" ujarnya sembari menggaruk kepalanya lagi.
"Iya, aku tahu. Ya udah, anterin aku pulang aja yuk," jawab serta permintaanku.
"J-jangan!"
Aku membatalkan gerak tanganku yang hendak menyesap minuman. "Kenapa? Daripada kamunya serba salah kayak gitu."
Andrew melenguh. Ia memejamkan mata. "Maaf." Kata itu muncul lagi.
Aku tertawa dibuatnya. Ia imut sekali jika merasa bersalah dan salah tingkah seperti itu. Bukan hanya salahnya, tetapi juga salahku yang memberikan sedikit kesempatan. Aku juga hampir khilaf tentang itu. Rasanya ingin mempercepat pernikahan kami.
Aku mengulas senyuman untuknya. "Udah enggak apa-apa, aku juga salah. Tapi jangan diulangi lagi, sabar tiga hari lagi."
"Kamu pasti kaget banget tadi, ya? Tapi aku enggak kayak-kayak cowok-cowok nakal kok." Matanya menyipit dengan wajah memerah.
"Iya, iya, ya udah jangan dibahas lagi, aku malu!"
"Ya udah, ke mana yuk kita. Asal jangan pulang dulu, aku masih kangen sama kamu. Navya, kok kamu cantik banget sih?!"
"Apaan sih? Biasa aja kali. Balik ke gedung tadi yuk."
"Ck, masih pengen sama kamu di sini."
"Kamu gimana sih?"
"Enggak tahu juga."
Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kemudian. Tidak mengerti dengan maunya kekasihku ini. Mungkin, rasa gelisahnya masih tersisa, sehingga kesulitan dalam memutuskan. Aku memilih santai dan bermain ponsel sendirian, menunggunya sampai bisa kembali seperti biasanya.
Hujan, samar kudengar bunyi hujan yang jatuh di luar. Aku beranjak berdiri. Kuhampiri jendela dan membuka gorden yang belum dibuka. Benar saja, ada hujan yang turun cukup deras secara tiba-tiba. Baiklah, tak apa, asal di resepsi nanti ini tidak terjadi. Kata orang--pengantinnya tidak boleh keramas. Entah benar atau mitos belaka, aku pun masih mempertimbangkan untuk mengikuti ungkapan itu atau tidak.
"Hujan, Ndrew. Enggak bisa keluar dong?" tanyaku tanpa menoleh ke lawan bicaraku.
"Bisalah, Sayang. Kan, pake mobil bukan sepeda," jawabnya.
Aku berbalik badan dan menatapnya. "Iya sih, tapi bikin mobil kotor kalau banyak genangan air."
"Iya, mobilku juga baru dicuci tadi pagi."
"Pantes ya, lama banget nyampe ke rumah aku? Ada tamu tak diundang dateng."
Dahinya mengernyit. "Siapa?"
"Haris. Ia kasih aku kecupan di sini lagi." Aku menunjuk kening.
"Apa?!" Andrew yang terkejut, kini berdiri dari duduknya. Bergegas menghampiri diriku.
Aku pikir, ia akan memukul pipiku. Ternyata mengusap-usap keningku dengan kaos yang ia pakai sekarang. "Kamu diapain sama dia? Kok nyampe dapet kening kamu?"
"Enggak diapa-apainlah. Haris cuma dateng mau minta maaf doang. Hutang papa aku juga dianggep lunas. Emm ... katanya juga kamu sempet berantem dan juga mau lunasin hutang papa aku ya?"
"Aku berhasil ngeluarin satu rumah. Tadinya mau diinves lagi sama rumah lain, tapi aku inget hutang papa kamu. Jadi, ya, langsung ke tempat cowok itu. Tapi dia menolak, katanya udah lunas. Tapi, kenapa kamu mau dikecup gitu sih?"
"Aku enggak tahu, dan enggak sadar."
"Ayo cuci muka!"
"Udah tadi di rumah."
"Lagi, aku yang bersihin. Apa-apaan sih, asal serobot istri orang aja."
__ADS_1
Andrew terus menggerutu tidak menentu. Mencari tisu dan dibasahi dengan air. Ia masih berusaha membersihkan keningku, bahkan sampai membuat riasanku luntur. Rasa cemburunya sungguh unik sekali, tetapi cukup menyebalkan juga. Untung saja, selalu tersedia bedak di tas selempangku.
Bersambung ....