
Hay semua yang masih menunggu novel ini, maaf ya aku hiatus selama dua minggu. Aku lebih fokus ke novelku yang lain. Mulai sekarang akan memulai lagi menulis novel ini, karena ternyata masih ada yang menunggu. Terima kasih sebelumnya. Semoga aku tidak menyerah.
______________________________________________
Benar saja, pagi harinya ketika aku akan berangkat bekerja pintu rumahku terkunci dengan gembok besar. Ternyata papa masih bersikeras akan menjodohkanku. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.
Aku memastikan semua jendela dan pintu lain untuk bisa melarikan diri. Nyatanya semuanya sama, masing-masing terkunci dengan gembok kecil. Meski ada beberapa jendela yang tidak terpasang gembong, namun itu tetap mustahil. Jendela tersebut sudah tertanam tirai besi sejak awal dibangunnya rumah ini.
Entah kapan papa memasang jebakan ini. Aku bagaikan burung dalam sangkar sekarang. Cemas, terkurung, kalut dan marah sendirian.
"Kamu mau kemana?" Ujar papaku tiba-tiba. "Papa udah bertekad kamu harus nurut!" Sambungnya.
"Tapi pa aku kan masih kerja," Jawabku.
"Papa udah izin ke atasan kamu selama tiga hari."
"Bohong papa tau dari mana nomor atasanku."
"Dari hape kamu."
"Pa jangan kayak gini aku mohon. Papa jangan maksa aku!!!"
"Semua demi kamu, kamu nggak pengen kan papa mati jantungan gara-gara kamu?"
Uuh... sial! Aku tidak bisa berkata apapun jika papa membawa-bawa penyakitnya. Terpaksa aku harus menuruti kemauannya yang menjijikkan ini.
Jika saja aku masih bersama dan mencintai Nevan sekarang, mungkin papa tidak akan seperti ini. Toh, Nevan juga kaya. Meskipun, aku tidak pernah memandang harta ketika berpacaran. Nyatanya pemikiran sehatku berbeda dengan papa yang masih berpikir kuno. Apalagi hatiku masih merindukan Andrew.
Aku berlari kesal meninggalkan papa. Aku kembali kedalam kamarku. Lalu berbaring diatas ranjangku sembari menangis lagi. Aku merasa ini semua tidak adil. Apakah ini karma karena sudah bersama dengan kekasih orang atau karena telah menyakiti hati Nevan. Bukankah aku yang seharusnya yang menjadi korban mereka, lalu mengapa aku yang dihukum?
"Sayang?" Panggil mama dari balik pintu kamarku.
"Pergi!!!" Jawabku beringas kepada mamaku sendiri.
"Mama masuk ya?"
"Pergi!!!"
Mama tetap masuk kedalam kamarku yang pintunya tidak aku kunci. Mama sama sekali tidak mengganggap permintaanku. Sedangkan aku hanya bisa merintih kesakitan yang tidak berdarah.
__ADS_1
"Maafin mama sayang," Ujar mama. " Maafin papa juga ini sudah kesepakatan yang sudah dibuat," Sambungnya.
"Kesepakatan?" Jawabku dan bertanya penasaran.
"Iya sebenarnya papa selama ini membangun bisnis restoran di kota sebelah. Kami bolak balik kesana lalu keluar kota lagi untuk urusan pekerjaan yang kontraknya masih berjalan. Papa meminjam modal usaha begitu besar pada bosnya, lalu usahanya tidak berjalan lancar. Lalu si Haris anak bos papa kebetulan melihat foto kamu yang dipasang di meja kerjanya. Dia naksir kamu, akhirnya bos papa bicara ingin menjodohkan kalian. Papa mama nggak punya pilihan karena hutang itu."
"Oh shit! Karena itu kalian menjualku?"
"Maafin mama sayang, kalau kamu nggak nurut papa mau di penjara apalagi punya penyakit jantung. Haris bersikeras mau ketemu kamu nak, bahkan ayahnya sendiri tidak bisa menolak sampai-sampai mengancam kami. Maafin mama papa."
Ternyata ini alasannya. Aku tidak habis pikir mengapa mereka melakukan bisnis bodoh dengan meminjam modal besar. Bahkan aku rasa aku lebih pintar dari papa.
Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang kecuali menunggu kedatangan seorang Haris. Meskipun aku membenci semua ini, aku terpaksa melakukannya. Mau bagaimanapun papa mama tetap orang tuaku yang melahirkan dan membesarkanku. Tak bisa aku pungkiri, aku merasa semuanya tidak adil bagiku. Seorang anak yang selama ini sabar tanpa kasih sayang yang tidak aku dapatkan secara penuh.
Hingga waktu berjalan sebagaimana mestinya. Sang mentari pun perlahan semakin menuju puncak tata surya. Aku terbangun dari tidurku yang tidak aku sengaja. Bahkan ketika mama keluar dari kamarku, aku tidak menyadarinya. Mungkin aku terlelap karena sangat letih dengan semua hal yang terjadi.
Tokk... tokk... tokk...
"Non Vya?" Panggil Bi Emi sembari mengetuk pintu kamarku.
"Ya bi, masuk," Jawabku.
Bi Emi membuka perlahan daun pintu. Ia melangkah masuk menghampiriku dan duduk di ambang ranjangku. Untuk sesaat ia menatapku dengan sayu serta khawatir.
"Nggak kok bi," Jawabku.
"Bibi ngerti, yang sabar ya non. Habis badai pasti ada pelangi jangan pernah menyerah."
"Aku cuman capek aja bi, setelah dua orang yang pernah aku cintai menyakitiku sekarang papa yang menyakitiku orang tuaku sendiri. Aku harus gimana bi?"
"Menurut bibi turutin dulu kata bapak. Kasian bapak, bibi denger beliau punya penyakit jantung, coba dulu ya non siapa tau cocok."
"Tapi aku bukan orang yang gampang jatuh cinta bi apalagi sama orang yang nggak aku kenal."
Bi Emi tampak menitikkan air mata mendengar ceritaku. Ia memelukku erat. Tentunya dengan penuh kasih sayang sangat berbeda dengan orang tuaku yang egois.
Selama satu menit Bi Emi memelukku. Ia pun melepasnya, lalu menatapku kembali. Seolah-olah ada yang ingin ia sampaikan namun ragu-ragu karena tidak tega.
"Kenapa bi? Ngomong aja," Ujarku.
__ADS_1
"Non Vya anu udah ditungguin sama Den Haris sama bapaknya dibawah," Jawabnya.
Ternyata aku sudah dinantikan oleh pangeran yang sangat diidam-idamkan papa menjadi menantunya. Jujur saja, aku juga sedikit penasaran seperti apa wajahnya.
"Iya bi aku turun," Kataku.
"Yang sabar ya non," Ujar Bi Emi, ia mencoba memberikan dukungan untukku.
"Makasih bi."
Tanpa mau berdandan lagi, aku menuruni tangga untul menuju ruang tamu diiring Bi Emi yang cemas dari belakang.
Aku hanya bisa menelan ludah dengan ngilu untuk melalui perjodohan ini. Jantungku berdebar kencang menahan segala amarah yang tertanam disana. Sekali lagi aku menguatkan diri untuk tidak menangis lagi.
Sesampainya disana aku melihat dua orang pria yang merupakan ayah dan anak serta saty orang wanita sekelas sosialita. Tentu saja, bos papaku beserta istri dan anaknya.
"Ini Navya Pak, bu Danu dan nak Haris," Ujar papa memperkenalkan aku kepada mereka.
"Salam kenal," Kataku tanpa mau bergerak bersalaman.
"Cantik ya mirip di fotonya," Jawab istri Pak Danu yang merupakan bos papaku.
"Hay," Sambung Haris.
Aku hanya membalasnya dengan senyum getir. Sedangkan papa melotot kepadaku dengan isyarat supaya aku bisa lebih sopan begitu juga mamaku yang mencubit pelan lenganku.
Tentu saja aku tidak mau. Untuk senyum manis saja aku enggan. Memang sih, Haris lumayan tampan. Sebelas duabelas jika dibandingkan dengan Nevan, namun parasnya lebih tegas.
"Silahkan diminum suguhan sederhananya pak, bu dan nak Haris," Ujar mama mempersilahkan mereka.
"Lalu bagaimana? Cocok nggak nih kamu Ris?" Kata Pak Danu.
"Cantik Pi hehe," Jawab Haris.
"Wah wah sudah cocok begini tinggal menentukan tanggal," Imbuh papaku.
Ya Tuhan, rasanya aku ingin melarikan diri saja. Aku muak dengan semua ini. Terlebih tatapan Haris aku nilai sangat aneh. Sorot mata tajam yang ia tujukan padaku sering aku temui pada pria-pria genit dan nakal. Ia begitu sering melihatku dari atas sampai bawah.
Aku benci ini, aku benci papa dan mama. Benar-benar benci kepada semua orang yang ada disini. Namun, apalah daya aku hanya bisa mengutuk dalam hati. Seekor burung cantik yang dikurung dalam sangkar emas namun mampu merontokkan semangat hidupku.
__ADS_1
Bersambung...
Mana suaranya yang masih setia?