Who Is My Love

Who Is My Love
Batal Pulang?!


__ADS_3

Andrew mengecup keningku sebelum berpisah. Ia mengucapkan kata-kata lembut nan mengharukan. Aku sampai ingin menitikkan air mata. Padahal hanya lima hari lamanya kami berpisah. Namun, ia merasa seakan benar-benar tersiksa. Sebenarnya bukan hanya dirinya saja, melainkan diriku. Aku ingin ia mendampingi perjalananku, namun itu mustahil untuk sekarang. Ya, Andrew masih harus bekerja. Sehingga mau tidak mau, kami harus berpisah terlebih dahulu.


"Kamu baik-baik disini ya, Andrew Sayang. Aku kan cuma lima hari di rumah entar juga balik lagi. Biar kurang tahu apa itu rasa rindu," ujarku.


"Iya, tenang, Sayang. Aku bakalan baik-baik aja disini. Kamu juga jaga hati ya disana. Jangan genit," jawab Andrew sembari menyentil hidungku yang mancung.


"Pulang gih."


"Nanti, nunggu si Kate dateng sambil nemenin kamu."


"Hmm ... ya udah deh."


Disini, di tempat yang masih diperbolehkan untuk bersama orang yang tidak akan terbang, aku berbincang beberapa hal dengan Andrew sembari menunggu kedatangan Kak Kate. Jadwal penerbanganku masih satu jam lagi, sehingga masih sempat menghabiskan waktu bersama Andrew.


Hanya seputar hubungan sekaligus kata cinta, yang kami lontarkan. Perkataan manis yang setiap kali aku dengar darinya. Badai telah berlalu didalam hubungan kami. Entah, mulai dari hubungan tanpa status, terbongkarnya kesalahan Andrew, datangnya Haris, perasaanku yang enggan menerimanya lagi dan juga hadirnya Linseyld serta Affandya. Semua sudah selesai satu persatu. Kini menyisakan banyak pembelajaran dalam sebuah hubungan, aku bisa menerima dan ia pun demikian secara apa adanya.


Sifatku pun berubah semakin lebih tenang, banyak hal yang aku pikirkan sebelum bertindak lebih jauh. Rambutku sudah memanjang seperti sedia kala, namun belum sepanjang dulu juga, setidaknya aku bisa kembali kepada kodrat wanita yang sebenarnya.


"Nanti kamu nitip apa kalau aku balik?" tanyaku kepadanya untuk memastikan keinginannya tentang sesuatu yang ada di Indonesia.


"Aku mau hati dan raga kamu aja. Dijagain baik-baik saat kita jauh. Itu udah cukup buat aku, Sayang," jawabny sembari membelai halus rambutku.


Aku tersenyum. "Itu udah pasti dong, Sayang. Kamu tinggal nungguin aku disini. Maksud aku soal makanan lho."


"Nggak ada, Sayang. Masa' aku mau nitip mie ayam bakso buat dibawa ke sini."


"Hmm ... masa' nggak ada satu pun yang kamu pengenin selain itu sih?"


"Beneran, nggak ada. Serius."


"Ya udah, aku jadi lebih ringan bawanya."


"Iya, yang penting kamu tetep baik-baik aja."


"Pasti itu mah, Sayang."


Meski tidak menginginkan apapun kecuali keadaanku sendiri, aku akan tetap membawakan sesuatu untuk Andrew. Bukan hanya dirinya, namun juga Raya dan Sinta. Rasanya sangat tidak etis kalau aku tidak membawa buah tangan dari negara kami sendiri. Sudah ada satu list makanan yang harus aku cari yaitu peuyeum pesanan dari Mak Sinta. Nanti aku akan menambahkan beberapa list makanan lain yang khas Indonesia.


Melupakan tentang hal itu terlebih dahulu dan berfokus pada keadaan bandara yang sangat ramai. Yah, namanya tempat untuk umum. Sepertinya isi pesawat nanti akan benar-benar penuh. Tak apa, toh kami memiliki tempat duduk masing-masing. Harapanku hanya sampai tujuan dengan selamat dan kembali ke tempat ini pun dengan selamat.


"Navya!" Suara khas milik wanita terdengar sedang memanggil namaku. Segera aku menatap sumber suara itu yang ternyata adalah Kak Kate bersama dua koper besarnya.


Melihat Kak Kate yang kewalahan, membuat Andrew berinisiatif untuk membantunya. Ia menghampiri Kak Kate yang masih agak jauh dari tempatku. Setelah sampai disana, Andrew mengambil alih koper milik Kak Kate. Mereka datang menghampiriku. Lelakiku memang sangat bertanggung jawab.


Wajah lelah sekaligus cemas ada pada diri Kak Kate. Sepertinya, ia takut terlambat sampai berlaku dengan kondisi itu. Membuatku ingin tertawa namun merasa iba, mengingat hari kemarin ialah yang selalu mengingatkanku untuk tepat waktu. Namun sekarang, ia malah hampir telat.


"Sorry, sorry, ada sedikit kendala tadi," ujar Kak Kate dengan napas yang masih terengah-engah.


"Iya, nggak apa-apa, Kak," jawabku kepadanya sembari tersenyum seramah mungkin.


Andrew pun menyela, "ayo aku antar. Nanti ketinggalan pesawat. Seenggaknya bisa bantu bawa koper kalian."


Aku menggelengkan kepalaku. "Koperku kecil, Sayang. Satu barangku ringan kok. Kamu bawa punya Kak Kate aja, kasihan masih ngos-ngosan."

__ADS_1


"Nggak perlu kok. Mungkin satu aja yang dibantu deng hehe," timpal Kak Kate.


Andrew pun setuju. Ia menyerahkan satu koper yang mungkin terasa ringan kepada sang pemilik. Kemudian barang bawaanku berupa kardus yang sudah terbungkus tas besar. Kami melangkah menuju tempat yang ditentukan menurut prosedur keberangkatan penumpang. Dalam langkah pelan, kami masih sama-sama terdiam.


Lalu disalah satu pintu masuk keberangkatan, langkah kami terhenti karena pengantar tidak boleh lebih dari batas ini. Aku menatap kekasihku yang sejak tadi masih terdiam. Sedangkan Kak Kate memberikan kesempatan untuk kami berdua. Sebelum melakukan prosedur keberangkatan selanjutnya, aku ingin berpamitan dengan Andrew lagi.


"Hati-hati di rumah. Inget pesen aku ya, Sayang. Jangan nakal," ujarnya diiringi gerakan usil untuk menyentil hidungku yang mancung.


Aku tersenyum dan menepis jarinya dengan cara menggenggamnya. "Aku janji, Sayang. Kamu disini juga baik-baik. Lima hari doang, oke?" balasku kepadanya.


"Siap, Sayang!"


"Bagus!"


Andrew merengkuh kepalaku, dan memberikan kecupan manis di keningku. Kemudian melepaskan diriku. Sejujurnya, aku merasa malu berlaku demikian dihadapan Kak Kate. Namun aku terlalu sayang untuk melepaskan kesempatan yang ada. Lima hari ke depan, aku tidak bersama Andrew. Pasti rasanya akan rindu sekali. Tidak apa, toh agar kami tahu soal arti rindu. Aku yakin pasti semuanya akan baik-baik saja.


"Kate?!" Suara itu milik Affandy, aku sangat yakin. Benar saja, saat aku menoleh ke arah sumber suara, Affandy tampak disana. Ia berlarian demi menghampiri kami, dengan keadaan baju kemeja yang berantakan. Napasnya pun terengah-engah sama seperti Kak Kate sebelumnya.


Siapa yang tidak terkejut mendapati atasanku dalam keadaan seperti itu? Tentu saja, aku, Andrew dan terutama Kak Kate benar-benar terpana. Kini Affandy sudah ada dimana posisi kami berada. Bukan kepadaku, bukan pula kepada Andrew, melainkan ia berfokus dan menghampiri Kak Kate. Entah apa yang terjadi, aku tidak tahu. Namun sepertinya hal yang menyangkut masalah hati. Aku masih menganga lebar karena tidak menyangka, bahkan Andrew pun tertegun diam.


Setelah itu, Affandy meraih tangan Kak Kate seketika. "Jangan pulang," ujarnya meminta kepada sang wanita.


"Enggak! Aku udah memutuskan untuk pulang!" tegas Kak Kate memberikan penolakan atas permintaan Affandy.


"Tolong, jangan. Aku ... aku membutuhkan dirimu, Kate."


Kak Kate tampak memberikan nanar sembari tersenyum sinis. "Butuh? Cih?! Konyol, buat apa? Buat mainan doang?"


"Bukan gitu, Kate. A-aku ...." Affandy masih berusaha menjelaskan. Namun seolah lidahnya terasa kelu untuk mengutarakan.


Suasana macam apa ini? Aku pikir hubungan mereka sudah membaik, namun kelihatanya belum. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Affandy kepada Kak Kate? Bahkan sampai meneteskan air mata seperti itu. Sebuah kekecewaan sangat dalam tampaknya sedang ia rasakan. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali terdiam sembari menyaksikan. Aku tidak mau ikut campur yang malah akan membuat mereka merasa tidak nyaman.


Aku memilih untuk memfokuskan diriku kepada Andrew. Namun tidak semanis perihal keromantisan kami yang terjadi beberapa yang saat yang lalu. Tentu saja, untuk menghargai mereka yang tengah dirundung masalah didalam hubungan.


"Ayo, Kate. Kita kembali." Affandy terdengar masih bersikukuh untuk mencegah kepulangan Kak Kate ke tanah air.


Aku menilik sekilas lantaran penasaran. Kak Kate tampak menggelengkan kepalanya. "Nggak bisa. Udah cukup semua, Fandy. Ki-kita ini sahabat, kan? Jadi jangan merusak hubungan kita yang udah terjalin sejak lama hanya karena masalah hati dan perasaanku. Tapi, aku juga butuh waktu buat melupakan kamu," tukas Kak Kate.


"Pers*tan tentang sahabat, Kate. Aku sadar, tanpa menjalin cinta pun hubungan persahabatan kita emang udah rusak."


"Terus kamu mau apa lagi, hah?! Gue lelah tahu nggak!"


Emosi Kak Kate spontan meluap, bahkan sampai menimbulkan perhatian dari seseorang. Melihat dirinya yang seperti itu, aku terbayang diriku dimasa lalu. Mengenai keras hatiku dalam menolak Andrew maupun Haris. Rasa kecewa dan juga benci terus menerus bergejolak di hati dan semua itu sangat tidak mudah. Terlebih rasa kecewa kepada orang yang sangat dicintai, rasanya serasa ingin mati. Bagian hati masih mencinta, namun bagian lainnya tengah menderita luka kecewa.


Meski aku tidak tahu perihal masalah diantara mereka dengan komplit, aku bisa merasakan apa yang tengah ada didalam hati Kak Kate. Mengingat lagi ke sebuah rasa hatinya yang sempat ia curahkan kepadaku, aku bisa paham tentang itu meski tidak terlalu dalam. Affandy adalah sosok pria yang baik, pasti ada alasan dibalik semua yang ia lakukan kepada Kak Kate. Dan sepertinya alasan itu berkaitan dengan jalinan persahabatan mereka yang terjalin sejak lama. Ya, Affandy berupaya melindungi hubungan dengan Kak Kate. Ia tidak mau hubungan mereka rusak hanya karena luka cinta yang akan datang mendera. Entahlah, aku tidak paham.


"Aku janji buat pastiin hubungan kita, Kate."


"Halah, omong kosong! Aku udah males sama kamu. Kebanyakan PHP!"


"Kate, beri aku kesempatan sekali lagi."


"Nggak, Fandy! Ini udah menjadi keputusanku. Aku harus pulang mama dan papaku tengah menanti."

__ADS_1


"Aku akan bertanggung jawab tentang itu. Aku juga janji bakalan perjuangan kamu dihadapan papa kamu."


Kak Kate sejenak terdiam. Ia menunduk sehingga buliran air matanya menetes dan membasahi lantai bandara. Sedangkan Affandy masih mencoba membujuknya. Meski tekatnya besar, Affandy sudah memberikan luka yang cukup dalam. Sehingga, bukan perkara mudah bagi Kak Kate untuk mengubah perihal keputusannya.


Aku tertegun saja melihat mereka berdua. Bagaimana tidak, aku tidak bisa berbuat apapun untuk membantu. Sejak tadi, aku tidak bersuara barang sekali saja. Dan pada akhirnya aku tersadar dari rasa terpanaku itu karena cubitan tangan Andrew yang ia berikan pada lenganku.


'Kenapa sih mereka ...?" tanyanya dengan nada berbisik.


"I don't know about their problems ...," jawabku sama pelannya..


"Kamu cuma tahu tentang aku, Sayang ...."


"Ya, tepat ...."


"Coba cek jam. Bentar lagi terbang lho pesawat kamu nanti."


"Iya juga ya."


Aku menilik jam yang menghiasi tanganku. Tinggal lima belas menit lagi perhitungan jam untuk jadwal penerbangan kami. Namun aku enggan untuk menganggu mereka. Lantas, apa yang bisa aku lakukan? Sedangkan akun


juga tidak mau ketinggalan pesawat. Oh, mengapa hal ini harus terjadi? Menyebalkan!


Kuputuskan untuk menghampiri kedua insan tersebut. Tentu saja, aku merasa tidak enak. Kalau saja bukan karena waktu keberangkatan sudah hampir tiba, tentu saja aku tidak mau.


"Kak Kate waktu tinggal beberapa menit lagi. Aku nggak bisa tunggu lama," ujarku.


"Iya, bentar, Nav. Ka-kamu duluan aja," jawab Kak Kate sembari mengusap air mata.


"Nggak, Navya. Kate nggak itu," timpal Affandy.


Sontak Kak Kate terkejut. "Jangan memutuskan hal yang nggak mungkin, Affandy!"


Affandy mengalihkan pandangannya dariku untuk Kak Kate. "Kamu nggak boleh pergi kalau nggak bersamaku. Aku akan temani, tapi bukan sekarang, Kate. Kita butuh bicara lebih banyak."


"Jangan sok ngatur hidupku, Affandy."


"Aku, ... aku mencintai dirimu, Kate!" tegas Affandy. "Nggak bisakah kamu tetap disini, bersamaku lebih lama lagi? Dan aku pastikan aku akan melamarmu tidak lama lagi, Kate!"


Mendengar penegasan dan niat baik dari Affandy, tentu saja Kak Kate terkejut dan membelalakkan bola matanya. Aku rasa, ini pertama kalinya Kak Kate mendengar perihal perasaan Affandy yang sebenarnya. Untuk Affandy pun, ia terlihat sangat serius meski bibirnya tengah bergetar. Aku tidak percaya mengapa ada orang yang tidak bisa mengutarakan isi hatinya meski telah bersama sejak lama. Memangnya jika menjalin hubungan persahabatan, tidak boleh saling mencintai lalu bersatu atas nama cinta itu?


"Sayang, kamu masuk aja. Udah keburu berangkat," ujar Andrew untuk mengingatkanku.


Aku mengangguk pelan. "Iya, Ndrew. Emm ... Kak, aku nggak bisa nungguin lama. Maaf ya, Fandy, tadi agak lancang karna memotong pembicaraan kalian."


"Hati-hati disana ya, Vy. Maaf, aku mengejutkan dirimu. Aku bawa Kate dulu, kami perlu bicara lebih banyak," jawab Affandy.


"Oke, apapun itu, sikapi dengan dewasa ya. Jangan kayak aku, emosian hehe."


Kak Kate masih tertunduk diam, sampai aku tidak bisa memberikan senyum pamit kepadanya. Tak apa, kondisinya memang tidak baik. Selepas itu, aku menghampiri Andrew lagi. Sekilas aku memeluk dirinya, kecupan aku dapatkan di kening dari bibirnya. Selanjutnya, aku masuk ke dalam pintu masuk untuk keberangkatan dan melakukan beberap prosedur tertentu.


Selang beberapa menit kemudian, aku telah berada didalam pesawat. Berada diantara orang-orang yang tidak aku kenal satupun, karena Kak Kate batal pulang. Penerbangan akan memakan waktu dalam hitungan jam saja untuk sampai ditujuan. Akhirnya aku bisa pulang meski dalam waktu yang sebentar. Aku bisa bertemu papa dan mama, pasti mereka terkejut karena aku belum mengatakan kepulanganku. Terlebih, Bi Emi dan Cika. Duh ... rindunya.


Semoga perjalananku lancar dan selamat sampai dengan tujuan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2