Who Is My Love

Who Is My Love
Pesta


__ADS_3

Kemarin menjadi hari yang terbilang sangat bermakna. Ada rasa lega yang seketika menjalar didalam hatiku. Saat aku sudah melampiasan segala amarahku dalam bentuk tangisan. Perlahan, aku sudah membuka hati untuk papa. Mungkin karena saat itu, papa benar-benar meminta maaf kepadaku. Kata maaf yang penuh rasa penyesalan yang selalu ingin aku dengar dari papa. Bukan hanya sebatas kata maaf, namun didalamnya masih menyimpan sikap egois yang tidak ingin disalahkan.


Sepanjang hari kemarin menjadi hari untuk kami berpikir. Berpikir secara jernih dan sehat untuk memperbaiki segala kesalahan maupun salah paham. Ketika aku bisa memeluk tubuh papa tanpa rasa takut lagi, disitu aku bisa merasa bahagia. Meski terbilang masih canggung, kami berupaya untuk kembalo dekat seperti ketika aku masih kecil. Karena mau bagaimana pun, papa adalah ayah kandungku yang tidak akan bisa digantikan oleh siapapun. Begitu juga dengan diriku yang notabene-nya adalah putri kesayangan papa satu-satunya.


Kini, diesok hari, kami sudah bersantap bersama. Ada senyuman yang terlukis dimasing-masing wajah, entah milikku, papa ataupun mama. Meski belum ada perbincangan yang lebih meningkat atau manis, suasana ini terbilang lebih baik daripada sebelumnya. Sampai-sampai, papa meladeniku dengan mengambilkan nasi daj lauk yang begitu banyak. Seolah aku ini orang yang menggilai makanan.


"Jangan banyak-banyak, Pa. Perutku kecil, enggak muat," ujarku kepada beliau sembari menghentikan tangan papa yang mengambil lauk untuk kesekian kali dan itu untuk diriku.


"Kamu harus makan banyak. Anak Papa terlalu kurus, Papa dengar udah mau nikah," jawab papa dengan perkataan yang tidak terduga.


Dahiku mengernyit, kemudian aku bertanya lagi, "Papa tahu dari mana?"


"Hmm ... orang tua itu wajib tahu, kan? Papa sedang berusaha menjadi seorang ayah yang baik. Ngomong-ngomong kapan calon kamu akan ke sini?"


"Emm ... soal itu, sebenarnya dia ada di Singapura sama aku. Mungkin setelah resepsi pernikahan Sita, orang tuanya yang mau ke sini."


Papa manggut-manggut. "Pantes, kamu betah ya di Singapura. Yang mana? Diantara cowok dua dulu itu, kan?"


Aku mengangguk. "Yang bawa aku kabur, Pa."


Papa lantas menghentikan tangan yang sedang menyuapkan makanan. Beliau menatapku sekilas, kemudian melanjutkan bersantap lagi. Aku merasa agak sangsi karena mengatakan seperti itu. Mungkin papa masih tidak terima atas insiden malam yang sudah lalu itu. Meskipun bukan Andrew yang membawaku kabur, melainkan diriku yang terpaksa membawa mobilnya untuk membawanya pulang ke apartemen.


Aku melirik ke arah mama sekilas, beliau hanya tersenyum. Kuhela napas lebih dalam untuk tenang dan berpikiran positif. Jangan sampai suasana yang mulai membaik ini menjadi rusak seketika. Lebih baik aku tidak membahas lagi sebelum papa bicara. Yah, mungkin itu yang terbaik. Aku kembali melanjutkan menyantapku yang sempat terhenti. Masakan Bi Emi yang berkolaborasi dengan hasil karya mama terasa lebih mantap dari segalanya. Bahkan hasil masakanku masih jauh dari hidangan yang tersaji di sini.


Tiba-tiba papa berdeham lagi. "Kamu suka sama dia, Nak?" tanya beliau kepadaku.


"Dia?" Gerak tanganku kembali berhenti. "Emm ... iya, Pa. Sangat!"


Papa menatapku tajam. "Ya sudah, secepatnya bawa ke sini. Papa juga harus bicara sama orangnya, bukan hanya dengan orang tuanya aja."


"Tiga bulan lagi, kami baru bisa ambil cuti panjang, Pa."


"Papa akan tunggu. Yang penting kamu senang dan bahagia sekarang. Papa nggak akan tekan kamu terus, Nak. Cukup di Haris aja."


"I-iya, Pa."


Meski ada sedikit ganjalan, pada akhirnya papa memberikan lampu hijau kepadaku untuk bersama Andrew. Kemudian, tidak ada lagi perbincangan. Kami sibuk menghabiskan santapan pagi ini. Bagi papa, mungkin Andrew terlihat seperti pria yang tidak baik. Itu wajar, mana ada seorang lelaki yang baik bisa membawa kabur seorang wanita. Meski sebenarnya kenyataannya bukan demikian, aku yang bersalah karena terus menolah kehadirannya pada saat itu. Sedangkn dirinya begitu besar dalam mencintaiku dan menyesal atas kesalahannya.


Entahlah. Semoga ucapan papa untuk memberikan restu kepada kami akan benar adanya. Aku sudah lelah dengan segala macam masalah. Aku ingin segera menikah, setidaknya aku bisa bersama Andrew tanpa rasa takut ataupun khawatir lagi. Setidaknya ia bisa menjagaku.


****

__ADS_1


Pukul sepuluh pagi. Aku telah sibuk berias diri. Balutan dress berwarna biru muda berenda yang panjang namun tanpa lengan, ada pada tubuhku. Di bagian bawah bergaya duyung. Sementara itu, rambutku aku biarkan terurai namun diletakkan menyamping ke sebelah kanan leher dengan jepitan hitam di samping kirinya. Make up yang aku gunakan cukup simpel, namun memberikan kesan cerah dan tentu saja cantik.


Aku tersenyum pada saat menatap diriku yang terpantul dari kaca rias di hadapanku. Seandainya saja Andrew ada di sini, pasti ia akan memujiku dengan banyak kalimat yang akan membuatku malu-malu. Namun sayangnya, ia tidak ada di sini. Membuat hatiku rada' terenyak sedih. Mau bagaimana lagi, kami hanya dua orang manusia yang bekerja dibawah naungan perusahaan milik orang lain. Pastinya ada aturan yang mengikat kami, sehingga tidak bebas dalam melakukan apapun ketika tidak mendapat hari libur.


Lamunanku membuyar pada saat seseorang tengah mengetuk pintu kamarku. Aku menyudahi riasanku dan mengambil tas selempang berwarna putih, kado khusus untuk pernikahan Sita lalu memakai sepatu heels yang tidak terlalu tinggi berwarna senada dengan pakaianku. Setelah selesai, aku baru menemui daun pintu.


Aku membuka pintu dan tampak mama di sana. Beliau tersenyum kepadaku. "Udah selesai?" tanya mama.


Aku tersenyum. "Udah, Ma," jawabku.


"Kamu cantik sekali. Nggak beda jauh sama Mama waktu masih muda. Malahan Mama kalah sama kamu."


"Ah, Mama bisa aja."


"Ya udah, yuk. Papa mau ikut sekalian bisa antar kita berdua."


"Iya, Ma."


Aku berjalan mengikuti langkah mama yang sedikit lebih cepat dariku. Sungguh! Ketika pertama menapakkan kaki dengan sepatu ini setelah sekian lama, rasanya sedikit sulit. Ketika bekerja, meski sudah lebih menata diri, aku biasanya hanya memakai sepatu bertumit pendek yang manis. Sehingga, aku harus membiasakan diri lagi untuk menjadi girly seperti sedia kala.


Tak lupa kami berpamitan dengan Bi Emi yang harus menjaga rumah sendiri dikarenakan Cika masih sekolah. Setelah itu, aku dan mama berjalan menuju luar. Pakaian yang dipakai mama pun tidak kalah bagus dariku. Beliau memakai gaun span berwarna merah tua dengan motif bunga brokat di bagian atas, selanjutnya polos saja. Riasan yang beliau pakai seperti wanita dewasa sosialita kebanyakan. Intinya beliau terlihat sangat elegan.


"Mari berangkat. Navya harus udah ada di sana," ujar papa kepada aku dan mama.


Lalu tanpa menjawab, kami pun masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Tentu saja mobil milikku, karena papa sudah tidak memiliki mobil. Perlahan, papa melaju mobil ini untuk meninggalkan rumah dalam waktu yang sementara. Laju yang pelan menjadi lebih cepat pada saat kami memasuki jalan raya.


Sebenarnya ada sesuatu yang aku khawatirkan. Melainkan perihal status papa yang merupakan mantan nara pidana. Meski sudah bebas, beliau masih menjalani hukuman karena hutang belum sepenuhnya lunas. Aku menggigit jari, bagaimana jika ada seseorang yang membicarakan papa? Aku tetap seorang anak, jika sudah membawa nama orang tua pastinya tidak akan terima. Seperti pada saat Linseyld menghina orang tuaku pada saat itu. Justru yang lebih dikhawatirkan adalah emosiku yang kadangkala meluap-luap.


"Navya? Ada apa?" tanya mama tiba-tiba dari tempat duduk depan.


"En-enggak apa-apa kok, Ma," jawabku gelagapan. Sampai akhirnya aku menyudahi rasa khawatirku. Kuhela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Ya! Sesuatu yang aku takutkan belum tentu terjadi. Tidak apa-apa, tidak akan ada apapun di sana.


Mobil ini terus menyusuri jalan beraspal yang tidak asing bagiku. Suasananya sangat familiar, karena aku penduduk dari kota ini. Ketika kegusaran mulai menghilang, kini justru rasa tidak sabar yang datang. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Sita. Bahkan sampai sekarang, ia belum mengetahui akan kedatanganku. Pasti ia akan sangat terkejut, bisa jadi suaranya yang khas itu muncul dan memecah keramaian didalam resepsi pernikahannya. Astaga! Aku sudah tidak sabar. Sayangnya aku tidak bisa hadir pada acara peresmiaan hubungannya dengan sang suami.


Beberapa saat berlalu dan mobil telah berhenti di area parkir suatu gedung besar. Satu persatu dari kami bertiga lantas turun dan berkumpul sebelum melangkah ke dalam. Suasana begitu ramai, meski masih jam setengah sebelas. Aku pikir, sorenya yang akan ramai. Tampaknya, suami dari sahabatku itu bukanlah orang biasa. Terlihat beberapa aparat kepolisian yang hadir. Kalau bukan salah satu bagiannya, lalu apa lagi? Sita menjadi istri seorang polisi? Luar biasa jika dugaanku benar.


Aku dan kedua orang tuaku, mulai menyusuri tempat ini. Kami membaur dengan tamu-tamu lain yang datang. Sedih, aku ingin menjadi bridesmaid untuk Sita, namun terlalu terlambat. Sepertinya ia sudah mendapatkannya, entah siapa.


Sampainya didalam, aku berpisah dengan kedua orang tuaku yang membaur dengan orang-orang sebaya. Disini, aku merasa linglung sendiri. Berjalan tanpa pendamping meski dengan balutan baju yang cantik. Aku menelan ludah, ketika banyaknya tamu muda mudi yang menggandeng pasangannya. Ah, andai saja Andrew di sini. Namun semua hanya pengandaianku.


Dari posisi yang masih agak jauh, aku melihat hiasan mawar-mawar putih yang tersusun indah menjadi dekorasi pernikahan ini. Gedung ini sudah disulap menjadi sebuah istana tuan raja dan ratu. Sangat indah! Singgasana yang diduduki Sita dan suaminya pun terlihat begitu mewah. Pantas saja, Sita menerima perjodohan dari kedua orang tuanya. Ketika menatap mereka sedang berbincang dengan tamu lain, aku menangkap raut bahagia dari keduanya. Tidak ada beban kebencian yang muncul, sangat berbeda dengan diriku dan Haris. Aku bahkan sangat menentang perjodohan itu dan menganggap semuanya buruk serta gila.

__ADS_1


Rasa minder datang menghampiri hatiku seketika. Niat hati ingin mengejutkan Sita, kini malah rasa malu yang menggantikannya. Bagaimana tidak, Sita begitu cantik, ia berbaur dengan tamu-tamu yang berkelas. Lalu siapa diriku? Aku hanya remahan rengginang, batu kecil diantara para berlian. Aku terlalu malu untuk menampakkan diri dihadapannya. Terlebih, aku ini seorang sahabat yang tidak tahu diri. Bukan hanya menyusahkan dirinya, melainkan juga meninggalkannya demi hidupku sendiri.


Akhirnya aku berbalik badan sembari menunduk. Bukan sekarang, mungkin pada saat suasana mulai sepi, aku baru akan muncul. Aku berjalan mencari sisi ruang yang sepi. Tidak aku hiraukan meja-meja yang tersaji penuh dengan makanan. Selera makanku bahkan hilang. Jika ada Andrew, pasti aku memiliki teman untuk merenungi nasib miskin ini, atau mungkin bisa berlaku gila bersama. Menyantap makanan tanpa menampakkan diri. Astaga! Aku rindu, hanya dengan dirinya aku bisa melakukan hal-hal gila itu. Aku tidak bisa menghubunginya karena masih jam kerja. Terhitung waktu Singapura, setengah jam lagi baru sampai di waktu makan siang.


Beruntungnya aku datang siang ini. Tak bisa aku bayangkan ketika aku datang sore nanti. Mantan-mantan rekan kerjaku pasti akan datang. Betapa malunya diriku jika bertemu dengan mereka.


"Ah! Ada-ada aja sih!" Aku mendengus kesal. Seolah merasa sia-sia dengan penampilanku sekarang. Ingin menemui Sita saja aku tidak berani. Ingin rasanya menangis! Padahal aku sudah melakukan hal sejauh ini, bahkan meminta izin dari kantorku.


"Navya Elesya."


Deg! Suara itu? Aku menelan ludah seketika. Suara tidak asing baru saja memanggil namaku. Rasa maluku kini bertambah besar. Suara pria itu seakan menggetarkan hatiku. Mengapa kami kembali bertemu? Aku masih pura-pura tidak mendengar dengan harapan ia berpikir bahwa salah orang.


Namun tapak kakinya terdengar tengah mendekatiku. Aku semakin berusaha menelan ludahku. Tidak kutatap sama sekali wajah pemilik suara itu. Aku malu, sekali lagi aku sangat malu.


"Navya, kan?"


"Bukan!"


"Jangan bohong. Coba hadap sini."


Orang ini dari dulu memang seperti itu. Tidak mau mengalah. Astaga! Apa lagi ini? Aku ingin cepat-cepat pulang. Aku beringsut ke samping. Lalu aku segera mengambil langkah untuk pergi.


Namun apa daya, pundakku malah dicengkeram olehnya. Hal itu membuat darahku mendidih seketika. Aku sangat geram. Lantas, aku berbalik badan. Dengan segala keberanian, aku menatap wajahnya.


"Lepas!" tegasku.


"Enggak mau. Benar kan, Navya. Kenapa nggak mau ngaku?"


"Enggak ada gunanya."


"Ayolah, jangan begitu. Kita bisa bincang sebentar."


"Aku menolak!"


Ia tersenyum. "Tapi, aku memaksa."


Oh Tuhan!


Bersambung ...


Baca juga Aku GENDUT!!!

__ADS_1


__ADS_2