
Angin sepoi menerpa wajahku. Dingin, tentu saja menjadi rasa yang menerpa tubuhku. Aku mengeratkan jaket yang telah aku pakai. Malam ini, Kak Kate membawaku ke sebuah taman. Tepatnya, setelah mentraktirku makan malam. Kami duduk di sebuah kursi panjang dari besi yang telah dihias indah. Pandangan kami lurus ke depan, menatap jalan raya yang dilintasi berbagai jenis kendaraan.
Suasana hati Kak Kate sepertinya masih dirundung bimbang. Terbukti dari murungnya parasnya yang cantik. Aku teringat pada diriku sendiri, yang selalu seperti itu dalam kurun waktu lumayan lama. Bukan hanya karena seorang pria, melainkan juga orang tua. Namun, semua permasalahan hidupku hampir selesai. Tinggal bagaimana papa akan melunasi hutang yang dipinjam dari ayah Haris dan aku tinggal selangkah lagi maju ke pelaminan dengan kekasihku.
Lalu, terdengar Kak Kate tengah menghela napas dalam, bahkan terdengar begitu sesak. Ia mengembuskannya kembali di detik berikutnya. Menyudahi pandangannya ke arah jalan, lalu memilih menunduk dan masih diam. Dan aku, aku tidak tahu harus bagaimana.
Karena semakin bosan, akhirnya aku memberanikan diri untuk berdeham. Setelah itu, aku berkata, "malam ini cerah banget. Banyak bintangnya, kalau gabut sambil hitung tu bintang bisa kali."
Kak Kate mengangkat kepalanya. Ia menatapku yang kini pun menatap dirinya. "Kenapa harus sebodoh itu, Navya?" tanyanya kepadaku.
Dahiku mengernyit. "Bodoh? Kenapa bisa bodoh?"
"Hanya orang bodoh yang iseng ngitungin bintang. Bahkan, nyampe kamu setua patung kuno pun, kamu enggak bakalan selesai ngitungin tuh bintang." Ia mengembuskan napas. "Ada-ada aja kamu, Dek!"
Aku tertawa kecil. Biar saja dibilang bodoh, yang terpenting adalah ia yang bisa memulai kata untuk diucapkan. Tidak mulu' diam dan memikirkan masalah. "Ya, dari pada bengong melulu. Diem melulu, mikirin cowok melulu. Mending hitung bintang."
"Kayak enggak pernah galau aja kamu."
Aku tertawa kecil. "Karna udah pernah itu, Kak. Aku tahu, setiap masalah pasti ada solusinya."
"Masalahnya, solusinya itu belum ada, Navya."
"Sebenernya ada. Cuma, Kak Kate masih ragu, kan?"
Kak Kate menatapku. Matanya sayu penuh ragu. Di detik berikutnya, ia hanya mengangguk pelan. Berada di situasi itu, pasti benar-benar sulit. Antara cinta, kecewa dan juga lelah. Mana yang lebih mendominasi? Atau semuanya sama-sama seimbang? Entahlah, sebagai pendengar dan penonton, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Itu hidup Kak Kate, dan hanya ia yang bisa memutuskan.
Mobil-mobil atau kendaraan lain yang terlihat oleh pandanganku masih berlalu lalang di jalan raya sana. Meredam suasana sunyi yang menggelayut di hati. Sepintas, terlihat beberapa orang yang baru keluar dari bar atay tempat-tempat hiburan lain. Turis berambut blonde atau memang sudah asli penduduk di negara ini. Sedangkan kami hanya dua sosok wanita Indonesia, bersama lara hati yang harus dibawa datang kemari. Hatiku telah sembuh, meski masih menyisakan kenangan menyesakkan. Namun tidak dengan Kak Kate yang baru saja ditimpa keprihatinan cinta.
Aku ingin sekali memeluk dirinya, tetapi aku tahu bahwa aku bukan siapa-siapa. Ya, hanya sekedar teman di kala terluka. Selebihnya, aku hanya seorang bawahan yang levelnya jauh di bawahnya. Ia bersedia berbicara denganku saja, bahkan sampai membawaku seperti ini adalah sesuatu yang menurutku ajaib. Semua karena Kak Kate bukan orang sembarangan. Ia cerdas dan pasti penuh dengan prestasi gemilang. Ia cantik, kecantikannya tidak bisa dibandingkan denganku. Ia sosok yang sempurna, meski tidak ada manusia sempurna di dunia ini.
Hanya saja, Affandy sudah terlalu lama menyia-nyiakan hatinya. Bahkan, lelaki itu sempat tergiur oleh parasku yang biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan Kak Kate. Aku tahu, bahwa ia hanya mencari pelarian cinta. Pun meski, ia adalah pria yang baik. Namun, tidak menutup kemungkinan jika ia bisa salah langkah di beberapa kesempatan. Aku pun tahu jika ia juga merasa kebingungan. Atas dasar cinta, persahabatan dan restu orang tua. Jika ia benar-benar bersama Kak Kate, maka akan banyak badai dan juga perjuangan yang perlu ia lewati. Entahlah, itu adalah kisah cinta mereka, aku tidak tahu untuk menduga yang bagaimana.
"Navya ...?" panggil Kak Kate lirih sekali. Ia menggenggam tanganku.
Aku menatapnya. "Kenapa, Kak?" tanyaku untuk mencari tahu perihal perkataan yang berikutnya akan ia lontarkan.
"Kamu udah ngantuk?"
Aku menggeleng mantap. "Belum, Kak. Aku juga sering mengidap insomnia."
"Emm ... mau nginep di apartemenku?"
Aku terkejut. Tentu saja, aku tidak menjawab penawarannya itu. Menginap? Apa tidak apa-apa jika aku menerima? Pasti rasa canggung akan datang pada hatiku. Belum lagi, Andrew pasti cemas dan belum tentu mengizinkan. Maksudku, ia akan memintaku untuk mempertimbangkan jika ada di sini. Namun, aku melihat lagi kondisi Kak Kate sekarang ini. Ia tampak lemah, sepertinya jiwanya sedang tidak stabil.
__ADS_1
Dalam beberapa saat, aku merasa sangat kebingungan. Namun, aku tetap merasa tidak tega untuk berkata tidak. Sampai akhirnya, ya, aku menerimanya. "Baiklah, aku nginep, Kak. Aku juga penasaran sama tempat tinggal Kak Kate." Sebisa mungkin aku tersenyum, meski kalimatku menyimpan sedikit kebohongan. Semua itu karena aku tidak mau jika ia malah merasa tidak nyaman dengan persetujuanku.
Kak Kate tersenyum. Namun segera murung. "Andrew gimana?" tanyanya kepadaku.
"Andrew? Gimana apanya, Kak? Dia, kan, pacar aku bukan suami aku. Ya, mumpung belum menikah juga, aku bisa berbuat sesuatu."
"Emm ... kirain kamu udah tunduk sama dia, Nav."
"Dia yang tunduk sama aku, Kak. Hehe."
Kak Kate tertawa. Namun, tetap ada suatu kegusaran yang di sela-sela ekspresi cerianya. Mungkin merasa iri dengan hubunganku dan Andrew. Ya, mungkin, tetapi tidak sepenuhnya. Ia juga sedikit tahu perihal masalahku dan Andrew di masa lalu. Ia pasti mengerti mengapa aku dan Andrew se-bucin itu.
"Ya udah, kamu telepon dia dulu aja, Nav. Juga temen-temen kamu, biar enggak khawatir. Telepon ya, jangan pesan doang." Kak Kate melepaskan genggaman jari-jarinya di telapak tanganku.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Kak."
Kemudian, pada sebuah aplikasi berwarna hijau bertulis whatsApp, aku mencari nomor kontak milik kekasihnya. Ada sekitar belasan pesan yang masuk dan tidak aku sadari. Tampaknya, ia merasa sangat kesepian. Terlebih, malam ini ia tidak mungkin berjalan-jalan keluar karena aku tidak ada. Teman-temannya tidak mengabarinya untuk menghadiri semacam pertemuan, dan aku pikir memang sedang tidak ada. Lagi pula, baru hari Senin, pasti semua orang memilih diam di rumah atau bahkan menyicil pekerjaan esok hari. Oh, malang sekali nasib Andrew.
Kuabaikan pesan-pesan itu, kemudian kutekan tombol panggil berwarna hijau. Terdengar suara khas di layar ponselku sebelum si target menerima panggilanku.
"Halo, Sayang. Kamu kapan pulang? Udah mau jam sembilan nih. Aku jemput, ya?" Tanpa basa dan basi lagi, Andrew berkata seperti itu.
"Halo juga, Ndrew. Enggak usah jemput dan aku malem ini enggak pulang. Nanti aku kabarin Raya dan Sinta juga," jawabku.
"Ke rumah Kak Kate kok. Enggak ke mana-mana."
"Hmm ...."
"Boleh, ya?"
"Ya boleh sih. Itu kan hak kamu."
Aku berdiri dan sedikit menjauh dari Kak Kate karena merasa tidak enak jika ia mendengar pembicaraan kami. "Tapi jangan jutek gitu dong."
"Enggak kok."
"Sayang ....?"
"Iya, aku enggak marah, Vya. Kayak anak kecil aja. Yang penting kamu hati-hati dan jangan aneh-aneh, ya? Jaga sikap lho."
"Emm ... iya, pasti kok. Lagian aku mau ngapain kalau nggak jaga sikap? Petakilan gitu?"
"Ya, siapa tahu balik kayak dulu lagi."
__ADS_1
"Enggaklah! Ya udah, ya? Kamu di rumah juga hati-hati, jangan begadang. Lanjut tidur. Aku kan enggak bisa mantengin HP kalau sama orang, enggak enak."
"Iya, Sayang."
Panggilan ini langsung dimatikan oleh Andrew. Bahkan tanpa kata-kata cinta darinya. Aku rasa, ia benar-benar kesal. Sepertinya, ia menunggu sedari tadi dan aku malah pergi ke rumah Kak Kate. Ya, sebenarnya merasa tidak enak. Hanya saja, mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur menyetujui tawaran dari Kak Kate dan lagi, Andrew masih sebatas kekasihku. Ia belum berhak melarangku terlalu sering. Ia pasti juga tahu tentang hal itu, makanya meski merasa kecewa, ia tidak melarangku sama sekali. Baiklah, urusan Andrew diselesaikan nanti saja.
Kemudian, aku kembali menghampiri Kak Kate. Ia masih termenung sendiri. Bagaimana bisa aku membiarkan wanita cantik itu berdiam diri seperti itu. Aku takut, jika Kak Kate merasa tertekan di kamar sunyinya sendirian. Makanya, aku menerima tawarannya.
"Ayo, Kak?" ajakku, tepatnya setelah sampai di hadapannya.
Kak Kate menatapku. "Oh, udah?" tanyanya kembali.
Aku mengangguk pelan. "Udah kok. Beres!"
"Dia marah?"
Aku menggeleng. "Enggak, Kak. Tenang aja."
"Yang bener, Nav?"
"Iya beneran kok. Lagian, Andrew bukan anak kecil. Kami udah pada tua hehe."
"Emm ... aku agak enggak enak. Terus temen-temen kamu?"
"Kalau mereka, aku kabarin lewar pesan aja, Kak."
"Oh, ya udah. Yuk?"
"Oke."
Kak Kate berdiri. Ia mengajakku menuju mobilnya yang telah terparkir tenang di areanya. Angin malam semakin menerjang pori-pori kulitku, dingin. Dan waktu memang sudah semakin malam, sudah seharusnya para karyawan sepertiku tertidur di atas kasur empuk. Namun, aku justru masih berada di luar bersama seorang sekretaris cantik dari atasan tampanku.
Setelah sampai di hadapan mobil, Kak Kate membuka kuncinya. Lalu, kami berdua masuk ke dalam.
"Ah! Aku pusing banget. Kamu bisa nyetir, kan?" Kak Kate menyodorkan kunci mobil kepadaku.
"B-bisa sih. Tapi, emang enggak apa-apa? Aku enggak tahu jalan juga," jawabku.
Kak Kate menggeleng. "Enggak apa-apa kok. Enggak ada polisi. Nanti aku arahin jalannya. Ya, Nav? Aku takut enggak konsen nyetirnya."
"... oke kalau gitu, Kak."
Kami berdua kembali turun. Memutar langkah setengah lingkar. Aku masuk ke dalam kursi kemudi, sedangkan Kak Kate di kursi penumpang. Perlahan, kunyalakan mesin mobil ini dan melajunya perlahan. Ke arah kiri sesuai intruksi dari sang pemilik. Seterusnya, aku dipandu sesuai arah menuju apartemen Kak Kate.
__ADS_1
Bersambung ....