
Satu rumah lumayan besar, berlantai dua namun tangganya berada diluar. Lantai atas untuk aku, Raya dan juga Sinta. Sedangkan dibawah sana, ada Andrew. Setiap lantai memiliki dua buah kamar, kamar mandi serta dapur. Dan mungkin memang sudah dibangun khusus untuk kami. Kalau Affandy jangan tanya lagi, ia bahkan memiliki rumah di negara ini.
Aku meminta supaya Raya dan Sinta
memberikan satu kamar untukku pribadi. Tentunya dengan segala alasan supaya mereka bersedia, bahkan aku mengatakan aku adalah orang yang pemalas dan jorok. Tentu saja, mereka tidak mau satu kamar denganku. Meskipun, semua hanya sebuah alasan semata. Biarlah, aku bukanlah orang suka berbagi kamar dengan orang lain kecuali Sita. Apalagi aku gemar merenung sendiri.
Pagi ini, kami melewatkan waktu untuk memasak bersama. Tidak buruk juga, dugaanku tinggal sendiri di negeri orang ternyata tidak benar. Meski terbilang baru kenal, aku bersyukur mereka orang yang cukup supel sehingga menuntun diriku agar lebih akrab lagi. Namun, yang aku sesalkan adalah sikap mereka yang tidak ada habisnya dalam memuji parasku. Seperti sekarang.
"Gimana sih, Nav. Bisa putih gini? Nggak ada jerawat sama sekali muka loe," ujar Sinta.
"He'eh, gue perawatan tiap hari. Ada aja bintang muncul di wajah tiap sebulan. Udah kayak dapet aja deh," sambung Raya.
Aku menghela napasku perlahan. Tentunya secara diam-diam, karena tidak enak jika mereka tahu akan rasa sebalku. "Gue juga sering muncul jerawat kalau lagi bulanan, Ray, Sin," jawabku.
Tiba-tiba Sinta melongokkan pandangannya tepat dihadapanku. Sontak saja, aku beringsut mundur. "Gila sih. Loe cantik banget, pantes jadi bintang kantor," katanya.
"Apaan sih? Nggaklah gue biasa aja."
Kini giliran Raya yang meraih wajahku untuk ditatapnya. "Gue aja yang cewek demen banget lihatnya, Nav. Gimana cowok, duh pasti loe banyak yang ngejar deh. Jadi iri gue. Harusnya rambutnya jangan dipotong. Terus ikut casting, pasti jadi bintang sinetron deh."
"Udah gue bilang. Oh... guys gue biasa aja, gue nggak sesempurna itu. Badan gue terlalu kurus, sifat gue juga aneh dan angkuh. Makanya nanti kalian hati-hati, kalau makan hati karna kelakuan gue."
Keduanya malah terkekeh keras. Hanya aku yang kebingungan karena tidak tahu tentang apa yang mereka tertawakan. Aku menghela napasku dalam-dalam. Kemudian memilih melanjutkan santapanku. Rasanya yang enak kini malah menjadi getir. Untuk diriku yang selalu menjauh, tidaklah mudah berbaur dengan orang lain. Kesalnya, aku malah tidak suka akan pujian yang mereka ucapkan kepadaku.
Seolah ada rasa iri didalam hati mereka kepadaku. Padahal mereka tidak tahu rasanya menjadi diriku. Menjadi wanita yang hancur berkeping-keping karena anugerah paras cantik ini. Membuat sering dianggap bukan perempuan baik-baik, lantaran rasa iri yang disematkan beberapa orang di hati mereka. Sampai aku bisa menjauh dari pertemanan. Membuat seorang pria sampai tergila-gila bahkan berambisi ingin mendapatkan diriku sepenuhnya dengan melakukan percobaan pelecehan. Dan kini memangkas rambutku yang panjang dan mengubah penampilan.
Pada kenyataan dihidupnya, definisi cantik adalah yang seperti ini. Jika orang iri, kini aku bosan. Namun, takut merasa kesakitan jika aku merusak kulit wajahku. Mungkin Tuhan memang adil, setiap kelebihan pasti ada kekurangan. Sama halnya kekurangan, belum tentu tidak memiliki kelebihan.
"Navya, Navya. Ternyata kata gosip emang nggak sepenuhnya benar," celetuk Raya tiba-tiba.
Seketika itu, aku menoleh ke arahnya. "Gosip? Gosip apa?" tanyaku kemudian.
"Banyak, Nav. Namanya juga orang cantik pasti banyak yang iri. Termasuk kita sih hehe," sela Sinta.
Aku mengerutkan dahiku tanda heran. "Apaan sih?"
"Kata orang, loe tu anaknya genit. Mau temenannya sama cowok doang," jelas Raya. "Ternyata loe enak juga kok anaknya."
"Astaga! Hahaha."
Mereka keheranan setelah mendengar suara tawaku. "Kenapa ketawa?" tanya mereka bersamaan.
"Emang kalian nggak pernah liat? Gue kan kemana-mana bareng, Sita. Cewek mungil itu. Paling sama Andrew sih."
"Tapi, yang jemput loe siapa dong? Yang mobilnya bagus? Gue sama Raya nggak sengaja berkali-kali lihat. Belum lagi loe akrab banget sama Pak Affandy. Ada juga dulu, beda cowok."
Wow! Apakah mereka sangat mengidolakan diriku? Sampai mengetahui tentang gerak-gerikku seperti seorang paparazzi. Namun, bukannya kesal kini aku malah tertawa semakin lebar. Baiklah, segala gosip itu aku benarkan. Karena pada kenyataannya memang benar. Kemanapun aku pergi pasti bertemu mereka, bahkan Nevan juga, selain Sita.
Semua yang kulakukan, tanpa aku sadari menjadi perbincangan hangat para penebar gosip. Tapi tak mengapa, toh sudah kenyataan yang tidak bisa aku pungkiri. Mungkin saat itu, aku sedang salah langkah dan merasa sok paling cantik. Berbeda dengan dulu, kini aku perlahan ingin menghilangkan image wanita idaman itu.
"Jangan percaya gosip guys," ujarku. "Emang bener sih, dulu gue sering bareng sama cowok. Tapi, bukan berarti gue pacarin semua. Ya kali, gue serakus itu."
"Nggak apa-apa sih. Manfaatin aja hahaha," celetuk Raya.
"Ish... Raya. Jangan gitu dong," sergah Sinta. "Tapi kenapa loe sekarang berubah gini? Tiga hari ini, gue nggak lihat loe pake barang-barang cewe. Beda jauh banget daripada dulu."
"Udah gue bilang, gue ini cewek aneh. Jadi jangan heran lagi. Udah stop jangan nge-fans lagi sama gue hehe."
"Diiiiiiiih... PD banget," jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
"Hahaha."
Perbincangan yang tidak penting terus berlanjut sembari menghabiskan sisa makanan. Jika tadi sempat sebal, kini aku merasa lebih nyaman. Tidak buruk juga bisa menjadi teman mereka berdua. Setidaknya aku tidak hidup sendirian di negara ini.
Tak lama kemudian, seseorang terdengar mengetuk pintu. Saat Raya hendak berdiri aku segera mencegahnya. "Gue aja," pintaku.
"Baik banget, Nav?" tanyanya.
"Iya, harus. Loe cuci piring aja ya?"
"Iiiih! Nggak jadi baik deh. Parah."
"Hahaha."
Aku berlalu meninggalkan Raya dan Sinta. Kubelokkam arah menuju pintu rumah ini. Sesampainya disana, aku buka perlahan-lahan.
"Hai, selama pagi Navya," sapa Affandy yang ternyata adalah sang pelaku.
"Oh... pagi juga. Ada apa loe kesini?"
"Nggak apa-apa, sekedar mau nyapa aja. Sudah siap, mari kita berangkat. Karena belum ada kendaraan untuk kalian jadi aku bersedia untuk jemput dulu."
"Oke, gue sampein sama yang lain. Tungguin jangan nyelonong masuk, jangan mentang-mentang atasan lho."
"Iya, tenang aja Navya."
Aku tersenyum tipis. Kemudian berbalik badan meninggalkan Affandy. Tampak Raya dan Sinta sudah mengetahui akan kedatangan Affandy. Tanpa kuberitahukan, mereka sudah tahu dan lantas bergerak lebih cepat untu berbenah diri didalam kamar keduanya. Aku pun melakukan hal yang sama.
Balutan blazer berwarna mocca, dipadukan dengan kemeja pendek berwarna putih serta bawahan celana bawan berwarna mocca juga. Sedangkan rambutku tertata rapi dengan belahan pinggir kiri tanpa adanya hiasan apapun diatasnya. Wajahku benar-benar polos tanpa sedikitpun polesan make up. Dan yeah, ini lebih segar daripada yang aku duga.
Kemudian aku mengambil ransel kecil dan memakai sepatu slip-on bertumit pendek. Selesai. Aku bergegas keluar menemui kedua teman baruku. Sesampainya diluar, mereka berdua kembali terpana akan penampilan baruku yang elegan ini. Yah, berbanding terbalik denganku, mereka bahkan lebih rapi dan menawan hati. Setelan rok span berpadu dengan kemeja dan blazer, belum lagi tas khas wanita dan juga sepatu high heel turut serta dalam unjuk penampilan mereka.
"I-iya," jawab mereka.
Kami keluar dari rumah ini. Sebelum turun, salah satu dari kami telah mengunci pintu. Sedangkan Affandy telah turun lebih dulu. Raya dan Sinta melangkah lebih awal, sedangkan aku masih terdiam. Kutatap diriku lagi dari bawah sampai ke badan. Belum terlalu terbiasa. Namun, bukan berarti tidak nyaman. Kemudian, aku menyunggingkan senyuman di wajahku. "Hari baru, untuk hidup yang baru. Semangat!" gumamku sembari mengepalan satu telapak tanganku dan mengangkatnya setinggi kepalaku.
Aku menuruni tangga untuk menyusul mereka. Satu persatu anak tangga, seolah memberikan semangat demi langkah maju. Yah, aku bisa lebih baik dari kemarin, begitulah harapanku. Sedangkan di bawah kiri, telah berdiri seorang Andrew. Aku menilik sekilas pada penampilannya. Ia masih tetap sama seperti biasanya. Tidak ada yang berubah secuilpun. Dan ia tampak tersenyum menyambut kehadiranku. "Selamat pagi," sapanya.
"Pagi juga," jawabku sembari tersenyum tipis.
"Yuk."
"Ayuklah."
Sepertinya Andrew tak ingin merasa asing lagi dengan penampilanku. Ia tidak banyak memandangku dan memperlakukan diriku seperti biasanya. Aku rasa, ia tidak ingin aku merasa kurang nyaman. Pria yang baik, bukan? Namun, berbeda dengan Affandy yang sejak tadi seolah menampilkan wajah tidak percaya. Aku heran, memangnya aku seaneh itu di mata orang? Padahal aku merasa lebih baik meskipun masih kurang percaya diri. Tak bisa aku pungkiri, saat ini aku bisa lebih tertutup saja.
"Boleh kami masuk mobil?" tanyaku kepada Affandy.
"Oh... bo-boleh kok," jawabnya.
"Thanks."
"Yeah."
Andrew duduk didepan bersama Affandy. Sedangkan aku, Raya dan juga Sinta saling berbagi tempat di belakang. Sebenarnya, aku sedikit heran, mengapa Affandy bersedia menjemput kami? Padahal ia menjabat sebagai dewan direksi yang merupakan jabatan tinggi. Memangnya tidak ada sopir lain? Atau jemputan yang disediakan oleh perusahaan sebesar itu?
Bodo amatlah!
Belokan, rute dan suasana jalan yang bersih seolah memberikan rasa nyaman tersendiri. Yah, Singapura memang seperti ini. Aku tidak ingin membandingkan dengan Indonesia. Karena negara tercintaku begitu luas, mungkin lebih sulit mengatur tatanannya. Apapun itu, aku tetap mencintai tanah kelahiranku.
__ADS_1
Aku mencoba menghafal setiap arah jalan yang dilewati. Siapa tahu aku bisa berjalan-jalan sendiri dikala ingin atau bahkan bersama mereka semua. Bekerja sembari berlibur, namun tetap menjaga kantong agar tidak mengeluarkan banyak uang. Karena papa sedang menunggu disana.
"Gimana, kalian udah mulai nyaman belum?" tanya Affandy tiba-tiba.
"Nyaman banget, Pak. Tempatnya nyaman," jawab Raya.
"Emm... syukur deh. Gimana kamu, Navya?"
Aku menatap wajah Affandy yang terpantul dikaca kecil yang terpasang dihadapannya. "Nyaman aja," jawabku singkat.
"Wah, kok Navya yang ditanya, Pak? Saya enggak hehe," celetuk Sinta.
"Ehh... bu-bukan gitu, ini sekarang giliran kamu."
Sinta terkekeh. "Ah masa'? Jangan-jangan Bapak su-"
"Jangan sembarangan!" tukas Andrew spontan.
Kedua wanita itu tertegun. Mereka menatapku seketika. Tentu saja aku malu. Aku menghela napas dalam dan menghembuskan kembali. Kuarahkan jari telunjuk didepan hidungku, untuk mengisyaratkan agar mereka terdiam. Namun bukannya diam, mereka malah saling berbisik satu sama lain. Mungkinkah para gadis gemar seperti ini? Ah... sudahlah, lupakan saja.
****
Tak lama kemudian sampailah kami, disebuah gedung kantor yang sangat tinggi dan besar. Kami, kecuali Affandy benar-benar tertegun. Terlebih para karyawan bukan berparas Indonesia, melainkan bule ataupun warga asli Singapura. Tak kusangka, aku bisa berbaur dengan khalayak asing seperti ini.
Kemudian Affandy mengantarkan kami untuk masuk ke dalam. Serupa dengan bagian depan, didalam gedung ini juga sangat mewah. Fasilitasnya lebih banyak dan juga lebih dari kantor yang berada di Indonesia. Yah, aku rasa pemiliknya adalah warga Singapura yang menaruh cabang bisnis di Indonesia.
Affandy memanggil dua orang manager dari bagian divisi dari divisi kami saat bekerja di Indonesia. Affandy mengenalkan keduanya kepada kami. Setelah itu, salah satu dari manager membawa Raya dan Sinta. Dan satunya membawa aku dan Andrew. Didalam ruangan beliau, kami dibimbing secara menyeluruh dan seluk beluk akan perusahaan seperti saat sedang di-interview. Beliau menjelaskan secara detail menggunakan bahasa inggris yang tidak bisa aku ulangi perkataannya, namun aku bisa memahaminya.
"My name is Harry. And, happy working in here." Ucapan terakhir beliau dengan memperkenalkan nama.
"Thank you, Mr. Harry," jawabku dan Andrew secara bersamaan.
Setelah itu, kami diantarkan ke meja kerja masing-masing. Beruntungnya milikku dan Andrew saling bersebelahan. Yah, setidaknya aku tidak merasa sendiri karena sulit berkomunikasi.
Aku melihat sekeliling, semua tampak sibuk tanpa sedikitpun bersuara. Aku menelan ludahku seketika. Aku ingat bahwa negara ini sangat ketat dalam aturan bekerja. Bahkan mencari hari liburpun susah sekali karena harus lembur. Meski gaji terbilang tinggi, sepertinya gaya hidup disini dua kali lipat lebih tinggi dari Indonesia.
Astaga! Berarti gue harus siap-siap mata dan otak, biar nggak stress.
Andrew menarik tanganku diam-diam. "Duduk, ngapain bengong...?" tanyanya lirih.
"Ehh... i-iya," jawabku.
Setelah itu, aku duduk dikursi putar di tempat kerja baruku. Aku menatap layar komputer yang sudah menyala. Banyak data yang sepertinya harus aku urus. Baru hari pertama saja, sudah diberikan banyak pekerjaan. Bagaimana ke depannya nanti? Demi papa, sepertinya aku harus banting tulang dalam beberapa tahun ke depan.
Dan kumulai gerak tanganku untuk menghabisi pekerjaanku. Untuk hal ini, aku tidak terlalu sulit beradaptasi, lantaran masih sama saja seperti pekerjaan yang lama. Mungkin, ada beberapa hal yang perlu aku tanyakan. Baiklah! Belum mulai jam kerja, aku harus memulainya. Daripada diberikan lemburan dihari pertama.
Bunyi ketikan jariku pada papan keyboard mulai terdengar. Otakku berputar-putar, mengerahkan segala kemampuan. Sesekali aku berdiri dan menanyakan suatu hal kepada orang lain. Beruntungnya mereka bersedia membantuku. Fokusku lumayan bagus untuk hari pertama. Segala macam pikiran tidak jelas menjadi hilang, digantikan oleh segala topik pekerjaan.
Bersambung...
HAI GUYS.. AKU MAU NGASIH TAHU SESUATU.
KALAU NOVEL INI SEBENTAR LAGI AKAN DITAMATKAN, TEPATNYA DALAM SATU BULAN KE DEPAN.
JUJUR AKU PUN MASIH SEDIKIT BINGUNG AKAN DIBAWA KEMANA NASIB NAVYA INI.
BIASANYA AKU NGAMBIL BEBERAPA IDE DARI KOMEN PEMBACA. TAPI, KARENA NOVEL INI EMANG SEPI, JADI YA AGAK KONSLET DIKIT HEHE...
BTW, HARI INI AKU AKAN UP 2 EPISODE LAGI, BIARPUN TIDAK ADA YANG MEMBERIKAN RESPON. YAH, AKU BERTEKAD MAU MENUNTASKAN SAMPAI TAMAT.
__ADS_1
SIAPA TAHU, ADA YANG MAU BANTU AKU MENENTUKAN PILIHAN NAVYA, ANTARA ANDREW OR AFFANDY?