
Sita tidak berani berucapa sepatah katapun lagi. Selama perjalanan menuju apartemen tempat aku menumpang tinggal. Mungkin pandangan mataku terlihat kosong, meski sebenarnya tidak. Aku hanya tidak habis pikir atas ulah nekat Haris. Beruntungnya tidak sampai merenggut sesuatu milikku, mereka datang semua. Jika tidak, mungkin aku akan memilih mati selepas ulah Haris.
Yang ada di benakku sekarang, hanyalan wajah papa. Mengapa beliau begitu tega menjodohkan diriku dengan orang semacam Haris? Hanya karena hutang pribadi, lantas papa tidak segan untuk menjual anak kandung dan bahkan semata wayangnya sendiri? Orangtua macam apa itu? Biarlah, jika papa akan mendekam di penjara. Aku sudah tidak peduli, diri ini sudah cukup lelah dengan semua yang terjadi.
Beberapa saat kemudian, sampailah kami ditempat yang dituju. Sita turun lebih dulu setelah memarkir mobilnya di area parkir. Kemudian, ia membukakan pintu untukku dan membantuku untuk turun dan berjalan. Kami melangkah gontai, menyusuri lantai dan melalui lift demi mencapai apartemen milik Andrew.
"Hati-hati, Beb," ujar Sita kepadaku.
"Emm... thanks ya," jawabku.
"Iya sama-sama."
Niat hati ingin menyudahi keterlibatan Sita, kini malah aku melibatkan dirinya lebih jauh. Bukan Sita saja, Andrew dan Affandy pun turut masuk ke dalam masalahku. Mungkin, bisa dikatakan aku adalah manusia pembawa sial. Disisi lain, aku merasa bersyukur karena bertemu dan kenal dengan mereka. Terlebih untuk Sita yang luar biasa setia sebagai seorang sahabat.
Tak lama kemudian, kami masuk ke dalam ruangan apartemen. Sita mengantarkanku ke dalam kamar. Kemudian, ia keluar kembali yang entah akan melakukan apa. Sedangkan aku meringkuk sendirian dalam posisi duduk. Pandanganku melayang kearah jendela yang kebetulan masih terbuka. Bayangan perlakuan Haris terhadapku masih membekas sangat jelas di benakku. Aku tidak bisa tenang. Aku takut setelah ini, Haris masih berbuat tidak benar dan menjadi ancaman dalam hidupku.
Lagi-lagi air mataku mengalir membasahi pipi. Akhirnya aku terisak lagi. Kepalaku tertunduk diatas kedua lenganku yang bertopang betis kaki. Meratapi nasib buruk yang belum juga hilang. Lantas, kapan akan berakhir? Apa mungkin seumur hidupku, aku akan mengalami nasih sesial ini? Aku takut, benar-benar takut.
"Beb, minum teh anget dulu deh. Biar tenang," ujar Sita.
Aku mengangkat kepalaku sembari menatapnya. Ya! Ia membawakan secangkur teh hangat. Demi menghargainya, aku segera menerima minuman tersebut. Kuteguk perlahan-lahan. Lumayan membuat tenggorokanku merasa nyaman. Setelah merasa cukup, aku kembali memberikannya kepada Sita untuk diletakkan disebuah meja kecil.
Setelah itu, Sita duduk tepat di sampingku. Aku menatapnya malu-malu. Ia begitu baik dan sabar dalam menemaniku. Bahkan kini, ia memijat lengan tanganku. "Gue nggak tahu rasanya jadi loe, Beb. Pasti berat banget ya? Gue... gue pengen nangis. Huaaa," ujarnya sembari meneteskan air mata.
Kami berpelukan. Saling melemparkan suara ronta tangisan, menyeruak dan mengisi ruangan ini. Aku rasa, Sita juga tidak tahan karena menyaksikan sendiri keburukan yang Haris lakukan. "Maaf ya, Sit. Lagi-lagi gue harus nyusahin loe," ujarku.
"Nggak apa-apa. Gue kan bisa jadi pahlawan buat loe. Gue sahabat loe, Beb. Inget dulu, loe juga selalu ada buat gue. Gue udah nganggep loe kayak saudara sendiri. Gue nggak bakalan ninggalin loe. Apalagi kondisi loe, lagi kayak gini," jawabnya panjang lebar.
Setelah itu, kami saling melepaskan pelukan. Aku mengusap air mata Sita, dan ia berlaku sama kepadaku. Sungguh gadis manis yang baik hati. Segala do'a terbaik, kupanjatkan demi kebahagiaan hidup Sita. Aku berharap Sita bernasib baik dan tidak jatuh ke dalam jurang masalah sepertiku. Jangan sampai! Semoga Sita mendapatkan seorang pendamping yang luar biasa baik.
"Jadi, kok loe tadi bisa bawa Andrew dan Fandy?" tanyaku.
"Gue terlalu panik. Gue manggil Andrew kenceng banget bawa-bawa nama loe. Eh, Pak Fandy yang kebetulan keluar juga denger. Makanya menawarkan diri," jawabnya.
"Bisa ngejar mobil Haris ya? Kenceng banget lho dia bawanya."
"Untungnya jalannya masih satu arah, Beb. Nggak terlalu banyak belokan. Pas, di lampu merah gue nemu mobil cowok itu."
"Terus pake mobil siapa?"
"Andrew numpang mobil gue. Pak Fandy mobilnya sendiri. Emm... gue sempet liat loe ditampar sama Haris. Gue takut loe kenapa-napa, jadi gue panik seketika. Belum lagi, telpon gue tadi kan nggak loe matiiin. Jadi, omongan loe ama Haris kedengaran. Herannya pihak hotel susah banget didesak."
"Terus kok bisa masuk?"
"Yah, duitlah, Beb. Managernya dateng terus disuap deh sama mereka berdua haha. Mereka berdua ngeluarin duit cash yang seadanya dan dikasih ke manager. Patungan gitu. Secara gue kan nggak pernah pegang duit cash. Hotel melati juga nggak terlalu mahal. Jadi mereka kasih sekitar sejutaan kayaknya."
"Haah?"
Oh my God!
Jadi kesimpulannya, aku bukan hanya hutang budi tentang tenaga, melainkan uang juga. Betapa malunya diri ini atas kejadian itu. Terlebih kepada Affandy yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun denganku, selain teman dan atasan. Ia memang sudah mengetahui atas masalah perjodohan itu. Hanya saja, ia tidak pernah terlibat langsung didalamnya. Lagi-lagi, perasaan seperti ini sangat memberatkan hati.
Yah, jika aku bisa berangkat ke Singapura, aku akan membalas budi untuk Affandy disana. Lagipula, jika soal uang aku pasti segera mengembalikannya. Mungkin melalui cara yang lain, semacam bekerja dengan baik setelah pemutasian itu.
"Mandi dulu?" tanya Sita.
__ADS_1
"Iya, Sit. Gue kotor banget gara-gara Haris," jawabku melemah.
"Ta-tapi, loe nggak nyampe i-itu kan?"
Aku menggeleng. "Enggak. Ta-tapi baju gue robek. Celana masih utuh. Loe bisa pikirin sendirilah."
"Ya ampun. Kami sedikit terlambat."
"Nggak apa-apa, Sit. Bukan salah kalian."
Aku beranjak turun dari ranjang. Dengan lankah gontai, aku mengambil beberapa pakaian yang nanti akan dikenakan. Setelah itu, aku menuju kamar mandi.
Perasaanku masih saja kacau. Sulit sekali melupakan semuanya. Bahkan aku sampai terduduk lemas di bawah guyuran shower yang menyala. Airnya menutupi tetesan air mataku yang masih sesekali keluar dari pelupuk mata. Bahkan aku menjadi jijik pada diriku sendiri.
Bekas cengkerama tangan Haris meninggalkan bekas kemerahan dan juga kebiruan dibeberapa bagian kulitku. Tidak hanya itu, goresan kukunya meninggalkan luka yang sangat perih. Mungkin, semua terjadi karena aku berusaha menghindarinya. Sehingga, ia pun kewalahan dalam menghadapiku. Apa aku sudah kehilangan sesuatu itu? Tidak bukan? Ia tidak sampai melakukan itu, aku sangat yakin.
Dalam waktu beberapa menit aku masih asyik meratapi nasib. Namun, aku teringat akan keberadaan Sita. Tidak enak rasanya, jika aku meninggalkannya terlalu lama. Akhirnya aku segera menyelesaikan ritual bebersih diri ini.
Setelah dirasa cukup, aku segera mengenakan pakaian gantiku. Aku mengusap-usap rambutku yang basah dengan handuk. Kemudian, bergegas kembali menghampiri Sita. Di tengah-tengah langkahku, aku baru menyadari bahwa hari sudah mulai gelap. Benakku terbayang pada Andrew dan Affandy. Kemanakan mereka? Maksudku, mengapa tidak ada tanda-tanda jika sudah selesai? Mungkin jika Affandy, ia akan langsung pulang. Tapi, jika Andrew, sudah gelap seperti ini, ia belum datang. Aku khawatir terjadi sesuatu pada mereka berdua. Terlebih, jika karena aku.
"Beb? Ngapain?" celetuk pertanyaan dari Sita.
"Fandy, Andrew. Gimana mereka?" tanyaku.
"Oh... ke kantor polisi."
"Haaah?"
"Tenang. Sebelum masuk nolongin loe, gue bikin laporan lewat telpon."
"Ta-tapi kalau mereka terlibat gimana? Loe tau kan, keluarga Haris sangat kaya. Gue aja nggak tahu, pengusaha apa."
Aku menghela dan menghembuskan napas dengan lega. Setidaknya, Andrew dan Affandy tidak terjadi apa-apa kepada mereka. Selain itu, jika polisi yang menangani adalah benar, teman dari ayah Sita, kemungkinan besar Haris tidak akan lolos. Sekalipun kami mencabut tuntutan itu, karena ulahnya merupakan tindak kriminal.
Mungkin esok hari, aku akan datang ke kantor polisi sebagai korban. Tidak mengapa, jika dengan begitu Haris tidak akan bisa kutemui lagi. Aku bersyukur atas kesigapan Sita, Andrew maupun Affandy. Setelah itu, aku kembali ke dalam kamar dan merapikan rambutku.
Tiba-tiba, suara bel pintu terdengar akibat ditekan oleh seseorang. Sita menghentikan langkahku, tatkala aku ingin menghampiri keberadaan daun pintu. Ia yang akan melakukan hal itu. Lantas, aku tersenyum dan menurutinya. Tak lama kemudian, suara perbincangan khas pria tertangkap oleh telingaku. Aku bersyukur, karena itu suara Andrew dan Affandy.
"Navya," ujar Andrew. Aku menoleh kepadanya. Ia datang menghampiriku, sedangkan Affandy memilih berdiam diri diluar kamar sembari menatapku dari posisinya. Aku rasa, ia masih ingin berlaku sopan.
Aku tersentak dan mendorong tubuh Andrew seketika, tepat saat ia akan memeluk diriku. Entah mengapa tubuhku gemetaran setelah mendapatkan sentuhan darinya. Sedangkan Andrew tampak mengernyitkan dahinya karena heran. Bukan Andrew saja, Sita dan Affandy pun sepertinya merasa heran.
"Ke-kenapa kamu, Vya?" tanya Andrew kepadaku.
"Ng-nggak tahu. Aku nggak tahu. Ka-kamu jangan deket-deket. A-aku masih takut," jawabku terbata-bata, sekaligus bingung karena respon tubuh ini.
"Sepertinya, Navya masih mengalami trauma," sela Affandy.
"A-apa? Nggak mungkin, Fandy. A-apa itu artinya aku gila?"
Trauma? Apakah jika trauma, aku masuk dalam kategori gangguan jiwa? Apa lagi ini? Aku tidak ingin seperti ini. Tapi, setiap kali gerak tangan Andrew mencoba menyentuhku lagi, aku merasa takut dan terbayang akan ulah Haris. Tubuhku kembali gemetar, lemas sampai terjatuh duduk. Hanya Sita yang bisa menyentuh diriku.
Sedangkan Andrew mengusap kasar wajahnya. Sepertinya, ia merasa bersalah atas semua yang terjadi. Sifatnya selalu seperti itu. Apalagi jika teringat akan janjinya dalam menjagaku. Namun, aku tidak bisa menghentikan rasa bersalah dan frustasi dalam diri Andrew itu. Saat ini, aku tidak bisa disentuh olehnya sama sekali.
"Seharusnya, aku cegah kamu tadi, Vya," ujar Andrew.
__ADS_1
"Tenanglah. Semoga ini tidak berlangsung lama," sela Affandy.
"Saya menyesal, Pak. Kini kita tidak bisa bersaing secara sehat."
"Tidak, saudara Andrew. Lupakan tentang itu dulu, kita bantu kesembuhan mental Navya dulu. Setelah itu, kita lihat Navya akan memilih siapa diantara kita."
Apa maksudnya? Bersaing? Memilih? Mereka berdua? Jangan-jangan, Fandy?
"Jangan didengerin, kelakar doang," ujar Sita.
"I-iya," jawabku.
Kemudian, Sita membantuku berdiri. Aku kembali merengkuk diatas ranjang yang sebenarnya milik Andrew. Aku merasa bingung atas diriku sendiri yang berlaku seperti itu. Seandainya, aku memang menolak pelukan dari Andrew, seharusnya tidak sampai gemetar seperti beberapa saat yang lalu. Lantas, ada apa denganku? Aku takut jika hal ini mempengaruhi gerak kehidupanku. Terlebih, jika aku benar-benar mengalami trauma dalam waktu yang lama.
Uuhh... sial!
Mau kulawan seperti apapun. Sentuhan dari Andrew saat tadi, benar mengingatkanku akan Haris.
Tak lama kemudian, Sita kembali masuk dengan membawa hidangan makanan. Mungkin, akan ia berikan kepadaku. Dan benar saja, Sita membuka bungkus makanan tersebut dan menyajikannya dihadapanku. "Makan dulu ya, Beb," ujarnya.
"Biar gue sendiri, Sit. Temenin Andrew dan Fandy ngobrol, kasian," jawabku.
"Tapi bener dimakan lho ya."
"Hmm... iya gue usahain."
"Jangan gitu, harus pokoknya."
"Iya iya. Bawel ih."
"Hehe... biar gue tenang ngajakin ngobrol si bucin-bucin loe itu."
"Haha."
Dengan segala upaya, aku berusaha menelan suap makanan. Sedangkan Sita telah keluar. Rasanya sangat hambar. Bukan rasa dari hidangan tersebut, melainkan selera lidahku yang belum pulih. Namun, demi menghargai usaha Sita, aku berusaha menelannya. Lagipula jika aku sakit, Sita pasti yang akan kesusahan lagi.
Tak lama kemudian aku menyelesaikan santapanku. Aku turun dari ranjang dan hendak meletakkan bungkus bekas makanan dibelakang. Ketiga orang itu, sepertinya masih asyik berbincang. Ingin rasanya aku bergabung, namun aku masih takut memberikan respon seperti tadi. Sehingga aku memilih kembali ke dalam kamar.
****
"Navya, aku pamit pulang dulu ya? Karna sudah malam," pamit Affandy. Ia masih berbicara dari luar kamar.
"Emm... ma-makasih soal semuanya. Dan maaf udah ngrepotin, terus nggak bisa nganter sampe bawah," jawabku sembari menundukkan kepala.
"Nggak apa-apa. Kamu cepet sehat, dan lupain segala sesuatu yang buruk. Kami selalu ada disini untuk kamu."
Aku tersenyum dan juga mengangguk. Setelah itu, Affandy berlalu tanpa kuantar sampai bawah. Yah, aku masih terlalu lelah untuk bergerak. Namun, sesuatu tidak terduga terdengar sampai ke telingaku. Lantas, aku segera beranjak turun dan keluar.
Aku membelalakan mataku saat melihat papa dan mama muncul disini. Bukan hanya muncul, papa menarik kerah baju Andrew. Bahkan Affandy menunda kepulangannya.
"Kamu yang bawa kabur anak saya kan?!" tanya papa dengan amarah kepada Andrew. Sedangkan tangannya tak lepas sedikitpun dari kerah baju Andrew.
"Pa jangan kasar-kasar," pinta mama.
Papa tahu darimana?
__ADS_1
Sita dan mama sangat panik. Andrew terus dicerca amarah papa. Bahkan beberapa kali, Andrew mendapat sebuah hantaman tangan. Beruntungnya Affandy belum pulang, sehingga mampu memisahkan, meski akan sulit. Sedangkan aku sendiri, bingung harus bagaimana. Aku tidak tahu papa mendengar kabar Andrew membawaku kabur entah dari siapa. Niat hati ingin tenang, malam ini malah terjadi keributan lagi. Menangis, menangis dan menangis.
Bersambung...