
Tak kusangka, Andrew kembali duduk santai sembari menatapku dan tersenyum. Aku mengernyitkan dahiku lantaran heran. Siapa yang datang? Dimana sang tamu? Lalu apa yang Andrew lakukan disini?
"Apa, Beb?" tanyanya kepadaku.
"Beb? Yeeeek," jawabku penuh kegelian.
"Gaya loe, biasanya juga dipanggil gitu sama Sita."
"Beda, Ndrew. Jijik kalau loe yang ngomong. Emm... bentar deh. Kayaknya aku dulu manggil Nevan pake Honey tauk."
Senyuman yang Andrew sunggingkan kini menghilang digantikan dengan wajah sebal. Dan giliranku yang tersenyum lebar, bahkan gigi-gigi putihku terlihat. Ya, ia cemburu tatkala aku menyebut nama Nevan--mantan kekasihku. Tapi, yang aku katakan memang benar. Panggilanku terhadap Nevan pada saat kami menjalin hubungan adalah kata itu. Rasanya sekarang sangat menjijikkan jika diingat lagi.
Yah, semua sudah berlalu. Mungkin saat itu, aku sangat menyayangi lelaki itu. Kini aku bersama Andrew lagi. Tidak ada manfaatnya aku mengingat Nevan. Biarlah ia menjadi salah satu kenangan didalam memori otakku. Semoga, ia menemukan bahagia bersama wanita lain. Semoga ibunya selalu bahagia, begitu saja harapanku untuknya.
"Mikir apa? Nevan?" tanya Andrew lagi.
Aku mengangguk pelan. "Iya hehe," jawabku.
"Masih cinta?"
Aku menggeleng kemudian. "Enggak, Sayang."
"Yakin?"
"Iya, Ndrew. Ih, nggak percayaan loe!"
"Orang tiba-tiba ngomongin dia. Honey, honey... itu lebih yeeeek."
"Biarin sih. Emang kenapa? Masalah?"
"Iyalah, Navya sayang. Aku pacar kamu sekarang, jangan bawa nama mantan deh."
"Biar adil dong. Masa' gini doang marah? Tiap hari nanti, aku bakal liat kamu digodain sama mereka. Hih!"
Andrew menghela napasnya kemudian menghembuskannya kembali. Ia merengkuh bahuku dari belakang serta mendekatkan wajahnya di pipiku. "Aku hanya mencintaimu, tolong percayalah tentang itu...," bisiknya.
Aku hanya terdiam. Namun, tersenyum senang secara diam-diam. Ya, tidak mungkin ia melakukan semuanya jika tidak mencintaiku. Padahal tingkahku kepadanya sangat tidak terpuji. Aku mempermainkannya, namun ia tetap bersabar. Sepertinya seorang Navya cukup beruntung memiliki Andrew yang se-bucin ini.
Sampai aku melupakan tentang tamu yang mengetuk pintu tadi. Lantas, aku menoleh sedikit ke arah Andrew sembari bertanya, "tadi siapa yang dateng?"
"Emm... kamu mau tahu?" tanyanya kembali.
"Ya, aku perlu tahu. Kemana orangnya? Emangnya orang PLN yang dateng?"
"Mana ada PLN di Singapore, Sayang?"
"Siapa yang tahu. Jadi, siapa?"
"Tapi, kamu jangan kesel lagi ya?"
Aku mengernyitkan dahiku. "Emangnya siapa?"
"Linseyld dan kawan-kawan."
Deg! Mereka? Seberani itu demi mencari keberadaan Andrew. Aku memang tidak ingin kesal. Namun, rasanya tidak bisa menahannya lagi. Aku seperti merasa bahwa mereka adalah ancaman bagi kami. Hanya dia dan menelan ludah dengan ngilu yang bisa aku lakukan. Linseyld? Ah... sebesar itukah rasanya cintanya kepada Andrew? Bukankah mereka baru mengenal beberapa hari saja?
Aku mendengus kesal, Andrew terdiam. Hatiku penuh rutuk sekaligus harapan jangan sampai ada yang bisa merusak hubungan yang baru diperbaiki ini. Aku tidak bisa membayangkan jika diriku tidak bersama Andrew lagi. Pasti, aku akan kesulitan untuk jatuh cinta. Seorang Navya dimasa lalu sepertinya jarang merasa cemburu. Namun, rasa cemburu ini seperti sedang menguji kesabaranku. Aku terlalu takut kehilangan lagi, hanya itu.
"Aku nggak buka pintu kok, Sayang," ujar Andrew mencoba menenangkanku atas rasa kesalku yang sepertinya tertangkap olehnya.
Lantas, aku membenarkan posisi dudukku dan menatapnya. "Lalu, gimana kamu tahu itu adalah mereka?" tanyaku.
"Aku ngintip dulu hehe. Aku pikir tadi Pak Fandy yang dateng, jadi pengen liat dulu."
"Emm... orang-orang itu sekarang kemana?"
"Aku nggak tahu dan nggak mau tahu. Makanya HP-ku daritadi sengaja dimatiin, biar waktu kita nggak terganggu."
"Ndrew, a-anu. Emm... kamu jangan naksir siapapun lagi ya?"
"Hahaha... nggak akanlah, Sayang. Tumben parno begini? Biasanya nggak peduli?"
"Yah, hubungan kita baru baik lagi. Aku males kalau kita berantem lagi."
__ADS_1
"Uuuh... Navya-ku ternyata imut juga kalau lagi cemburu."
Andrew meraih wajahku, kemudian dikecupnya pipiku secara sekilas. Ia memelukku lagi dan mencoba menenangkanku. Aku berusaha tersenyum, meski kegusaran itu masih tetap ada. Seperti ini rasanya takut kehilangan. Tidak pernah aku rasakan sebelum-sebelumnya. Biasanya ketika sakit hati, aku hanya menangis bukan menahan orang itu. Tapi, sekarang keadaan sudah berbeda. Aku sungguh mencintai Andrew.
Namun, bayangan ketika wanita itu terus mengusik benakku. Yah, semoga saja kali ini Andrew bisa menjaga hatinya untukku. Aku tidak ingin hubungan kami hancur seperti hubungannya dengan Lusi kala itu.
"Ndrew, aku balik ya? Udah makin siang, nggak enak sama anak atas," pamitku setelah melihat waktu pada jam dinding yang menunjukkan semakin siang.
"Nanti sih, Vya. Aku masih kangen," tolaknya.
"Ayolah, kita disini nggak berdua aja. Kalau mereka mikir macam-macam, gimana?"
"Biarin."
"Andrew?"
"Nanti aja, nanti sore. Setelah sekian lama kita bisa deket tanpa masalah kayak gini lho, Vya. Aku tu masih kangen sama kamu.
"Hmm..."
"Ya?"
"Enggak, aku mau naik. Nggak enak sama Raya dan Sinta."
"Ck..."
Akhirnya Andrew melepaskan pelukannya terhadapku. Ia murung sekali. Aku tersenyum dan meraih telapak tangannya. Selepas itu, aku berdiri. Kemudian kuambil langkah untuk keluar dari rumah ini. Meski sejujurnya aku masih ingin tetap tinggal, namun tidak enak jika dilihat oleh Raya dan Sinta.
Sesampainya di pintu utama rumah ini, aku memandang luar dari jendela terlebih dahulu. Siapa tahu, ketiga wanita itu masih ada diluar demi menunggu Andrew. Terlebih, seharusnya hari ini mereka pergi berjalan-jalan. Namun karena diriku, Andrew yang menjadi tokoh penting untuk Linseyld malah tidak hadir.
"Sayang." Suara itu milik Andrew. Sontak aku terkejut dan kemudian membalikkan badan menatapanya.
Ia meraih tanganku dan direngkuhnya diriku ke dalam pelukannya. "Kenapa? Aku mau pulang dulu," tanyaku dan juga jelasku.
"Masih kangen lho, Navya. Lebih lama sih."
"Enggak bisa. Kan dari pagi aku udah disini. Nggak enak ah."
"Nggak enak sama siapa? Tetangga sini kan nggan kayak di Indo. Apa kamu laper? Jadi pengen pulang?"
"Makan disini, aku bakal beliin makanan. Tidur disini."
"Dih... nggak mau, gila apa? Masa' tidur disini? Yang ada takut gue."
Ia menghela napasnya. Aku tahu, betapa rindunya dirinya akan hubungan baik ini. Sehingga membuatku diam tanpa berontak, asal tidak melewati batasan. Ia pun masih erat merengkuh diriku, seolah tidak ingin kehilangan diriku lagi. Padahal saat ini, dirikulah yang takut kehilangan dirinya.
Setelah merasa sedikit jengah, aku berusaha melepaskan diri darinya. Ia tersenyum kecut lantaran kecewa. Namun, aku berusaha untuk menenangkannya. Lagipula kami masih bisa dekat kapan saja, namun dalam durasi yang tidak lama lantaran hubungan kami hanya sebatas sepasang kekasih bukan suami dan istri.
"Nanti aku naik ke atas," ujarnya.
"Ngapain? Cowok sendiri lho?" tanyaku.
"Ya, nanti agak sore, Sayang. Emang kenapa cowok sendiri? Justru bagus kan, kalau ada orang lain? Biar nggak khilaf terus aku padamu."
"Hmm... tapi kan, kita masih harus nyembunyiin hubungan ini, Ndrew."
"Aku rasa, kalau buat Raya dan Sinta itu nggak perlu. Dalam waktu dekat pasti mereka tahu kok. Lagipula anaknya baik-baik, dari divisi lain juga. Nggak akan ngaruh dikerjaan kita nanti."
"Yaudah deh. Yang penting jangan nyampe kantor aja, aku masih nggak enak kalau pacaran sama rekan satu ruang dan divisi. Nanti kalau ada kesalahan, hubungan kita jadi kambing hitamnya."
Andrew tersenyum. Kini ia bersedia melepasku untuk pulang ke atas. Meski sedikit berlebihan, namun rasanya cukup menyenangkan. Perhatian sekecil apapun, kalau sudah dari orang yang tersayang pasti rasanya luar biasa. Ibarat sebuah lirik lagu, jangan sampai kemesraan ini cepat berlalu.
Namun, tatkala hendak membuka pintu. Lagi-lagi, Andrew menarik lenganku. Ketika aku ingin bertanya apa maksudnya, ia langsung meraih wajahku dan dikecupnya bibirku secara sekilas. Aku yang terkejut hanya bisa diam dan terbelalak. Ia tersenyum nakal penuh kemenangan.
"Udah, naik sana. Makan yang banyak, biar gendutan. Istirahat yang cukup, besok kita berperang lagi. Emm... aku selalu sayang kamu, Navya. Ingat itu ya?"
Aku mengangguk dengan gerak kaku, lantaran malu. Wajahku mungkin sudah memerah padam. Aku berbalik badan dan melanjutkan gerakanku untuk membuka pintu itu kembali. Setelahnya aku keluar, Andrew menutup pintu ketika sudah kusarankan. Aku mengambil langkah cepat untuk naik ke atas. Debaran jantungku kembali tidak menentu. Mengapa rasanya seperti meledak? Ini bukan pertama kalinya ia mengecupku, bukan?
Bruk! Setelah membuka pintu rumah atas, aku terduduk lemas dan gemetar. Oh... jangan-jangan sisa trauma atas kelakuan Haris masih sering datang? Namun, itu tidak mungkin. Tadi malam pun, Andrew melakukan hal romantis ini, bahkan tadi pagi. Kondisi sepertiny belum sepenuhnya stabil. Namun, rasanya tidak sedih melainkan malu. Sampai-sampai, aku tersenyum dan, "aaaaaaaaaaa! Malu banget!" pekikku.
"Hei, Navya! Kaget gue!" tegas Sinta dari arah ruang televisi. Ia tengah duduk dan menoleh ke arahku.
"Maaf, maaf hehe," jawabku.
__ADS_1
"Loe nggak apa-apa, kan?"
"Nggak hehe. Gue bahagia aja hehe."
Sinta tampak mengernyitkan dahinya. "Bahagia? Soal apa? Emm... ah... jangan-jangan?! Ngapain loe berdua tadi di lantai bawah?"
"Eh??? Emm... ngapa-ngapai dong haha."
"What?! Gila loe?"
Aku mencoba berdiri lagi sembari terkekeh. Aku berjalan menghampiri Sinta. "Hahaha... lagian loe nanyanya aneh. Mau ngapain lagi coba? Gue masih waras, Sin."
Setelah aku duduk disamping Sinta, ia menatapku penuh rasa curiga. Aku berusaha membuang pandangan, lalu kuraih sebungkus cemilan di atas meja. Ternyata ini tidak berhasil membuat Sinta memalingkan tatapannya. Dan sumpah! Aku salah tingkah, bak seorang pencuri uang yang sedang dicurigai. Oh... wanita ini nyatanya terlalu peka.
Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk menggerakkan tanganku di wajahnya seperti gerakan membasuh. Lantas, Sinta beringsut mundur dan menghempaskan tanganku. Ia tampak kesal sekali, kubalas dengan senyuman usil tanpa rasa bersalah.
"BTW, Raya kemana?" tanyaku kemudian.
"Ngorok dia jam segini," jawab Sinta.
"Oh... maklum sih. Kerjaan kita yang sekarang capek banget."
"Sepadan sama gaji sih, Nav. Oh iya..."
"Apa?"
"Tadi ada cewek-cewek kesini. Nyari Andrew."
Aku menghentikan aktivitas menyantap cemilan dihadapanku. Aku terkejut atas perkataan Sinta. "Si-siapa? Loe jawab apa? Bawa nama gue nggak?"
"Tenang, tenang. Gue jawab aja nggak tau, kan gue tinggal di atas. Mana tahu keadaan bawah. Eh... tapi, siapa sih mereka? Bukannya salah satunya yang nganterin Andrew saat itu ya?"
Aku menghela napas lega. "Penggemarnya do'i. Gila sih, jadi cewek kok ngejer banget. Baru kenal lagi, kenapa ada yang kayal gitu ya? Iih! Walaupun sama-sama orang Indo, emang nggak bisa lebih tenang terus nggak sebodoh itu ya? Nyebelin tau nggak, untung loe nggak bilang gue didalem rumah bawah."
"Namanya juga demen, Nav. Ya, siapa tau salah satunya udah lama jomblo. Nyebelin sih, eh nyebelin???"
Mampus gue! Keceplosan.
Bibirku benar-benar dikuasai oleh rasa cemburu, sampai tidak sadar bahwa aku telah melampiaskan semua kekesalanku kepada Sinta. Dan benar saja, ia menarik pundakku supaya posisiku menghadapnya. Ia menatapku penuh kecurigaan. Setelah itu, tersenyum yang sangat menggelikan. Aku membuang pandanganku lantaran salah tingkah.
Sebenarnya memang sudah sulit ditutupi, karena aku pernah mencurahkan isi hatiku terhadap Sinta. Terlebih ia sangat antusias dalam hal semacam ini. Aku rasa, Sinta sudah menebak apa yang terjadi kepadaku dan Andrew. Baiklah, mungkin tidak ada salahnya aku bercerita. Lagipula, Sita tidak ada disini. Hanya Sinta dan Raya yang bisa menjadi teman untuk saling berkeluh kesah. Benar kata Andrew, selagi mereka tidak membeberkannya pada orang lain, pasti posisi kami di kantor juga aman.
Aku menghela napas dalam. "A-apa?" tanyaku terlebih dahulu untuk memastikan apa yang ada didalam pikiran wanita ini.
"Udah berapa langkah loe sama do'i? Gue nggak yakin loe cuma bahas kerjaan di lantai bawah, hari libur gini, dari pagi sampe siang lagi," celotehnya.
"Menurut loe gimana?"
"Kalian udah baikan? Emm... loe tadi kelihatan kesel dam cemburu banget sama cewek-cewek itu, Nav."
"Emm... ya, gue akui gue cemburu bangeeeeeeet! Secara dia lebih cantik dan punya mobil disini."
"Yang mana sih, yang demen sama Andrew?"
"Nggak tahu, gue lupa mukanya. Dia nggak salah sih sebenarnya. Tapi, nggak tahu, gue kesel aja. Gue sama Andrew juga masih nutupin hubungan kami dikalangan kantor. Soalnya gue khawatir meja kerja kami dituker terus dijauhin dengan alesan biar fokus. Dan... gue harus se-parno ini, Sin. Gila nggak sih?"
"Hubungan? Ditutupin? Haah? Jadi kalian udah jadi? Udah baikan?"
Aku menelan ludahku mendengar pertanyaan dari Sinta yang bertubi-tubi itu. Saat ini, ia yang merasa kegirangan, bukan diriku. Meski tidak ada hubungannya dengan dirinya, entah mengapa ia yang menjadi heboh sendiri. Bahkan, sesekali ia mencubit pipiku dengan gemas.
Sedangkan diriku hanya bisa menyaksikan kehebohan Sinta dengan tatapan yang bingung. Rasanya ia sangat mirip dengan Sita. Sehingga membuatku rindu akan sosok sahabatku itu. Mungkin nanti malam aku akan menghubunginya dan banyak bercerita. Sita perlu tahu tentang ini.
"So, tolong loe jangan banyak omong ya, Sin? Bahkan ke Affandy juga," pintaku.
"Iya, gampang itu, Nav. Tapi tetep," jawabnya.
"Tetep apa?"
"PJ alias pajak jadian hahaha."
"Hmm... minta sama yang di lantai bawah. Gue bokek."
"Nggak enaklah, Say. Dia kan pendiem banget, malu ah. Loe aja."
__ADS_1
"Apaan sih, ah... berisik kalian!" Sela Raya tiba-tiba. Ia tampak menengok kami dari arah kamarnya dengan raut wajah yang kesal karena tidurnya harus terganggu karena perbincanganku dan Sinta. Kami pun langsung terdiam seketika. Raya masuk kembali dan mengunci pintu kamar itu.
Bersambung...